Home / Pemuda / Cerpen / Mana Ikhwan Untukku?

Mana Ikhwan Untukku?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.comBLEDERR!! Subhanallah, kaget bukan buatan setelah kubaca pesan singkat di ponsel. Allah, ada yang hendak melamarkuuu! Ini sebuah prestasi, eh (mikir) ya prestasi. Aku baca ulang; hmm, apa ada yang keliru dengan cara ini?

Mirror mirror on the wall, pantaskah aku mendampinginya?” sedikit gila, aku ngobrol dengan kaca meja rias.

Kenapa mesti ngaca, orang seperti dia tentu melamar perempuan bukan karena fisik, kaca menjawab. Tapi sepertinya itu suara hatiku.

Umar. Nama sahabat Nabi, juga nama sahabatku. Mungkin sama kualitas jika hidup semasa, analisaku saja. Umar—yang kawanku—sejak SMA selalu berprestasi, pikirannya tajam, sikapnya tegas, saleh tentu saja. Dan, posturnya itu… wajahnya itu… astaghfirullaha’azhim. Aku pernah mengaguminya sebelum hijrah. Lalu aku tobat, karena kekagumanku bertepuk sebelah tangan.

Diterima di kampus yang sama, aku dan Umar berbeda fakultas. Jika bertemu tidak saling sapa, tentu saja, kami tidak saling pandang. Tapi aku hapal bayangannya, karena tiga tahun di SMA kami selalu satu kelas.

Tidak ada yang kebetulan. Hari ini, di hapeku, pada sebuah pesan yang kupastikan tak salah kirim, seorang kawan yang lain mengabarkan keinginan Umar melamarku.

Wiwi nama kawanku itu, agak aneh memang. Menggambarkan orangtua yang tidak kreatif, halah! Ia sudah menikah dua tahun lalu, curi start padahal kuliahnya belum lagi kelar. Sekarang kami sarjana, tapi menganggur. Tidak apa, kan ada suami yang menanggung biaya hidup. Prinsip yang salah. Tolong, kembalilah ke topik!

Wiwi, aku, dan Umar satu organisasi, sebuah lembaga dakwah skup terbesar di kampus. Tidak ada yang istimewa dengan persahabatanku dan Wiwi, kecuali bahwa dia menikah dengan kakak sepupuku, dan kami pernah bertengkar gara-gara pada sepupuku itu, kuceritakan kisah Wiwi yang dulu pernah sms-an ganjen dengan ikhwan senior.

Kami saling diam, lalu berbaikan lagi saat lebaran. Bertengkarnya pada dua hari terakhir Ramadhan.

Ke nomor ponselku, Wiwi yang tidak istimewa mengirimkan pesan ajakan ta’aruf dari Umar. Apa lagi yang hendak dikenalkan? Ayolah Umar, bukankah kita sudah saling kenal. Kadang-kadang agresif itu tidak baik, nuraniku angkat bicara.

Hatiku berbunga-bunga. Tombol gulir kuarahkan ke bawah, menuju huruf ‘e’, memanggil seseorang yang kuberi nama ‘em-er’ pada ponsel.

“Assalamu’alaykum. Apa kabar, Mbak? Djkalhf fieoifepi dkajdkajs kugruipgoripogsw…” sebagai orang Indonesia, etika berbasa-basi hukumnya wajib.

terus berbicara sambil melihat jam, pulsa berlari kejam karena beda operator

Mbak Em-er adalah penasihat spiritualku, ya kalau berlebihan sebut saja guru ngaji. Teman berbagi masalah yang bertemu muka satu pekan sekali. Kadang-kadang libur juga jika ada acara besar, dan pertemuan dialihkan ke acara besar itu.

“O begitu… umur Ika sekarang berapa?”

“Dua satu, Mbak,” jawabku mantap. Masih muda kan, tapi sudah laku, gila!

“Sayang loh, masih muda banget. Energinya masih bisa disalurkan buat umat.”

“Memangnya kalau sudah nikah nggak bisa ngurusin umat lagi ya, Mbak?” tanyaku lugu.

“Bisa. Tapi harus berbagi dengan suami, anak, rumah… ya kan?”

Kok nanya balik, mana aku tahu. “Jadi gimana, Mbak?”

“Tunda dululah. Lagipula kita punya jalur kok, Ika tunggu saja proposal nikah dari ikhwan lewat Mbak. Insya Allah lebih bisa dipercaya.”

Aku kaget lagi. Benar-benar simalakama. Lantas aku pusing, antara Umar dan Mbak Em-er. Aku cinta keduanya. Apa? Keliru, aku cinta Mbak Em-er. Umar bukan siapa-siapaku, tidak lebih utama dari penasihat spiritual utusan struktur wilayah.

Wiwi ikut kaget mendapat balasan pesan dariku. Lewat telepon, ia khutbah tanpa naskah. Tapi Wiwi hanya tokoh tidak penting, ia marah karena tidak mampu menyenangkan hati Umar. Dan asal tahu saja, Wiwi nikah lewat jalur swasta. Kakak sepupuku, yang shalihnya biasa-biasa saja, langsung datang menemui orangtua Wiwi, tidak lewat ustadz.

***

Sepekan kemudian.

Dasar mimpi, tiga hari berturut-turut Umar hadir di sana. Tapi syukurlah, ketaatanku pada Mbak Em-er mampu meredam keinginan yang menurutku tak pantas itu. Prinsipku, yang baik untuk yang baik. Itu kata Quran, jadi santai saja.

