Home / Pemuda / Cerpen / Sepasang Merpati di Langit Formosa

Sepasang Merpati di Langit Formosa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Kepala terasa berat dan kerongkongan kering sekali. Taipun yang kabarnya hendak mampir ke Taiwan membuat cuaca jadi tidak menentu. Siang yang panas terik seketika diguyur hujan lebat, angin pun tak mau ketinggalan, bertiup dengan kencang. Mau tidak mau, kondisi kesehatan turut terpengaruhi karena sering terkena hujan yang tidak di duga datangnya.

Jika bisa memilih, rasanya ingin tidur saja, namun sebuah janji sudah terucap dengan teman-teman dari Timur Tengah yang mengundang ke acara mereka di kota tetangga. Tidak enak rasanya tidak datang, apalagi salah seorang dari mereka suka membantu aktivitas ku di Masjid Longkang. Tertatih-tatih, ku seret langkah yang semakin berat di antara gerimis hujan. Beberapa kali diri ini bersin, membuat kepala terasa semakin berat.

Sesampai di stasiun kereta, jadwal kereta ke arah selatan yang terpampang jadwal kereta lokal semua. Sudah terbayang berdesak-desakkannya di kereta, karena ini sudah jamnya pulang kerja. Tak ada pilihan, naik bus justru memakan waktu yang lebih lama, padahal yang ku inginkan, secepatnya sampai di tujuan. Ku langkahkan kaki ke kereta pertama yang meluncur ke selatan Taiwan. Setelah duduk dengan manis di dalamnya, baru ku sadari, bahwa kereta ini hanya berhenti sampai Yang Mei dan aku seharusnya berhenti di Hsincu, beberapa stasiun sesudahnya. Ah… sudahlah…. Badan semakin terasa panas dingin, bersin pun semakin menjadi-jadi. Ku putuskan untuk tidur saja. Lagian di sekitar ada banyak pemandangan yang dapat merusak mata.

Perjalanan selama 30 menit terasa hanya beberapa menit saja. Tampaknya aku benar-benar tidur dengan lelap. Berat, aku melangkah turun dari kereta, transfer ke jalur berikutnya. Dalam penantian kereta berikutnya, ku upayakan mencari tempat yang ada senderannya, sehingga bisa kembali menyambung tidur sampai kereta datang, hehehe.

“Aha… perfect!” ujarku spontan, ketika menemukan tiang penyangga jembatan di dekat jalur menunggu kereta platform 3, di sana pun sepi penumpang. Baru saja sampai di posisi yang ku incar, segera ku lemparkan pandangan jauh ke arah rel sana. Di belakang sepasang pemuda-pemudi sedang berpelukan, mesra sekali.

“Huuuuh…. Nggak ada tempat lain apa!” gerutuku. Well… kalau mereka pasangan Taiwan, tentunya aku bisa memahami. Namun ini… jelas-jelas mukanya muka Indonesia… Hatiku jadi kesal dan mangkel. Banyak sekali memang fenomena umbar kemesraan di Taiwan ini, juga oleh para pekerja Indonesia yang terkadang menurutku sudah sangat jauh dari nilai kesopanan yang diterapkan keluarga mereka di rumah. Masih mending kalau suami istri, kebanyakan justru pasangan-pasangan yang tidak terikat secara halal.

Ku palingkan muka sekali lagi, memastikan mereka memang orang Indonesia. Karena tujuanku adalah daerah Hsincu, yang kebanyakan pekerja Filipina di sana. Dan terkadang agak susah juga bagi ku membedakan pekerja Filipina dengan pekerja Indonesia.  Oops..  pasangan itu tengah melihat ke arah ku. Seorang wanita muda dengan  T-shirt pink muda, rambutnya di catok dan dicat coklat. Pemuda di sampingnya tampak jauh lebih tua darinya, dengan rambut yang sama panjangnya dengan si wanita. Menggunakan jeans belel dan robek-robek. Cepat ku palingkan pandangan. Tetap saja aku tidak suka melihat orang saling berangkulan di jalan!

Kereta berikutnya tak kunjung datang. Hp di tas ku sudah berkali-kali berteriak, namun tidak kutanggapi. Tampaknya temanku yang ku janjikan untuk berangkat bersama sudah tidak sabar menanti kehadiranku. Setiap sebentar ku panjangkan leher ku, menatap jauh ke arah datangnya kereta. Nihil.

Wong Indo mbak?” sebuah suara menyapa, cepat ku alihkan pandangan ke sumber suara. Teg… si mbak yang tadi bermesra-mesraan dengan pria di belakang. Dia tampak kaget dengan reaksiku yang cepat membalikkan badan namun pasang muka datar, tanpa ekspresi.

Wong Indo mbak?” tanyanya lagi, semakin kikuk, namun mencoba untuk tersenyum.

“Eh..eh.. iya mbak…” balasku kemudian, dan mencoba untuk seramah mungkin. Ku tata senyuman di wajahku, masih palsu tampaknya, karena si mbak nya masih kaku reaksinya.

“Mau ke mana mbak?” lanjutnya. Kusebutkan daerah tujuanku, dan dia manggu-manggut. Tak lama berselang, kereta yang ditunggu datang juga. Cepat ku masuk ke dalam, si mbak dan sang pria ikut masuk.

