Terasing

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Dunia adalah tempat persinggahan, kita hanya sebentar berteduh untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan panjang menuju tempat abadi yaitu kampung akhirat. Ketika singgah, tak usah kita terlena dengan tipu daya warna warni dunia. Gemerlapnya akan membuat kita terpana. Keindahannya akan membuat kita lalai. Cukuplah kita mengisi perbekalan yang dibutuhkan dalam perjalanan panjang nanti.

Sedang akhirat adalah tempat asing dan hanya untuk orang-orang asing dan berbahagialah bagi kita yang merasa asing. Asing dengan segala hiruk pikuk dunia. Asing dengan ketaqwaan kita kepada Allah di tengah menjamurnya kemaksiatan.

Siapa yang menikmati dunia, aku pun pernah merasakannya, kesegaran dan siksanya pun pernah aku rasakan, aku tak melihatnya kecuali tipuan dan kepahitan, dunia tak lain adalah bangkai busuk, di atasnya terdapat anjing-anjing yang siap menyantapnya. Jika engkau menjauh darinya, maka kamu akan selamat. Dan jika engkau mengambilnya, anjing-anjing itu akan merebutmu. Maka tinggalkanlah saja semua sampah itu. Jiwa yang bertaqwa tak boleh terperosok ke dalamnya.(Al Imam AsySyafi’i)

Sesungguhnya bagi orang mukmin, kebahagiaan yang abadi akan di tangguhkan hingga alam akhirat bukan di dunia. Jadi jangan berkecil hati jika di dunia mengalami kesulitan yang bertubi-tubi. Itu hanyalah suatu nuansa dalam perjalanan hidup seorang hamba guna mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dengan kesulitan tersebut, akan terlihat manakah hamba yang benar-benar teringat akan Rabbnya dan mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya guna mendapatkan tempat terbaik di akhirat kelak. Atau menjadi hamba yang menjadi kufur dan menjauh dari hakikat penciptaan manusia untuk selalu menyembahNya. Sejatinya dunia adalah tipuan, maka kita tak boleh tertipu olehnya. Dan dunia adalah kepahitan, maka janganlah kita menelannya mentah-mentah tanpa merasakannya terlebih dahulu.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di rihoiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al Fajr : 27-30)

Dunia dan segala pernak perniknya yang selalu di puja. Usianya yang semakin tua justru makin di idolakan oleh penghuninya dengan berbagai macam aksesoris guna memperindah, katanya. Meskipun mayoritas keindahan tersebut sangat bertolak belakang akan hakikat penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah. Dunia dengan berbagai polesan bagai penyihir yang mampu membuat kita mengabaikan kewajiban kita sebagai hamba. Terperosok ke dalam jurang yang di gali sendiri.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al Kahfi : 46)

Dalam kondisi seperti itu, kita akan memiliki nilai lebih jika kita mampu istiqamah akan segala perintah Allah. Karena keistiqamahan bukan di nilai manakala kita berasa di tempat dengan sarana dan prasarana atau yang memadai di lingkungan yang mendukung namun keistiqamahan akan teruji manakala kita berada dalam keterbatasan dan perbedaan. Tak sedikit yang rapuh manakala mendapati kondisi yang berbeda di banding biasa. Tapi itulah, di dunia kita akan bertarung dengan segala bentuk kemodernan yang menyimpang. Keterasingan yang identik dengan cap buruk. Kita rajin beribadah, akan di bilang sok alim. Kita menyampaikan kebenaran, akan di cap sok benar. Kita mengikuti sunnah rasul, maka keselamatan kita akan terancam. Namun jangan pernah khawatir, karena Allah adalah penggenggam langit dan bumi. DIA tak akan pernah tidur akan semua peristiwa. Boleh jadi di dunia kita teraniaya, tapi jika Allah tetap meridhai apa yang akan kita lakukan dan kita tetap berada di jalanNya maka senantiasa di akhirat kita akan menjadi pribadi yang istimewa yang selalu di rindukan oleh para penghuni langit. Kebahagiaan dan kesenangan bagi orang mukmin akan Allah berikan di akhirat nanti, sedang bagi orang yang lalai maka kesenangannya akan di berikan di dunia.

Jadilah orang asing meskipun dengan berbagai stigma yang melekat. Baikkah atau burukkah itu. Karena Allah adalah sebaik-baik penilai. Harapkanlah nilai terbaik dari Allah, singgahkan pujian yang terlontar dari mulut manusia hanya kepadaNya. Karena sekali lagi dunia adalah persinggahan. Maka janganlah menggandrunginya hingga lalai akan kampung keabadian yaitu akhirat.

Allahua’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Ketua Umum (Ketum) Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Prof. Hj. Tutty Alawiyah (Foto: antara.com)

Innalillahi, Ustadzah Tuti Alawiyah Meninggal Dunia