07:52 - Rabu, 19 Juni 2013

Ahmad Heryawan, Pemimpin yang Tak Tersandera

Rubrik: Profil | Kontributor: Tim dakwatuna - 24/01/12 | 16:03 | 29 Safar 1433 H

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Lc. (inet)

dakwatuna.com – Lepas Subuh, awal 2008. Seorang laki-laki menuntun putranya menuju ibu-ibu yang berkerumun mengelilingi pedagang sayur. Ia menyampaikan salam sejenak, yang dijawab ibu-ibu itu, sebelum asyik memilah-milah sayuran dibantu putra lelakinya yang selalu minta pertimbangan sebelum memasukkan wortel, selada atau pun kentang untuk ditimbang.

Setelah menimbang dan membayar, barulah lelaki itu meraih tangan putranya dan menuntun, sementara tangan satunya menenteng kantong-kantong plastik sarat belanjaan.

Lelaki yang tak rikuh menggantikan tugas istrinya bergabung dengan ibu-ibu berbelanja sayuran itu bernama Ahmad Heryawan. Kini kita mengenalnya sebagai gubernur Jawa Barat.

Sebagaimana saat itu, kini publik mengenalnya sebagai sosok yang tak canggung melakukan hal-hal wajar yang entah mengapa, kini mulai dipandang ‘tidak wajar’. Misalnya, yang gampang diingat publik, Heryawan dengan tegas mencoret anggaran pengadaan 18 mobil dewan dalam APBD 2011 Kabupaten Bandung.

Tak ragu-ragu akan kemungkinan tanggapan negatif anggota Dewan yang akan memengaruhi pencitraan terhadap dirinya, Heryawan melakukan hal itu dengan tegas dan yakin bahwa itulah yang terbaik bagi rakyat. Bagaimana tidak, saat itu APBD Kabupaten Bandung tercatat defisit.

Tetapi Heryawan pun tak hanya bisa tegas terhadap orang lain. Publik masih ingat betapa Heryawan dan wakilnya hingga saat ini memilih menggunakan mobil dinas lama yang dipakai gubernur sebelumnya, Dani Setiawan, yakni Toyota Royal Crown buatan 2007, satu kendaraan SUV dan sebuah jip.

Mungkin bisa terkesan berlebihan, tetapi apa yang dilakukan Heryawan dengan berbelanja sayuran sendiri akan gampang mengingatkan kaum muslimin akan Ammar bin Yasir ketika menjabat sebagai gubernur.

Ammar tak jarang berbelanja ke pasar dan mengikat serta memanggul sayuran belanjaan sendirian. Atau Khalifah Ummar bin Abdul Aziz, khalifah negara besar dan kaya, tetapi memilih hidup sederhana. Dan kita sadar, betapa sosok-sosok seperti itu kian lama semakin langka

Dari Ahmad Heryawan orang bisa kian membenarkan pernyataan seorang mahaguru manajemen, Peter Drucker. Drucker menyatakan, manakala kita melihat perusahaan-perusahaan besar yang maju dan unggul, jangan salah, ada keputusan-keputusan berani di belakangnya.

Artinya, bahkan Drucker yang rasional pun percaya, keberanianlah yang membawa manusia kepada kemaslahatan, kebaikan bersama. Kita bahkan pernah mendengar dari alm Rendra, keberanian adalah cakrawala. Kian berani seseorang, makin mampu ia melihat dunia secara holistik. Menilik apa yang telah dilakukan Heryawan selama hampir empat tahun kepemimpinannya di Jawa Barat, keberanian itu begitu nyata dan gamblang.

Lihat saja, manakala sadar bahwa Jabar kian lama kian panas akibat tanaman yang kian hilang dari kehidupan, Heryawan berani mengembangkan program penghijauan dalam skala besar. Ia pun mencanangkan Gerakan Jabar Hijau berbasis sekolah.

Alhasil dalam waktu yang cepat telah ditanam 11 juta batang pohon di 26 kabupaten/kota se-Jabar, hingga selama 2011 tercatat telah ditanam 170 juta batang pohon di Jabar. Wajar bila prestasi itu diganjar rekor oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

Tidak hanya itu. Dalam bidang kependudukan dan demografi Heryawan pun mencetak prestasi dengan menerima penghargaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) berupa “Transmigrasi Award”.

Yang menarik, hanya dalam sebulan, Desember lalu Heryawan menerima empat anugerah dan penghargaan. Pertama saat Hari Nusantara, 13 Desember, di Dumai, Riau; kedua Satya Lencana Kebaktian Sosial di Jogjakarta pada Peringatan HKSN, 19 Desember; ketiga Parahita Ekapraya Pratama di Jakarta pada Peringatan Hari Ibu 22 Desember; lalu Transmigrasi Award, 27 Desember 2011. Jujur saja, tak banyak kepala daerah yang menerima empat penghargaan berkatagori nasional hanya dalam waktu sebulan.

Yang juga menarik dan masih hangat, manakala para pejabat beramai-ramai menyatakan kesiapan membeli mobil Esemka buatan para pelajar Kota Solo, Ahmad Heryawan dengan tegas menyatakan keengganan untuk latah. Ia menyatakan hanya berminat membeli mobil karya pelajar-pelajar Jabar. “Saya enggak mau beli dari Solo. Saya mau beli karya pelajar dari Jawa Barat,” kata dia.

Itulah Heryawan. Dengan pemimpin seperti itu, rakyat Jabar layak optimistis bahwa daerahnya akan mampu menjadi provinsi termaju di Indonesia. Dan tentu saja, untuk itu mereka juga dituntut berpartisipasi sesuai bidangnya. Rakyat jabar, layak bangga dipimpin seorang berani yang yakin akan cita-ciota bersama.

Tapi kita pun tahu, keberanian mensyaratkan banyak hal. Dan yang terutama, tampaknya, tidak adanya pamrih. Karena tanpa adanya pamrih, maka keberanian tak pernah tersandera. Semoga kita semua pada saatnya memiliki pemimpin seperti itu. Pemimpin yang hanya tersandera satu hal: kepentingan rakyatnya. (mdr/Salya Aradea/inilah)

Tentang Tim dakwatuna

Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com Selengkapnya.

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (74 orang menilai, rata-rata: 9,66 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Fajri

    Beliau layak utk memimpin Jabar kembali

  • Slametamu

    Allah SWT akan memberikan shodaqoh kepada orang yang rajin shodaqoh (gub. Jabar)

  • Afifah shizuka

    Subhanalloh… smg para pejabat lain bisa mencontoh…

  • Chilmyxy

    sebaiknya jg g perlu diblow2 gt.., semua jg tahu terkesan ada upaya pembersihan citra.
    Khawatir ujub dll, apapun yang beliau lakukan kami mendukung asal diatas kebenaran. takutnya kalau nanti beliau melakukan kesalahan masyarakat akan mencaci berlebih karena sejak awal ada upaya pembersihan citra yang agak lebay (Pencitraan)

    Biasa aja dan tanpa ditulis seperti ini pun beliau akan lebih berwibawa apalagi dengan sikap rendah hati. heheheh curiga ini adalh pihak partai ya yg menulis. Karena bila iya nanti Demokrat nulis kelebihan SBY, Golkar abu rizal bakrie dngan kelebihannya atau pak JK dan PKS dengan pak ahmad heryawan

    Biarlah semua berjalan n secara objektif krena yang hidup tak lepas dari salah, akan lebih baik mencari teladan mereka yg telah tiada n menjadi generasi terbaik rasulullah dan para salaf salih (coz ini forum muslim kan jadi sya pke contoh itu)

    Wallahu a’lam tapi saya salut sama perjuangan beliau.

    • Muttaqin Hadi

      Tidak selamanya mem-blow up itu berdampak negatif. Adakalanya, masyarakat harus dikenalkan dengan keteladanan. Dan, insya Allah hal itu sudah ditampilkan oleh sosok Ahmad Heryawan. Apakah nantinya khawatir akan membuat beliau ujub, saya  kira kembali kepada dirinya. Yang teramat penting bagi kita, mendoakan beliau semoga istiqomah menjalankan amanah ini. Wallahualam. 

  • Rasman Aceh

    saya pikir tdk cukup dengan niat baik saja. kebaikan itu harus bisa ditularkan agar menjadi budaya. betapa banyak saat ini keburukan di blow up menjadi pemakluman bahkan sebagai gayahidup. saran saya perlu banyak berita baik dari bayk orang. percayalah itu akan mjd inspiratif bagi banyak orang juga.

  • https://me.yahoo.com/a/sbcMZqV9z.hQvrKLD4eZWckOejKEWA--#a7b2e johngozal

    keren euy

  • http://www.facebook.com/encu.ardiansyah Encu Ardiansyah

    jalan MANTAP…. ekonomi lancar

Iklan negatif? Laporkan!
71 queries in 0,725 seconds.