Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pacaran Lagi

Pacaran Lagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMasih berbicara mengenai pacaran. Tak ada sesuatu yang Allah larang kecuali banyak mudharat yang terkandung di dalamnya. Salah satunya yaitu pacaran.

Seorang kawan pernah bercerita. Ia menceritakan bagaimana jauhnya perbedaan perilaku abangnya tatkala mengenal yang namanya pacaran.

Sebut saja namanya Lana, ia memiliki abang yang bernama Raka. Perbedaan usia keduanya hanya terpaut dua tahun, hal tersebut membuat  hubungan kakak beradik tersebut cukup dekat. Karena dua abang mereka sudah menikah dan bertempat tinggal yang lumayan jauh. Di rumah, Lana dan Raka adalah teman juga lawan. Kadangkala mereka akur, kadang pula mereka bertengkar. Tapi semua itu hanya romantika persaudaraan yang indah. Yang tak pernah Lana lupakan hingga kini ialah ketika abangnya mengajak Lana ke pameran buku yang sering di adakan di kawasan Senayan. Saat itu Lana masih kelas satu SMA dan abangnya kelas tiga SMA. Meskipun kala itu Lana menganggap kejadian itu biasa saja dan terkesan tanpa makna, namun kini Lana sangat merindukan hal itu.

Kini, Raka telah bekerja juga Lana. Bukan pekerjaan yang menjauhkan mereka dan membuat Lana merasa kehilangan sosok seorang abang di rumah. tapi semenjak Raka memulai hubungan pacaran, sikapnya jauh berbeda.

Hubungan Raka dengan pacarnya yang belum lama bisa membuat waktunya habis terbuang selain oleh pekerjaannya. Rumah seakan tempat singgah untuk Raka, hanya sekedar untuk makan dan tidur. Ibunya yang seorang ibu rumah tangga banyak menghabiskan waktunya di rumah, tapi hal itu tak membuatnya betah berlama-lama duduk bercerita dengan ibunya. Ibu yang melahirkannya, telah tergeser perannya oleh seseorang yang hanya bergelar pacar.

Bagi Lana, kini ia hanya seorang anak tunggal di rumah. Tak ada lagi cerita antara kakak adik yang bercanda atau  bertengkar. Sungguh, Lana sangat merindukan ketika ia dan abangnya pergi ke pameran buku, memilih buku-buku yang diminati. Abangnya yang dulu setia mengantarnya ke mana pun ia pergi. Menjaga Lana dan melindunginya. Abangnya sekarang bagai orang asing.

Lana yang sangat merasa perubahan tersebut menyimpan rasa benci dalam hatinya. Bukan benci terhadapnya abangnya, tetapi oleh jalur pacaran yang dipilihnya. Oleh orang-orang yang menjadi pelopor terjadinya pacaran. Sehingga menyebabkan hubungan saudara menjadi tak berarti oleh hubungan tak jelas yang berdalih untuk pengenalan pribadi.

Mungkin cerita Lana di atas hanya satu dari sekian kisah yang di rasakan oleh seorang adik yang merasa kehilangan kehadiran seorang saudara. Wujudnya hanya hadir  tapi tanpa ada sentuhan hati.

Seorang Lana yang memang paham akan buruknya hubungan dalam pacaran, namun tak mampu lagi untuk mempengaruhi Raka. Betapa bencinya Lana kini dengan pacaran dan ia tak mampu untuk berbuat banyak untuk menyampaikan bahwa pacaran itu bertentangan dengan syariat Islam. Bahwa dalam pacaran banyak terkumpul bermacam zina. Bahwa pacaran hanya bersifat egoisme semata.

Jika ada seseorang yang sangat baik pada pasangannya, itu belum menggambarkan sifat aslinya. Bisa jadi itu hanya topeng untuk menarik simpati pasangannya.

Bahwa pacaran hanya egoisme dua orang lawan jenis yang mengumbar maksiat di hadapan umum, di hadapan keluarga.

Andai saja, Raka-Raka lain membuka mata hatinya lebar-lebar, ada seorang adik yang kehilangan sosok seorang abang. Ada seonggok benci yang hadir tatkala ada seseorang yang tiba-tiba merebut perhatiannya, oleh sesuatu yang melanggar syariat.

