Debu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Reuters)

dakwatuna.com

Pagi ini kembali ku sapa debu-debu itu

Debu-debu saksi bisu

Yang tiupannya berhembus meng-abu-kan langit

Menghambarkan kesunyian hati

 

Debu-debu itu seolah berceloteh

Dia yang kalah dalam hembusan keluhan

Dia yang bergulat dengan tiupan cacian

Dia yang rindu sebuah hati penuh kesyukuran

Di sini, di ibukota ini

 

Debu-debu yang menjadi musuh

Tameng-tameng menempel pada wajah kaku

Ya, dia hanya sebutir debu

Yang beranak pinak dalam pusaran waktu

 

Butiran debu di siang terik

Dia saksi, ketegaran manusia kota

Berjibaku dengan waktu

Atau yang terlena di hamparan mimpi

Entah karena apa dan untuk siapa

 

Butiran debu di malam dingin

Dia saksi, keletihan dalam keremangan

Porak poranda hati yang berdentum kencang

Sebutir iman tergadai di pinggir kota

Dialah debu, saksi terabaikan

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Ilustrasi - Sawah kekeringan (Antara)

Khutbah Istisqa: 5 Alasan Kita Menggelar Shalat Istisqa