Home / Pemuda / Cerpen / Ujian Di Atas Ujian

Ujian Di Atas Ujian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sudah jatuh tertimpa tangga. Di saat istrinya harus dirawat di rumah sakit, Pak Yanto (bukan nama sebenarnya) justru mendapat Surat Peringatan dari atasannya.

Cerita bermula ketika istri Pak Yanto kembali merasakan sakit pada perutnya, beberapa hari setelah dokter menyatakan kandungannya sudah bersih dan tak perlu dilakukan tindakan medis apapun, termasuk kuret. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter berpendapat bahwa pendarahan yang terjadi adalah tanda bahwa kandungan yang baru memasuki usia tujuh minggu tidak bisa lagi dipertahankan. Namun begitu, tidak perlu dilakukan tindakan kuret, seperti yang Pak Yanto cemaskan.

Khawatir masih ada kaitannya dengan pendarahan sebelumnya, Pak Yanto kembali membawa istrinya ke rumah sakit. Berbeda dengan analisa sebelumnya, yang menyatakan bahwa tidak ada lagi janin dalam rahim, kali ini dokter menyatakan bahwa Bu Yanto mengalami sesuatu yang disebut hamil di luar kandungan dan harus dilakukan operasi caesar saat itu juga sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Astaghfirullah!

Meski Pak Yanto sadar betul bahwa ia tidak memiliki cukup uang, namun demi keselamatan sang istri akhirnya ia menandatangani surat persetujuan tindakan operasi caesar. Tiga jam lebih, akhirnya operasi caesar selesai dilakukan. Dan meski dipenuhi tanda tanya, Pak Yanto tak sempat meminta penjelasan dokter mengapa operasi berjalan begitu lama. Juga mengapa ia tidak diizinkan menemui istrinya meski operasi telah selesai dilaksanakan. Pak Yanto baru bisa menemui istrinya setelah ia dibawa kembali ke ruang perawatan.

Karena belum ada kerabat yang datang untuk menemani sang istri di rumah sakit, Pak Yanto berinisiatif meminta izin kepada atasannya untuk tidak masuk kerja. Tapi karena Pak Yanto harus mengurus segala sesuatunya sendiri, ia baru sempat menelpon atasannya dua jam setelah jam kerja dimulai. Jawaban apa yang Pak Yanto dapatkan, sungguh tak pernah ia bayangkan. Bukan saja diminta datang, tapi Pak Yanto harus menerima sebuah Surat Peringatan.

“Kok bisa begitu? Apa Pak Yanto tidak menjelaskan mengapa hari itu Pak Yanto terpaksa tidak masuk kerja? Juga mengapa baru sempat menelpon dua jam setelah jam kerja dimulai?” tanyaku tak habis pikir, mengapa atasan Pak Yanto sama sekali tak menunjukkan rasa simpati.

“Sudah, Mas! Tapi atasan saya bilang bahwa ia hanya sekedar menjalankan perintah Bos.” jawab Pak Yanto lirih.

“Lho, tidak boleh begitu. Seharusnya atasan Pak Yanto menanyakan duduk persoalannya dulu, kemudian menyampaikan kepada atasannya lagi.” aku agak terpancing emosi.

“Begini, Mas. Mesin yang biasa saya operasikan adalah termasuk yang cukup vital. Jika mesin ini tidak beroperasi, maka akan berpengaruh ke banyak mesin lainnya. Sebenarnya operator mesin ini bukan hanya saya, melainkan bertiga. Tapi entah mengapa, hari itu ketiga-tiganya tidak masuk kerja. Atasan kami mengira kalau kami telah merencanakan ini sebelumnya sebagai bentuk protes kepada manajemen.”

“Protes? Apa memang Pak Yanto dan kawan-kawan sedang menuntut sesuatu pada manajemen?”

“Tidak. Tidak ada. Ini hanya kecurigaan atasan saja. Saat saya menelpon, kedua rekan kerja saya belum ada yang memberi kabar. Juga ketika saya datang untuk mengurus perizinan, yang akhirnya justru menerima Surat Peringatan, mereka belum bisa dihubungi.” Pak Yanto berhenti sejenak, mencoba mengurangi beban dengan membuang bersama hembusan nafasnya. “Awalnya saya kepancing emosi, Mas. Hampir saja saya marah. Ingin rasanya saya gebrak meja atasan saya. Tapi saya coba untuk menahan emosi. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa mengendalikan diri. Saya teringat istri yang saya tinggal di rumah sakit sendiri. Barangkali ini memang ujian yang harus kami hadapi. Saya berusaha untuk menerima dengan ikhlas dan sabar, meskipun belum bisa untuk tidak bercerita tentang ini pada orang lain. Setidaknya, setelah bercerita, saya merasa beban pikiran sedikit berkurang.” Pak Yanto mengakhiri ceritanya dengan senyum pasrah.

“Sabar, Pak Yanto. Ini ujian. Ketika diterima dan dihadapi dengan ikhlas dan sabar, insya Allah jadi amal kebaikan. Seringkali memang, ujian datang silih berganti. Satu ujian belum selesai, datang ujian yang lain lagi. Seperti yang pernah Pak Andika (bukan nama sebenarnya) alami.”

