Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mau Langsung Atau Mampir Dulu?

Mau Langsung Atau Mampir Dulu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Masih ingat tulisan berjudul Karena Allah Semata? Ya, tulisan tentang Fulan dan rekan kerjanya yang senang menjadikan Fulan sebagai bahan ledekan karena masih membujang di usianya yang sudah berkepala tiga. Juga memandang sesuatu (hampir) selalu dari sudut duniawi saja, salah satunya dengan ‘menuduh’ Fulan berpuasa karena terpaksa, tidak ada yang memasakkan untuknya, karena ingin cepat dapat jodoh, ingin cepat kaya dan berbagai tujuan dunia lainnya.

Alhamdulillah, sejak kejadian siang itu, rekan kerja Fulan tak lagi meledek Fulan soal jodoh, meskipun belum bisa meninggalkan sepenuhnya sifat usilnya. Bertahap, butuh waktu. Dan itu pula yang sedang ia jalani hingga benar-benar meninggalkan kebiasaan tidak baiknya. Dan bukan untuk membeberkan aib seseorang apabila kali ini saya ingin menuliskan kembali tentang rekan kerja Fulan yang satu ini. Kita ambil saja hikmah dan pelajarannya. Tak semestinya kita fokus pada ‘orang’nya hingga terlupa untuk mengambil pelajaran, meski dari sebuah kesalahan yang ia lakukan. Tidak setiap orang menempuh proses yang sama untuk sebuah pembelajaran. Barangkali dari sanalah – dari kekhilafan yang ia lakukan – rekan kerja Fulan mendapatkan kesadaran, kita doakan saja. Kalau dia saja bisa mendapat pelajaran berharga janganlah kita menjadi sebaliknya.

Siang itu, di sela-sela rutinitas pekerjaan yang memang terkadang menjemukan, sekedar ngobrol dan sedikit bercanda bisa menjadi salah satu solusi untuk mencairkan kepenatan. Dan lagi-lagi, Fulan yang siang itu sedang berpuasa sunnah menjadi awal pembelajaran ini.

“Sorry, Lan. Kamu rajin puasa Senin – Kamis, tapi belum tentu masuk syurga, kan?”

Pertanyaan yang singkat tapi sungguh tidak bisa dijawab dengan sekedarnya saja. Seandainya yang bertanya adalah salah satu rekan kerja non muslim, Fulan tidak begitu terkejut. Aqidah berbeda, pemahaman pun berbeda. Tapi yang bertanya adalah seorang muslim, meskipun seisi kantor tahu ia belumlah menjadi seorang muslim yang taat. Sebuah pengakuan secara blakblakan sering ia katakan bahwa ia belum sepenuhnya mengerjakan shalat. Hanya ada satu waktu yang sering ia kerjakan, empat lainnya, bukan lupa, masih merasa berat, entah karena alasan apa. Astaghfirullah.

“Pasti! Pasti masuk syurga, saya yakin itu!” jawab Fulan mantap, membuat rekan yang bertanya terkejut, juga beberapa rekan kerja lainnya. Tapi Fulan belum menyelesaikan jawabannya. “Selagi kita beriman kepada Allah dan rasul Nya hingga maut menjemput kita, maka syurga adalah hak kita. Ini janji Allah, dan Allah tidak pernah mengingkari janji Nya. Hanya saja, apakah kita akan langsung masuk syurga atau mampir dulu di neraka, itu yang saya tidak tahu. Agar tidak perlu mampir di neraka, itu yang harus saya usahakan. Tidak cukup dengan mengatakan beriman, lalu beranggapan langsung masuk syurga. Ada kewajiban yang harus kita jalankan, kesunahan yang perlu kita kerjakan agar bisa langsung masuk syurga, atau setidaknya tidak perlu lama (mampir) di neraka.”

