Home / Berita / Opini / Pengaruh Lingkungan dalam Pendidikan

Pengaruh Lingkungan dalam Pendidikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Peran pendidikan bagi suatu bangsa sangat penting. Dan itu tidak bisa di pungkiri lagi, sehingga pendidikan dan pengajaran mutlak diperlukan bukan hanya untuk membangun suatu peradaban yang lebih bagus tapi itu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagian orang menjadikan ta’lim dan ta’allum (belajar dan mengajarkan ilmu) bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan, dalam arti bahwa ta’lim dan ta’allum merupakan thariqah (jalan hidup). Bukan hanya sekedar konsepsi tapi sudah menjadi tradisi.

Sebagaimana Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan, yaitu:

1. Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.

2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Namun ketika kita melihat problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh sangat kompleks sekali, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Belum lagi budaya primitif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instan dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Apalagi ketika melihat anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya, sedikitnya ada tiga factor yang mempengaruhi perkembangan anak-anak didik sekarang. Inilah yang menurut penulis menjadi sorotan penting bagi kita sebagai anak didik agar bisa lebih berhati-hati di dalam bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi.

Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.

Kedua, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas teronaninya anak-anak kita hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain.

Ketiga, teknologi. Harus diakui teknologi mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau Bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisik-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.

Dalam hal ini Ibnu Kholdun menegaskan bahwa

Kalau yang satu telah lebih dahulu   (datang)   mempengaruhinya, sifat   yang lain   akan   menjauh dalam   bentuk   yang   seimbang, sehingga   menjadi   sukar baginya untuk memperoleh sifat yang telah menjauh itu. Orang-orang yang memiliki sifat kebaikan itu telah terlebih dahulu mempengaruhi dirinya, sehingga telah menjadi sifat yang tertanam dalam jiwanya, ia akan terjauh dari   kejahatan, dan sukar baginya     untuk   melakukan kebaikan. Apabila kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu terlebih dahulu sampai kepadanya, maka akan menjauh dari sifat kebaikan.

Dalam kutipan tersebut, menunjukkan suatu teori yang dilahirkan oleh Ibn Khaldun bahwa, manusia pada dasarnya adalah baik, pengaruh yang datang kemudianlah yang akan menentukan apakah jiwa manusia tetap baik, atau menyimpang menjadi jahat. Jika pengaruh baik yang terlebih dahulu datang, maka jiwanya akan menjadi baik. Demikian pula sebaliknya. Ibn Khaldun juga menegaskan, bahwa sifat kebaikan   dan kejahatan   telah   tertanam   sedemikian   rupa, sehingga telah menjadi malaikat-nya.

Dengan demikian, manusia diberi   kemungkinan mendidik diri dan orang lain. Di sinilah tergambar, bahwa dia memiliki kemauan bebas untuk menentukan dirinya sendiri melalui ikhtiarnya. Jika ia menginginkan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa maka ia harus kuat dan tangguh di dalam menghadapi panasnya kehidupan dan pengaruh yang datang dari luar maupun dari dalam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...Loading...
Kusnadi El-Ghezwa
Mahasiswa S1 Universitas Ta’limul ‘Alim, Tanger, Maroko.

Lihat Juga

Ilustrasi. (sman2purworejo.sch.id)

Budi Pekerti di Era Perubahan Makna Pendidikan