Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tak Lagi Dinanti

Tak Lagi Dinanti

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Seorang muadzin sedang mengumandangkan adzan (inet)

dakwatuna.com – Warung sate di sebelah selatan alun-alun kota ini tak pernah sepi dari pembeli. Selalu ramai sejak buka sore hari hingga tengah malam menjelang.

“Kamu masih ingat kalau kita pernah ke sini sebelumnya?” tanya Ayah pada si Bungsu yang duduk di sebelah kirinya, menunggu sate yang mereka pesan selesai dibakar.

“Ingat, Yah. Waktu bulan Ramadhan kemarin kan?” jawab si Bungsu bersemangat. Hidungnya kembang kempis mencium bau harum sate yang sedang dibakar. Tarian cacing yang sedang kelaparan terpancar dari raut wajah tak sabarnya.

“Betul!” Ayah menahan senyumnya melihat ekspresi si Bungsu yang memang hobi makan.

Seorang pelayan datang membawa dua teh botol di atas nampan. Ia sempat melirik ke arah si Bungsu yang tak terlalu memperhatikan kehadirannya. Tak ingin merusak suasana, sang pelayan segera mengurungkan niatnya untuk menggoda si Bungsu yang terlihat lucu dan menggemaskan. Sebagai gantinya, ia mengangguk pada Ayah sambil mempersilakan untuk menikmati minuman yang ia suguhkan.

“Dibanding bulan Ramadhan kemarin, perbedaan apa yang kamu rasakan sejak kita datang tadi hingga sekarang kita duduk di sini?” Ayah kembali bertanya.

“Penjaja makanannya tak sebanyak waktu bulan Ramadhan, Yah!” jawab sang bocah spontan.

Kali ini Ayah tak bisa menahan senyumnya mendengar jawaban polos si Bungsu. Ayah bisa menduga apa yang ada dalam benak si Bungsu, tak ada yang lebih menarik perhatian bocah bertubuh tambun itu selain makanan.

“Bukan itu yang Ayah maksudkan”

“Tapi benar kan Yah? Waktu bulan Ramadhan, puluhan bahkan mungkin ratusan penjual makanan dan minuman berjajar di sekeliling alun-alun” protes si Bungsu agak berlebihan, mengatakan jumlah penjaja makanan yang mangkal di sekeliling alun-alun mencapai ratusan.

“Iya, benar. Tapi selain penjual makanan yang jauh berkurang, apa kamu tadi memperhatikan kalau jumlah jamaah shalat Maghrib di masjid juga jauh berkurang?”

Sang bocah diam, tak menjawab. Ia tak menduga kalau itu yang Ayah maksudkan.

“Jumlah orang yang datang ke alun-alun ini masih sama banyak seperti dulu, atau bahkan mungkin semakin bertambah. Tapi bedanya, saat bulan Ramadhan alun-alun ini menjadi sepi beberapa saat setelah adzan Maghrib berkumandang. Gantinya, masjid Baiturrohiim yang berada di sisi barat alun-alun menjadi penuh dengan jamaah yang akan shalat Maghrib berjamaah. Tapi kalau tadi kamu memperhatikan, yang terjadi justru sebaliknya. Meski kita datang agak terlambat, kita masih mendapatkan shaft ke tiga karena memang tak ada shaft lagi di belakang kita. Sementara, alun-alun ini tetap ramai. Mereka yang berolah raga atau sekedar duduk-duduk sambil ngobrol masih tetap pada aktivitasnya, posisinya masing-masing, tak bergeming. Tak mungkin suara muadzin tak sampai ke telinga mereka. Sayangnya, di luar Ramadhan, bagi mereka mungkin adzan Maghrib tak menarik lagi. Tak lagi dinanti. Astaghfirullah!”

Si Bungsu mengedarkan pandangannya ke alun-alun di depannya. Benar kata Ayah, beberapa remaja masih asyik berlarian mengejar bola di alun-alun sebelah utara. Meski beberapa jamaah shalat Maghrib sudah bubar, mereka tetap asyik bermain bola di terangi lampu penerangan jalan. Juga mereka yang sedang bermain tennis di sudut barat daya alun-alun. Dan di tengah lapangan, di bawah pohon beringin, belasan pemuda duduk sambil bercanda. Di sebelah tenggara, tak jauh dari warung sate ini, beberapa orang duduk berkelompok di atas tikar, menikmati aneka jajanan sambil bercanda dengan anggota keluarganya.

Pemandangan seperti ini sudah ada sejak ia dan Ayah datang beberapa menit sebelum adzan Maghrib berkumandang dan masih terlihat sama ketika mereka selesai shalat berjamaah di masjid Baiturrohim yang ada di sebelah barat alun-alun. Semua pemandangan ini memancing si Bungsu untuk bertanya, apakah mereka sudah shalat? Kapan dan dimana? Ia yakin, dari semua yang ia lihat, ada di antaranya adalah seorang muslim. Yang ia tak yakin, apakah mereka sudah shalat. Dimana? Yang ia lihat, masjid sebesar itu hanya di isi tiga shaft jamaah, itupun dilihat dari pakaiannya mereka adalah warga yang tinggal di sekitar masjid. Dan sebagian besar adalah jamaah yang sudah lanjut usia.

“Apa mereka tadi shalat Maghrib, Yah?” karena penasaran, sang bocah akhirnya bertanya.

