Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bersaudara Karena Allah

Bersaudara Karena Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Kawanimut)

Tahukah kalian apakah cinta?
Yang terpatri dalam dada
Dari yang Maha Kuasa….

dakwatuna.comSeringkali kita merasa gundah gulana hanya karena perkara-perkara kecil. Sesuatu yang tidak sepatutnya menyedot energi dan konsentrasi kita. Pada keadaan seperti itulah kehadiran saudara sangat kita butuhkan. Seseorang yang memberi ketika kita memerlukan. Mereka yang tak merasa rugi di saat kita membutuhkan. Orang-orang yang terikat hanya karena-NYA.

Hari itu, sebagaimana lazimnya hari-hari yang lain saya asyik berkutat dengan urusan rumah tangga. Bayi mungil yang belum genap berusia 2,5 bulan menjadi semesta aktivitas saya. Kakak dan abangnya pun menghujaninya dengan kasih sayang dan kenakalan khas anak-anak. Ayahnya, adalah pria yang paling bisa membuatnya tertawa dan menjadikan hari penuh dengan keceriaan. Kesibukan itu pula yang sedikit melambatkan saya untuk segera ke klinik untuk memeriksakan sakit kepala yang sudah seminggu mendera. Pre eklampsia yang saya peroleh semasa melahirkan adik baby membuat saya harus waspada dengan serangan darah tinggi sewaktu-waktu.

Tengah hari Sabtu itu kami berlima pergi ke klinik Universitas. Kekhawatiran saya ada benarnya, dokter yang memeriksa tensi darah saya menyuruh untuk beristirahat di rumah sakit karena BP (blood pressure=tekanan darah) saya 155/115. Selama 4 hari! Duhai, saya langsung teringat anak-anak. Tak sanggup saya berpisah dengan mereka selama itu. Jadilah saya dan suami menawar dan meminta untuk minum obat dan beristirahat di rumah saja. Kami pulang ke rumah flat kami dengan tusukan jarum di kepala saya yang makin menjadi.

Maka terjadilah apa yang Allah gariskan. Belum sempat saya memasuki pintu rumah kami di lantai 3 flat milik kampus, tiba-tiba saja ada serangan di kepala yang membuat saya membentur tembok dan terjatuh. Suami saya bingung antara menyelamatkan saya atau bayi dalam gendongannya. Air mata saya runtuh ketika saya sadari tak dapat menggerakkan anggota tubuh. Saya menangisi ketidakberdayaan diri yang hanya akan menambah beban suami. Saya tidak ingin menjadi seonggok daging hidup yang menuntut perawatan dan pemeliharaan karena ketidakmampuan diri.

Subhanallah, saat itulah janji Allah terbukti. Kami yang merantau di negeri jiran ini tanpa sanak saudara. Dalam keadaan genting begini Allah kirim sahabat-sahabat sejati untuk meringankan beban kami. Dua akhwat pekerja kilang dengan seorang kawan datang menjemput kami. Bayi kami segera diselamatkan bersama seorang kawan yang tengah menyusui, 2 anak yang lain bersama sebuah keluarga kawan dekat kami dan saya beserta suami dan seorang akhwat meluncur ke rumah sakit. Ambulan meraung-raung sepanjang perjalanan. BP saya naik menjadi 184/118!

Di tengah penyelidikan penyakit saya dan tumpah ruahnya orang di rumah sakit terbesar di negara bagian ini, datanglah satu per satu saudara saya seiman. Menguatkan dan meringankan ujian yang Allah hadiahkan kepada saya. Sms-sms mengalir menenangkan jiwa agar saya berkonsentrasi untuk sembuh dan banyak beristirahat. Saudara-saudara Melayu saya pun datang tanpa diminta. Bahkan ketika dokter bertanya siapa yang akan menanggung biaya rumah sakit, mereka dengan mantap menjawab OK.

Rabbana, tak pernah terbesit di benak hamba akan menjumpai ujian seperti ini. Jika Engkau berkehendak, takkan ada yang mampu menolaknya. Namun kehadiran saudara-saudara sejati ini sungguh menyejukkan hati. Mereka sibuk sama sibuknya seperti kami. Mereka pas-pasan keuangannya sama seperti pelajar-pelajar lain sebagaimana halnya kami di negeri asing ini. Bahkan penduduk negeri ini yang kami belum pernah berjumpa sebelumnya, yang belum pernah kami dengar namanya, yang tidak punya kaitan apa-apa dengan kami, datang mengulurkan persaudaraan. Bukan persaudaraan kata-kata. Bukan pula tawaran pengoles bibir belaka. Mereka seumpama sahabat Anshar yang menyambut kami para muhajirin Indonesia…..

Tidak ada yang mengikat kami kecuali iman…

Iman yang terpancang kuat dalam-dalam di dada…

Yaaa ikhwaty….

Uhibbukum fillaah….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.
  • Anonim

    Sungguh tidak perlu di ragu-kan lagi. Allah itu Maha Adil dan Bijaksana. Rasa persaudaraan yang dilandaskan pada rasa seiman adalah sebaik-baiknya Landasan Persaudaraan. Ia akan selalu terjaga dari  rasa pamrih. Niat membantu semata hanya karena mengharap Ridho Allah SWT. Itulah sebaik-baiknya memberi dengan sesama. Syaratnya kita yakin bahwa apa-pun yang kita perbuat asal itu perbuatan baik yakinlah, Allah adalah sebaik-baik pembalas perbuatan baik. Semoga semakin mempererat tali silaturrahmi…

Lihat Juga

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT