Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita…

Melingkar Adalah Menyulam Cinta, Melingkar Adalah Kita…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria

(Brothers: Untukmu Teman)

Ilustrasi (terpaksabikinwebsite.wordpress.com)

dakwatuna.com – Lagu tersebut adalah lagu lama yang tiba-tiba menjadi ingin sekali bagiku, beberapa waktu lalu, untuk sering melantunkannya. Bahkan, sampai suatu ketika ada seorang ikhwah berkata “itu kan lagu jadul, ngapain masih engkau nyanyikan”, dan tetapi aku tetap tak mempedulikannya. Ya karena lagu ini mengingatkanku pada satu hal, atau tepatnya tiga hal. Tentang cinta, iman, dan ukhuwah. Dan sahabat, malam ini, ingin sekali aku berbagi denganmu. Berbicara tentang tiga hal itu, cinta, iman dan ukhuwah. Tiga hal yang saling terkait, yang saling membutuhkan. Dan tiga hal itulah yang membuat generasi terbaik , para salafushalih mampu menuju peradaban tertinggi.

Mari kita bicarakan mulai yang pertama, tentang cinta sejati, yang katanya orang-orang indah, dan memang benar cinta sejati itu indah, seperti cintanya Muhammad pada ummatnya, yang sangat mengharukan. Yang ketika itu, sang penyair bernama Iqbal berkata “Kalau aku adalah Muhammad,” kata Iqbal, “aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.”Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua, siapa yang tidak ingin berdekatan dengan Allah, di langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang berbeda samasekali. Tapi Sidratul Muntaha bagi Muhammad adalah bukan terminal penghentian. Maka Sang Nabi turun ke bumi juga akhirnya. Menembus kegelapan hati ummatnya dan menyentuhnya dengan lembut, lalu kemudian menyalakannya kembali dengan api cinta.

Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: “Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Mekah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah -darah selama dua puluh tahun: “Pergilah kalian semua, kalian sudah kumaafkan,” katanya ksatria. Ah, memang seperti itulah cinta. Cinta itu indah. Dan Sang nabi telah membuktikannya. Lalu mengapa saat ini, banyak orang mengatasnamakan cinta, tetapi seiring dengan itu, hanya penderitaan lah yang didapat. Seperti kisah Laila Majnun, seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti kebanyakan orang saat ini, yang hilang nafsu makannya hanya karena diputus sang kekasih, yang rela meneguk satu botol baygon hanya karena ditinggal sang kekasih. Sebegitu tragiskah cinta mengajari kita? Lalu mengapa sang Nabi dengan cintanya telah sukses, membawa Islam ke puncak peradaban. Satu kesimpulan, berarti ada yang salah dengan makna cinta itu. Dan untuk selanjutnya, mari kita bincangkan lagi.

Ya, ada yang salah dengan cinta orang-orang itu. Cinta yang tak berlandaskan iman. Maka ada dua perbedaan di sini. Cinta dengan dan tanpa Iman. Mari kita bicarakan tentang Iman dan cinta. Karena kita tidak akan mungkin meraih kebahagiaan hakiki tanpa keduanya, atau kita mengabaikan salah satunya. Kita tidak akan pernah sampai kepada titik keimanan tertinggi, kecuali dengan cinta. Begitu pula sebaliknya, kita tidak akan pernah meraih cinta yang sejati, tanpa iman sebagai dasarnya. Seperti kata Ustadz Anis Matta dalam serial Cinta.

Iman itu laut, cintalah ombaknya.
Iman itu api, cintalah panasnya.
Iman itu angin, cintalah badainya.
Iman itu salju, cintalah dinginnya.
Iman itu sungai, cintalah arusnya.

Begitu erat hubungan antara keduanya. Iman dan cinta. Pohon Iman tidak akan pernah tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa adanya perawatan dari sang pecinta. Dan inilah yang berhasil dilakukan Rasulullah, dan generasi awal, para generasi terbaik yang pernah diturunkan oleh Allah ke muka bumi. Merawat Iman dengan cinta, atau sebaliknya mencintai dengan iman. Dan masih ada satu lagi yang perlu kita lihat kedahsyatannya.

Yang ketiga. Ukhuwah. Ya ukhuwah. Kata kamus, ukhuwah berarti persaudaraan yang didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Hanya berhenti sampai titik, lalu artinya pun berhenti pula sampai di situ. Padahal, Kata sebagian orang, atau beberapa orang, ukhuwah itu manis, seperti madu, ukhuwah itu indah, bak musim semi yang penuh dengan bunga-bunga berwarna hijau dan merah. Tetapi apakah benar begitu adanya. Apakah benar ukhuwah itu madu, apakah benar ukhuwah itu seindah musim semi. Sepertinya kita tidak perlu lagi mendefinisikan makna ukhuwah, karena ukhuwah akan mendefinisikan sendiri dirinya, dan selanjutnya kita pun akan berkata, ukhuwah itu indah. Mari kita lihat makna ukhuwah menurut orang-orang ini.

