Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Hidup Terasa Sulit (3)

Jika Hidup Terasa Sulit (3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Bismillah…

Setiap nikmat yang terkecap
Sesungguhnya takkan pernah habis hingga bumi tutup usia
Sekalipun setiap insan selalu lalai
Nikmat-Nya takkan pernah berhenti mengalir
Karena kecintaan Allah pada hamba-hamba-Nya
Senantiasa mengabadi,
Selamanya…

Ilustrasi (gettyimages)

Saudaraku….

Pernahkah kita merasakan energi sabar yang lahir dari penghambaan Nabi Ayyub as,

Energi harapan dan cinta yang dipupuk oleh Muhammad Al-Fatih dalam ibadah-ibadah kepada-Nya bahwa suatu saat, Konstantinopel akan diraihnya,

kebeningan hati Fatimah az-zahra kecil yang dengan tegas menentang kaum Quraisy yang mengotori Ayahnya dengan isi perut onta ketika shalat,

atau… merasakan bagaimana bersihnya hati Abubuakar As-Shiddiq yang dengan tenang menerima kabar kematian Rasulullah SAW, meski sebagian besar ummat islam saat itu menglami kegoncangan,

Sungguh… itu sedikit potret dari orang-orang shalih terdahulu yang menginspirasi.

Jangan ditanya kedekatan mereka dengan Allah,

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa memberikan hukuman terhadap diri sendiri jika lalai dalam ibadah kepada-Nya… sekalipun hanya ketinggalan shalat berjama’ah… atau ibadah-ibadah lain yang kita anggap “sepele”

Mereka senantiasa memahami, bahwa jika kita mengingat-Nya, maka Allah akan ingat pula kepada kita…

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu….

Tidak hanya itu… rasa syukur atas semua nikmat Allah tak pernah lepas dari setiap dimensi kehidupan mereka…

…….. dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Al-Baqarah: 152).

Saudaraku…

Pernahkah kita merasa bahwa takdir yang Allah berikan kepada kita tidak sesuai dengan kehendak kita?

Ketika usaha sudah kita coba, dan doa-doa senantiasa kita panjatkan, namun ternyata Allah berkata lain atas ketentuan yang ditetapkan-Nya…

Lalu…

Pernahkah kita berada pada situasi dimana merasa menjadi orang paling “tidak beruntung”, “paling sengsara”, tak mendapat nikmat apa-apa?

Manusiawi adanya jika ini kita rasakan…

Namun… selaku hamba yang mengaku seorang muslim…

yang mengaku memiliki iman kepada Allah swt di hati-hati kita… sesungguhnya, banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dari orang-orang mulia yang senantiasa dekat kepada-Nya…

Bayangkan jika masa tersulit baginda Nabi selama diboikot oleh kau Quraisy dilewati tanpa rasa syukur kepada Allah swt,

Masihkah kita menikmati Islam saat ini?

Atau ketika para Mursyid ‘am Ikhwanul Muslimin, yang rela dipenjarakan dan menerima siksaan bertubi-tubi melewati semua ujian itu dengan menggadaikan idealisme dan menjual murah Jihad yang selama ini mereka kerjakan…

Bisakah kita mendapatkan pelajaran dan ruh perjuangan dari mereka?

Saudaraku…

Semua ujian dan cobaan itu mereka lalui dengan rasa syukur yang berlimpah kepada-Nya…

Al-Muhasibi, pernah berkata…

“Rasa syukur yang paling tinggi adalah bila engkau menganggap SETIAP MALAPETAKA sebagai suatu NIKMAT. Karena malapetaka yang menimpa manusia yang lain lebih dahsyat dan lebih besar dibandingkan dengan malapetaka yang menimpamu, di saat manusia merasa butuh SABAR, engkau malah bisa BERSYUKUR”…

Masya Allah…

Kalimat ini… jika kita renungkan secara mendalam… betapa menyimpan energi kecintaan pada Allah yang luar biasa,

Perasaan dimana semua batas emosi telah dilewatkan oleh IMAN kita, karena merasa bahwa apapun dari-Nya, sesungguhnya selalu yang terbaik buat kita.

