Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Kerinduanku

Kerinduanku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wallpapermixs.blogspot.com)

dakwatuna.com

Putih bersih pipimu, wahai idolaku
Nampak dalam tengokan salam shalatmu
Itulah cerita para sahabatmu…

Abu Hurairah bercerita laksana matahari yang memancar, wahai teladanku
Matahari yang tiada panas namun menyejukkan seperti cahaya bulan

Aisyah melaksana bulan purnama ketika engkau bergembira, wahai panutanku
Sahabat Anshar melaksana bulan yang cahaya nya menyinari gelapnya malam manusia kala itu

Muslim meriwayatkan wajahmu bulat laksana matahari atau bulan purnama,
wahai wajah yang paling kurindukan

Mata hitam alismu memanjang, wahai pembimbingku
Tajam ke musuh nan sayu ke ummatmu di satu sosok, namun tertunduk jika tidak haq untuk dipandang

Raut kening mu tebal, wahai penuntunku
Dahimu luas serta urat darahmu semakin jelas ketika marah

Merah padam mukamu, wahai teladanku
Ketika engkau khotbah, melihat raut marahmu
sahabat-sahabatmu terdiam kala itu

gigimu kecil, rapi renggang di tengahnya, wahai petunjukku
kunyahan makanmu sebegitu puluhan banyaknya

janggutmu tebal elok, wahai bagindaku
rambutmu sedikit ikal, terkadang di ujung telinga terkadang di bahu, tersisir rapi

di tubuhmu sedikit rambut kecuali dada sampai pusar, wahai junjunganku
kulitmu putih kemerahan, bolehkan ada Ukasyah lagi yang memeluk punggungmu

tulangmu kokoh, perutmu tidak kecil apalagi buncit, wahai penghuluku
engkau Rasul-Nya, Hijaz, Syam, Kisro tahtamu tetapi makanmu seperlunya, sedangkan dua batu mengganjal pinggangmu

Ya Rasul, sosok yang aku rindukan
Adakalanya aku melakukan sunnahmu
Seringkalanya aku lupa bahkan melanggar sunnahmu

Ya Rasul, Ya Rasul figur yang aku kangeni
Begitu banyak sunnahmu yang bermaslahat untukku
Begitu banyak pula yang kulalaikan

Ya Rasul, Ya Rasul Ya Rasul, makhluk Allah yang aku trisnani
Pak Presiden rapat telah engkau contohkan
Pipis di tempat tersembunyi nan rapat pula kau teladankan
Ya Rasul, Ya Rasul Ya Rasul, Ya Rasul Ya Rasul gerangan yang kucintai
Aku pengen menemanimu mengintai musuh di Khandaq, tapi aku seperjuta-juta shalihnya Abu Bakar
Aku pengen meraung tertangis besar ketika engkau wafat, tapi aku seperjuta-juta dari Umar
Aku pengen menyumbang sumur untuk sahabat sahabatmu, tapi aku seperjuta-juta dari Utsman
Aku pengen menjadi pintu kota ilmu, tapi aku seperjuta-juta dari Ali

Ya Rasul, Ya Rasul Ya Rasul
Aku bukan tabi’, apalagi sahabat
Bukan pula ulama penerusmu
Bahkan bukan pula muballigh, da’i ataupun kyai

Ya Rasul
Aku berharap seperti Safina yang senantiasa melayanimu
Aku pengen seperti Abdullah bin Mas’ud membawa sendalmu, mengapitkan di pundakku untukmu
Aku ingin seperti Abu Ayyub meminjamkan rumahku untukmu
Aku malu membaca kisah nenek pemungut daun, berharap daun itu saksi shalawat atasmu

Ya Habib salam’ alaika,
Kucoba gambarkan sosokmu seperti tutur orang-orang yang mencintaimu sebelumku

Ya Nabi salam ‘alaika, Ya Rasul salam ‘alaika
Syafaat mu dan izinkan aku minum di telagamu

My ushwah, I miss u
I love u, because ‘athiiulloh wa ‘athiiurrosul

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • Husnul

    ketika hati tak bisa berbicara… kerinduan akan jln dakwah

Lihat Juga

Ilustrasi. (gvalaunch.guru)

Senyuman yang Dirindukan