Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Motivasi Berujung Prestasi

Motivasi Berujung Prestasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Tatiana Popova)

dakwatuna.com – Sejarah menjadi sumber inspirasi dalam gerak para penggerak. Sejarah menjadi aplikasi operasional dalam menggalang semangat, eksistensi dan azimah (kemauan) yang diharapkan konsisten. Sejarah bukan menjadi hal yang usang ditelan zaman karena sejarah agama ini sungguh nikmat dipelajari apalagi tokoh-tokoh di dalamnya, yang kian hari dipelajari kian merinding lalu menahan haru akan eksistensi iman yang kokoh dan menginspirasi.

Yang penulis maksud “sejarah” adalah sejarah Islam yang menghasilkan tokoh-tokoh besar yang wafat atau bahkan syahid dengan kebesarannya, kemuliaan serta janji pasti dari ALLAH SWT untuknya. Kala itu Abdullah bin Mas’ud tak kuasa menahan tangis ketika rombongannya berhenti di tengah sahara, melihat janji pasti yang Rasul ALLAH sabdakan baginya, ya bagi seorang Abu Dzar. Abdullah bin Mas’ud berkata,

“Sungguh benar Rasulullah yang pernah bersabda, ‘Kamu berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.'”

Jalan-jalan sejarah mereka bukan sejarah biasa tanpa makna namun mereka mendapat janji pasti akan kemuliaan di kehidupan berikutnya. Pembaca, apa kiranya yang membuat mereka sungguh kuat dalam azimah (kemauan)? Apa kiranya yang membuat mereka bak singa di medan laga?  Apa kiranya yang membuat mereka terenyuh dan tak sulit menangis di kala malam? Penulis melihat beberapa keunggulan yang perlu kita teladani, dalam gerak mereka memiliki kesamaan yang sulit ditandingi. Setelah 2 kisah ini semoga pembaca dapat mengambil kesimpulannya.

Siapa yang tak kenal Abu Bakar, salah satu dari 2 orang di dalam gua? Sebagai sahabat yang mula-mula masuk Islam, kebesarannya sangat historis, dari menjadi khalifatur Rasul pasca wafatnya Rasul ALLAH hingga strategi-strategi tegasnya dalam menumpas kaum murtad sekelas Musailamah di Yamamah dan Aswad bin Al Ansi di Yaman. Hatinya mudah menangis kala berinteraksi dengan kalam ALLAH, namun ketika berbicara tentang tauhid, tak ada yang lebih keras darinya. Di masa-masa awal Islam masih dalam tekanan, tak sulit menemukan budak yang telah menyatakan Islam disiksa di muka umum di jalanan Mekah. Dalam sejarah kita melihat bagaimana bilal disiksa oleh Umayyah bin Khalaf begitu pula Amir bin Fuhairah yang juga disiksa oleh majikannya. Keduanya pada akhir perjalanan dibebaskan oleh Abu bakar RA. Pada kesempatan lain Abu bakar RA. melewati seorang budak wanita lalu membeli dan memerdekakannya. Abu Quhafah (ayah Abu bakar) berkata,

“Wahai anakku, saya lihat kamu memerdekakan budak-budak yang lemah, mengapa kamu tidak memerdekakan budak-budak lelaki yang kuat sehingga mereka bisa membela dan mendukung kamu?”

Abu bakar menjawab,

“Wahai bapakku, tiada yang aku inginkan selain keridhaan ALLAH.”

Kini kita beranjak pada kisah kedua, kala itu Umar bin Khathab menyampaikan pidato pasca pembaiatannya sebagai amirul mukminin, mari kita simak pidatonya,

“Bertaqwalah kepada ALLAH, bantulah saya mengenai tugas Saudara-saudara, dan bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara sehubungan dengan tugas yang dipercayakan ALLAH kepada saya demi kepentingan saudara-saudara sekalian. Demikianlah apa yang sudah saya sampaikan, semoga ALLAH mengampuni kita semua.”

Pembaca yang baik, apalagi yang dibutuhkan kalau pemimpin kedaulatan yang kian hari kian maju kala itu hanya bertumpu pada satu Dzat yang maha besar? Kedua sahabat besar ini mempertunjukkan hasil dakwah yang mengagumkan, keduanya hanya bertumpu pada satu hal, Ridha ALLAH dalam langkahnya. Ketika ridha ALLAH yang dicari, memimpin menjadi tugas terbesar dan penting serta langkah-langkah yang mulia itu tidak akan jauh dari pengawasan sang khalik yang tidak pernah tidur barang sedetik pun. Karenanya, bagi kita yang menjalani hidup ada baiknya sirah menjadi aplikasi operasional seperti yang diungkap oleh seorang syaikh, lalu ketika sirah menjadi salah satu motivasi dalam kebaikan akan berujung pada inspirasi dan prestasi dalam menyebar kebaikan. Kadang kebaikan bukanlah berpikir terlalu besar hingga tersendat untuk melakukannya, karena memindahkan duri dari jalanan pun adalah buah dari sikap dakwah secara aplikatif.

Mari merenung akan peringatan yang sering disampaikan Rasul pada sahabatnya,

“Jabatan adalah amanah. Dan di hari kiamat kelak akan menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengembannya dengan benar, dan menunaikan kewajibannya.”

Motivasi (ridha ALLAH) berujung prestasi (kemuliaan dunia dan akhirat).

Wallahua’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ilustrasi. (fatman.fi)

Dakwah Kampus, Gambaran Besar dan Arahnya ke Depan