Inilah yang menjadi alasan kenapa Rasulullah saw menjadi orang yang paling bersyukur atas nikmat-Nya.

Rasulullah memahami, bahwa kebesaran Allah senantiasa lahir dari penciptaan langit dan bumi.

Bahkan, ketika nikmat tidur bersama Aisyah RA sedang dikecapi olehnya, Rasulullah meminta izin kepada Aisyah untuk shalat dan menangis di hadapan-Nya.

Aisyah RA dengan keheranan bertanya kepada Beliau “Apakah yang menyebabkan Tuan menangis, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Tuan baik yang dahulu maupun yang belakangan?”

Lalu apa jawaban Rasulullah…?

Sang Nabi yang Mulia (Semoga Allah mempertemukan kita dengan Beliau di Jannah-Nya) berkata…

“Tidakkah aku mesti menjadi hamba yang bersyukur? bagaimana aku tidak menangis sedangkan Allah menurunkan ayat ini kepadaku, “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi……… adalah tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi kaum yang berfikir” (Al-Baqarah: 164 dan Ali Imran: 190)

Keindahan Akhlaq inilah… yang senantiasa membuat Aisyah RA senantiasa menangis ketika mengingat Beliau… tidak ada sesuatupun yang tidak mengagumkan dari pribadi Sang Nabi…

Saudaraku…

Semoga dalam sisa umur kita… kita mampu belajar untuk memaknai bahwa sesungguhnya Allah swt, senantiasa memberikan yang TERBAIK bagi kita…

Kita hanya butuh membersihkan nurani… mengasah IMAN… mempertebal kesyukuran… lalu memperbaharui Akhlaq…

Agar dengan KEBENINGAN JIWA yang kita miliki… semua kejadian yang kita alami… bisa kita “petik” hikmahnya… Insya Allah… dalam kondisi yang ridho… dan menjadikan kita pribadi-pribadi yang qana’ah…

 

Allahu’alam Bishwab…

“Jadikan kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa memperbaharui niat dan rasa syukur kepada-Mu… agar cinta dihati kami… terisi penuh oleh-MU… kemudian melahirkan ucapan yang membeningkan… serta perbuatan yang men-cahayakan…” Amin ya Rabbal alamin….

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 9,70 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai salah satu lokasi awal terjadinya kerusahan SARA diawal tahun 2000-an. Malifut, sebuah kecamatan kecil di Halmahera Utara. Sudah hampir 2 tahun saya belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran. Ingin sejenak mengenang sungai kecil tempat men...ceburkan diri dan belajar berenang ketika masih berseragam merah putih. Ingin sejenak bercerita pada sungai-sungai jernih yang sering menemani soreku bersama para sahabat untuk menangkap udang, ikan atau sejenisnya, kemudian diperlihara secara sederhana dirumah. Meski akhirnya, selang beberapa hari, peliharaan-peliharaan itu harus mati karena tak cukup oksigen. Buatku, masa kecil hingga remaja akan sangat mempengaruhi pola hidupmu dalam tahun-tahun mendatang. Kenangan hidup didaerah pelosok adalah wangi harum bumi yang merasuk erat di dalam tubuhku. Menghabiskan hari dengan memancing ikan, meski dengan itu harus sedikit nakal karena tak menuruti perintah ayah-ibu untuk tidur, adalah kenangan-kenangan hidup yang terlalu sulit untuk sekedar kulupakan. Juga menghabiskan malam di surau kecil dengan terang lampu yang tidak sebercahaya di kota, membuatku duduk menyepi sambil menghafal ayat demi ayat di Juz Amma, kemudian melaporkan kepada Ustad-ku yang sudah siap dengan rotan bambu-nya yang cukup membuat betis pedia jika salah dalam berbuat. Sungai, bukit, hutan, mengaji, bermain sepuasnya, adalah hari-hari yang mengagumkan dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Sayangnya, alam tak mau menempatkanku berlama-lama dengannya. Tahun 1999, di akhir tahun seingatku. Semua penghuni rumah dibangunkan karena kerusuhan SARA baru saja bergolak. Memasuki fase baru dalam hidup yang jauh berbeda dengan sebelumnya, tentu membuatmu tegang. Dulu, yang biasanya kuhabiskan sore dengan memanen sayur atau tanaman di kebun luas milik kakakku, kini harus berganti dengan deruan pukulan tiang listrik, membuat bom, hingga berita-berita tentang kematian demi kematian. 2 tahun masa itu kulewati hingga rasanya sangat kebal ketika menyaksikan perang, melihat mayat, hingga termenung memandang puing-puing rumah yang terbakar.

