Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Hidup Terasa Sulit (1)

Jika Hidup Terasa Sulit (1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Sebuah energi bisa lahir dan bergerak
Tatkala sumbernya mampu kita nyalakan
Dialah yang menggerakkan
Dialah yang menguatkan
Dan dialah yang menyempurnakan
Kita hanya butuh berpikir, berilmu lalu beramal
Agar kedua sumber kekuatan ini mampu tertanam dalam diri
Ya…
Dua bekal terbesar dalam hidup ini
Adalah Keimanan dan Ketaqwaan

Ilustrasi (blog.metcapital.com)

dakwatuna.com Bismillah..

Jika letih mendera dan rasa seakan tak bisa meraba.. kepada siapakah kita bergantung?

Jika semua cara telah kita pikirkan dan semua proses telah kita jalani, tapi kekuatan untuk bangkit belum juga bersua.. di manakah kita bisa mencari?

Saudaraku…
Langit dan seisinya tak perlu kesulitan mencari sumber motivasi
Bahkan makhluk terkecil sekalipun telah mengetahui dimana tempat dia mengemis kasih dan dimana tempat dia memberikan rasa syukur…

Hanya pada Allah Subhanahu wata’ala semuanya bisa kita pasrahkan..
PadaNya lah semua harap terlabuhkan
PadaNyalah semua cinta terjewantahkan
Ya Dia-lah sumber kekuatan terbesar dalam hidup kita

2 bekal utama ketika seseorang ingin menjadikan Dia sebagai sumber kekuatan adalah KEIMANAN dan KETAQWAAN kepada-Nya.. dengan bekal ini engkau akan menembus kehidupan yang lebih dinamis, kokoh, mapan, kuat dan bersahaja. 2 bekal inilah yang memberikan kekuatan dahsyat bagi para Nabi dan Salafushalih untuk berkarya.

Bekalan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dapat memancarkan sumber-sumber kebaikan dalam hati dan jiwa, melahirkan potensi-potensi dan karya-karya yang besar serta bisa memupuk semangat dan tekad untuk merubah diri.

Dengan bekalan keimanan dan ketaqwaan, seseorang akan terjaga dari licinnya jalan perjuangan, tajamnya onak dan duri yang menghadang di depan serta mampu menjadi pribadi yang agung, mulia, berakhlaq dan memberikan kehidupan kepada sesamanya.

Hubungan dan keterikatan hati kita kepada Allah, perasaan untuk selalu diawasi dan selalu merasa Allah bersama kita adalah indikasi kita dekat dengan-Nya.

Dengan keimanan dan ketaqwaan Allah memerintahkan kita untuk BERSABAR, JANGAN BERSEDIH HATI dan JANGANLAH BERSEMPIT DADA karena Dia menjanjikan untuk selalu bersama kita.

“BERSABARLAH (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu melainkan dengan PERTOLONGAN ALLAH dan JANGANLAH KAMU BERSEDIH HATI terhadap (kekafiran) mereka dan JANGANLAH KAMU BERSEMPIT DADA terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (An-Nahl : 127 – 128)

Orang-orang beriman akan selalu DIBERSAMAI OLEH ALLAH. Meski lelah bersua dan suara seakan tak terdengar lagi.

“Dan Sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang-orang yang beriman” (Al-Anfal : 19)

Dan orang-orang yang bertaqwa akan selalu dijaga dan dikuatkan langkahnya oleh Allah Subhanahu wata’ala sumber segala kenikmatan

“Dan ketahuilah bahwa Allah bersama dengan orang-orang yang bertaqwa” (At-Taubah : 36)

