Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Silaturahim Di Mata Remaja

Silaturahim Di Mata Remaja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (4antum.wordpress.com)

dakwatuna.comBulan Dzulhijjah sudah sampai pada minggu terakhir, tapi beberapa acara hajatan masih terus bergulir. Setidaknya, masih ada tiga undangan yang mengharapkan saya dan keluarga untuk hadir. Ketiganya adalah undangan pernikahan. Alhamdulillah, semoga mereka yang telah melangsungkan pernikahan, Allah jadikan keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Juga bagi mereka yang hendak melangsungkan pernikahan, semoga Allah memudahkan semua perkara dan melancarkan semua urusan. Dan bagi yang belum bertemu dengan jodohnya, segera Allah pertemukan dengan jodoh yang akan mendatangkan ketenteraman, kebahagiaan dan keselamatan dunia hingga akhirat. Amin.

Teringat waktu masih kecil, sering saya diajak orang tua untuk ikut ke tempat saudara yang sedang mengadakan hajatan. Tentu saja saya sangat senang. Pikiran saya waktu itu memang tak bisa lepas dari berbagai jenis makanan dan minuman yang bakal dihidangkan. Tapi ada hal lain yang orang tua saya tanamkan dan sekarang saya pahami, yaitu silaturahim.

Yang saya tahu, setiap ada keluarga yang mengadakan pesta hajatan, di situ hadir pula Pak Dhe, Bu Dhe, Pak Lik, Bu Lik dan puluhan saudara sepupu yang rata-rata jarang bertemu, bahkan saat lebaran pun belum tentu. Bila jaraknya cukup jauh, terkadang kami menginap di rumah yang sedang mengadakan hajatan. Tak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu tuan rumah, tapi saya senang bertemu, berkumpul dan bermain dengan saudara sepupu yang beberapa di antaranya baru pertama kali bertemu. Tanpa disadari, berawal dari sebuah hajatan akhirnya saya tahu bahwa si A, si B dan yang lainnya ternyata adalah saudara.

Tapi lain dulu lain sekarang. Mengajak anak – terutama yang sudah memasuki usia remaja – untuk menghadiri undangan teman atau saudara tidak semudah seperti mengajak ia jalan-jalan ke tempat rekreasi ataupun pusat perbelanjaan. Banyak alasan yang mereka berikan. Malu, tidak ada waktu, bentrok dengan kegiatan sekolah dan alasan-alasan lain yang mereka ada-adakan.

“Tidak bisa, Bunda. Nanti sore ada kegiatan di sekolah” Fulan memberikan alasan.

“Cuma sebentar kok, sebelum Zhuhur insya Allah kita sudah di rumah. Jangan khawatir kamu tidak bisa ikut kegiatan di sekolah” Bunda meyakinkan.

“Malas ah, Bunda. Capek!” Fulan berganti alasan.

“Tolong, temenin Bunda. Hari ini Ayah ada tugas dari kantor, jadi nda bisa datang ke undangan” Bunda memohon.

“Bunda sendirian aja, deh. Aku kan malu. Masak sudah gede begini masih ikut kondangan, memangnya anak kecil?” untuk kedua kalinya Fulan berganti alasan.

“Lho, siapa bilang yang boleh ikut kondangan hanya anak kecil” Bunda belum menyerah.

“Nggak ah, Bunda! Kalau aku ikut, mau ngapain di sana? Itu kan kepentingan Ayah sama Bunda!” keluarlah alasan yang sesungguhnya.

Astaghfirullah! Ketahuilah anakku, Bunda mengajak kamu ke kondangan bukan semata agar Bunda ada yang nemenin. Kita ke sana sekaligus silaturahim. Bunda ingin kamu kenal dengan saudara-saudara yang lain. Banyak saudara yang datang dari kampung. Mereka jauh-jauh datang juga bukan sekedar untuk kondangan, tapi untuk bersilaturahim dengan kerabat lain yang lama tidak saling bertemu, bahkan saat lebaran pun belum tentu.”

Kali ini Fulan tidak menjawab.

“Kalau kamu bilang ini hanya kepentingan Ayah dan Bunda, jelas kamu salah. Kondangan bukan sekedar datang, makan terus pulang. Mereka mengundang, lalu kita datang bukan sekedar memberikan sumbangan. Silaturahim lah kepentingan yang sesungguhnya.”

Dan meski sudah panjang lebar dijelaskan, tidak selalu sang anak berubah pikiran. Kalaupun mau, terkadang hanya mengantar sampai di depan gang, tidak sampai di tempat di mana pesta diadakan, silaturahim dengan kerabat bisa dilakukan.