Memasuki awal 2000, akirnya semua harta keluarga ludes, terbakar, dan hanya meninggalkan puing sejarah yang terlalu kelam untuk sekedar di kenang.

Kujejakkan kakiku di Ibu kota Provinsi Maluku Utara kala itu. Ternate namanya Cukup prestisius dimataku. Karena setidaknya, aku bisa menyaksikan mobil yang banyak lalu lalang, menyaksikan teriakan orang-orang di pasar-pasar yang cukup ramai. Semuanya mengingatkanku dengan kebiasaan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depan warung kecil keluargaku. Sering sekali kuhitung berapa jumlah motor yang lalu lalang dalam 3 atau 4 jam, kemudian membayangkan, kapan kira-kira tempat kelahiranku ini menjadi ramai seperti kota-kota yang ada di tayangan televisi yang kusaksikan. Mungkin semegah Surabaya, ketika kukunjungi dalam usiaku yang ke 11. Atau seluas Bau-bau yang kecil namun berkesan bersama penjual madu yang melimpah. Itu impian sederhana dari seorang Ario kecil. Terlihat aneh jika kuingat-ingat sekarang :)

Ternate, buatku adalah awal gerbang kompetisi. Menikmati masa SMP di SMP N. 4 Ternate, kemudian menamatkan SMA di SMA N. 1 Ternate, adalah bagian dari cerita hidup yang selalu dahsyat untuk di kenang. Menghabiskan masa remaja bersama berbagai aktivitas dan banyaknya karakter menumbuhkan semangat tersendiri buat saya untuk sekedar memahami lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Hingga ketika berumur 17 tahun, sebuah musibah kecil menimpa keluargaku, yang kemudian, akhirnya menyatukan kepingan-kepingan kerapuhan dalam diriku untuk mengajaknya bertahan, terus berirama dan beresonansi bersama nyanyian hidup yang mau tidak mau harus ku teruskan. Setidaknya, episode kecil itu membuatku lebih memahami siapa kekuatan Maha Dahsyat dibalik takdir yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa kecil ini juga mempererat tali cinta antara aku bersama bidadari-bidadari-ku dalam keluarga kami. Mungkin jarang terucap, namun kami punya cara untuk sekedar saling merasa tentang keadaan kami yang masih sama-sama belajar. Mereka, saudara-saudariku, adalah sosok pemberi sejuta inspirasi, juga sosok-sosok hangat yang selalu mengerti siapa aku dan bagaimana aku dengan segala keterbatasannya. Mereka pula yang akhirnya mampu menafsirkan, bagaimana seharusnya hidup itu bertransformasi, bagaimana seharusnya sebuah hubungan darah mampu terbangun dan menjadikan istana kehidupan kita berseinergi bersama keinginan alam yang matu tidak mau harus kita hadapi. Merekalah guruku.. Merekalah inspirasi yang takkan pernah kendur, dan takkan pernah habis dimakan zaman.

Dan akhirnya, 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menghabiskan hariku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pilihan menjadi seorang Insinyur adalah takdir yang harus kutulis dan kujalani. Hingga dalam perjalananku, aku menemukan mereka-mereka yang menggetarkan. Meski hanya lewat ucap, lewat laku, atau bahkan hanya dari buku-buku. 4 tahun bersama Yogyakarta, membuat karakterku tumbuh dengan segala warna yang ada padanya. Mengenal pribadi-pribadi Al-quran di kota ini telah menyihir segala pemahamanku tentang hidup dan orientasi dalam menjalaninya. Mungkin saya tidak merasa, namun sejatinya, pengaruh-pengaruh mereka telah membentuk karakter dan idealisme yang baru. Semuanya kudefenisikan sebagai proses perubahan. Hidup sangat dinamis, jika karaktermu tetap sama dalam bilangan tahun yang terus terlewati, maka ada yang salah dengan ke-dinamis-anmu. Maka dinamisasi jugalah yang membuat karakter siapapun ikut berubah. Satu hal penting yang tak boleh hilang. Proses transformasi ini harus senantiasa kembali kepada-Nya, berjalan dalam jalur-Nya, dan berkembang sesuai dengan titah-Nya.

2 September 2009. Kumulai menuliskan episode baru dalam hidupku. Sebuah transformasi hidup yang juga baru akan kujalani. Di negeri formosa, akan kulukis cerita, kucatatkan pelangi pada langit-langitnya hingga nanti semua kumpulan episode ini menjadi berharga dimata-Nya. Taiwan Technology atau National Taiwan University of Science and Technology adalah tempat dimana kutitahkan semua perjalanan ini. Membuat cerita baru di tempat yang baru tentu perlu adaptasi yang keras juga membutuhkan proses dan waktu yang memadai. Semoga cerita di formosa, menjadi kenangan indah, seperti kenangan masa kecilku, remajaku, hingga menjemput tranformasi hidup di bumi Yogyakarta.

2 Tahun, akan kujalani cerita bersama tumpukan paper, tugas kuliah, dan tentunya bermacam aktivitas yang akan menemaniku untuk membentuk karakter yang lebih utuh. Anggap saja ini adalah jalan-jalan. cerita jalan-jalan untuk merebut jalan panjang menuju syurga-Nya, jalan sederhana yang sengaja tergariskan oleh-Nya untuk menguji apakah sosok Ario akan terlindas oleh zaman atau akan kokoh bersama waktu. Semoga proses ini menumbuhkan siapapun yang melewatinya, menumbuhkan sakura hingga bersemi, mencairkan salju hingga datang panas, dan mengeringkan suhu yang sering membuatku menggigil ketika musim dingin tiba.

Alhamdulillah, sebelum menggenapi cita-cita untuk lulus master dari Taiwan Technology, aku meminang seorang gadis Trenggalek, Ratih Nur Esti Anggraini dengan mengcuapkan mitsaqan Ghaliza pada tanggal 2 Juli 2011. Dan 17 hari kemudian, Allah memberikan hadiah indah yang lain, di hadapan Prof. Yang CC (NTOU), Dr. Wang H. (China Consultant Inc.), Prof. Chun, Tao Chen (Taiwan Tech), dan Advisor saya, Prof. Chang Ta Peng, saya berhasil mempertahankan Thesis saya dan mendapatkan gelar M.Sc.(Eng) atau MSE.

Saat ini, saya bersama Istri sedang menikmati episode baru menjadi sepasang suami-istri yang semoga dapat saling mencintai karena Allah satu sama lain.

teruslah berjuang kawan, karena episode hidup selalu akan bertransformasi mengikuti usahamu.
  • G Sugema

    subhanalloh maha suci ALLAH dengan segala kehendak serta kekuasaan nya semoga kita selalu berjalan di atas jalan Rasul nya muhammad saw

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian