Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 3 Ranah Dakwah *

3 Ranah Dakwah *

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Saya jadi teringat salah satu novel A. Fuadi berjudul Ranah 3 Warna(R3W) dimana inti ceritanya ialah petualangan, pengalaman, atau perjalanan yang dialami oleh Alif (tokoh utama) di tiga lokasi berbeda di kolong langit ini, yaitu Jakarta, Yordania, dan Kanada. Apa korelasinya dengan tulisan ini? Kalau dalam R3W Alif harus berjibaku mengalami manis pahitnya perjuangan di tiga negara berbeda untuk meniti pada tangga kesuksesannya, maka kita pun sebaiknya melalui Ranah 3 Dakwah jika ingin lebih membuat dakwah Islam masif di tengah masyarakat. Ketiga ranah dakwah tersebut ialah sosialisasi, legislasi, dan eksekusi. Ketiga ranah ini saya dapatkan dari Ust. Hepi Andi Bastoni.

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa inti dakwah sebenarnya ialah “menyeru/ mengajak kepada kebaikan”. Oleh karena itu, sosialisasi menjadi hal penting pertama yang harus dilakukan. Dalam konteks ini bisa dibetulkan pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Tentu sosialisasi yang dilakukan hendaknya mengusung metode asertif (meminjam istilah yang Akh Febri Zulhenda gunakan dalam tulisannya yang berjudul Jangan Salah Memainkan Senjata).  Para ahli sudah banyak yang mencoba mendefinisikan kata asertif. Namun, di sini saya lebih condong mengambil definisi dari Rathus (1981) yang memberi batasan asertifitas sebagai kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atau meremehkan orang lain. Intinya, penerapan metode asertif dalam upaya dakwah ialah kita menyampaikan dengan bahasa yang tidak menyinggung secara frontal pihak yang jadi target dan mereka bisa menerima pendapat kita itu dengan senang hati. Tentu hal ini tidak mudah kita terapkan di lapangan dakwah yang sesungguhnya. Tapi, bukankah tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin?

Ranah selanjutnya yang harus pula diperjuangkan ialah legislasi. Fakta pentingnya memiliki perwakilan di wilayah kekuasaan strategis untuk kepentingan dakwah sepertinya sulit untuk dibantah. Hal ini karena posisi tetap penting dalam suatu grand planning dakwah di manapun dan kapan pun itu. Memang ada kalanya ketika situasi sedang berada dalam zona yang mudharatnya lebih besar, sebaiknya kita jangan dulu masuk lingkaran tersebut. Namun, kita tidak boleh berhenti untuk memiliki mimpi dan terus berjuang untuk bisa memasuki dan kemudian membenahi lingkaran tersebut. Sampai-sampai Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik Islam terkemuka di negeri ini pernah menyatakan bahwa lingkaran kekuasaan mutlak diperlukan karena agenda dakwah juga harus menyentuh ranah politik. Beliau mengibaratkan pelaksana agenda dakwah dengan menyebutkan harus ada yang menjadi burung dan cacing di waktu yang sama. Burung artinya mereka yang bertugas di lingkaran kekuasaan. Sedangkan cacing ialah mereka yang diamanahi untuk menjadi pelaksana di lapangan. Tentu saja keduanya tidak berarti yang satu lebih mulia daripada yang lain. Amal dan keikhlasan tetap jadi penentu kemuliaan di sisi Allah SWT. Perumpamaan ini memiliki kaitan yang erat dengan ranah ketiga nanti. Akhirnya, ketika kita sudah bisa mengendalikan semua yang ada dalam lingkaran itu, tentu aturan main, tat tertib, atau semua regulasi yang berlaku bisa kita setting sesuai apa yang kita yakini kebenarannya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Adapun ranah ketiga yaitu eksekusi. Produk yang kita lahirkan dari ranah legislasi nampaknya tidak akan bekerja maksimal jika eksekutornya tidak satu visi dengan kita. Akibatnya, ada kemungkinan besar terjadinya banyak penyimpangan di tataran praktik. Untuk itu, adanya proses kaderisasi untuk menciptakan para eksekutor dengan kualitas dan kuantitas yang hebat tidak bisa kita abaikan. Mengapa? Tentu saja karena kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan “orang kita” yang mungkin pada waktunya nanti akan resign atau hambatan lain yang tidak bisa dihindari.

Mungkin sedikit yang dibahas di atas tidak akan bernilai apapun jika tidak kita upayakan untuk tercipta. Salah satu yang bisa kita lakukan saat ini untuk bisa mencapai tiga ranah tersebut dengan sukses ialah mulai memperbaiki diri dari segala segi. Mengapa hal ini penting? Ketiga ranah tersebut sangat berkaitan erat dengan keberadaan orang-orang di sekitar kita. Sudah seperti menjadi rahasia umum bahwa masyarakat saat ini rata-rata masih cenderung melihat “siapa yang mengatakan” daripada “apa yang dikatakan”. Walaupun idealnya dalam menerima kebaikan yang bersifat universal sebaiknya kita lebih melihat pada aspek “apa yang dikatakan”, bukan “siapa yang mengatakan”. Di sinilah letak urgensi menjadi sosok teladan di tengah masyarakat dibuktikan. Mudah-mudahan segala yang kita lakukan saat ini ialah salah satunya bertujuan untuk menciptakan pribadi teladan yang dengan keteladanannya bisa membawa umat ini menuju kepada cahaya Islam sebenarnya. Cahaya Islam yang terang benderang laksana matahari di siang hari dan bisa memusnahkan kejahiliyahan modern yang lebih ganas daripada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu. Aamiiin.

* Tulisan ini adalah episode #2 (tamat) dari tulisan yang terinspirasi saat mengikuti agenda Rihlah dan Silaturahim KAMMI Komisariat Madani pada tanggal 9 Dzulhijjah 1432 H/ 5 November 2011 M bertempat di Pendopo rumah Ust. Hepi Andi Bastoni (penulis dan mantan jurnalis Islam) di kompleks Perum Taman Kenari, Bogor.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Mencontoh Nabi dalam Berpolitik