Empat bulan berikutnya.

Tapi, ‘santai’ itu cuma gampang diketik. Kini, setelah dengan pongah kutolak Umar, hatiku hancur lebur jadi puing paling puing. Undangan pernikahan Umar tergeletak manis di meja kamarku. Wiwi dengan sangat girang mengantarkannya, bahkan sampai ke kamar. Dia tentu tahu, malam ini bantal gulingku akan banjir.

Betul kata Quran, yang baik untuk yang baik. Umar menikah dengan seorang akhwat yang kelihatan biasa-biasa saja, tapi aku tahu hapalannya banyak, rajin tahajjud dan puasa sunnah. Jangan tanya dari mana aku tahu, akhwat itu binaanku. Sasi, akhwat yang dari segi fisik bertipe standar, tapi membuatku gentar dan kapok untuk mengevaluasi amalan binaan di akhir kajian. Lagi-lagi Umar melamar anak orang tanpa lewat ustadz atau siapalah yang cukup punya label untuk disegani. Mungkin karena Wiwi dianggap tidak kapabel jadi comblang, Umar datang sendirian menemui orangtua Sasi. Karena orangtua Sasi sudah setuju, binaanku yang dahsyat itu kemudian meneleponku bukan untuk minta restu, tapi sekadar mengabarkan rencana pernikahannya. Oh dunia, kau seperti ibu tiri!

Melihat kenekatan cara Umar, kupikir ia tidak dalam lingkaran pengajian lagi—aku cukup berharap, agar hati ini sedikit terhibur—tapi melihat tamu yang hadir di walimahan sederhana itu, makin retak jantungku. Rupa dan bau mereka familiar semua.

Hari ini, pada ulang tahun ke enam hancurnya hatiku.

Penasihat spiritualku sudah lima kali ganti. Sekarang kajian pekanan diisi oleh Mbak Em-er Lima, tapi aku masih sendiri. Setia menanti janji Em-er memberi ikhwan yang lebih pantas untukku. Kabarnya, biodata yang kuukir-ukir dulu sudah menguning di laci besi milik Kaderisasi.

Kulihat kerut dahi Bunda makin bertambah, apalagi jika keluarga datang silaturahim. Orang-orang tak kreatif itu seperti tak punya bahan selain membahas jodoh.

Bunda seperti orang dapat wangsit, selalu optimis menyiapkan segala hal untuk rumah tanggaku kelak. Beberapa alat dapur yang masih baru beliau tandai dengan inisialku, sebagai jatah karena tak mampu memberi warisan sepetak sawah, tanah, atau rumah seperti di sinetron-sinetron.

Melihat semua itu, baru kusadari; aku kualat.

Enam tahun lalu aku meminta izin pada orang yang bahkan tak ingat berapa usiaku, dan sekarang yang bersangkutan tak bisa dituntut pertanggungjawabannya. Ke mana materi kajian? Aku bahkan lupa untuk shalat istikharah, karena ketaatanku salah tempat. Kesadaran yang mutlak telat, bahwa posisi syariat berada di atas aturan atau AD/ART organisasi mana pun.

Sekarang Umar sudah beranak tiga, sedang aku hanya berharap segera melepas predikat single sebelum berkepala tiga. Tak berani terus terang pada Bunda soal enam tahun lalu, khawatir keijabahan doanya sebagai ibu pudar sebab kecewa.

Menurut teori, seharusnya aku berusaha. Maka ikhtiarku kali ini adalah mendongkrak doa Bunda untukku yang kuyakin selalu ada dalam shalat malamnya. Usia sudah menyurutkan semangatku untuk aktif, termasuk menjemput jodoh—entah dengan cara apa. Terbukti, sekarang aku lebih melow, tidak lucu lagi.

Contohnya pada detik ini, sekompi orang dari pihak Ayah datang ke rumah, ujug-ujug menawarkan beberapa laki-laki kampung mereka untuk dijadikan menantu Ayah-Bunda. Ada yang juragan kambing, tauke sawit, PNS,….

“Tapi ya… mereka nggak jenggotan. Celananya biasa aja, nggak cingkrang. Biarlah, daripada yang jaga masjid itu, jidatnya item tapi makan aja nunggu dikasih warga.”

“Bla.. bla.. bla..”

“Gimana, Ka?” tanya Bunda.

Serrr… Bunda tidak serta merta memberi keputusan, beliau lebih dulu bertanya padaku. Jangankan menjawab, hatiku malah berdarah-darah mengingat kedurhakaanku melangkahi otoritasnya sebagai orangtua.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (206 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Lahir di Jambi tahun 1984. Dan hingga kini tinggal di Jambi. Selain sebagai ibu rumah tangga, juga bekerja di swasta dan penulis lepas.
  • Azkariau

    diawal cerita saya sudah “suuzhon” ko gini sih pola pikir siakhwat, knp tdk istkharah dl, knp tdk musyawarah ama klurganya, lupakah dg hadits “jika dtg kepadamu lk2 yg kau ridho atas agamanya maka jgn ditolak krn akan ada fitnah”, kenapa memandang org lain kurang sholih n ga penting????. alhamdulillah ditutup dg hikmah yg memberi penyadaran, belum terlambat insyaAllah.

  • Nwb_ug 1188

    endingnya kurang gereget :( padahal ana berharap mendapatkan ending yg happy dari cerpen ini….

  • adi

    kok ceritanya gantung ya….

