Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dari Debu dan Polusi Kita Belajar

Dari Debu dan Polusi Kita Belajar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (radhitisme.blogspot.com)

dakwatuna.com – Jum’at pagi yang indah ….

Saat berangkat bekerja…

Seperti hari-hari kemarin, angkot, kopaja, bus adalah transportasi utama saya untuk melaksanakan aktivitas saya. Meski kadangkala harus berdiri karena tidak mendapatkan bangku, menunggu waktu yang lama hingga angkot pun muncul. Namun dibalik ketidaknyamanan tersebut – mungkin banyak yang berpendapat seperti itu – tetapi saya selalu menjalaninya dengan hati yang tersenyum. Semoga selalu seperti itu selamanya.

Menurut saya, ketika berbaur bersama orang-orang di bus, berjalan dengan angin yang berdebu, kepanasan, polusi, justru membuat otak saya berputar untuk merekam kejadian-kejadian yang saya lihat yang menurut saya banyak hikmah dan pembelajaran yang dapat saya ambil. Kadang, banyak kejadian yang sebenarnya menarik namun tidak terlihat oleh mata kita dikarenakan kita terlalu asyik dengan diri sendiri.  Prinsip saya, buka mata buka hati buka telinga akan kejadian sekitar.

Ketika saya merasa kagum pada pengamen yang menurut saya bukan pengamen biasa tapi justru seniman yang terpinggirkan. Kagum karena terpancar kecerdasan yang tersembunyi dibalik penampilan yang apa adanya. Dengan mengumandangkan lirik-lirik yang menyentil pemerintah. Tapi sayang, yang tersentil justru tak mendengar karena sudah nyaman duduk di mobil ber AC yang bebas dari pengamen. Saya bisa sangat kagum dengan mereka yang memiliki harga diri, bangga dengan kebahagiaan yang berbalut kekurangan. Karena menurut saya, mereka bisa sangat menikmati hidup tanpa harus ada beban untuk mengumpulkan uang berkarung-karung dan tak harus ketakutan dengan adanya uang berkarung-karung karena mereka tak memiliki itu semua. Tapi mereka tetap terlihat sangat menikmati hidup. Saya lebih bersimpati kepada mereka para seniman jalanan di banding pejabat jalanan yang lalu lalang di jalan dengan mobil mewahnya dan mengganggu para pengguna jalan dengan keegoisan yang terpancar dari bunyi-bunyi sirene yang sangat memekakkan telinga dan tidak mau mengalah.

Kadang saya merasa jengah dengan ulah para anak jalanan yang memaksa meminta-minta uang tanpa berbuat apa-apa hanya bermodalkan ancaman-ancaman. Tapi saya tak ambil peduli karena masih banyak objek menarik lain yang lebih menarik untuk di amati.

Pagi ini saya seperti baru menyadari bahwa hukum rimba yang terdapat di belantara bahwa alam tak membedakan antara laki-laki dan perempuan pun terjadi di kehidupan perkotaan. Bahkan yang mengenaskan yaitu saat saya naik kopaja menuju tempat saya bekerja. Bukan hal baru jika kursi yang terdapat pada angkutan umum menjadi hal yang mewah, apalagi jika jarak yang ditempuh lumayan jauh. Saat saya perhatikan semua tempat duduk yang sudah penuh terisi, bukan oleh mayoritas wanita tetapi pria, makhluk yang ciptakan Allah untuk melindungi kaum wanita. Saya pun termasuk penumpang yang berdiri bersama mayoritas wanita tentunya. Entah saya harus merasa aneh atau seperti apa, banyaknya wanita yang berdiri tak membuat mereka malu untuk segera berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk wanita yang berdiri tetapi tanpa merasa bersalah, mereka tetap duduk manis. Karena selemah-lemahnya kaum pria, masih lebih lemah kaum wanita, karena memang seperti itulah kodratnya. Dan sekuat-kuatnya kaum wanita, tetap saja ia adalah makhluk yang perlu di istimewakan.  Hukum rimba kini telah merambah kehidupan perkotaan.

Lain hari saya melihat banyaknya anak kecil yang berkeliaran dijalan. Meminta-minta. Mengamen. Saya tak menyalahkan mereka yang berperilaku seperti itu atau orang tuanya yang mungkin adalah faktor pendukung adanya perilaku dari anak-anak tersebut. Ekonomilah yang akan menjadi jawaban atas segala permasalahan yang timbul. Saya pun tak ingin menyalahkan pemerintah. Tak juga akan terdengar oleh mereka. Terlalu tebal dinding antara mereka dan rakyat hingga sering saya merasa miris dengan banyaknya aksi unjuk rasa yang banyak terlihat. Mereka kepanasan, berteriak menyuarakan isi hati, meminta keadilan tapi kepada siapa mereka berbicara. Manakala yang di ajak berbicara tak mendengar atau tak ingin mendengar teriakan mereka. Miris.

Di jalan – menurut saya – bagai arena catwalk. Di sana para wanita berlomba-lomba tampil cantik dan menarik. Dengan warna-warni riasan yang menempel pada wajah. Beragam bentuk busana yang dikenakan, bahkan tak jarang sampai memperlihatkan lekuk tubuh mereka yang indah. Tak ada masalah jika yang melihat adalah sama-sama wanita, namun sayangnya penampilan cantik mereka menjadi konsumsi umum lelaki yang belum halal untuk melihat aurat mereka.

Laa hawalaa walaa quwwata illaa billah…

Lindungi hamba-Mu ini dari gempita kehidupan yang dengan sangat mudahnya dapat merubah perilaku seseorang.

Kehidupan merupakan rangkaian film dengan skenario yang telah ditetapkan tetap ada pula yang dapat dirubah apabila sang pemain menginginkan perubahan yang lebih baik.

Dari debu, polusi, asap tebal, panas… banyak hal yang dapat di ambil hikmahnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,22 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Ilustrasi. (superiorwallpapers.com)

Belajar dari Sato san, Seorang Muslim Penduduk Asli Jepang