Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dreamy Stone

Dreamy Stone

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dreamstime.com)

dakwatuna.com – Dreamy Stone adalah nama game yang terdapat pada telepon genggam saya. Dreamy stone berarti batu impian. Yaitu berupa batu-batuan yang terdiri dari beragam bentuk dan warna yang berada pada kotak vertikal dan horizontal. Terdiri dari enam baris dan sepuluh kolom.

Awalnya saya yang tidak terlalu menyukai game hanya mencoba memainkannya karena saya pikir mudah. Tinggal menukar-nukar batu yang sejenis hingga berderet baik vertikal maupun horizontal minimal sejumlah tiga buah. Jika tiga buah batu yang sejenis sudah berurut  maka batu-batu itu akan melebur dan berganti batu baru yang otomatis muncul dari arah vertikal. Ketika kita menukar-nukar batu, maka poin menjadi berkurang. Tapi jika kita mampu membuat deret batu bisa menambah nilai tapi juga bisa mengurangi nilainya lagi.

Aneh ya ? Saya kira hanya dengan mengurutkan batu sejenis bisa menambah nilai. Hanya itu saja tatacara permainannya. Tapi setelah beberapa kali bermain, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa perkiraan saya salah. Ternyata cara permainannya begini, jika kita hanya mampu membuat deret batu untuk yang sejenis saja maka efek atau nilainya tidak akan besar tapi jika berhasil membuat deretan batu sejenis kemudian terlebur dan menimbulkan deretan baru bagi batu lainnya sehingga ikut terlebur maka nilainya menjadi jauh lebih besar. Tapi kadangkala kita sulit menemukan batu-batu yang akan di susun karena letaknya berjauhan tidak berjarak setapak. Jika begitu maka kita harus rela melangkahkan batu yang hendak kita deretkan beberapa langkah hingga mengurangi nilai kita beberapa kali. Setelah itu biasanya akan muncul kemudahan untuk membuat deret batu yang hendak kita deretkan dan menderetkan otomatis batu lainnya.

Mungkin ada dari kawan-kawan yang sudah pernah memainkannya atau penjelasan saya yang kurang dapat di pahami. Bisa di berikan masukan atau kritikan.

Tapi ternyata dari permainan sederhana tersebut saya bisa mengambil hikmahnya. Yaitu untuk mendapatkan nilai dari permainan itu bukan hanya dengan meleburkan batu sejenis tapi turut membantu batu lain menjadi berderet hingga ikut melebur.  Leburan batu tersebut saya artikan sebagai sebuah kebahagiaan atau keberhasilan atau kesenangan. Jika hanya mampu meleburkan batu sejenis, justru bisa mengurangi nilai atau hanya menambah sedikit nilai. Dan nilai itu bisa di artikan sebagai suatu balasan yang di berikan Allah kepada hambaNya.

Hikmahnya adalah jika kita menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri, balasan yang akan di peroleh akan berlimpah,  hanya sedikit atau justru pahala kita berkurang. Kita berbahagia di atas penderitaan orang lain. Bisa menimbulkan dampak buruk, kesenjangan sosial semakin marak dan otomatis pahala kebaikan kita akan berkurang karena kebahagiaan kita penyebab orang lain melakukan  tindak kejahatan. Kemudian jika kebahagiaan kita bisa menjadi penyebab timbulnya kebahagiaan orang lain maka balasannya pun akan berlimpah. Semakin banyak orang-orang yang terkena efek positif maka pahala kebaikan akan semakin banyak mengalir. Insya Allah.

Terkadang pula sebelum menemukan kebahagiaan kita di hadapkan pada situasi  yang buruk bahkan terlarang. Situasi seperti itu bisa mengurangi kualitas kita sebagai hamba. Tapi toh, Allah Maha Tahu. Jika kita masih berusaha mengingatNya dalam keadaan sulit. Yakinlah, Allah akan memberi jalan keluar dari arah yang tak terduga. Semua bisa menjadi jalan menuju kebahagiaan, bukan hanya diri sendiri tapi juga sebagai pengingat untuk orang lain.

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling di cintai Allah ? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menunaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani di dalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623)

Berbagi bukan hanya lewat materi, tapi sesuai dengan kemampuan kita. Entah mengapa game tersebut di namakan batu impian. Tapi yang pasti dengan kita bisa membahagiakan orang lain atau minimal mengurangi kesulitannya maka itu menjadi suatu impian abadi yang kelak akan berbuah manis tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Aamiin.

Allahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • dalam artikel ini ada yg mengganjal…
     apakah seorang dai main game? bukankah game itu melalaikan dari mengingat Allah?
    Kenapa mengambil suatu hikmah dari sesuatu yg melalaikan Allah? jika dilihat dari penjelasannya berarti yg membuat tulisan ini telah hafal betul tentang permainan itu.

    bukankah dgn adanya artikel ini akan mengajarkan orang lain utk mencoba gam itu juga? dai nya aja main game…iya kan

    Lalu bagaimana bisa diambil kesimpulan tentang berkurangnya pahala?
    semua itu tidaklah terkait dgn “game” itu…(analoginya tidak masuk ke sana)

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Bahagia Itu Sederhana