  • nice story….. iya, saya jg pernah kuawalat.. :(

  • gunn

    hmm..,
    (bingung mo komen apa).
    tp semoga diberikan ketetapan yg terbaik. (aamiin..)
    sayng saya sudah menikah.
    hi..hi..

    saya dulu menikahi istri jg lewat jalur “swasta”,
    tp alhamdulillah istri saat itu memutuskan pilihannya sndiri,
    walaupun setelah dikonsultasikan, kurang disetujui oleh emer nya

    • Ella

      Afwan, numpang nanya
      jalur swasta mksudnya gmna sih ?

  • nur-kurnia

    The experience is the best teacher sist… 
    Tapi tidak ada guna dan manfaat ketika kita mempersalahkan waktu, tempat, keadaan, orang lain bahkan diri sendiri. Semua sudah diatur oleh sang Maha Pengatur. Tinggal kita mau tetap istiqomah, sabar dengan terus berusaha, atau menyerah bahkan merasa bersalah dan selalu berprasangka. 
    Karena ‘dia’ akan datang di saat yang tepat, waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat juga.  Dan yakinlah bahwa Allah itu beserta prasangka hamba-hambanya,,,, ;)  

    • Slam Cruise

      AF1 akh memang semua sudah diatur oleh yang Maha Pengatur namun manusia juga kan sudah di beri jalan unutk memilih yang terbaik.  ingat hal buruk karena ulah manusia sendiri. jodoh akan datang pada saat yang tepat maksudnya adalah pada saat keyakinan dan proses kita pada Alloh sudah benar. nah di atas prosesnya dak benar. sampai hak otoritas orang tua yang telah Alloh berikan di kalahkan taqlid buta pada murobiyah. pengalaman ane waktu mo nikah Mr hanya jadikan pandangn selebihnya ane serahkan pada orangtua. waktu ane mo nikah kalo di larang Mr dengan alasan yang tidak sesui syari ya ane tolak.

  • Hasbi_mei3

    MR itu bukan Tuhan, terkadang saya juga merasa prihatin, apa – apa selalu saja dengar kata MR, menurut Ad/Art, padahal Alquran dan Sunnah lebih penting dari itu semua, apalagi masalah nikah.. waduuuhhh jangan 100% MR atau AD/ART deh… Istikharah.. istikharah…

  • Dahlan

    Kisah nyata seperti ini sangat banyak, mereka yang menomorduakan orang tua dibanding MR sekarang sudah hopeless ketika usia sudah berkepala tiga. Ibroh, utamakan orangtua tetapi jangan memberhalakan MR dalam mencari jodoh.

  • Isep88

    wah ini endingnya belum jelas… :( 

  • Muhammadarmansal

    Mrbyh si akhwat jg kurang bijak….

  • Jiraiya

    Endingnya sudah jelas kayaknya, nilai-nilainya sudah tersampaikan.

  • sansan

    Bagus..! nyindir nih..he..he.. 
    ketawa ketiwi bacanya.. :D

  • winanto solo

    Cerpen / cerita “khayalan” ini keliru ketika digunakan untuk menyalahkan komitmen untuk meminta pendapat pada guru ngaji soal jodoh.
    Antara orang tua dan guru ngaji bisa dikompromikan dan tidak untuk dibenturkan.

  • Odem465

    pelajaran yang dapat diambil juga untuk para MR yang lain… agar lebih bijak dalam memberikan solusi kepada binaannya dengan tetap bersandar pada Al Quran dan sunnah Rasul

  • Phitaq

    Memangnya MR itu siapa sih… berani2nya “menjanjikan” nanti ada calon yg lebih baik? memangnya baik/tidaknya seseorang bisa ditentukan dari list CV Ta’aruf? “Tunda dululah. Lagipula kita punya jalur kok, Ika tunggu saja proposal
    nikah dari ikhwan lewat Mbak. Insya Allah lebih bisa dipercaya.”… Tunda dulu sampe umur berape? hidup cuma sekali, sayang sekali memercayakan keputusan besar dimana kita yg akan mengalaminya bukan MR itu sendiri…

    Ada kata2 InsyaAllah… Beeuuuh berat

  • Ummi

    Tp mmg bgitu ada, “harus” ijin Em-Er jk ada yg “mau”, giliran ada yg “mau” tp gk ngaji pd “jalur” yg sm eh di”tolak” atas perintah Em-Er, ujung2nya udh 30an br dech “siapa aja” yg penting nikah, Na’udzubillah…

    Tp gk smua ya Sobat ky gitu, tmn2 sy bnyk yg mampu “mengkondisikan” Em-Er nya.

  • Abuhaikal

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan apabila hamba-hambaKu
    bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
    mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu”
    [Al-Baqarah : 186]

    Berpegang teguhlah kepada Al-Qur’an dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

  • Azzahra_maratun

    Mgkn memang umar bukan jodohnya y… Klo memang jodoh mah ga akan kemana… Dlm mslh takdir tiada kesia2an pasti ada jalan dan hikmahnya…

  • Umi_nasywa

    umur 21 belum boleh nikah? Hari gini…apa kata dunia?????Berkacalah pada zaman sahabat……kedewasaan, kesiapaan, kontribusi dalam dakwah…tidak ada kaitanya dengan umur…untuk para akhwat jangan sekali2 menolak ikhwan …kalau tidak ada alasan syar’i…..