Alangkah butuhnya kita kepadaNya. Saat ini jika masih saja resah menggelayut serta arus kehidupan terasa begitu sulit untuk diputuskan. Maka renungkanlah semua salah dan khilaf yang pernah terjadi, perbaikilah kedekatan kita kepadaNya, jemputlah 2 bekal ini agar Allah selalu bersama dengan kita.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (56 votes, average: 9,39 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai salah satu lokasi awal terjadinya kerusahan SARA diawal tahun 2000-an. Malifut, sebuah kecamatan kecil di Halmahera Utara. Sudah hampir 2 tahun saya belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran. Ingin sejenak mengenang sungai kecil tempat men...ceburkan diri dan belajar berenang ketika masih berseragam merah putih. Ingin sejenak bercerita pada sungai-sungai jernih yang sering menemani soreku bersama para sahabat untuk menangkap udang, ikan atau sejenisnya, kemudian diperlihara secara sederhana dirumah. Meski akhirnya, selang beberapa hari, peliharaan-peliharaan itu harus mati karena tak cukup oksigen. Buatku, masa kecil hingga remaja akan sangat mempengaruhi pola hidupmu dalam tahun-tahun mendatang. Kenangan hidup didaerah pelosok adalah wangi harum bumi yang merasuk erat di dalam tubuhku. Menghabiskan hari dengan memancing ikan, meski dengan itu harus sedikit nakal karena tak menuruti perintah ayah-ibu untuk tidur, adalah kenangan-kenangan hidup yang terlalu sulit untuk sekedar kulupakan. Juga menghabiskan malam di surau kecil dengan terang lampu yang tidak sebercahaya di kota, membuatku duduk menyepi sambil menghafal ayat demi ayat di Juz Amma, kemudian melaporkan kepada Ustad-ku yang sudah siap dengan rotan bambu-nya yang cukup membuat betis pedia jika salah dalam berbuat. Sungai, bukit, hutan, mengaji, bermain sepuasnya, adalah hari-hari yang mengagumkan dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Sayangnya, alam tak mau menempatkanku berlama-lama dengannya. Tahun 1999, di akhir tahun seingatku. Semua penghuni rumah dibangunkan karena kerusuhan SARA baru saja bergolak. Memasuki fase baru dalam hidup yang jauh berbeda dengan sebelumnya, tentu membuatmu tegang. Dulu, yang biasanya kuhabiskan sore dengan memanen sayur atau tanaman di kebun luas milik kakakku, kini harus berganti dengan deruan pukulan tiang listrik, membuat bom, hingga berita-berita tentang kematian demi kematian. 2 tahun masa itu kulewati hingga rasanya sangat kebal ketika menyaksikan perang, melihat mayat, hingga termenung memandang puing-puing rumah yang terbakar.

Memasuki awal 2000, akirnya semua harta keluarga ludes, terbakar, dan hanya meninggalkan puing sejarah yang terlalu kelam untuk sekedar di kenang.

Kujejakkan kakiku di Ibu kota Provinsi Maluku Utara kala itu. Ternate namanya Cukup prestisius dimataku. Karena setidaknya, aku bisa menyaksikan mobil yang banyak lalu lalang, menyaksikan teriakan orang-orang di pasar-pasar yang cukup ramai. Semuanya mengingatkanku dengan kebiasaan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depan warung kecil keluargaku. Sering sekali kuhitung berapa jumlah motor yang lalu lalang dalam 3 atau 4 jam, kemudian membayangkan, kapan kira-kira tempat kelahiranku ini menjadi ramai seperti kota-kota yang ada di tayangan televisi yang kusaksikan. Mungkin semegah Surabaya, ketika kukunjungi dalam usiaku yang ke 11. Atau seluas Bau-bau yang kecil namun berkesan bersama penjual madu yang melimpah. Itu impian sederhana dari seorang Ario kecil. Terlihat aneh jika kuingat-ingat sekarang :)

Ternate, buatku adalah awal gerbang kompetisi. Menikmati masa SMP di SMP N. 4 Ternate, kemudian menamatkan SMA di SMA N. 1 Ternate, adalah bagian dari cerita hidup yang selalu dahsyat untuk di kenang. Menghabiskan masa remaja bersama berbagai aktivitas dan banyaknya karakter menumbuhkan semangat tersendiri buat saya untuk sekedar memahami lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Hingga ketika berumur 17 tahun, sebuah musibah kecil menimpa keluargaku, yang kemudian, akhirnya menyatukan kepingan-kepingan kerapuhan dalam diriku untuk mengajaknya bertahan, terus berirama dan beresonansi bersama nyanyian hidup yang mau tidak mau harus ku teruskan. Setidaknya, episode kecil itu membuatku lebih memahami siapa kekuatan Maha Dahsyat dibalik takdir yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa kecil ini juga mempererat tali cinta antara aku bersama bidadari-bidadari-ku dalam keluarga kami. Mungkin jarang terucap, namun kami punya cara untuk sekedar saling merasa tentang keadaan kami yang masih sama-sama belajar. Mereka, saudara-saudariku, adalah sosok pemberi sejuta inspirasi, juga sosok-sosok hangat yang selalu mengerti siapa aku dan bagaimana aku dengan segala keterbatasannya. Mereka pula yang akhirnya mampu menafsirkan, bagaimana seharusnya hidup itu bertransformasi, bagaimana seharusnya sebuah hubungan darah mampu terbangun dan menjadikan istana kehidupan kita berseinergi bersama keinginan alam yang matu tidak mau harus kita hadapi. Merekalah guruku.. Merekalah inspirasi yang takkan pernah kendur, dan takkan pernah habis dimakan zaman.

