Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masa Depan Milik Kita

Masa Depan Milik Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (muxlim.com)

dakwatuna.comAda rasa sedih ketika melihat dunia Islam saat ini. Di belahan dunia manapun umat Islam selalu jadi bulan-bulanan musuh-musuh Allah. Bahkan negeri yang memiliki umat Islam terbanyak pun terus menjadi sasaran empuk mereka. Belum lagi negeri Islam “Palestina” yang terkoyak oleh Zionis penjajah. Afghanistan, Irak, Somalia, Checnya dan bumi Islam lainnya. Tidak hanya itu, kesenjangan yang amat dalam antara dunia Islam dan bangsa-bangsa Arab dalam bidang ilmu dan teknologi. Seakan awan kelam terus menyelimuti dunia Islam.

Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan umat Islam? Kenapa sampai terjadi seperti ini. Bukankah dulu kita pernah menguasai sepertiga dunia. Di manakah saat ini generasi pasukan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan kekuatan Romawi timur di Konstantinopel? Di manakah prajurit-prajurit Shalahuddin Al Ayyubi yang membebaskan Al Quds? Al Quds tengah menangis saat ini!

Bukankah dulu barat belajar dengan kita umat Islam di Andalusia. Dulu mereka yang memadati bangku-bangku kuliah di universitas-universitas Islam di Cordova dan kota-kota lain di Andalusia. Bahkan barat tak pernah mengenal kemajuan sebelum bertemu dengan umat Muhammad begitu kata salah seorang filsuf Gustav Lobon.

Berangkat dari rentetan yang kita paparkan di atas. Akankah semuanya menjadikan kita lesu dan lemah untuk menapaki jalan perjuangan yang begitu panjang ini? Jawabannya tentu “TIDAK!” Kalau kita renungi sejenak perjuangan para rasul dan anbiya dan salafunâ asshâleh, maka kita tidak akan menemukan rasa pesimisme sedikit pun dari perjuangan mereka. Seandainya saat-saat itu datang bisikan Iblis untuk lari dari medan perjuangan, maka mereka kembali secepatnya untuk memperbaharui asas perjuangan mereka.

Mungkin kiat pernah mendengar ungkapan “Apabila malam semakin gelap, maka rasa dingin semakin menusuk badan. Itu pertanda bahwa fajar akan segera menyingsing. Kondisi umat Islam yang semakin parah menunjukkan bahwa kemenangan itu semakin dekat. Maka sebab itu, setidaknya ada tiga hal yang mesti kita renungkan kembali.

Pertama: Dirasatu al Madhi (Belajar dari masa silam). Jika kita mengkaji Al Qur’an lebih dalam maka kita akan temukan banyak kisah-kisah kemenangan dan kehancuran. Tak ada salahnya kita belajar dari sejarah. Apa saja faktor-faktor kebangkitan umat. Sehingga Islam akan kembali menjadi sokoguru peradaban dunia.

Lihatlah misalnya Shalahuddin Al Ayyubi, tatkala malam tiba ia selalu memeriksa para jundi-nya. Jika ia menemukan mereka tengah khusyuk qiyamullail, beliau mengikrarkan: “Min Huna Ya’ti An Nashru” (Dari sinilah datang kemenangan).

Kedua: Tarsyidu al Hadhir (Menata strategi sekarang juga). Setelah mempelajari sebab-sebab kemenangan dan kekalahan. Kita tak hanya berhenti di situ. Tapi segera bergerak dalam menata strategi. Mencetak pribadi-pribadi yang siap terjun ke medan laga. Mempersiapkan generasi-generasi pejuang yang mampu meneteskan air mata ketika manusia tertawa sepenuh mulutnya.

Ketiga: Istinaratu al mustaqbal (Pencerahan masa depan). Kebanyakan kita masih sibuk dengan masalah-masalah sepele yang tak ada hubungannya dengan kemajuan umat. Dalam hal ini Ustadz Anis Matta pernah mengatakan:”Kita masih bicara konspirasi asing, dan belum bicara sistem pertahanan dakwah. Kita masih bicara fiqhul ikhtilâf, dan belum bicara manajemen organisasi. Kita masih bicara sabar dalam menyiasati keterbatasan dana, dan belum bicara cara menciptakan ke-berkecukupan dana. Kita masih bicara apa yang kita inginkan, dan belum bicara sumber daya yang diperlukan untuk mencapainya. Selama pusat perhatian pikiran kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya-sumberdaya, selama itu kita akan mengalami kemunduran dan keterpurukan”.

Ikhwati fillah…

Sunnatullah telah menggariskan akan selalu ada di setiap ruang dan waktu sekelompok umat Islam yang memperjuangkan tegaknya panji Allah di muka bumi. Tidak lekang dengan ancaman orang-orang yang menghinakannya. Dan mereka tetap komitmen sampai datang kepastian Allah, Kesyahidan atau kemenangan.

Negeri Seribu Menara, 26 November 2011

Di saat Al Quds masih dalam penjajahan Zionis

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
  • Kombespolade

    benar skLi.slama mbaca didakwatuna bbgm macm ttng islam sprti dipalestina,,meneteslh airmTKu byk saudr kita yg terinjak2 oleh musuh Allah,,sgt sdih hatiku.sedngkn kbykn dr kita hanya sibuk menumpuk harta dgn mghalakn cara,,,saudaraku hy doaku untukmu,thanks dakwatuna

  • Supri2574

    mari kita bergandengan tangan erat untuk bangkit bersatu lepas dari belenggu status sosial, organisasi, golongan, partai dengan satu visi…. tegaknya agama mulia di bumi ini,. hilangnya ruh dakwah oleh orang-orang yang ingin mengais dunia dari paenjaualan ayat-ayat suci, harus di sadarkan…. mari kiata berfikir jernih mengapa kita selalu di bawah, mari kita jalin erat persaudaraan atas nama Allah semata sesuai dengan porsi masing-masing

  • Neneng Sukmawati

    Semoga Allah sllu menyinari hati kita dgn cahaya iman dan taqwa,serta menghidupkan hati yg tlah mati… Amin.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ydsf.org)

Sang Guru Masa Depan