  • Susan

    subhanallah….

    semoga Allah ridho atas pilihan anti. :)

  • Yenny

    :)…#berasa ngomongin diri sendiri

  • Dodoy

    Terima kasih atas share pengalamannya. Semoga bermanfaat bagi kita semua kedepannya. Semoga Allah mempermudah dan menguatkan ukhti “Ika” dalam cerita ini untuk segera memperoleh jalan keluarnya. Saya salut kepada ukhti “Ika” yang masih mampu tegar dan berbagi pengalamannya.

  • Rustam_sedapwangi

    Hemmm …….. memang skenario Allah,Sabar…! “baik pilihan mnrt kt blm tnt mnrt Allah” kata Aa Gym.

  • Sy Lestari

    afwan sodara2… itu cuma cerpen, diambil dari kisah nyata yg didramatisir:) alhamdulillah sy sudah nikah en punya anak. ambil aja nilai positifnya, mudah2an bermanfaat

  • Hartorashidin

    ntropeksi
    diri,, j,, jangan berfikir,, justru kita yang paling baik???,, bs
    kmungkinan umarlah yang mendapatkan orang2 baik.,, atau wanita
    sholih,,,, krtitik,, jangan menyebut,, jidat hitam,, makan ja gak
    bisa,, ingat,, itu sama j, menjustifikasi,, sesrang pdahal semua,, hanya
    allah yang mencukupi,, jangn minta sebuah kemewaan pi mintalah
    kecukupan???,..

  • Anonim

    ntropeksi
    diri,, j,, jangan berfikir,, justru kita yang paling baik???,, bs
    kmungkinan umarlah yang mendapatkan orang2 baik.,, atau wanita
    sholih,,,, krtitik,, jangan menyebut,, jidat hitam,, makan ja gak
    bisa,, ingat,, itu sama j, menjustifikasi,, sesrang pdahal semua,, hanya
    allah yang mencukupi,, jangn minta sebuah kemewaan pi mintalah
    kecukupan???,..

  • Eca

    mau koment.. tapi sudah terwakili sama yg lain.

  • Walidfjr

    siapa yang salah?

  • Cut Irma Yunita

    Hmmm… ada pinta, ada asa.. yang utama adaLah sampaikan ,haturkan, mohonkan petunjuk dari ALLah akan Langkah yg akan diambil ke depan.. sehingga dengannya kita tak perLu menyaLahkan sesiapa atas keputusan yang tLh diambiL dan berLaLu..

    dan mungkin, akhwat pendamping umar, diaLah yang pantas utk seorang umar… ALLah Maha Tahu yang terbaik utk hambaNYa…

    dan utk akhwat yg tdk jadi dgn umar, skenario ALLah itu Lbih indah dari angan terindah kita sekaLipun, jika diLihat dengan kacamat shabar dan syukur…

    InsyaALLah, Bi IzniLLah…

  • Ibnu_syam

    akan diberikan yg lebih baik..
     

  • sasa

    InsyaAllah akan lebih bagus lagi, kalo happy ending nya jga disertakan.
    Karena skenario Allah akan slalu b’akhir bahagiaa

  • Presiden Bem Fkip

    trus lanjutnya gimana? 

  • Iun_17

    Sebelum menjadi MR, belajar ilmu syar’i dulu, ilmu yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat.. Mudah2an Allah memberikan hidayah dan kemudahan dalam menuntut ilmu syar’i kepada kita….

  • siti nurda

    iya saya juga ga setuju dengan pola pikir pemeran utama itu, lagian kata2 di bawah ini
    “Melihat semua itu, baru kusadari; aku kualat.
    Enam tahun lalu
    aku meminta izin pada orang yang bahkan tak ingat berapa usiaku, dan
    sekarang yang bersangkutan tak bisa dituntut pertanggungjawabannya. Ke
    mana materi kajian? Aku bahkan lupa untuk shalat istikharah, karena
    ketaatanku salah tempat. Kesadaran yang mutlak telat, bahwa posisi
    syariat berada di atas aturan atau AD/ART organisasi mana pun”
    menurut saya kurang pas mba, harusnya yang dipersalahkan bukan aturan, namun pola komunikasi antara pemeran utama, orangtua dan MR nya itu
    *afwan so tau..^^

  • Am_vibhi

    yang nulisnya penulis yang udh punya jam terbang tinggi, tanpa ending yang jelas itulah sbnarnya yang buat t cerpen jadi mnarik…

  • Dicipl86

    Ga ada yang telat untuk urusan jodoh… kalo jodohnya br dapat diumur yg sdh ga normal ya masa’ mo dipaksa dtg dg normal,,, ga terima?? menyalahkan mbak Em_Er??? menyalahkan diri sendiri??? heeeem sedikit banyak bukannya jg menyalahkan ALLAH ya??? Astaghfirullah… kalo jodoh bisa dibilang telat, apa kl pas sakaratul maut datang itu bisa disebut matinya telat????? heeeeeemmmm…. Pastinya jodoh, rejeki, mati kan diatur ALLAH SWT, jd ga mungkin “TELAT”… semua datang saat yang tepat dan dengan cara yang indah…. hanya perlu PERCAYA!!!!!

    Nb:ingat Guru Aliyah teman q, Sang Ustazdah yg cantik, sholeh dan baik hati, lg terkenal, br menikah diumur 55 Th… Jodohnya jg TOP… walau duda sich… tp semua orang se-kecamatan senang dengan berita itu… dan semua itu karena ALLAH, teman-teman….

