Home / Pemuda / Cerpen / Senyum Semesta Ibunda

Senyum Semesta Ibunda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)

dakwatuna.comSaat bisik dedaunan di taman belakang rumah menyapa mentari sore, seorang anak berlari kecil melintasi jalan setapak. Saat kupu-kupu mengepakkan sayapnya dari bunga ke bunga, anak kecil itu mendekat ke bangku kayu samping rumah, menghampiri sosok yang ia sayangi. Ibu.

“Ibu…” anak itu menggelayut manja di tangan ibunya. Mata bulatnya jatuh pada senyum ibu yang terkembang tulus. “Bu, nanda boleh tanya?” katanya penuh semangat. Ibu menganggukkan kepala. “Tentu nak, ada apa?” Nanda mengedipkan mata, lalu melirik ke pepohonan di cakrawala. Sejenak hening mewujud, seperti Nanda hendak mengusir ragu lenyap dari benak, ketika kemudian ia dengan mantap bertanya. “Kenapa Allah ciptakan jin dan manusia untuk menyembah? Apakah kalau begitu Allah butuh manusia?”

Ibu mengembangkan senyum ke wajah Nanda, saat sehelai daun kering terbang tertiup angin melintasi ruang waktu hangat di antara rerumputan, senyum ibu tertangkap semesta keabadian. Ia mengusap rambut nanda, dan mengangkatnya ke pangkuan. Sambil memegangi tangan nanda, ibu bisikkan nasihat ini kepadanya.

“Nak, lihatlah alam di sekitar kita. Indah bukan? Itu tandanya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ar Rahman, Ar Rahim. Pastilah ia memiliki semua hal di dunia ini. Allah Maha Kaya, dan tidak membutuhkan apapun dari kita…”

Nanda terdiam, nafasnya teratur seperti angin semilir sore itu.

“Nak, bagaimana jika suatu hari ada orang yang mengajak kita pergi berwisata, seseorang yang sangat pemurah, Ia memberi kita pilihan untuk pergi ke daerah-daerah yang indah, dan tanpa membayar, semua biaya perjalanan, tempat tinggal dan makan gratis. Apakah kau mau anakku?”

Nanda menatap mata ibunya. “Benarkah bu? Tentu saja nanda mau.”

“Iya nak, dengarkan perandaian ini… Di tempat berkunjung yang indah itu, ada tempat berbahaya dan ada pula perbuatan-perbuatan yang mengancam kita kalau tidak hati-hati, juga ada hal-hal yang harus kita lakukan supaya keselamatan kita di sana tetap terpelihara. Kita harus jaga perbuatan-perbuatan itu demi kepentingan kita. Dan orang pemurah itu memberi kita petunjuk supaya kita selamat, tanpa sedikitpun ia menginginkan sesuatu dari kita, ia hanya ingin kita selamat di perjalanan wisata nak. Bukankah itu merupakan kemurahan?

Nanda terdiam, sejenak kerut mengukir dahinya, kemudian Ia mengangguk dalam. “Iya bu. Orang itu pasti sangat baik” katanya.

“Iya. Ia sangat pemurah nak… Lalu, jika kita mengikuti petunjuk-petunjuk itu, bukan saja kita senang dan berbahagia tinggal di daerah wisata itu, tapi saat kelak kita kembali ke rumah, masih ia janjikan berbagai hadiah yang menarik.”

Nanda meluruskan duduknya dan menatap ibu. “Iya bu, Nanda ingin sekali bertemu orang baik seperti itu, lalu apa jawaban pertanyaan Nanda tadi?”

Ibu tersenyum. Diusapnya dahi anak itu dengan lembut.

“Nak, tempat wisata itu adalah bumi kita, tempat tinggal dan makanan gratis adalah rezeki Allah yang dihamparkan di bumi, sedangkan larangan dan perintah-perintah selama perjalanan wisata adalah agama dan ibadah kita kepadaNya. Semuanya untuk kepentingan dan kenyamanan hidup kita di bumi ini. Sedangkan janji berbagai hadiah bila kita mengindahkan petunjuk-petunjuk itu adalah surga yang dijanjikan Allah bagi yang taat.”

Kicau burung di dahan-dahan pohon terdengar sayup-sayup. Dan mentari sore berkelindan dengan angin dan dedaunan dalam cakrawala taman penuh bunga.

“Coba kau renungi ayat ini nak…”

Lalu ibu membacakan dengan khusyu surat Al Baqarah ayat 29. dan menyampaikan artinya.

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Nanda tersenyum. Matanya berbinar penuh kebahagiaan. Dikecupnya pipi ibu yang belum lagi usai membacakan arti surat tersebut,

“Aku sayang ibu…” ucapnya polos

Dan ibu tersenyum penuh arti. Senyum Abadi, yang terukir selalu di tiap sudut waktu, melintasi sejarah, budaya, benua, dan seluruh alam raya empiris dan metafisika. Ah, senyum itu indah, seperti indahnya Islam yang universal…

Ibu memeluk nanda. Erat.

“Ibu juga sayang Nanda, nak…”

***

untuk seluruh ibu di dunia
tanpa menunggu hari ibu
tiap hari adalah hari untuk mengenangmu,
kebaikanmu sungguh tanpa batas
dengan apa membalas, ibu…

Taichung, 12/15/2011

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 8,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ashif Aminulloh
Mahasiswa Master of Semiconductor Technology di Asia University Taiwan. Penggiat Forum Lingkar Pena Taiwan dan Forum Mahasiswa Muslim Indonesia Taiwan.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November