Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta “Ber-Karakter” Refleksi Al Mahabbah Wa Tadhiyyah

Cinta “Ber-Karakter” Refleksi Al Mahabbah Wa Tadhiyyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com)

dakwatuna.com – Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap hari setelah menikah ada tawaran keajaiban berlimpah. Saat memiliki kekuatan berkat karunia Allah yang membuat kita senang melihat senyumannya, mendengar suaranya. Dia pula memiliki kekuatan sama untuk mengenyahkan kesepian mengubah sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja dalam hidup kita menjadi rasa-rasa istimewa. Sungguh, kehadiran suami bagi seorang istri adalah pintu kita menuju surga, di sini, di dunia.

Ada seseorang yang kini membersamai kita siang dan malam, wujud nyata dari sesosok yang telah memilih kita untuk menjaga kehormatan diri dan agama dengan menikahi kita. Ya, menikahi kita, sosok lain yang menginginkan hal serupa.

Adalah saya juga merasakannya sebagai karunia tersyukuri di setiap langkah. Setiap bangun pagi melafalkan kesyukuran atas setiap kesempatan yang masih Allah berikan berjumpa dan menunjukkan cinta dan kasih sayang pada kasih kekasihnya. Kini ada yang setia ber-muroja’ah bersama, atau saat-saat melafalkan dzikir al-ma’tsurat dia yang hadir kini menjadi teman setia menemani dalam ketaatan.

Tak terasa, sepertinya baru kemarin dia mengucapkan janji setia dalam ikatan yang kokoh mitsaqon gholizon. Mengawali amanah baru menjadi seorang istri atau suami sungguh tidaklah mudah.

Saat harus geleng-geleng kepala karena tingkahnya, atau juga mengucap tasbih, cemberut, tertawa, gembira subhanallah inilah yang menumbuhkan cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam jiwa… bukankah justru dengannya Allah memandang dengan pandangan penuh rahmah?

Penuh kesyukuran mengembangkan senyum-senyum penuh kebahagiaan.

Sepekan setelah pernikahan, aktivitas masih sama tidak ada yang berubah kecuali status sudah menikah. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kadang kala tak jarang juga ada yang meledek.

“Loh mbak masih bawa motor sendiri emang suaminya ke mana?” katanya. Paling saya hanya jawab. Itu suami saya ada di sebelah (karena kami bawa motor sendiri-sendiri).

Kini pertanyaannya, adakah kebahagiaan yang tengah kita rasakan yang membuat diri kita lebih “bernilai” setelah menikah? Sudahkah setiap tawa dan rona senyuman yang terkembang merekah membuat kita lebih “bertaqwa”? Sudahkah di setiap keriangan kita terhadap pasangan kita melahirkan keberkahan dariNya?

Kalau ini bahagia dan kebahagiaan, dimana letak barokah itu?

3 pekan berlalu dari tepian yang membuat nyaman. Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak. Bukankah wajar di awal pernikahan merasakan romantisme dan indahnya “cinta”? Tentu jawabannya ya. Dalam sekejap saja seperti terkena “sihir” oleh kekasih yang dicinta. Tapi kemudian teringatkan lagi terutama saat banyak agenda dan harus berpisah sementara.

Sungguh kalau dirimu terlalu sibuk dan larut dalam rumahtangga banyak kesempatan dakwah yang terbuang. Cobalah bertanya saat setelah menikah apakah dirimu masih sensitif terhadap permintaan, respon, perintah, dan panggilan dari Allah oleh banyak agenda-agenda “dakwah”? Jangan sampai ada kata penyesalan menikahi seorang aktivis dakwah.

Berkorban untuk benar-benar istiqamah memang harus bersabar dengan kesabaran luar biasa. Saya pun merasakan kok setelah menikah jadi cepat capek, ngantuk, dll-nya yah?

Ada kalimat yang membuat saya kembali mengevaluasi setelah beberapa pekan terlewati bersama kehadirannya “banyak alasan kita untuk bisa menghindari dari dakwah setelah menikah, tapi seharusnya seorang mukmin dengan loyalitas yang tinggi dengan segala kesibukannya sebelum menikah tidak membuat hilang kecintaannya terhadap dakwah.” Inilah cinta ber-karakter yang membuat saya terus belajar merefleksikan arti dari al-mahabbah wa tadhiyyah.

Rabbana maafkan atas banyak kekhilafan dan kelalaian sebab kami masih berproses memaknai hakikat pernikahan sebagai bukti ketaatan kami pada-Mu

Ditulis dari seorang yang sedang menempuh perjalanan menyusuri taman-taman perayaan “cinta” dari sebuah mitsaqon gholizon…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,72 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shita Ismaida

Istri dari Iwan Solahuddin muslimah kelahiran Jakarta ini masih menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Ia juga aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di websitus islami.

Meski latar belakang pendidikannya Ekonomi, anak sulung ini justru sangat menyukai sastra. Saat ini ia lebih suka menulis. Penggemar aktivitas petualang dan menantang ini punya hobbi hikking, rafting, traveling.

 

situs web penulis : www.ismaidha.blogspot.com ; www.oasepena.wordpress.com

Lihat Juga

Ilustrasi. (watson-api-explorer.mybluemix.net)

Giant dan Tone