“Sini mbak…” ujar sang pria, yang sudah men-tag-kan dua kursi untuk kami, dan dia duduk di deret yang terpisah dari kami.

“Mau ke mana mbak?” Tanya si Mas yang sekilas tampak garang, namun aslinya sangat pemalu sekali. Rambutnya  memang panjang, namun bukan karena dia ingin tampak keren seperti penyanyi rock n roll, hanya saja jadwal liburnya yang tak menentu membuatnya tak berpikiran ke salon untuk merapikan rambut. Harap maklum, di Taiwan tidak ada tukang cukur.  Jadwal liburnya tersebut lebih senang dia habiskan dengan si mbak tambatan hatinya.

“Mbak mungkin sudah lupa dengan kami.” Lanjut si mbak. Ku perhatikan dua orang tersebut, yang tersenyum malu-malu. Ku coba memutar memoriku, tapi rasanya ku memang tidak pernah bertemu dengan mereka.

“Kita memang sudah lama sekali nggak ketemu mbak…” tambah si Mbak, aku jadi nggak enak karena dianggap dengan mudah melupakan orang. Tapi sungguh… aku sama sekali tidak ingat.

“Mbak kan saksi pernikahan kami…” lanjut mereka, dan aku jadi semakin kaget.

“Eh… mbak nikah di Masjid Longkang?” tanyaku lagi, menyebutkan nama masjid tempat aku biasa nongkrong.

“Iya mbak… saya waktu itu yang menikahkan Mas Parlan.” Lanjut si mbaknya, dan aku memang sama sekali tidak punya ide, siapakah gerangan mbak ini. Aku memang seringkali bantu-bantu pernikahan yang diselenggarakan pasangan Indonesia di Masjid Longkang. Mulai bantu-bantu make-up, dokumentasi foto dan video, membuatkan sertifikat nikah bahkan sampai jadi saksi. Pekerjaan apapun yang dibutuhkan saat itu, tanpa aku pernah tahu siapa yang menikah tersebut.

Ya… seringkali orang-orang yang datang untuk menikah memang bukan jamaah tetap Masjid Longkang. Mereka datang dari berbagai penjuru di Taiwan. Karena hanya di Masjid Longkang pasangan bisa menikah secara Islam dan mendapatkan sertifikat pernikahan yang bisa digunakan di Indonesia untuk mengurus Kartu Nikah, walau untuk itu mereka harus merelakan beberapa lembar NT. Pasangan datang terus silih berganti setiap minggunya, bahkan terkadang dalam satu hari bisa dua-tiga pasangan yang menikah. Peningkatan angka menikah yang cukup menggembirakan, sebagai counter pergaulan bebas yang acap kali dilakukan pekerja Indonesia di Taiwan. Namun ya itu…. Aku tak selalu mengingat mereka, pasangan  yang datang ke Masjid Longkang untuk dinikahkan.

“Hehehe…maaf namanya siapa mbak?” ujar ku kemudian, benar-benar tidak punya bayangan sama sekali tentang pasangan yang ada di samping ku. Si Mbak cukup mengerti, dan menyebutkan namanya. Dalam perjalanan beberapa menit menuju stasiun tujuannya, si Mbak bercerita mengenai  bagaimana mereka me-manage mahligai rumah tangga mereka.

Walau sama-sama berada di Taiwan, namun mereka tinggal di tempat yang berbeda. Ikatan pernikahan yang mereka punya tak lebih sebuah legalitas saja bahwa mereka adalah suami dan istri. Dalam sebulan mereka hanya bisa bertemu 2-3 bulan sekali. Fenomena yang sangat umum bagi pasangan suami – istri pekerja Indonesia di Taiwan. Karena pekerja rumah tangga harus tinggal di rumah majikan pun pekerja pabrik mayoritas di antara mereka harus tinggal di mess yang telah ditetapkan pabrik. Mereka layaknya produk-produk  yang dimanfaatkan secara maksimal daya gunanya oleh pemilik kapital dan tidak punya kuasa untuk mengatur kehidupan mereka.

Kereta berhenti di stasiun Xinfeng, si Mbak pamit urun diri, sang suami yang seharusnya  turun di daerah Mioli turut turun di tempat yang sama. Mengantarkan si Mbak ke rumah majikan dan menghabiskan sisa liburan dengan sebaik-baiknya. Setiap detik yang mereka lalui benarlah sangat-sangat berharga. Ku tulis dengan cepat nomor HP yang disebutkannya, agar senantiasa bisa saling berbagi informasi dan menyambung silaturahim. Ku jabat tangannya erat, dan berkali-kali mengucapkan maaf. Si Mbak bengong, mengapa aku selalu minta maaf. Aku hanya tersenyum dan semoga Allah memaafkan dosaku, yang sudah berburuk sangka terhadap mereka. Memang banyak muslim – muslimah yang mencoreng nama baik Islam dengan pergaulan bebasnya di negara bebas seperti Taiwan, namun kita tidak bisa mengenalisir begitu saja. Bahwa tidak semua yang bermesra-mesraan di pinggir jalan  tersebut merupakan pasangan yang tidak halal. Astaghfirullah… astaghfirullah…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Jaufa
Seorang pelajar yang suka bercerita...

Lihat Juga

Lihat, Bagaimana Wanita Mulia Ini Menyelesaikan Persoalan Rumah Tangganya