Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Karena Manusia Itu Pelupa

Karena Manusia Itu Pelupa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Seperti petani yang kehilangan cangkulnya, aku mondar mandir, dari kantor ke area produksi, terus ke area inventory dan balik ke kantor lagi, bertanya pada beberapa orang yang kuharap melihat atau bahkan meminjam (tapi belum mengembalikan) pulpen, senjata utamaku untuk menyelesaikan laporan sebelum kuinput ke komputer.

Tak perlu repot-repot mencari seandainya aku masih punya pulpen cadangan. Tapi sayangnya, pulpen itu satu-satunya yang tersisa, tak ada lagi stock di kantor. Meski tentu saja salah satu rekan kerjaku tak berkebaratan bila kupinjam pulpennya, tapi aku tidak bisa menggunakan dengan leluasa karena ia pun perlu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Penasaran, sekali lagi kupastikan dengan mencari di laci sampai di kolong meja, barangkali pulpenku terjatuh di sana, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada. Dan pencarianku baru terhenti ketika seorang rekan kerja yang duduk di seberang meja, tersenyum sambil menunjuk ke lengan kiriku. Astaghfirullah, ternyata pulpen yang sejak tadi kucari-cari bukan dipinjam orang ataupun terjatuh saat aku mengembalikan laporan ke produksi, juga saat mengantar dokumen ke department inventory, melainkan kusimpan di saku lengan kiriku sendiri. (management di perusahaan tempatku menjemput rezeki memang mewajibkan seluruh karyawannya mengenakan baju seragam yang sama baik warna maupun modelnya, yaitu dua saku di depan dan satu saku di lengan kiri, untuk menyimpan pulpen atau peralatan lain seperti testpen yang biasa dilakukan karyawan bagian elektrik. Sebenarnya jarang aku menyimpan pulpen di saku ini, tapi kenapa pulpen itu ada di sana, aku benar-benar lupa).

Kejadian yang hampir sama juga pernah dialami si A. Sama sepertiku, dia juga berkali-kali membuka tas dan laci untuk mencari sebatang rokok yang ternyata ia selipkan di telinga kanannya. Juga si B yang sibuk bertanya siapa yang terakhir memakai stapler, padahal ia sendiri yang sedang memegangnya. Atau si C yang berkali-kali membongkar tumpukan file di mejanya untuk mencari satu dokumen yang sebenarnya sudah ia serahkan ke atasan sehari sebelumnya. Dan masih banyak kejadian-kejadian lain yang sebenarnya tidak mengenakan tapi terasa menggelikan akhirnya.

Begitulah kita, manusia. Di samping kelebihan, masing-masing juga memiliki kekurangan. Dan salah satu kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang adalah lupa, hanya tingkatan dan intensitasnya yang berbeda. Tidak mengenal pria atau wanita, tua ataupun muda, miskin ataupun kaya. Lazimnya memang semakin tua seseorang, semakin sering ia lupa. Tapi bukan berarti bahwa yang muda belia sama sekali tak pernah lupa. Ini sudah kodrat manusia, tempatnya salah dan lupa.

Untuk hal-hal yang terlihat mata saja kita sering lupa, apalagi hal-hal yang tidak kasat mata seperti adanya alam kubur, padang mahsyar, mizan, surga dan neraka. Terkadang ada yang bukannya lupa, tapi pura-pura lupa, sengaja melakukan walaupun ia tahu bahwa apa yang diperbuatnya di dunia akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Astaghfirullah! Di sinilah pentingnya kita sebagai saudara untuk saling mengingatkan karena manusia itu pelupa. Kita mungkin tidak memiliki pertalian darah, tapi melalui dua kalimat syahadat yang kita ikrarkan, Allah telah menjadikan kita sebagai saudara.

Saling mengingatkan, ini menunjukkan adanya komunikasi dua arah. Satu saat kita mengingatkan orang lain tapi di lain waktu kita yang diingatkan. Jangan hanya mengingatkan tapi tak terima kalau orang lain mengingatkan. Atau sebaliknya, maunya diingatkan tapi tak peduli ketika orang lain perlu diingatkan.

Saling mengingatkan, terlebih dalam hal kebaikan, ibadah, adalah keharusan. Jangan sampai satu kemungkaran terjadi di depan mata tanpa sedikit pun kita berusaha untuk mencegahnya, mengingatkan sang pelaku bahwa tindakannya keliru. Juga ketika seseorang lalai dalam menjalankan kewajiban beribadah, seharusnya kita menjadi orang pertama yang mengingatkan, tentunya sekaligus mengingatkan diri sendiri, memastikan bahwa kita sudah melakukannya.

Dan jika melalui tulisan aku berusaha untuk menjalankan kewajiban saling mengingatkan, berharap ada manfaat yang bisa diambil, yaitu yang lupa menjadi ingat bahwa manusia itu pelupa karenanya harus saling mengingatkan, terutama dalam hal kebaikan, maka aku juga berharap ada yang mengingatkanku karena bagaimanapun, aku hanyalah manusia yang tiada luput dari salah, khilaf, dan tentu saja lupa. Astaghfirullah!

Saudaraku, mari kita saling mengingatkan, menguatkan dan juga mendoakan. Insya Allah…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Mengenal Hakikat Manusia