Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Sebuah nasihat mayapada

Sebuah nasihat mayapada

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Sebuah nasihat mayapada

Tertoreh dalam kitab tak bertinta

Terjalin melalui hembusan angin

Beranjak dari peraduan nan dingin

 

Karena sebuah makna tak menjadi bias

Manakala surya bersinar di atas singgasananya

Dan pujian terus mengalun kepadaNya

Bilamana beberapa hati menepi

Luapkan hakikat penciptaan

Sedangkan kata terus melantunkan makna

Sedangkan doa terus bersanding dalam sujud

Bias itu menjadi remah di sudut pintu

Karena Rabb Sang Maha dari segala

 

Doa hanya irama surga

Nyanyian rindu para bidadari pada pendampingnya

Sedang sujud adalah suara langit

Dari ratapan bumi nan peri

 

Bila pujian kini tersingkir

Bila sujud kini terpinggir

Dan doa tersangkut di ujung asa

Hanya Allah sebaik-baik tempat meminta

Bukan untuk hati yang terjepit

Mengaduh sunyi di pinggir langit

Namun persembahan dari Sang Pencipta

Yang membalut tangis di ujung kelam

Karenanya bergelimang nista

Terpaku pada sajadah lusuh

Mata air surga mengalir

Terserak dalam bauran dosa

Bukan sedetik

Bukan setitik

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 7,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Nasihat itu Pahit tapi Manis

Organization