Yang pertama adalah ukhuwah versi orang yang berwajah halus ini, yang berjanggut, yang matanya Nampak sayu karena kurang tidur, yang ketika mengimani shalat atau sedang memimpin perjalanan jauh, dia sempat bertanya, “Dimana si fulan? Mengapa ia tak tampak?”. Tetangganya begitu tenteram, aman dari gangguan tangan dan lisannya. Ya, ukhuwah menurut orang ini adalah renyahnya candaan yang mengasyikkan, dan candanya tak pernah berbumbu dusta. “Wahai pemilik dua telinga!”, panggilan yang pernah beliau sematkan kepada Az Zubair. Beliau tidak suka orang-orang berdiri menyambut kedatangannya, beliau yang paling awal menjenguk orang sakit, duduk bersama kaum miskin, dan memenuhi undangan budak sahaya. Inilah makna ukhuwah versi lelaki yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Madinah kala itu, dan panutan umat Islam sedunia, inilah makna ukhuwah menurut Muhammad Al-Musthofa, nabi kita. Ukhuwah yang selalu dilandasi rasa cinta dan keimanan.

Lalu kita tanyakan makna ukhuwah menurut saudara kita ini, seorang al-akh, seorang mahasiswa yang juga aktivis dakwah. Ukhuwah menurut dia adalah selalu rindu untuk bertemu dengan saudaranya, lalu bersama-sama mendengarkan materi dari sang pemandu, lalu kalau ada temannya mengantuk, dengan lembut ia mengatakan “akhi, liqonya belum selesai”, menurut dia ukhuwah adalah bercanda riang gembira di bawah air terjun, saling menjatuhkan dalam derasnya air dalam sebuah permainan, lalu saling menyiramkan air dengan saudaranya, kemudian bersama-sama setelah rihlah bersama, makan bersama di sebuah kedai bakso dengan ditraktir murabbi. Ukhuwah menurut dia adalah membersamai saudara-saudaranya memasang pamflet, memasang baliho, lalu seterusnya berkoordinasi sampai menjelang subuh, merencanakan sebuah agenda besar, lalu ketika ditanya alasan, dia pun menjawab, ini semua demi Al-Islam.

Ah, nikmat, nikmat sekali ukhuwah berbalut keimanan dan cinta. Indah sekali ukhuwah berbaju cinta dan iman. Kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, seaqidah akan selalu indah, dan nikmat, karena hakikat sebuah ukhuwah, sebuah kebersamaan adalah berjuang. Dalam perjuangan itu, akan musnah segala rasa khawatir dan takut, hilang segala resah dan kalut. Kebersamaan yang diridhai oleh Allah, yang telah mengikat kita dalam bingkai kebersamaan dan persaudaraan, seperti doa-doa rabithah yang sering kita ucapkan pada saat setelah subuh. Dan selanjutnya, kesulitan, kerepotan, rasa sakit, semua yang ada dalam kebersamaan perjuangan iman melahirkan kegemilangan itsar yang tiada duanya dalam sejarah. Seperti persaudaraannya Muhajirin dan Anshar, yang saling bertukar hadiah, dan sampai bertukar istri pula, dan inilah makna bersama menurut beberapa saudara kita.

Ukhuwah adalah saling memahami, kata sang murabbi, lalu sang a’dho dengan semangat menjawab, saya pernah mencuci bajunya akh Yun, saya tau makanan kesukaan akh Kit, dan sebagainya. Atau dengan media lain, ukhuwah adalah berderingnya HP al-akh karena mendapatkan sms dari saudaranya yang berbunyi “Ana Ukhibuka Fillah, akhi, ane hari ini bertemu dengan cinta, iman, taqwa, kebahagiaan, dan kemuliaan. Kemudian ana kasih alamat Antum pada mereka. Semoga mereka mendapat tempat di hati Antum”. Inilah ukhuwah, iman, dan cinta. Yang dengan ketiganya akan menuju puncak langit-langit peradaban ini. Dan di akhir tulisan, mari kita berdendang.

Malam siang berlalu
Gerhana kesayuan, tiada berkesudahan
Detik masa berganti, tiada berhenti
Oh Syahdunya…
Sejenak ku terkenang
Hakikat perjuangan, penuh onak dan cabaran
Bersama teman- teman, arungi kehidupan
Oh indahnya…

(Brothers : Selamat Berjuang)

Dedikasi untuk saudara-saudara yang pernah membersamai dalam bingkai dakwah ini, semoga ukhuwah tak kan kekang oleh waktu

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 8,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Purnawan
Jurnalis online dan pengamat socmed.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang