16:03 - Selasa, 02 September 2014

Bukti Tidak Ada Tuhan Selain Allah

Rubrik: Opini | Kontributor: Tada Hasy - 23/01/12 | 11:30 | 28 Safar 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tahukah Anda bahwa sebagai orang yang mengaku beriman sekalipun, prinsip dan kelakuan yang di luar jalur Islam penyebabnya kadang sesimpel karena ia tidak benar-benar tahu bahwa Tuhan itu ada. Ia tidak dapat menunjukkan bahwa Tuhan itu hanya satu, yaitu Allah.

Coba, tunjukkan kepada saya bahwa Tuhan itu ada! Di mana?

Baiklah, kalau Anda sudah yakin bahwa argumentasi Anda tak tergoyahkan, Anda boleh tidak membaca tulisan ini.

Bagi yang belum yakin, tuntaskan tulisan ini.  Saya akan menceritakan bagaimana saya mengenal dan menemukan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Ide Transendental

Ide tentang zat yang berada di luar jangkauan manusia, transenden, muncul secara wajar dari ketidaktahuan manusia tentang banyak hal, sementara hal-hal tersebut begitu unik, ajaib, atau bahkan mengagumkan.

Manusia tak mengerti kenapa pohon kelapa bisa terbakar setelah ada petir, maka ia menanamkan ide di kepala bahwa pasti ada “dewa petir”. Para prajurit perang tak mengerti bagaimana pasukan yang sedikit bisa mengalahkan pasukan lawan yang jumlahnya berlipat-lipat, maka muncullah kepercayaan nasib yang ditentukan “dewa perang”. Atau siapa yang menggantungkan bintang di langit, matahari terbit setiap pagi, bulan purnama bersinar indah.

Salah satu pendekatan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang belum dimengerti tersebut adalah sains.
Setelah merumuskan teori dan implikasinya, lalu dikonfirmasi oleh percobaan, fenomena pohon kelapa terbakar tadi dapat dijelaskan melalui “fisika sederhana”. Dengan memahami komposisi pasukan, faktor pemimpin, spirit pasukan, atau tujuan peperangan, seorang ahli strategi bisa mengatakan bahwa pasukan sedikit yang menang tadi merupakan contoh “seni perang”. Masalah bintang, matahari, dan bulan itu urusan astronomi.

Dari sini, banyak kejadian atau hal yang tak dimengerti sebelumnya dapat dijelaskan secara logis. Kita jadi tahu bahwa bumi ini bulat. Kita juga jadi tahu bahwa penyakit flu bisa diobati sehingga tak menyebabkan kematian massal seperti yang terjadi di zaman Inca.

Tentu sains tak sebatas sains eksak. Dari sisi psikologi, misalnya, kita bisa membangun rumah sakit jiwa.
Secara keseluruhan, sains membantu kita memahami bagaimana alam semesta ini bekerja.

Efek sampingnya, bagi yang mendapat kepuasan dengan penjelasan-penjelasan sains itu, ia jadi tak memerlukan lagi ide zat transendental tadi. Toh ia tahu bahwa orang yang duduk lama di bawa pohon rindang bisa pingsan karena kekurangan oksigen, bukan karena penunggu pohon. Bahkan ia tahu kapan matahari akan padam.

Lebih jauh, sains tak mendeteksi adanya zat transendental. Sains tak mendeteksi adanya Tuhan. Tuhan tak bisa dilihat, tak bisa diraba, atau tak dapat dicicipi. Tak pernah terjadi, misalnya, seorang ahli optik setelah bekerja selama 10 tahun dengan penuh dedikasi, tibalah suatu hari ia berlari keluar laboratorium sambil berteriak, “Eureka! Eureka…!” Ia telah melihat Tuhan melalui teropong.

Tak pernah.

Orang-orang yang tak mendeteksi adanya Tuhan secara ilmiah itu lalu menyimpulkan dengan lantang bahwa Tuhan tidak ada. Bahwa alam semesta ini muncul dari ketaksengajaan (coincidence), bukan diciptakan. Kita sebut saja kelompok orang ini sebagai materialis.

Berpikir Seperti Saintis

Seseorang mungkin akan membuat Anda ragu dengan pertanyaan: “Sains tahu jawabannya, kenapa Anda masih percaya Tuhan?” Mari kita bantah dengan beberapa poin berikut.

1. Postulat

Secanggih-canggihnya pencapaian sains, semuanya berdasar pada postulat. Postulat adalah pernyataan yang dianggap benar tanpa pembuktian. Dari postulat ini dapat diturunkan implikasi-implikasi lain sehingga terkonstruksi suatu bangunan ilmu pengetahuan; biasanya dinyatakan dalam teorema, proposisi, dan akibat (corollary). Salah satu postulat yang terkenal adalah Hukum Kekekalan Energi:

Energi tak dapat dimusnahkan dan diciptakan. Ia hanya berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain.