Begitulah, kenyataan yang ada pada remaja-remaja zaman sekarang. Tidak semua tapi benar-benar ada. Sulit mengajak mereka untuk ikut hadir dalam sebuah acara yang diadakan salah satu anggota keluarga. Terlalu sempit mereka mengartikan undangan. Dimana-mana sama-sama. Tak lebih dari sebuah rutinitas. Dimulai dari datang, sulaman, makan, sulaman lagi sambil memberikan sejumlah uang, lalu pulang. Tak ubahnya seperti kita makan di sebuah restoran.

Hal yang sama juga terjadi ketika mereka diajak untuk ikut arisan keluarga. Berbagai alasan mereka buat, mereka cari. Di mata mereka jauh lebih menarik jalan-jalan dengan teman-teman daripada bersama keluarga. Arisan hanyalah kegiatan orang-orang tua, itu pendapat mereka. Hampir tak terlihat bahwa ada hal penting yang bisa dilakukan selain masalah uang, yaitu silaturahim.

Ketika dijelaskan tentang silaturahim, mereka punya jawaban sendiri. Pertemuan mereka dengan teman-teman pun termasuk silaturahim. Dan kalau sudah begini, orang tua seringkali jadi terdiam, mengelus dada. Silaturahim dalam pengertian mereka seringkali berbeda. Silaturahim berdasarkan usia dan kepentingan saja. Ketika mereka sumuran dan memiliki kepentingan yang sama, dengan senang hati mereka melakukannya. Tapi tidak ketika mereka diajak bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara yang tentu saja beragam usia dan kepentingannya, mereka berusaha untuk menghindar, menolak dengan berbagai alasan.

Saya sendiri mengalami hal ini. Tidak selalu mudah mengajak putri saya untuk ikut kondangan ataupun arisan. Hampir sama dengan alasan kebanyakan anak lainnya. Tapi saya tidak mau selalu kalah. Berbagai pendekatan saya lakukan, meskipun hasil memuaskan tak selalu saya dapatkan.

“Kamu ingin berbakti kepada almarhumah ummi?”
Dia mengangguk.

“Beristighfarlah untuknya. Doakan semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilafnya, menerima amal baiknya. Dengan demikian, semoga almarhumah dijadikan ahli surga Nya.”

“Sudah. Selalu setiap selesai shalat”

“Sudahkah kamu menyambung silaturahim dengan sahabat dan keluarga ummi?”

Ia terdiam. Ragu, mau mengangguk atau menggeleng.

“Rasulullah pernah bersabda: ‘Di antara bakti seseorang yang paling baik kepada orang tuanya adalah menyambung tali silaturahim dengan keluarga maupun teman orang tuanya setelah orang tuanya meninggal.’*) Jagalah silaturahim dengan sahabat dan kerabat. Juga kelak bila aku sudah tiada, jangan pernah putuskan silaturahim dengan mereka. Itu salah satu bukti baktimu pada kami”

Dan seperti yang saya katakan, tidak selamanya usaha ini membawa hasil sesuai harapan. Tapi setidaknya satu pesan penting telah saya sampaikan, bahkan berulang-ulang. Dengan demikian, diharapkan kesadaran dan pemahaman akan ia dapatkan bahwa silaturahim itu sangat penting bahkan rasul menyebutnya sebagai salah satu bakti kepada orang tua yang sudah meninggal dunia.

Wahai anakku, adik-adik remaja dan juga saudaraku semua, jangan lagi bertanya apa kepentinganmu mendatangi undangan, arisan ataupun pertemuan dengan sanak saudara, karena menjaga silaturahim lah kepentingan yang sesungguhnya.

*) HR Muslim

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • butuh waktu,kesabaran,terus menerus memberikan pemahaman,kpd mereka betapa prntingnya ber silaturahim..remaja masa2 yg labil,gamang..penuh angan2 & harapan,tugas kita OT membimbingnya!

  • subhanallah hehe aku bgd tuh waktu itu.. aku gak mau datang ke akad kakku sndri heehehe…
    astaghfirulllah… ga twnya ini acara silaturahim yg sangat ptng

Lihat Juga

Silaturahim Perdana Keluarga Muhammadiyah Korea Selatan, Seoul, 3 April 2016. (Phisca Aditya Rosyady)

Silaturahim Perdana Keluarga Muhammadiyah Korea Selatan