    #EdisiWarasnyaOtak

    SEMANGAT ya yang belum dapat Jodoh… Semoga segera dapat Jodoh dan tentunya yang terbaik… Aamiin……

  • Fadhila Po

    Kalau kisah ini benar-benar terjadi, sekali lagi (mungkin) kita jadi belajar tentang takdir. Pemeran utama yang ngga jadi sama Umar, jelas itu adalah bagian dari takdirnya. Allah menetapkan Umar ‘cuma lewat’ dalam ‘buku kisah hidup’ si aku. Umar memang bukan diperuntukkan bagi aku. Karena Allah menetapkan si aku akan bersama yang lain. siapa? waktu yang akan menjawabnya. kenapa menyesal? bukankah keputusan yang saat itu diambil juga bagian dari ketetapanNya? 

    So, berkaca dari kisah di atas, mari kita belajar. Alangkah baiknya kita punya poin-poin penting yang semaksimal mungkin kita penuhi. Misalnya, proposal siapapun yang datang, hendaknya kita memastikan kesalihannya, daya cipta ekonominya (biar gimana kemampuan finansial akan dibebankan pada sang suami), dan lain-lain yang dengan petimbangan2 pokok itu, kita bisa tenang menjalani pernikahan. Bila kriteria pokok sudah di tangan, bolehlah kita mulai mempertimbangkan sisi ‘keindahan’nya. Kalo yang pokok saja belum terpenuhi, pertimbangkan masak2 dulu. share dengan yang sudah menikah, boleh juga.

    Jika bermaksud menolak, alasannya mustilah sesuatu yang bisa diterima secara akal, walaupun sah-sah saja juga kalo menolak dengan alasan subjektfitas (kurang tampan, kurang tebal tabungannya, dan semacamnya). ingat kan kisah lamaran Salman Al farisi? Jika secara syar’i tidak ada alasan untuk menolak, ini yang biasanya kemudian menimbulkan fitnah. Kan Rasulullah sudah pesan, jika seorang laki-laki yang salih melamar, kemudian ditolak, maka akan menimbulkan fitnah. 

    Istilahnya, andaikan menuju pernikahan itu ada prosedur standarnya, jika SOP-nya sudah dilewati, apapun yang terjadi pada pernikahan itu nantinya atau jika tidak sampai jenjang pernikahan, insyAllah, bisa ikhlas dengan lebih ringan. 

    Bagi yang masih menunggu juga, mari kita tingkatkan kualitas diri (keimanan, kemampuan daya cipta ekonomi, mental, kapasitas intelektual, dll) insyaAllah, kita akan dipertmukan dengan seseorang yang memang Allah peruntukkan bagi kita. Mari kita petik dari pengalaman saudara kita ini…

  • Ikhwan Cerdas

    Assalamu’alaykum Wr Wb

    Ikhwah yang komennya marah atau merasa tersinggung… tolong perhatikan JUDUL dan TAG nya

    Mana Ikhwan Untukku?Cerpen12/12/2011 | 17 Muharram 1433 H | Hits: 7.391Oleh: Ummu ‘Aifah
    ini adalah CERPEN bukan Curhat… astaghfirullah… kenapa di kalangan ikhwah sulit mencari orang yang cerdas ya??? tapi alhamdulillah ada juga yang komennya cerdas… thx

  • Ikhwan Mantap

    Azkariau << anda perhatikan baik2 akh… ini CERPEN ambil hikmahnya… dan ini bukan CURHAT… bodoh antum ya… kasian akhwat yang dapat antum nanti

  • Iyalguanteng

    lha wong cma cerpen kok bahasnya sampe gtu bgt sih, inget loh ini cma cerpen. jgn disamain sma tkdirnya Gusti Allah. Takdirnya Gusti Allah itu Pasti ada akhir  ga kyak cerpen ini yg smuanya di atur alur ceritanya sma penulis.

  • Ummu_fadhil

    Tidak ada yg salah dengan prosedurnya, mungkin yg kurang tepat adalah pengambilan keputusannya…saat lamaran umar dtg, apakah semua komunikasi sdh dilakukan?dengan Allah (via shalat istikharoh), dengan orang tua?jangan hanya dengan mb em_er sj, karena mb em_er pun adalah manusia biasa, yg tdk pernah luput dr kesalahan…JIka sudah terjadi, biarlah..hnya dgn bertawakkal dan bersabar obatnya:)..ini sdh menjadi skenario Allah yg menjadi cerminan untuk yg lain…meski hanya sebuah cerpen, bisa jadi jg mewakili sebagian kisah2 hidup yg lain, atau mungkin yg akn menikah memiliki pegangan bagmn harus bersikap…Intinya komunikasi dengan semua pihak, yg plg utama adalah Allah SWT..:)

  • Purnama_herri

    pasti akan tiba saatnya

  • alkhair

    jawabannya kebanyakan pake logika. kl ga taat ya jangan bersistem -oh maaf terlalu keras-.
    “kaffah” lah…

  • Anonim

    wah, bagus cerpennya..Insya Allah mendidik n menjadi pelajaran bagi kami yang mencari jati diri ^^

  • Tulisan yang bermanfaat, trim

  • Ansyori11

    Suka dengan tulisan ini, tapi pahamilah dalam setiap keputusan mintalah petunjuk dari Allah, buka Alquran dan sunnah. Ikutin anjuran Rasul. Jodoh itu ada di tangan Tuhan, klo ga di ambil ya tetep di tangan Tuhan….

  • Aisyah

    like this daah…^_^

  • Kamaluddin

    cerita ini ada lanjutannya tidak ??? bagus ceritanya….