Pernyataan ini diterima begitu saja, dianggap benar tanpa perlu dibuktikan. Seorang saintis sama sekali tak bereksperimen untuk menciptakan energi baru, tak pula ia berusaha memusnahkan suatu energi. Pokoknya itu benar.

Jika digabungkan dengan Hukum Kekekalan Massa, didapat ekuivalensi antara masa dan energi seperti E=mc2 yang terkenal itu.

Contoh lain:

Hanya ada tepat satu garis yang melalui dua titik yang berbeda.

Pernyataan ini tak pernah dibuktikan, tapi implikasinya sangat dahsyat. Salah satunya kajian geometri bola (Spherical Geometry). Ambil contoh bola dunia. Jika bumi dianggap bola berjari-jari 1 m, tahukah Anda luas seluruh permukaan bumi 4 pi m2 itu akibat dari pernyataan di atas? Atau tahukah Anda berapa jumlah minimal satelit agar GPS berfungsi dengan baik di seluruh permukaan bumi?

2. Asumsi

Perilaku alam ini sungguh kompleks. Berinteraksi satu sama lain; Berubah terhadap waktu; Sementara otak manusia tak bisa mengimbangi. Karena itu, diperlukan suatu penyederhanaan agar mudah dipahami tanpa menghilangkan keadaan yang sebenarnya. Alat untuk menyederhanakan tersebut, saintis bermain dengan asumsi. Asumsikan “begini”, didapat suatu rumusan. Asumsikan “begini dan begitu”, didapat rumusan yang berlainan (atau berkaitan).

Misalnya, jika Anda ingin menentukan waktu tercepat untuk menempuh Jakarta-Bandung, percayalah, asumsikan bukan hari libur.

3. Tingkat Kepercayaan

Untuk ilmu-ilmu yang bukan teoritis/analitis, struktur bangunannya dibentuk dari hasil pengamatan/percobaan. Perlu diketahui bahwa perilaku alam ini juga tak bisa ditentukan secara pasti. Kita hanya mengamati suatu kejadian berdasar pada “peluang” ia terjadi. Dengan asumsi yang sesuai, suatu pengamatan akan diinterpretasikan “selogis mungkin” dengan “kesalahan sekecil mungkin”. Keberterimaan suatu interpretasi ditentukan oleh tingkat kepercayaan (level of acceptance). Dalam ilmu statistik, jika tingkat kepercayaan ini tinggi, 95% misalnya, kesimpulan dari suatu percobaan dapat dipandang ilmiah.

Meskipun ada kesalahan, kita mempertahankan interpretasi ini karena Hukum Bilangan Besar dan Teorema Limit Pusat (Central Limit Theorem), dalam artian: jika perlakuan terhadap sampel percobaan dilakukan berulang-ulang “cukup besar”, interpretasi akan “konvergen” (converge) ke keadaan yang sebenarnya.

Memahami ketiga hal di atas, kita bisa mematahkan prinsip materialis dengan satu sudut pandang saja: cacat logika (logic flaw).

Keunggulan metode sain melalui ketiga dasar di atas terletak pada kemampuan sains untuk “memprediksi” suatu kejadian. Hasil dari keunggulan tersebut termanifestasi dalam “produk sains”. Misalnya, dalam ilmu kimia kita kenal efek fotolistrik, maka kita bisa membuat mesin foto kopi.

Prediksi yang paling menakjubkan terjadi pada relativitas ruang dan waktu dalam teori relativitas Einstein: bahwa di sekitar benda yang massif, ruang itu melengkung. Ini “dikonfirmasi” oleh pengamatan Eddington dengan memotret benda langit saat gerhana matahari. Terlihat benda yang sama memiliki citra yang berbeda karena cahaya tidak merambat lurus. Ilustrasinya, jika sebuah pintu “sangat berat”, cahaya yang mengenai benda di balik pintu “berbelok” ke samping pintu sehingga sampai di mata kita, karena ruang di sekitar pintu itu melengkung, sehingga kita bisa melihat benda tersebut seolah-olah pintu tembus pandang.

Pengkonfirmasian teori melalui percobaan ini perlu kita luruskan. Ingat bahwa interpretasi “Tuhan tidak ada” tunduk pada implikasi dari postulat awal yang dibentuk. Penghubung antara postulat dan interpretasi adalah serangkaian hubungan sebab-akibat. Seperti yang pernah kita pelajari di SMA kelas 1 dulu, bentuk sebab-akibat yang paling umum dan sederhana bisa diambil contoh berikut.