Dan akhirnya, 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menghabiskan hariku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pilihan menjadi seorang Insinyur adalah takdir yang harus kutulis dan kujalani. Hingga dalam perjalananku, aku menemukan mereka-mereka yang menggetarkan. Meski hanya lewat ucap, lewat laku, atau bahkan hanya dari buku-buku. 4 tahun bersama Yogyakarta, membuat karakterku tumbuh dengan segala warna yang ada padanya. Mengenal pribadi-pribadi Al-quran di kota ini telah menyihir segala pemahamanku tentang hidup dan orientasi dalam menjalaninya. Mungkin saya tidak merasa, namun sejatinya, pengaruh-pengaruh mereka telah membentuk karakter dan idealisme yang baru. Semuanya kudefenisikan sebagai proses perubahan. Hidup sangat dinamis, jika karaktermu tetap sama dalam bilangan tahun yang terus terlewati, maka ada yang salah dengan ke-dinamis-anmu. Maka dinamisasi jugalah yang membuat karakter siapapun ikut berubah. Satu hal penting yang tak boleh hilang. Proses transformasi ini harus senantiasa kembali kepada-Nya, berjalan dalam jalur-Nya, dan berkembang sesuai dengan titah-Nya.

2 September 2009. Kumulai menuliskan episode baru dalam hidupku. Sebuah transformasi hidup yang juga baru akan kujalani. Di negeri formosa, akan kulukis cerita, kucatatkan pelangi pada langit-langitnya hingga nanti semua kumpulan episode ini menjadi berharga dimata-Nya. Taiwan Technology atau National Taiwan University of Science and Technology adalah tempat dimana kutitahkan semua perjalanan ini. Membuat cerita baru di tempat yang baru tentu perlu adaptasi yang keras juga membutuhkan proses dan waktu yang memadai. Semoga cerita di formosa, menjadi kenangan indah, seperti kenangan masa kecilku, remajaku, hingga menjemput tranformasi hidup di bumi Yogyakarta.

2 Tahun, akan kujalani cerita bersama tumpukan paper, tugas kuliah, dan tentunya bermacam aktivitas yang akan menemaniku untuk membentuk karakter yang lebih utuh. Anggap saja ini adalah jalan-jalan. cerita jalan-jalan untuk merebut jalan panjang menuju syurga-Nya, jalan sederhana yang sengaja tergariskan oleh-Nya untuk menguji apakah sosok Ario akan terlindas oleh zaman atau akan kokoh bersama waktu. Semoga proses ini menumbuhkan siapapun yang melewatinya, menumbuhkan sakura hingga bersemi, mencairkan salju hingga datang panas, dan mengeringkan suhu yang sering membuatku menggigil ketika musim dingin tiba.

Alhamdulillah, sebelum menggenapi cita-cita untuk lulus master dari Taiwan Technology, aku meminang seorang gadis Trenggalek, Ratih Nur Esti Anggraini dengan mengcuapkan mitsaqan Ghaliza pada tanggal 2 Juli 2011. Dan 17 hari kemudian, Allah memberikan hadiah indah yang lain, di hadapan Prof. Yang CC (NTOU), Dr. Wang H. (China Consultant Inc.), Prof. Chun, Tao Chen (Taiwan Tech), dan Advisor saya, Prof. Chang Ta Peng, saya berhasil mempertahankan Thesis saya dan mendapatkan gelar M.Sc.(Eng) atau MSE.

Saat ini, saya bersama Istri sedang menikmati episode baru menjadi sepasang suami-istri yang semoga dapat saling mencintai karena Allah satu sama lain.

teruslah berjuang kawan, karena episode hidup selalu akan bertransformasi mengikuti usahamu.

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian