Home / Berita / Nasional / Hentikan Pengiriman TKI PLRT ke Negara-Negara Arab

Hentikan Pengiriman TKI PLRT ke Negara-Negara Arab

Anggota Komisi IX DPR RI Dapil Kepri Herlini Amran (Facebook)

dakwatuna.com – Jakarta. Anggota Komisi IX DPR RI Dapil Kepri Herlini Amran mendesak pemerintah segera menghentikan pengiriman TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke negara-negara Arab. Saat ini pemerintah masih dalam posisi melakukan moratorim pengiriman TKI ke negara-negara lain termasuk negara Timur Tengah.

Sampai saat ini negara-negara Timur Tengah belum menyepakati nota kesepahaman kesepakatan antar Negara mengenai TKI, seperti syarat-syarat libur sehari dalam sepekan, paspor dipegang oleh pekerja, gaji minimum, dan penggajian melalui transfer perbankan, serta dibentuknya gugus tugas (task force).

“Pemerintah harus tegas, jangan hanya pragmatis memikirkan devisa negara yang diperoleh dari subsektor ini. Keberpihakan dan kepedulian kepada para WNI memang harus lebih di pentingkan karena merupakan salah satu dari tugas Pemerintah adalah melindungi rakyatnya ketimbang sisi Pragmatis semata,” ujar Herlini.

Herlini melanjutkan, “Kami meminta pemerintah segera menghentikan pengiriman TKI ke Timur Tengah, yang dihentikan adalah pengiriman TKI sektor PLRT saja, TKI yang bekerja di luar sekor PLRT tidak menjadi masalah. Sudah banyak korban yang diderita rakyat kita diluar negara terutama di negara-negara Timur tengah, contohnya seperti kasus baru-baru ini meninggalnya TKI asal Subang di Yordania Tarlem binti Unus Tajeum. Akan makin banyak ‘Tarlem-tarlem’ lain jika pemerintah tidak segera menghentikan pengiriman TKI ke negara-negara Arab.”

Dari Data Balai Pelayanan Kepulangan Tenaga Kerja Indonesia (BPKTKI) sepanjang 2011 terdapat 264.263 TKI yang pulang dari kawasan Timur Tengah di mana Arab Saudi menempati posisi teratas dalam kasus TKI bermasalah. Dari jumlah kedatangan TKI dari Arab Saudi sebanyak 171.083 orang, terdapat TKI yang pulang habis kontrak sebanyak 136.678 (80 persen), cuti 15.328 (9 persen), dan bermasalah 19.077 (11 persen).

Berbela Sungkawa yang mendalam

Herlini Amran mengucapkan turun prihatin dan berbela sungkawa yang mendalam kepada Keluarga Tarlem bintu Unus Tajeum (43) TKI asal subang yang meninggal di Amman, Yordania.

“Jenazah almarhumah Tarlem harus segera di Otopsi agar dapat segera diidentifikasi penyebab kematiannya,” ujar Herlini.

Herlini mendesak, “Pemerintah jangan menutup-nutupi penyebab kematian almarhum! Jika terbukti benar ada ketidakwajaran di balik kematian wanita kelahiran 10 November 1968 ini , Pemerintah harus bertanggung jawab terhadap kematian almarhum dengan mencari penyebab kematiannya serta memerikan hukuman terhadap yang bertanggung jawab atas menginggalnya almarhumah Tarlem,” pungkas Herlini. (ist)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Saif

    setuju…!

  • Sangat setuju dan sangat mendukung bahwa pengiriman TKI informal tidak harus tunggu sampai tahun 2017. Karena dengan gerakan 1 Orang 1 TKI yaitu 1 orang dengan standart tertentu mengambil 1 pembantu rumah tangga dari kalangan orang yang hendak pekerja sebagai TKI informal keluar negeri dengan standar kerja dan gaji sama dengan di luar negeri. Hal ini bisa dipastikan kurang dari 1 tahun bisa tercapai tujuan penghentian pengiriman TKI informal.

    Dengan jumlah para Dewan DPR, MPR mau pun pejabat pemerintah gaji tertentu termasuk ekspatriat  seluruh Indonesia sudah dari cukup untuk mengurangi jumlah TKI informal. Tetapi dengan standar dan gaji sama dengan di luar negeri, untuk diwajibkan mengambil pembantu dari perusahaan yang resmi sebagai penyalur atau penempatan pembantu rumah tangga domestik. Apalagi para dewan yang setiap waktu menyuarakan untuk menghentikan pengiriman TKI informal keluar negeri diwajibkan untuk mengambil TKI informal sebagai pembantu rumah tangga dgn standar gaji luar negeri. Karena kami perna menayakan pada salah satu pejabat yang menggunakan jasa pembantu, tetapi gajinya hanya 500 ribu, ini benar-benar tidak manusiawi, seharusnya gajinya hampir sama dengan di luar negeri supaya para calon TKW lebih memilih untuk bekerja di dalam negeri karena gajinya hampir sama.

    Ayo kita mulai dari kita sendiri dengan mengambil pembantu dari calon TKI informal dan gaji hampir sama dengan di luar negeri.

Lihat Juga

Islamic Development Bank (alyoum24.com)

Menilik Kepatuhan Terhadap Standar AAOIFI di Berbagai Negara