“Jika saya lapar, maka saya makan.”

atau

“Semua orang Subang adalah warga Indonesia.”

Hasil konfirmasi itu terletak setelah kata “maka”. Secara pasti:

Jika teori berlaku, maka konfirmasi terjadi.

Padahal kita tahu:

Kalau saya makan, belum tentu saya lapar. Bisa saja karena memang saya rakus.

Atau bukankah tidak semua warga Indonesia itu orang Subang? Ada orang Bali!

Selanjutnya, kalau saya tak lapar, apakah saya tidak akan makan? Belum tentu. Bisa saja saya makan meskipun belum lapar. Atau kalau saya bukan orang Subang, apakah saya bukan warga Indonesia? Belum tentu. Saya mungkin orang Medan, tapi saya masih warga Indonesia.

Nah, interpretasi eksistensi Tuhan melalui pendeteksian oleh sains bisa kita tulis sebagai berikut.

“Jika Tuhan terdeteksi, maka Tuhan ada.”

Seperti penalaran sebelumnya, bukankah:

  1. Jika Tuhan tak terdeteksi, belum tentu Tuhan tidak ada. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.
  2. Jika Tuhan ada, belum tentu Tuhan terdeteksi. Bisa saja Tuhan ada, tapi tak terdeteksi.

Jadi, ketidakmampuan manusia mendeteksi Tuhan secara fisik (Tuhan tak terlihat, tak dapat dicicipi, atau tak dapat diraba), sama sekali tak menghilangkan fakta eksistensi Tuhan itu sendiri!

Holistik

Kesadaran akan adanya zat transendental juga muncul ketika kita memandang kehidupan dan alam semesta secara keseluruhan/holistik. Tadi kita melihat dari sisi “Bagaimana bumi mengelilingi matahari?”, sekarang kita lihat dari “Kenapa hanya di planet bumi terdapat makhluk hidup?”. Untuk itu, mari kita sikapi ketidakmengertian akan fenomena-fenomena seperti pohon kelapa terbakar bukan pada “bagaimana”, melainkan pada “latar belakang dan tujuan”. Ilustrasi yang paling umum adalah sebagai berikut.

Jika Anda pergi ke suatu kota, lalu Anda melihat gedung yang sangat indah, Anda akan bertanya-tanya: siapa pemilik gedung ini? siapa arsiteknya?, jumlah pegawainya?

Saya jawab:

Tidak ada yang mengerjakan gedung tersebut, apalagi arsitek. Gedungnya tiba-tiba tadi pagi ada di sana. Mungkin batu-batu dari gunung terbawa longsor, kaca dan besi berkumpul, lalu terbentuklah bangunan indah. Singkatnya, gedung itu terbangun secara kebetulan.

Anda menyangkal: tidak mungkin!

Nah, mari kita terapkan penalaran yang sama terhadap alam semesta. Apakah Anda tidak merasakan keindahan bintang-bintang yang bersinar di malam hari itu? Pernahkah Anda mengajak kekasih Anda untuk menyaksikan matahari terbit dari atas bukit? Lalu Anda berpikir bahwa keindahan itu terjadi secara kebetulan?

Kita sangkal: tidak mungkin!

Orang-orang yang menyadari adanya “campur tangan” zat transendental, secara naluriah akan mencari siapa/apa zat tersebut. Sama seperti ketika kita sudah yakin bahwa gedung indah di kota tadi pasti dibangun, kita akan mencari siapa arsiteknya. Kelompok orang ini lalu masuk ke pencarian Tuhan.

Kita ambil contoh cara Nabi Ibrahim berdakwah kepada kaumnya. Misalkan seseorang awalnya mengira matahari adalah Tuhannya, tapi ketika matahari terbenam, ia ragu, harusnya Tuhan tidak terbenam. Kemudian ia menganggap bulan itu Tuhan, tapi ketika datang siang, ia ragu, harusnya Tuhan tidak hilang siang dan malam.

Sama seperti kita mencari sesuatu, kita bisa menemukan sesuatu itu karena hal-hal berikut.

1. Tanda-tanda

Kalau kita mencari kuda hilang, kita akan memperhatikan tapak kakinya.

2. Informasi dari orang lain

Kita akan bertanya, barangkali ada yang melihat kuda.

3. Sesuatu itu sendiri yang menampakkan diri.

Kudanya sendiri yang menampakkan diri kepada kita.

Ide zat transendental tadi baru sampai pada poin 1. Kita baru menyadari bahwa ada tapak kuda, kita melihat bintang-bintang yang menakjubkan. Poin 2 bisa terjadi kalau memang ada yang telah melihat zat tersebut. Sampai sini, Tuhan tahu keterbatasan manusia; dengan segala kesibukannya, egoismenya, atau godaan setan. Tuhan juga tahu sains tidak akan mendeteksi diri-Nya. Maka, kita perlu poin 3. Jadi, Tuhan sendiri yang akhirnya memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada manusia.

Tapi Tuhan selektif, Ia tak memberi tahu sembarang orang. Ia hanya memberi tahu orang-orang yang benar-benar mencari Tuhan. Lebih jauh, Tuhan memperkenalkan diri lewat manusia pilihan yang disiapkan untuk member tahu manusia lainnya. Dalam hal ini, kita namai nabi.

Nah, saya akan menggunakan informasi yang diberikan Tuhan kepada nabi tersebut seakan-akan kita sudah tahu bahwa informasi tersebut valid/otentik/benar. Kita akan lihat nanti bagaimana satu informasi bisa didapat dari informasi lain dan antar informasi saling menguatkan, termasuk klaim validasi itu sendiri. Dan sumber informasi yang digunakan adalah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, yaitu Al-Qur’an.

Perhatikanlah bagaimana cara Tuhan memperkenalkan diri melalui ayat-ayat berikut.

1. “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha 20:14)

Secara gamblang:

“Sampaikan kepada orang-orang yang mencari Tuhan itu, Muhammad, Akulah Allah, Tuhan kalian. Aku yang menciptakan langit dan bumi, bahkan diri kalian sendiri. Lalu beribadahlah kepadaku supaya kalian ingat terus, tidak lupa, tidak tersesat.”

Tapi apakah Muhammad sekadar menciptakan ide transendental melalui kepalanya sendiri? Apakah konsep Allah itu hasil pemikirannya sendiri? Sekadar untuk menarik simpati dengan membuat wadah keagamaan? Tidak. Allah sendiri memberi tahu:

2. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm:3-4)

Secara gamblang:

“Hey, kamu yang masih ragu-ragu, juga kamu yang mencari-cari kesalahan, apa yang dikatakan Muhammad itu bukan berasal dari pikirannya, tapi datang dari Aku, Tuhan kalian.”

Untuk lebih meyakinkan bahwa Al-Qur’an ini datang dari Tuhan, Tuhan sendiri memberikan ruang kontemplasi:

3. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al-An’am:82)

Tapi di dalam Al-Qur’an tidak ada yang bertentangan, baik antar ayat, maupun dengan observasi sains. Maka, pastilah Al-Qur’an itu datang dari Tuhan. (Ingat, kalau saya tak makan, pastilah saya tak lapar.)

Apa? Anda masih menolak? Tuhan menantang Anda:

4. “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah:23)

Secara gamblang:

“Kalau Anda tidak bisa membuat satu ayat saja yang seperti Al-Qur’an, maka Anda orang-orang yang salah. Jadi, akuilah bahwa Aku ini Tuhanmu.”

Menurut hemat saya, kalau Anda mencoba membuat-buat satu surat saja, secara tak langsung Anda telah mengakui bahwa itu perkataan Tuhan. Anda hanya mencari-cari fitnah.

Jika kita mengasosiasikan Tuhan sebagai zat yang menciptakan alam semesta, wajarlah jika kita menganggap-Nya sangat hebat, sementara kita makhluk kerdil yang tak ada apa-apanya. Tuhan menciptakan DNA, sementara manusia harus berabad-abad untuk mengetahui adanya DNA.

Dengan hanya 4 pokok pengenalan tersebut, pembuktian eksistensi Tuhan sepenuhnya terletak pada validasi Al-Qur’an. Padahal, validasi ini telah diberikan oleh poin 3:

Al-Qur’an datang dari Tuhan, maka seluruh isinya merupakan kebenaran.

Sampai sini, kita sudah membuktikan bahwa Tuhan itu ada.
Lalu, untuk membuktikan bahwa Tuhan itu hanya satu, kita ambil saja ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Katakanlah (olehmu, Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa’.” (Al-Ikhlash:1)

Jadi, Tuhan itu ada dan hanya satu, yaitu Allah.

Bukti lengkap.

Tentang Tada Hasy

I've been living since I don't remember when ^^ [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Samin Barkah, Lc

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (125 orang menilai, rata-rata: 9,35 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • tama

    izin copas mas…

  • http://www.facebook.com/al.siahaan Al Ansor Siahaan

    penjelasannya memuaskan,,,

  • mifta

    aku sangattt…sangattt bersyukurrr tak terhingga terlahir & bersyahadat sebagai Islam
    Subhanalloh walhamdulillah….

  • wigyonasukha

    ijin copy

  • puji

    semakin yakin dngan adanya ALLAH SWT.

Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 2,073 seconds.