“Mampir dulu di neraka?” tanya rekan kerja Fulan, berpikir sejenak. “Kalau sudah rajin ibadah masih mungkin mampir di neraka, percuma dong. Apa bedanya dengan saya yang ibadahnya masih bolong-bolong? Hahaha…” lanjutnya sambil terbahak. Sayang, kali ini ia harus ‘merayakan’ leluconnya seorang diri. Tak ada satu pun rekan kerjanya yang meng-amin-i.

“Semestinya begini, kalau seorang ahli ibadah saja belum tentu langsung masuk syurga, apalagi yang jauh dari ibadah? Rasulullah saw yang dijamin langsung masuk syurga saja masih giat beribadah, bahkan melebihi ibadah siapapun, apalagi kita yang masih banyak maksiat dibanding ibadahnya. Kalaupun ada ibadah yang kita lakukan, belum tentu Allah terima sepenuhnya karena berbagai kecacatan yang tidak kita sadari. Seringkali niat dan caranya sudah benar, tapi setelahnya muncul rasa sombong, ujub dan riya, tiada keikhlasan. Orang seperti kita (terutama saya) semestinya lebih giat lagi beribadah agar tak perlu mampir dulu di neraka. Atau kalaupun terpaksa mampir, tidak perlu lama-lama di sana.”

“Nggak apa-apa kali ya, mampir di neraka, toh nda lama. Di surga nanti kan kita selamanya.”

“Astaghfirullah! Selain pedihnya siksa neraka yang tak terkira, waktu di sana itu berbanding ribuan kali dengan waktu di dunia. Sehari di sana sama dengan seribu tahun di sini. Na’udzubillah!” bergidik Fulan membayangkan ini.

“Meski saya belum sepenuhnya mengerjakan shalat, tapi kan saya sering sedekah. Bukankah sedekah itu bisa menjadi pengantar kita masuk syurga?”

“Betul, salah satu, bukan berarti satu-satunya. Dan sedekah yang dimaksud tentunya sedekah dengan harta yang halal, termasuk cara memperolehnya, dikeluarkan dengan penuh keikhlasan, tidak berharap kecuali ridha Allah semata. Tidak perlu dihitung-hitung apalagi disebut-sebut yang menjadi rusak nilai keikhlasan karenanya. Banyak orang yang tidak mendapatkan apa-apa dari ‘kebun’ miliknya karena benih yang ia tanam terbakar oleh nafsunya sendiri.” Tanpa bermaksud menjatuhkan, Fulan sengaja memberi penekanan lebih saat menyebut sedekah karena memang ia khawatir tabungan akhirat rekan kerjanya ini minus karena ia sering menyebut-nyebut sedekahnya, walau itu benar adanya. “Dan sebelum amalan lain diperhitungkan, terlebih dulu shalat yang akan ditanyakan. Jangan menunda-nunda shalat, menunggu sampai umur sekian, karena kita tak pernah tahu apakah kita akan sampai di umur segitu.” Fulan menambahkan.

Sebenarnya orang yang beranggapan seperti itu bukan hanya rekan kerja Fulan. Ada beberapa orang lain yang seolah (atau memang) meragukan janji Allah akan syurga bagi hambaNya yang bertaqwa. Atau menganggap bahwa dengan beriman maka syurga sudah menjadi haknya, lantas merasa tidak perlu untuk menjalankan kewajiban lainnya. Juga ada yang memilah dan memilih ibadah sesuai dengan keinginannya. Mengerjakan yang satu, meninggalkan lainnya padahal itu sama-sama wajib hukumnya. Mengesampingkan sunah, tapi tak juga mengerjakan yang wajib. Menyangka yang ia lakukan adalah satu-satunya kunci untuk membuka pintu syurga.

Selagi kita kembali menghadap Allah dengan membawa iman, syurga memang menjadi hak kita. Tapi apakah kita harus lebih dulu mampir di neraka atau langsung masuk ke syurga, itu yang harus kita usahakan. Pilihan ada pada kita masing-masing, apakah mau langsung atau mampir dulu?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (42 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ydsf.org)

Adakah Tempat yang Pantas Bagimu Selain Surga?