  • Alhasan007

    ceritanya belum selesai,, kesimpulannya mash setengah, bagi yang sudah baca mngkin tw akhir ceritanya happy ending,,??? ya meskipun cuma cerpen sedikit tidak menjadi gambaran keadaan saat ini,… dan Sekenario Allah atas diri kita pasti lebih bagus (Lebih Indah) dari sekenario Penulis manapun, Bahkan dalam cerpen paling indah sekalipun,,, Insya Allah,…

  • ira

    keren tulisannya… ini curhat colongan yak…?? hihihihi
    eniwei… udah baca buku, “Ulama-ulama yang tidak menikah?”
    Sayyid Quthb itu gak nikah
    Ibu Taimiyah gak nikah…

    *digebukin sekampung

    • Non_melakolik

      Ulama2 itu orang juga ya…

      • Bimo Engineer

        Tapi Rasulullah nikah kok.
        terserah, mau niru ulama apa rasul

  • Pandukeadilan Negarawan

    ada banyak kisah nyata yang seperti ini… bahkan ada yang akhirnya menikah dengan ikhwan perokok dan bekas mabuk mabukan. tapi lebiiihhhh banyak lagi yang berakhir indah (dalam pandangan Alloh..)

  • Enywhy

    subhanaallah…lucu,sedih,keren…campur aduk…..hikshiks no happy ending

  • Janthinm

    af! ukhti, walaupun hanya sebuah cerpen tetap harus berhati-hati t’hadap pandangan kita terhadap mr untk hal jodoh. ikhwahfillah harap pelajari mengenai peran mr thd jodoh mad’unya, karena hal itu tdk sesederhana seperti pada cerpen.

  • Aziz Perdana

    kok aneh ya ceritanya…ga jelas apa pesan yg mau disampaikan. bahkan cenderung mendiskreditkan peran MR.

  • Hendyirawan28

    saya irawan…
    saya msh bngng anda knp dulu anda tidak shalat istiharah dahulu,,,kan ad 2 pilihan menerima pinangan atau lamaran?….
    dan yang kedua…bila setelah anda menolak knp anda mlah skt hati dan cenderung memiliki sifat iri??…
    klau orang tua ingin menjodohkan knp anda tdk mencoba mencoba melihat dahulu….misalkan mengenalkan dahulu,,,kan meski pengetahuan agama anda lbh dr pd ikhwan maka knp anda tdk mengajukkan syarat kan,misalkan setelah menikah mau-kah mendalami agama,,,kan setiap manusia pasti kan berubah…sbg contoh preman saja bisa berubah….kan manusia tempat perubahan….mohon dipikir dan direnungkan…??

    hanya thu saja yg saya sampaikkan….

  • Alvoo

    subhanallah terimakasih cerpennya.. menurut ana tak perlu diperdebatkan. ambil hikmahnya saja. karena seburuk apapun itu pasti selalu ada hikmah dan pelajaran berharga yang dapat menghantarkan kita untuk menjadi lebih baik lagi..

    afwan jiddan :)

  • luar biasa ini kisahnya, tidak usah diperdebatkan

    ada hikmah yang bisa diambil

  • Hasma Atikah

    cuman bisa menghela nafas setelah baca komen2nya …
    tapi saya berharap ummu ‘aifah hadir dalam forum ini. karena secara tidak langsung, ada beberapa akhwat (termasuk teman saya) ‘terpengaruh’ fikrohnya stlh membaca cerpen ummu ‘aifah. alangkah lebih baik, cerpen di akhiri dengan hikmah yang terarah dan jelas sasaran. kalo seperti ini, tujuan tulisan nya malah menjadi absurd dan cenderung ‘berefek negatif’ bagi yang kondisi nya lagi labil. afwan, ini cuma saran. semoga dimengerti maksudnya.

    sudah cukup banyak ‘miskomunikasi dan konsepsi’ dalam dakwah kita, terutama terkait sistem yg sebenarnya baik utk dakwah kita.

    wallahua’lam …

  • Hasma Atikah

    cuman bisa menghela nafas setelah baca komen2nya …
    tapi saya berharap ummu ‘aifah hadir dalam forum ini. karena secara tidak langsung, ada beberapa akhwat (termasuk teman saya) ‘terpengaruh’ fikrohnya stlh membaca cerpen ummu ‘aifah. alangkah lebih baik, cerpen di akhiri dengan hikmah yang terarah dan jelas sasaran. kalo seperti ini, tujuan tulisan nya malah menjadi absurd dan cenderung ‘berefek negatif’ bagi yang kondisi nya lagi labil. afwan, ini cuma saran. semoga dimengerti maksudnya.

    sudah cukup banyak ‘miskomunikasi dan konsepsi’ dalam dakwah kita, terutama terkait sistem yg sebenarnya baik utk dakwah kita.

    wallahua’lam …

  • Dewi Rohayati

    Can’t stop laughing, hahaha…BAHASAnya lucu, ngalir n apa adanya. Tapi soal ISI? Hmm…hehe.
    Percaya dh, MR itu orang yang banayk tau tentang intern jamaah dibanding qita.
     4 example; pernah ada seorang ikhwan “nembak” ana secara langsung via HP, ga via MR. Karena ana tsiqoh ke MR/jamaah, akhirnya ana consult dg MR, walaupun rasa hati ingin langsung menjawab “YA”.
    HAri berlalu…istikharoh mengambang…tapi tanpa diminta, ALLAH (via MR/jamaah n temen2 ikhwah) menunjukkan belang/”catatan hitam” ikhwan tsb, mungkin inilah jawaban istikhoroh ana.

