Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hati-Hati Terhadap Amanah

Hati-Hati Terhadap Amanah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet/Nudin)

dakwatuna.comDan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi: 28)

Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah,

Wacana saat ini sering sekali membutakan mata hati yang mendengar dan melihatnya, tak heran kenapa jika banyak orang yang bernafsu dengan wacana ini. Bahkan, bukan hanya itu, apa pun disembah-sembah demi mewujudkan wacana yang sedang naik daun ini.

Fakta-fakta yang menarik banyak sekali terjadi dewasa ini, terutama di Senayan, tempat dimana mereka para pemain drama beraksi. Busuk, kejam, bengis, sadis, kata-kata itu lah yang pas untuk keadaan yang sedang terjadi di sana saat ini. Jangan heran jikalau di sana terjadi pengorbanan orang, pengkhianatan, saling tikam, dan perbuatan yang tidak pantas dipertontonkan oleh rakyat kita saat ini. Walaupun ada beberapa orang di sana yang masih bisa bertahan untuk mempertahankan idealismenya, keislamannya, walau jumlah mereka minoritas.

Lembaran kertas-kertas merah mereka tumpuk, karena terlalu banyaknya, jika disusun bisa melebihi ketinggian Monas. Lapangan-lapangan sepak bola yang mewah mereka jadikan tempat tinggal bagi, tanpa memikirkan kiri kanannya. Saling menghargai, yang maksudnya di sini adalah terus saling menjilat-jilat orang demi harga yang terletak di wajahnya terus naik dan menjadi sangat mahal. Haus akan kekuasaan, dimana mereka selalu membusungkan dada dan tidak ingat siapa mereka sebenarnya. Mereka tidak lebih dari seorang manusia yang biasa-biasa saja, tetapi pandai mempermainkan lidah dan banyak muka. Itu adalah statemen yang tepat untuk kita lontarkan kepada orang-orang ini.

Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah

Bahayanya, itu sekarang sudah menjadi virus yang sekarang sudah mulai menyebar ke mana-mana. Sangat mudah untuk menghitung orang-orang yang tetap bertahan karena saking banyaknya orang yang terjangkit virus ini. Orang-orang yang terjangkit virus ini sekarang sudah putus urat kemaluannya (tidak tahu malu), makanya mereka pede-pede saja melakukan itu. Otak mereka sudah berceceran sehingga tidak mampu lagi untuk berfikir, gumpalan daging di dalam dada mereka telah membatu, sehingga tidak mampu lagi merasa, atau mungkin saja mereka sebenarnya sudah mati, dan jasad mereka dikendalikan oleh syetan laknatullah.

Lalu, bagaimanakah cara mengatasinya?

Begitu mudah cara mengatasinya yaitu, jangan pernah memberikan amanat kepada orang yang seperti itu. Yang mereka kejar adalah urusan pribadi semata, sehingga ketika mereka tidak memiliki dasar maka akan sangat mudah untuk membantahnya. Mereka mengambil sebuah amanah karena ada keuntungannya buat mereka. Mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan pribadinya, bukan untuk kepentingan ALLAH SWT.

Kutipan yang menarik saya dapatkan dari kitab fawa’id:

Barang siapa yang sibuk karena ALLAH dengan mengorbankan dirinya maka ALLAH menjamin dirinya; barang siapa yang sibuk karena ALLAH dengan tidak mempedulikan kata orang lain maka ALLAH menjamin dirinya dari bergantung kepada orang lain; barang siapa yang lebih mementingkan dirinya dari pada ALLAH maka ALLAH serahkan urusannya kepada dirinya; dan barang siapa yang lebih mementingkan manusia dari pada ALLAH maka ALLAH menyerahkan urusan dirinya ke tangan manusia lain.

Hadits riwayat Ibnu Umar RA:

… Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. (Shahih Muslim No.3408)

Hadits di atas dapat kita renungkan dengan mulai berfikir tentang sebuah amanah. Betapa beratnya memegang dan menjalani suatu amanah, akan tetapi kenapa sangat banyak orang yang berlomba-lomba dalam meraih amanah? Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan kita akan hal itu. Ya mungkin karena dibalik perlombaan itu ada suatu perkara busuk yang menguntungkan dia sehingga peringatan yang diberikan pun tidak ampuh untuk menghentikannya.

Rasulullah SAW  berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudara-saudaraku yang di rahmati Allah

Hendaklah pada akhirnya apa yang kita perbuat itu bukan untuk diri kita semata tetapi untuk kepentingan ALLAH SWT. Semuanya kita niatkan untuk Nya, dan jangan pernah mengubah perkara itu dari dalam hati ini. Sesungguhnya Allah akan membantu kita selama apa yang kita perbuat hanya untuk-Nya. Tanamkan itu ke dalam hati ini.

Maka berhati-hatilah dengan amanah, karena itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Tetapi ketika kita diberi amanah, maka jangan pernah juga untuk menolak dikarenakan ketidakmampuan kita, sungguh ketika kita emban amanah itu dan kita niatkan hanya untuk Allah SWT, maka yakinlah bahwa ketidakmampuan itu akan menjadi pemicu kita untuk mengubah diri kita.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,53 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Riyan Fajri adalah mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi Swasta di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Sekarang aktif berorganisasi di KAMMI dan saat ini mendapatkan amanah menjadi Ketua Umum KAMMI Madani Periode 2011 - 2012. Kritik dan saran buat penulis, bisa di kirim ke [email protected] atau FB : Riyan Fajri ([email protected])

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: chietitoday.it)

Ustadz yang Amanah