Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

”Kegagalan bukan merupakan akhir dari perjuangan, tetapi merupakan jalan untuk menggapai tujuan”

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Pagi hari sekitar jam 5 pagi Rendi bangun dari tempat tidurnya. Ia langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sambil mengambil air wudhu untuk menunaikan tugasnya kepada sang Rabbul Izzati. Sekitar jam 5 lewat Rendi keluar dari kamar mandi dan langsung ke kamarnya untuk memakai baju dan shalat subuh. Tak biasanya ia berdoa dengan khusyuk setelah shalat, ternyata hari ini adalah pengumuman lulus atau tidaknya dia dalam ujian nasional. Sekitar pukul 6 Rendi bergegas ke ruang makan, di sana sudah menunggu sang ibu yang menyiapkan sarapan untuk dirinya. Tak beberapa lama ia pun makan dengan lahapnya tanpa memikirkan lulus atau tidaknya dia.

Sekitar pukul 7 lewat 30 ia pun bergegas menuju sekolahnya. Ia pun menaiki angkot yang menuju sekolahnya, dan di sinilah ia merenung apakah ia lulus atau tidak. Pikirannya hanya tertuju pada hasil ujiannya, ada rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Tepat pukul 7 kurang 15 ia sampai di depan gerbang sekolahnya. Rendi pun bergegas masuk dan berkumpul dengan teman-temannya. Dan pukul 7 pun hasil ujian di umumkan, Rendi pun sangat cemas dan khawatir dengan hasil ujiannya. Ketika ia mencari namanya di kertas yang di tempelkan di mading, ia pun tersentak, ia tak percaya dengan hasil ujian yang ia dapatkan. Rendi di nyatakan tidak lulus karena rata-rata nilainya di bawah standar kelulusan.

Di atas hanya segelintir cerita tentang kegagalan. Masih banyak cerita kegagalan yang di alami oleh orang lain di sekitar kita atau mungkin pada kehidupan kita. Saya yakin bahwa tak ada manusia satu pun di dunia ini yang tidak pernah merasakan kegagalan. Orang yang paling mulia dan menjadi teladan manusia pun pernah merasakan kegagalan, ya Rasulullah pernah merasakan kegagalan ketika dalam perang Uhud mereka di kalahkan oleh pasukan kafir Quraisy dan di perang tersebut nabi terluka parah.

Banyak orang dengan kegagalannya dapat menjadi orang yang sukses bahkan dikenang oleh manusia, tetapi lebih banyak orang dengan kegagalannya menjadi orang yang tak berguna dan selalu tergelincir dalam menjalani kehidupannya. Kenapa bisa begitu?

Yapz, jawabannya ada pada diri sendiri pastinya. Satu yang pasti adalah ketika kita gagal kita langsung menyerah dan langsung pesimis ketika di suruh untuk mencoba lagi tanpa mau berusaha terus-menerus. Saya selalu mendengar ketika ia gagal dan di suruh mencobanya lagi pasti banyak yang berkata “ah udahlah, pasti ga akan berhasil”. Ingat teman-teman ketika kita bicara seperti itu ya pasti kenyataan pasti seperti itu. Kalau kata orang motivator “sugesti itu dapat mempengaruhi hasil kerja kita” kalau kita optimis maka hasil pasti optimis. Dan kata bang Arif dahsyat “Menyerah adalah kata-kata mutiara bagi orang gagal” dan memang kenyataan seperti itu dan tanpa saya jelaskan pun teman-teman sudah pasti paham maksudnya. Allah pun berfirman bahwa “Allah itu bagaimana prasangka hambanya”.

Salah satu contoh adalah Thomas Alfa Edison, ketika ia ingin membuat bola lampu ia selalu gagal dalam membuatnya sampai 999 kali tetapi ketika yang seribu ia pun berhasil menemukan zat yang digunakan untuk membuat bola lampu dan dipakai sampai sekarang penemuannya. Ketika ia gagal, Thomas alfa Edison tidak berkata bahwa ia gagal, inilah yang dikatakannya: “saya bukan gagal tetapi saya tahu zat apa yang tidak bisa di gunakan untuk membuat bola lampu”.

Yang kedua adalah cara kita menyikapi kegagalan tersebut. Banyak di antara kita salah dalam menyikapinya, ketika kita gagal kita menyikapi bahwa ini adalah akhir dari perjuangan, tetapi tidak bagi Thomas alfa Edison, kegagalan bagi dia adalah jalan untuk menggapai tujuannya.

Dan yang paling penting adalah kesabaran. Ketika gagal kita tidak mau sabar dalam meneruskan perjuangan. Kita menginginkan ketika melakukan sesuatu langsung berhasil dan langsung maunya yang instan dan cepat. Tidak mau menjalaninya bertahap. Allah pun ketika ingin menciptakan sesuatu ketika bilang kun maka jadi tetapi Allah tak mau yang instan. Apa buktinya? Banyak sekali. Contohnya Allah menciptakan manusia tidak langsung jadi manusia seutuhnya, tetapi melalui tahapan dan proses. Allah pun menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan berangsur-angsur. Kenyataannya ketika kita berhasil dengan cara instan maka keberhasilannya itu cepat juga untuk hilang. Tapi ketika keberhasilan dengan tahap demi tahap, keberhasilan itu pun takkan mudah hilang.

“Ketika saya akan menaiki tangga, saya tidak akan langsung meloncat ke tangga ke lima tetapi saya akan menaikinya satu per satu”.

Ayo jangan pernah menyerah dengan kegagalan kita. Jangan sampai dengan kegagalan yang kita hadapi kita menjadi orang yang tidak berguna. Jangan pernah mengambil posisi aman dalam menjalani kehidupan. Tetapi beranilah untuk mengambil resiko yang kita jalankan. Karena manusia yang sukses selalu mau mengambil resiko apapun itu meski ia akan merasakan kegagalan. Jadilah pemain jangan penonton. Karena ketika kita jadi pemain kita bisa menentukan bola itu di arahkan ke mana.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,08 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
aktivitas sebagai Pengajar BIP BKB Nurul Fikri.Mamaz Rahmat Mantabz juga seorang Motivator Muda Indonesia yang telah banyak bersinergi dalam dunia motivasi terutama Pelajar dan Mahasiswa.Mamaz Rahmat Mantabz punya julukan "The Inspire" karena ingin menjadi seseorang yang selalu memberikan Inspirasi. motto hidupnya adalah sukses dengan belajar bukan sekolah.kuliah di universitas kehidupan di jurusan pengembangan Potensi dan bakat, selalu optimis dalam menjalani sisi kehidupan.
  • Dwi

    suka yang ini : Karena ketika kita jadi pemain kita bisa menentukan bola itu di arahkan ke mana.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Nikah, Antara Buta Cinta dan Gagal Paham Syariat