    Beres kasus pertama. sebulan kemudian, kasus kedua yang serupa tapi tak sama terjadi lagi, cuma kali ini mah ikhwannya kader inti, jd lebih tahu adab, dia meminta keluarga & MRnya menjadi perantara. Ikhwan ini juga adalah ikhwan yang dulu diam2 ana kagumi ketika sama2 di thullaby. Lagi2, ana tsiqoh ke MR/jamaah n biarpun sad ending…ana tetep stiqoh ke jamaah. Coz jika tidak bersamamu, dakwah bisa nersama orang lain, tapi jika tidak bersama dakwah, engkau akan bersama siapa?!!!
     Allahu akbar! SEMANGAT!!!

    Herannya, 1 tahun berlalu…dan di sinilah ana dg usia mendekati kepala tiga.
    Herannya, 5 binaan ana sudah nikah, tapi ana tetap bahagia.
    Once again, herannya…I’m feel fine…so tasyakur…every days is barokah days with tahfidz, taklim, liqo, membina para huffadz, browsing, beeing professional teacher/librarian, BW dlll…

    Tak mesti harus nikah dulu baru bahagia.
    n SIAPA BILANG nikah/jadi pengantin itu prestasi? Jodoh kan sesuatu yang sudah ALLAh tetapkan sejak kita di alam rahim, apa pun keadaan kita.
    PRESTASI adalah ketika kita protif pada masa penantian or ketika kita nikah, RT kita sakinah, barokah, qonaah.

    • Vytajihader

      ladang jihadnya wanita itu justru di rumah tangga mbak, dan itu adalah pestasi..

  • Joel Gump

    nice share …

    jodoh itu pasti ada,,keep spirit..

  • Kalau dari sisi cerpennya, saya angkat jempol dua, nice posting :-) tapi kalau di sisi cerita, saya kurang setuju dengan alurnya. Saya sepakat bahwa MR ibaratnya orang tua, sahabat, komandan dsb yang patut dicintai dan ditaati, tapi orang tua kita pun punya hak dicintai dan ditaati ( ingat materi birrul walidain). Jangan karena mentang-mentang orang tua kita engga tarbiyah trus kita engga pernah ngobrolin soal ini kepada ortu, kita tidak pernah meminta pertimbangan apa-apa soal kehidupan kita (anaknya) kepada ortu. Padahal mereka yang merawat kita dari kecil, menyekolahkan, mendoakan untuk kesuksesan kita. Bukan orang lain. Sudah sepantasnya ada komunikasi 3 arah, Allah, em-er dan kita. Bukankah dakwah juga memerlukan orang-orang diluar penggiat dakwah untuk memuluskan jalan dakwah? (Rabtul ‘am), kalau si ikhwan pernah lq malah lebih baik lagi jika kita mengembalikannya lewat jalan menikah. Jadi intinya adalah komunikasi, kasih syarat apakah si ikhwan mau mendukung dakwah atau tidak? dan terus berdoa kepada Allah. Karena janji Allah itu pasti (Muhammad 7). Wallahu’alam

    Saran saya: untuk membuat cerpen yang baik (tulisan apapun juga) awali dengan riset dan niat yang tulus untuk senantiasa memuluskan dakwah ilallah. Cmiiw.

  • Non_melankolik

    qt gak usah terlalu banyak teori deh…nikah itu sangat baik utk membunuh semua perasaan2 yang mmbelenggu itu…nah klo minta pendapat orang…. ya namanya orang tetep orang subjektif & relatif……tpi qt kembali lagi bahwa Jodoh memang di  ” Tangan Allah… ” …gak usah membeda – bedakan orang             ” Yang Paling Mulia disisi Allah adalah yang bertakwa, bukan dari jenggot ato celana cingkrang  ” …..gak usah pake takut klo ingin berbuat baik….gak ada manusia yang sempurna di dunia ini…klo mau mencari  yang terbaik juga gak ada habisnya….klo panggilan Nikah itu sudah ada..berdoa lah                  ” Bismillah ”   ….Pasrahkan Hidup Matimu Pada Nya…

  • nna

    hehehe, senyum2 sendiri saya membaca cerpen & komen2nya….laik dis :)

    penulisnya jago banget, ceritanya mengalir, jujur dan apa adanya…tak bisa dipungkiri, toh kenyataannya banyak realita seperti dalam cerita ini, penulis hanya ingin jujur dalam bercerita. Hanya cerpen jadi tidak perlu diperdebatkan, kalau kita mau bijak tetap ada hikmah dari cerita ini.

  • Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui… ituu…

  • LillahFaridah

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • Anonim

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • LillahFaridah

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • Anonim

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • Anonim

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • Anonim

    Allah maha mengetahui apa yang terbaik untuk para hamba-Nya. Mungkin
    bisa jadi memang itu yang terbaik meskipun belum tentu baik juga di mata
    manusia. Allh juga maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui…
    ituu…

  • Venn Centaury

    afwan ukhti,,, menurut ana cara pandang tokoh dalam cerpen masih kurang bijaksana. memang ada berbagai hikmah yaitu niat awal dan cara menanggapi lamaran yang kurang sempurna minimal istikhoroh, namun pada akhirnya ukhti tidak menuliskan kebijaksanaan pada akhir cerita,,, karena kita tahu jodoh itu rahasia Allah, dan setiap kesalahan anak adam tak luput juga dari takdir Allah. kenapa tidak berkhuznudzan pada keputusan Allah dan tidak menyesali semua yang telah terjadi,,

  • Rana Musika

    God, this is funny :D

    tetap sabar menanti jodoh ya lalalala. We have something in common, I’m waiting mine too ;)

  • Sonny dante

    kesempatan tidak datang 2 kali

  • Rinagustiya

    kelanjutannya gimana?

  • Hamaza

    sabar mbak,,,

  • Fadillahfitri

    Sumpaahhhh.. lucu banget penyampaianya (tidak untuk kisahnya)hehe… jadi.. maksud pesan ini adalah dahulukan orang tua drpd mbak em-er ya?

  • Fadillahfitri

    Gw suka banget ma kata2 : dari pada yang nungguin meajid.. Jidat item.. tapi kalo makan nunggu dulu d kasih warga.. bwahahahaha :D setujuuuuuuu… Jadi orang islam itu kudu kaya bung.. dan juga meramaikan mesjid :) :)

  • Silincahsholehah

    cerpen yang bagus. hikmah bisa diambil dari berbagai sudut. so, pandai pandailah dalam mencari hikmah.

  • Redi Kimberly

    Harusnya diawal taaruf orang tua lah yang pertama kali dikasih tahu, sebagai bentuk birrul walidain kita kepada mereka karna mereka lah yang menjadi wali dan bertangung jawab terhadap hidup kita..

    Bukan malah nanya ke MR.. aneh aneh saja..

    Salam kenal !

  • Lakukan dengan cara yang baik, kontrol diri jangan sampai muncul kecemasan disebabkan umur melambung….tetap semangat!!! “Sepertinya belum menemukan tulang rusuk yang cocok” 

    hehe……~_^

  • saya menganggap aneh…. orang mau nikah koq malah lewat “makelar”?? ngapain??? kalo memang sudah tau orangnya bgmna, ta’aruf dgn baik yg sesuai syariat gak harus lwt murabbi, orang tua setuju dan ridho, trus apalagi, istikharah,,, kalo sudah mantap ya nikahkan,, beres perkara…. agama ini mudah, jangan dipersulit… murabbi itu cm sbg perantara di dalam liqo’ saja,, kalo ada yg satu kajian ya silakan, tapi kalo sudah tau calonnya kondisinya gimana walau bukan satu kajian, jangan diputer2 lagi lah… heran saya sama “kelompok” yg satu ini yg apa2 kudu lewat murabbi . . . (_ _”)

  • ning

    ini fiktif ato nyata yaa :D

  • Yuni Muliana Nd

    nice, suka bgt dgn tulisannya, bhsa yg rada gaul n mudah dimengerti serta dibumbui sdkt kelucuan yg serius, jd makin klop deh..:D..sukses trs utk sang penulis..

  • LangitSenja

    Tulisan yang sangat menarik.. perlu penafsiran yg elegan…, Intinya ini pesan kepada MR.. agar jodoh itu harus diperhatikan.. ketika ada yg masuk baik lansung atau tidak..perlu musyawarah dan dikomunikasikan dgn pihak terkait…hehehe.. asal jgn main nolak aja.. oo ini bukan melalui jalur dsb… namun di era yg edan ini semua masalah ” jodoh” harus iktiar penuh..baik pihak mR maupun pihak yg bersangkutan.. kalo itu msuk sendiri ya silahkan saja… ditimang2 dulu sebelum ditolak mentah2..jadi tidk ada yg sakit hati atau kecewa.. yg jelas dari alur cerita sipemeran utama itu kecewa, tp terpendam.. :-) .. mau tidak mau kita harus menerima dan mengakui bahwa stok ikhwan sangat2 kurang.. pesan untuk kita semua.. bahwa nikah itu merdeka milik yg mau nikah..jadi keputusan akhir ada pada sipemeran utama.. bukan pada MR juga Pada ibu, ayah…memang ortu punya hak otoritas..tapi keputusan akhir tetap pada si akhwat.. itu pesan Rasul… sbelm kau nikahkan tanyakan dulu persetujuannya…

  • yue fei

    kapok

  • Muchlis Shin Hasan

    Waaahh…sayang banget ya Mbak..
    Tapi apa mau dikata..nasi sudah menjadi bubur..
    Nah..pelajaran yang banget berharganya nih..buat para kawula muda (Ane juga..hahaha) yang udah berencana untuk mencari pendamping hidup..

    Jadi ikutan mumet sekaligus semangat..hihihihi..Gubbraaaggkk..

  • Rahmayanti

    minta pertanggung jawaban k MR nya dong mb…

    udah jelas-jelas laki-laki yg baik agamnya mau datang melamar tapi malah ditolak mentah-mentah… hmmm MR nya bikin nyesekkkkk, #terlalu -_-

  • Baso Dirwan

    itu berarti bukan jodoh,, namun ini juga bisa menjadi pengalaman berharga bagi kita semua yang masih singgle,, dan terkhusus para “Akhwat” dan “iKhwan”…

  • Faiz Rohaniati

    ceritanya hampir sama dengan kisah ku, dan kini aku putuskan untuk menerima pinangan seorang yang sebenarnya menurutku memang masih belum dari harapanku (taat beribadah).

    bismillahirahmanniraahiim, semoga saya tidak salah langkah. aamiin

Lihat Juga

Ilustrasi (kawanimut)

Sabarlah Bidadariku, Akan Segera Kujemput Dirimu

Figure