“Entahlah. Mereka sudah shalat apa belum, Ayah tidak tahu. Mudah-mudahan, apapun yang mereka lakukan sekarang, itu karena mereka sudah shalat. Kita bisa saja tadi tak melihat mereka di masjid, karena mereka shalat di tempat lain. Atau mungkin juga sebagian belum shalat dengan berbagai alasan. Tapi sangat disayangkan kalau mereka belum shalat, menunda-nunda waktu untuk shalat, padahal pahala terbesar adalah ketika shalat dilaksanakan di awal waktu, secara berjamaah di masjid. Dan yang kita temukan, masjid Baiturrohim yang begitu megah ternyata sepi. Kebalikannya, alun-alun ini masih saja dan bahkan semakin ramai.” Ayah menjawab lirih. Matanya menatap kubah masjid Baiturrohiim yang terlihat lebih megah dibalut sinar kuning dari lampu yang memancar di bawahnya.

“Apa mereka yang di sana tadi juga shalat Maghrib, Yah?” tanya si Bungsu sambil menunjuk ke arah televisi yang diletakkan di tempat yang strategis hingga semua pengunjung warung sate ini bisa melihat dengan jelas, di manapun mereka duduk.

“Apa ribuan penonton dalam stadion itu tadi shalat Maghrib, Yah?” sekali lagi si Bungsu bertanya.

Tampak di layar televisi ribuan penonton memadati stadion untuk melihat pertandingan sepak bola yang baru akan dimulai paling cepat setengah jam lagi. Tapi seperti yang disampaikan oleh reporter yang tak kalah semangat menyampaikan laporannya bahwa stadion ini telah dipenuhi ribuan penonton sejak pukul lima sore bahkan ada beberapa rombongan yang sudah datang sejak beberapa jam sebelumnya. Melihat kenyataan ini, tak heran bila si Bungsu kemudian bertanya, apakah mereka yang sudah berebut rela meninggalkan tempat duduknya untuk shalat Maghrib dulu. Seberapa banyak di antara ribuan penonton itu yang ingat akan shalat, kewajiban bagi setiap diri seorang muslim?

Ayah teringat jawaban seorang rekan kerjanya ketika satu ketika Ayah bertanya, apakah di stadion itu tersedia mushalla yang memadai untuk jumlah pengunjung yang mencapai ribuan hingga mereka bisa melaksanakan shalat dengan nyaman? Ayah bertanya karena belum pernah sekalipun datang ke sana. Tak terbayang bagaimana panjangnya antrian, dan penuhnya mushalla atau ruangan apapun yang difungsikan untuk itu.

Tapi apa yang dibayangkan Ayah ternyata jauh dari kenyataan. Meski tidak bisa dikatakan mewakili seluruh pengunjung stadion, tapi jawaban rekan kerja Ayah memberikan sedikit gambaran bagaimana sebenarnya keadaan di sana.

“Kami jauh-jauh datang ke stadion untuk menonton bola, memberi dukungan kepada tim kesebelasan kebanggaan kita, kenapa kamu malah bertanya tentang mushalla?” tanyanya tak mengerti apa yang sedang Ayah pikirkan.

“Kalau pertandingan baru dimulai pukul tujuh, sementara kamu datang sejak pukul lima, itu artinya saat Maghrib kamu sudah ada di sana. Bagaimana dengan shalatmu?” Ayah memperjelas pertanyaannya.

“Shalat Maghrib?” Ia berhenti sejenak, terlihat ragu untuk menjawab. “Kan bisa dijamak, nanti sepulang dari sana. Kalau tidak kecapekan” jawabnya kemudian. Terlihat enteng, tanpa beban bahkan sambil tertawa.

“Astaghfirullah!” ucap Ayah lirih. Perih.

Alangkah menyedihkan jika ternyata jawaban rekan kerjanya adalah juga jawaban sebagian besar penonton yang hadir di stadion. Untuk memberikan dukungan, menyaksikan pertandingan tim kesebelasan yang mereka banggakan, mereka rela bahkan memaksa datang berjam-jam sebelum pertandingan di mulai. Meninggalkan pekerjaan, melalaikan kewajiban, menggunakan berbagai cara dan alasan agar bisa datang dan mendapat tempat duduk yang nyaman.

Meski pertandingan baru akan dimulai selepas Isya, sejak Ashar mereka sudah tiba, dan duduk ‘manis’ menunggu pertandingan dimulai, pura-pura tak mendengar suara adzan Maghrib yang berkumandang. Tak ada yang lebih menarik selain pertandingan segera dimulai. Sementara adzan Maghrib bukanlah yang dinanti. Adzan Maghrib hanya menarik di bulan Ramadhan, karena itu menandakan sudah boleh berbuka. Tapi di luar Ramadhan, adzan Maghrib tak lagi dinanti. Untuk apa? Berbuka? Siapa yang berpuasa? Astaghfirullah! Lupakah bahwa ketika adzan sudah berkumandang, maka wajiblah bagi kita segera mendirikan shalat. Dan untuk menjamak shalat jelas ada syarat dan ketentuannya. Menonton pertandingan sepak bola jelas bukan alasan yang membolehkan shalat dijamak.

Dan apakah karena tidak sedang berpuasa lalu adzan Maghrib menjadi tak menarik lagi, tak lagi dinanti?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 9,54 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • rosyid

    tak semua yang menonton pertandingan sepakbola tidak sholat maghrib, di GBK ada masjidnya, jadi itu semua tergantung orangnya…

    • Moe Ayhiep

      mungkin kamu tersinggung ya …. tak apalah ..
      saya tidak melihat tulisan yang menyebutkan semua org yg nonton bola tidak sholat,,,

      tapi memang kebanyakan, dan kenyataan nya seperti itu ….

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Upaya Untuk Khusuk Dalam Shalat