Andai saja, Raka-Raka lain membuka mata hatinya lebar-lebar, ada seorang ibu yang merindukan kehadiran seorang anak sebagai penyejuk hatinya. Bukan lebih puas menghabiskan waktunya dengan pasangannya.

Andai saja, Raka-Raka lain membuka mata hatinya lebar-lebar, ada banyak generasi di bawahnya yang akan meniru perbuatannya hingga membuat hati orang lain terluka tanpa sadar. Akan ada tradisi dosa turun temurun. Akan ada penghalalan suatu bentuk keharaman akibat kebiasaan yang tak lagi di anggap asing.

Karena pacaran itu haram, apapun bentuknya, apapun namanya. Karena hanya ada pernikahan yang menjadi solusi yang Allah siapkan untuk para hambaNya untuk mencurahkan segala kebutuhan lahir dan batin manusia pada lawan jenisnya.

Allahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (71 votes, average: 8,96 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Azzah nurhasanah

    alhamdulillah saat ini Q sdh trselamatkn dr prbuatan Pacaran

  • Aciptadi

    saya setuju, pacaran model bgini memang haram. saya bilang “pacaran model bgini” karena pacaran sendiri hanyalah istilah yang muncul dari manusia juga, jadi suatu saat bisa saja saya menyamakannya dengan ta’aruf (trgantung modelnya).

    TAPI, saya tidak setuju haramnya pacaran ini karena alasan yg disebutkan dalam cerita di atas, yaitu menjauhkan dari saudara, orang tua, dll. untuk alasan tersebut “pacaran tak ada bedanya dengan pernikahan”. saya setuju haramnya “pacaran model bgini” karena alasan zina, 

  • Midasariwati

    ya berpacaran bisa membuat kita lupa akan dirikita karna rayuuan manis cinta ya saat berpacaran ya sangat menarik cerita ya saya sngt sngt suka karna itu memang yata karna aku pun mengalami hal yg sama

  • fauzi

    ya, setuju….

  • Rahma Umar

    sangat setuju, alhamdulillah abg ku satu2nya ngak pacaran seperti raka dalam kisah ini..
    jadi tak merasa kehilangan :D

  • Nilfiayusnita

    dalam islam yang ada hanya pacaran stlh menikah, tdk ada kompromi dlm hal ini. krn itulah Allah mlrg utk mendekati zina bkn utk brzina, pcrn adlh slh st jln mndekati zina brrti Allah mlrg pcrn. bahkan ta’aruf sblm menikah pun ada aturannya dlm islam, bgtlh islam sgt mnjga spy umatny tdk trjebak dlm cinta semu yg mghalangi umatny mndptkn cinta abadi,…. hmmmmm… sggh indah ajrn islam y…
       

  • Ronald Arseinche

    usia ku sekarang 36 thn…suami & ayah 3 org anak..Alhamdulillah…menikah usia 28 thn… demi Allah sebelum nikah saya tidak pernah pacaran… bagaimana saya dapat istri..dijodohkan..tidak sama sekali… hanya doa kepada Allah minta diberikan istri yg sholihah…saat Ramadhan…dan Masya Allah…habis Idul fitri..tak disangka-sangka yang ditunggu datang tanpa diduga…hanya gara2 salah e-mail…saya di jakarta dan istri di pekanbaru….kami hubungan jarak jauh dan lgs menikah….jadi apa gunanya pacaran..lebih banyak HARAM nya….

    • D_putra86

      keren … i like it…

  • Dief_syah

    share : Astaghfirullah ampuni hamba ya Allah ya Rabb…
    jujur saya org yg tidak seperti mas yg diatas yg menikah tidak dengan jalur pacaran, karena saya masuk islam th 2000 dan saya org yg paling sering pacaran…
    tolong doakan saya utk istiqomah

  • Indah Insani

    Astagfirullah, betapa berdosanya Hambamu ini ya Allah, telah menjalani beberapa proses pacaran tetapi baru sadar sekarang dan baru mengerti betapa berdosanya perbuatan keji ini, memang saat pacaran tak melakukan apapun, tapi berbicara dan menatap mata dengan berlebihan itu sudah termasuk zina..Ya Allah Ampunilah Aku…Izinkan aku bertaubat di jalan-Mu Ya Rabb..

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Antara Menanti Jodoh dan Menunggu Bus