Kemudian aku pun bercerita tentang ujian yang Pak Andika alami. Bukan untuk membuka aib orang lain, tapi berharap bisa mengambil hikmah dan pelajaran hingga ketika ujian datang, keikhlasan dan kesabaran lebih mudah dipertahankan.

Kala itu Pak Andika juga sedang diuji dengan sakitnya sang istri. Kondisinya kritis, bahkan menurut medis, harapan untuk hidup sangat tipis. Seperti yang terjadi pada Pak Yanto, sakitnya istri bukan satu-satunya ujian yang harus Pak Andika hadapi. Di saat Pak Andika sedang kebingungan memikirkan uang untuk menutup semua biaya perawatan, ditambah kondisi sang istri yang dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan, tiba-tiba muncul kabar yang sangat menyakitkan.

Salah satu saudara tiri sang istri (ipar Pak Andika) mengatakan bahwa bapak (ayah tiri sang istri, mertua Pak Andika) rela menjual sawahnya untuk menutup seluruh biaya rumah sakit. Yang menjadi masalah adalah ketika saudara tirinya tersebut dulu memerlukan biaya untuk persalinan anak pertamanya yang harus melalui operasi caesar, sang bapak tak membantunya sampai rela menjual sawah segala. Inilah yang membuat ia menjadi iri hati.

Bagai mendengar petir di teriknya mentari ketika Pak Andika mendengar kabar ini. Ia yang memang sedang pusing memikirkan semuanya sendiri, jadi terpancing emosi. Pertengkaran mulut pun tak terelakkan lagi. Astaghfirullah.

Sebenarnya Pak Andika tak perlu malu atau marah kalau memang benar sang bapak sampai menjual sawahnya untuk membantu biaya berobat sang istri. Tapi yang Pak Andika tidak terima adalah belum pernah sekalipun bapak mengajak bicara soal biaya rumah sakit. Tak pernah ada omongan sedikit pun perkara yang satu ini, apalagi melihat dan menerima uang yang katanya hasil dari menjual sawah seperti yang saudara tirinya maksudkan. Pak Andika tak habis pikir, siapa orang yang tega membuat fitnah sekeji ini, di saat istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati.

Tapi sehari setelah pertengkaran dengan saudara tirinya, Pak Andika menyadari semua kekhilafannya. Benar ia tidak menerima uang dari bapak, entah dari hasil menjual sawah atau yang lainya. Ia juga yakin bahwa istrinya tak tahu menahu soal uang yang saudara tirinya ributkan itu. Tapi bagaimanapun, tidak benar jika kemudian ia terpancing emosi, bertengkar dengan saudaranya sendiri.

Mengingat semua ini, tangis Pak Andika tak terbendung lagi. Tersedu ia menyesali kekhilafannya, kata-kata kasar dan kotor yang terlanjur ia ucapkan pada saudaranya. Ia sadar bahwa fitnah itu adalah salah satu ujian yang harus ia terima dan hadapi dengan ikhlas dan sabar.

Pak Andika benar-benar menyesali semau kekhilafannya. Dan untuk menebus semua itu, ia meminta maaf kepada saudara tirinya melalui saudara yang lainnya karena sejak pertengkaran kemarin komunikasi di antara mereka terputus total. Pak Andika merasa tak perlu mempermasalahkan siapa yang tega membuat fitnah itu. Ia dan pikirannya lebih dibutuhkan untuk konsentrasi merawat istri tercintanya.

Dan jika aku mengetahui kisah ini, itu karena pak Andika pun memilih berbagi cerita dengan orang-orang yang dapat ia percaya untuk mengurangi beban pikirannya.

Dari dua kisah di atas, dapat kita ambil hikmah dan pelajaran bahwa ujian seringkali datang tidak sendirian, bersama pernak-pernik lain yang terkadang berbarengan, silih berganti. Sebelum yang satu dapat diatasi, sudah datang ujian yang lain lagi. Jelas tidak mudah berada pada posisi mereka yang diuji seperti ini. Mereka yang mengalami ini seringkali lebih mudah terpancing emosi.

Ujian di atas ujian. Bukan berarti Allah tidak punya belas kasihan, bukan pula tidak punya perhitungan, tapi Allah memiliki sebuah tujuan ketika memberikan ujian kepada hamba Nya. Allah Mahatahu kemampuan setiap hambanya dalam menghadapi ujian. Tidak akan Ia memberikan ujian di luar batas kemampuan. Justru, setiap ujian yang datang adalah lahan dan kesempatan untuk menambah amal kebaikan. Terima dengan ikhlas, hadapi dengan sabar, selalu berpikir positif, itu yang semestinya kita lakukan. Allah yang memberi kita ujian, bahkan ujian di atas ujian. Allah pula yang akan menunjukkan jalan, memberi kemudahan dari setiap kesusahan. Insya Allah.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Hasbiyallah Wa Ni’mal Wakil