Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hambatan dan Inovasi: Dua Sisi Mata Uang

Hambatan dan Inovasi: Dua Sisi Mata Uang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ist)

dakwatuna.com – Seperti judul tulisan ini, “Hambatan dan Inovasi: Dua Sisi Mata Uang” yang artinya, keduanya adalah hal yang sama sekali tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Jika ingin berinovasi pastilah harus menemukan/bertemu dengan hambatan terlebih dahulu begitu pun sebaliknya hambatan akan senantiasa muncul dalam setiap titik inovasi yang ingin diciptakan.

Seperti yang sudah kita kenal dan kita ketahui, dalam pelajaran Fisika, rumus untuk mencari gaya (force), adalah:

F = m.a

Lalu? Apa yang hendak kita bahas kali ini? Apa hubungannya dengan kontempelasi yang akan kita coba angkat kali ini?

Dari persamaan di atas, diperoleh bahwa gaya merupakan perkalian antara massa (m, mass) dan percepatan (a, acceleration). Jika kita kaji lebih dalam sunnatullah (hukum Allah atau dalam ilmu pengetahuan lebih dikenal dengan istilah hukum alam) ini menyatakan bahwa yang namanya gaya hanya bisa diperoleh jika ada dua unsur tadi, yaitu massa dan percepatan. Maka, jika kita hubungkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita, sesungguhnya massa itu adalah hambatan dan percepatan itu adalah inovasi. Sederhananya, seseorang tidak akan pernah berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan suatu gaya, jika tidak ada hambatan yang menghalanginya dan tidak bisa juga disebut telah berusaha jika tidak ada inovasi yang dilakukannya.

Mari kita ambil contoh. Manusia akan berusaha untuk dapat selalu menuju kepada kehidupan yang lebih baik, hal ini disebabkan jika begitu beratnya hambatan yang menghadang dirinya, baik hambatan internal maupun hambatan eksternal. Seseorang yang kuliah sambil memeras keringat dapat dipastikan akan lebih kuat dan struggle dalam memperjuangkan studinya dibandingkan dengan seseorang yang setiap bulannya mendapat kepastian finansial dalam memenuhi kebutuhan perkuliahannya. Seseorang yang menjadi wiraswasta akan lebih kuat berjuang dibandingkan dengan seorang pegawai. Hal ini disebabkan karena di hadapan mereka ada hambatan yang besar menghadang, ada begitu besar resiko yang harus dilewati. Dan tentu saja ini membutuhkan suatu gaya, suatu usaha untuk pada akhirnya dapat melewati berbagai halangan dan rintangan yang akan selalu muncul silih berganti dalam kehidupannya.

Lalu, setelah ada hambatan (massa) untuk mendapatkan gaya (usaha), apakah semuanya selesai? Tidak! Sama sekali tidak! Jangan pernah berfikir semua selesai. Hidup ini berputar, selalu berputar dan jika seseorang hanya diam saja dalam kesuksesannya atau kegagalannya terdahulu tanpa berusaha membuat inovasi, tanpa berusaha membuat akselerasi, maka dapat dipastikan, matilah ia.

Mari kita lihat.

Pada persamaan F = m.a, jika a (percepatan) = 0, apa yang terjadi? Tidak akan pernah ada gaya yang dihasilkan. Maka, di sinilah poinnya. Setiap manusia harus bergerak, harus berinovasi atas berbagai hal yang telah dilaluinya. Dia tidak bisa hanya diam pada satu titik. Dia tidak bisa hanya berada pada satu hotspot, dia harus berusaha menuju ke hotspot-hotspot lain. Berinovasi, berakselerasi. Contoh nyata yang dapat kita lihat saat ini, perusahaan telekomunikasi besar seperti Nokia, saat ini pasarnya sudah mulai digeser oleh pendatang baru, yaitu RIM (produsen Blackberry) dan pengguna Android. Hal ini bisa jadi dikarenakan Nokia sudah merasa sangat aman ketika menjadi market leader, namun ternyata saingannya mampu menciptakan inovasi baru yang mungkin saja belum terpikirkan di pihak mereka.

Bergerak, mengalir, berakselerasi, seperti air. Begitulah seharusnya manusia, begitulah seharusnya kehidupan ini. Seperti yang kita ketahui bahwa rata2 setiap bagian tubuh manusia 70%-nya terdiri dari air, dan bagaimanakah sifat air itu? Mengalir. Ya, mengalir. Air harus mengalir, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari bumi ke sungai, dari sungai ke laut, dari laut ke langit, dari langit ke gunung, dan seterusnya berputar membentuk suatu siklus hidup yang sangat anggun dan indah. Jika tidak, air itu akan membusuk dalam kubangan yang menyedihkan, menjadi sumber dari berbagai penyakit.

Manusia harus bergerak, tidak perlu takut terhadap berbagai rintangan dan hambatan, karena justru di sanalah sumber kekuatan dan tidak pernah boleh terlena dengan zona nyaman, karena di sanalah akal dan pikiran serta hati akan berkembang, menciptakan manusia baru yang lebih hebat, lebih dewasa, dan tentu saja akan bijak menghadapi kehidupan. Maka kita tidak perlu berdoa agar Allah mengenyahkan hambatan yang merintangi kita, namun kita perlu berdoa agar Allah, Tuhan semesta alam, berkenan menguatkan bahu kita, kaki kita, jiwa, pikiran, dan seluruh komponen kemanusiaan kita agar bisa mengemban amanah yang ada di setiap pundak kita.

Mari kita ingat dan amalkan firman Allah ini:

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Al-Anfaal: 53).

Setiap manusia yang selalu berusaha bijak menghadapi kehidupan, maka dia akan mengerti untuk apa dia hidup dan insya Allah dia akan mengenal Tuhannya dengan lebih baik.

Maha Suci Allah yang telah memberikan jiwa, pikiran, dan ruh kepada manusia untuk selalu bersujud dan menyembah-Nya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian