Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wahai Ikhwah

Wahai Ikhwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (w4hyud1.wordpress.com)

Sudahkah kita mengingat mati hari ini?

Sedangkan maut tak pernah memberitahukan kapan datangnya

Sudahkah kita mencurahkan segala cinta kita untuk-Nya subuh ini?

Sedangkan belum tentu nikmat iman berpadu selamanya di dalam diri

Sudahkah wahai Ikhwah?

Bismillah…

dakwatuna.com Sejenak, marilah kita sama-sama renungkan tentang karya-karya yang telah dihasilkan orang-orang mulia. Bagaimana kisah Salman Al-Farisi, lelaki Persia dengan segala kemuliannya. Yang meskipun hanya meninggalkan beberapa harta ketika meninggal masih saja menangis karena merasa punya tanggung jawab yang besar kepada Allah swt. Atau cobalah kita saksikan keyakinan yang begitu kuat yang dimiliki oleh Khalid bin Walid bahwa Allah akan membantunya, dan dengan tenang menerima tantangan meminum minuman beracun dari pasukan Romawi.

Merekalah orang-orang mulai yang begitu teguh keyakinannya kepada Allah. Iman yang melekat di dalam diri mereka laksana darah yang mengaliri semua bagian tubuh mereka, iman bagi mereka adalah harta paling berharga, karena dia memberikan energi untuk bergerak, membongkar kemalasan yang sering mendera, dan iman bagi mereka adalah sumber kekuatan terbesar, terdahsyat, dan tak tergantikan oleh apapun.

Merekalah orang-orang mulia yang tercatat dalam sejarah bahwa meninggalnya mereka selalu dalam keadaan syahid, bahwa kehidupan mereka laksana air penyejuk bagi orang-orang di sekitar mereka, bahwa akhlaq mereka begitu dekat dengan Al-Qur’an, bahwa keberanian mereka membela agama Allah begitu membara di dalam jiwa.

Ya… Merekalah orang-orang yang hatinya selalu terhimpun untuk berjuang di Jalan Allah. Dengan bekal keimanan dan ketakwaan yang begitu kuat. Mereka mencapai kemuliaan hidup yang sangat sulit kita rasakan.

Saudaraku….

Keberhasilan meletakkan Allah di dalam diri mereka, adalah karena usaha yang begitu keras untuk selalu dekat dengan-Nya. Mereka tidak lena di malam hari, dibuai mimpi atau lebih memilih bersenang-senang dengan istri-istri mereka, mereka tidak pernah takut jika harus mengorbankan jiwa dan raga mereka untuk agama Allah, mereka orang yang selalu bersemangat tatkala masa jihad telah tiba. Karena saatnya mereka membuktikan kecintaan dan keimanan mereka kepada Allah swt.

Lalu…

Mari kita bandingkan diri-diri kita dengan mereka.

Coba kita tengok berapa lama kita habiskan waktu kita untuk mengingat mati?

Berapa lama kita habiskan untuk men-tadabburi ayat-ayat-Nya?

Berapa lama kita memeras keringat untuk menguatkan jalan dakwah ini?

Berapa lama wahai ikhwah?

Berapa lama?

 

Betapa jauh….

Betapa jauh jika kita bandingkan dengan pengorbanan mereka.

Betapa kita sering berkeluh kesah, marah, kecewa, benci, bahkan kata-kata tak sanggup mengemban amanah dakwah ini begitu sering terucap.

Lantas jika mental ini dimiliki oleh seorang ikhwah kapan kita bisa membangun bangsa?

Kapan kita bisa merubah peradaban ummat?

Kapan wahai ikhwah?

Kapan?

 

Menunggu kalian berhenti menyelesaikan permainan game di depan komputer?

Menunggu kalian siap untuk menjadi Murabbi?

Menunggu kalian selesai tidur setelah subuh untuk datang syura?

Menunggu dan menunggu?

Itu yang ingin kalian katakan wahai ikhwah?

 

Wahai ikhwah?

 

Hari ini…

Sudahkah kita ingat seberapa besar amal yang kita kerjakan?

Sudah berapa lembarkah tilawah kita?

Masihkah sujud di malam hari kita kerjakan?

Masihkah kita mengingat bahwa lapar di siang hari adalah energi bagi jiwa-jiwa para da’i?

Masihkah kita merenung bahwa bekal yang paling baik adalah iman dan takwa?

Masihkah dan masihkah wahai Ikhwah ?

 

Wahai ikhwah….

Sudahkah diskusi-diskusi keseharian kita bermuatan ilmu dan saling nasihat-menasihati ?

Sudahkah cerita-cerita kita berujung kepada perbaikan diri-diri kita ?

Sudahkah forum-forum syura kita menghasilkan kerja-kerja dakwah yang menggerakkan ?

Sudahkah wahai ikhwah ?

Sudahkah ?

 

Mari kita bertanya..

Jika saat ini, masih saja banyak kader yang lemah, masih saja dakwah ini tersendat-sendat, mari kita bertanya ke dalam diri kita..

 

Sudah dekatkah kita dengan-Nya ?

Sedangkan DIA adalah Zat Pemberi Kemenangan.

Sudah kuatkah amalan-amalan kita kepada-Nya ?

Sedangkan ia adalah senjata orang-orang yang mulia

Sudah seberapa jauhkah kita membuat tubuh ini letih bekerja di jalan-Nya ?

Sedangkan keletihan senantiasa melahirkan getar-getar iman yang mendalam..

 

Jika belum..

Mari sama-sama kita renungkan..

 

Keep Hamasah..

Allah mencintaimu…

Yogya, 10 Maret 2009

Di ujung Subuh yang memerah

Untuk sebuah kerinduan pada sosok-sosok mulia di lintasan zaman, terima kasih telah memberi inspirasi.. semoga ruh dan semangat itu selalu mengalir di dalam diri-diri kita. Meski wajah-wajah mereka (mungkin) takkan pernah kita saksikan.

Meski malam yang larut telah lewat

Ingin kukenang masa-masa itu

Ketika bumi Andalusia berhasil ditaklukkan

Ketika kemenangan perang Badar membahana di seantero Arab

Ketika Bilal bin Rabah meneriakkan ahad.. ahad.. ahad..

Ketika Ali RA syahid menjelang fajar

Ketika Umar RA berjalan dan membuat syaitan ketakutan..

Ya…

Aku ingin mengenang masa itu..

Agar diri merasa

Diri terpesona

Pada mereka..

Sosok-sosok yang mulia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai salah satu lokasi awal terjadinya kerusahan SARA diawal tahun 2000-an. Malifut, sebuah kecamatan kecil di Halmahera Utara. Sudah hampir 2 tahun saya belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran. Ingin sejenak mengenang sungai kecil tempat men...ceburkan diri dan belajar berenang ketika masih berseragam merah putih. Ingin sejenak bercerita pada sungai-sungai jernih yang sering menemani soreku bersama para sahabat untuk menangkap udang, ikan atau sejenisnya, kemudian diperlihara secara sederhana dirumah. Meski akhirnya, selang beberapa hari, peliharaan-peliharaan itu harus mati karena tak cukup oksigen. Buatku, masa kecil hingga remaja akan sangat mempengaruhi pola hidupmu dalam tahun-tahun mendatang. Kenangan hidup didaerah pelosok adalah wangi harum bumi yang merasuk erat di dalam tubuhku. Menghabiskan hari dengan memancing ikan, meski dengan itu harus sedikit nakal karena tak menuruti perintah ayah-ibu untuk tidur, adalah kenangan-kenangan hidup yang terlalu sulit untuk sekedar kulupakan. Juga menghabiskan malam di surau kecil dengan terang lampu yang tidak sebercahaya di kota, membuatku duduk menyepi sambil menghafal ayat demi ayat di Juz Amma, kemudian melaporkan kepada Ustad-ku yang sudah siap dengan rotan bambu-nya yang cukup membuat betis pedia jika salah dalam berbuat. Sungai, bukit, hutan, mengaji, bermain sepuasnya, adalah hari-hari yang mengagumkan dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Sayangnya, alam tak mau menempatkanku berlama-lama dengannya. Tahun 1999, di akhir tahun seingatku. Semua penghuni rumah dibangunkan karena kerusuhan SARA baru saja bergolak. Memasuki fase baru dalam hidup yang jauh berbeda dengan sebelumnya, tentu membuatmu tegang. Dulu, yang biasanya kuhabiskan sore dengan memanen sayur atau tanaman di kebun luas milik kakakku, kini harus berganti dengan deruan pukulan tiang listrik, membuat bom, hingga berita-berita tentang kematian demi kematian. 2 tahun masa itu kulewati hingga rasanya sangat kebal ketika menyaksikan perang, melihat mayat, hingga termenung memandang puing-puing rumah yang terbakar.

Memasuki awal 2000, akirnya semua harta keluarga ludes, terbakar, dan hanya meninggalkan puing sejarah yang terlalu kelam untuk sekedar di kenang.

Kujejakkan kakiku di Ibu kota Provinsi Maluku Utara kala itu. Ternate namanya Cukup prestisius dimataku. Karena setidaknya, aku bisa menyaksikan mobil yang banyak lalu lalang, menyaksikan teriakan orang-orang di pasar-pasar yang cukup ramai. Semuanya mengingatkanku dengan kebiasaan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depan warung kecil keluargaku. Sering sekali kuhitung berapa jumlah motor yang lalu lalang dalam 3 atau 4 jam, kemudian membayangkan, kapan kira-kira tempat kelahiranku ini menjadi ramai seperti kota-kota yang ada di tayangan televisi yang kusaksikan. Mungkin semegah Surabaya, ketika kukunjungi dalam usiaku yang ke 11. Atau seluas Bau-bau yang kecil namun berkesan bersama penjual madu yang melimpah. Itu impian sederhana dari seorang Ario kecil. Terlihat aneh jika kuingat-ingat sekarang :)

Ternate, buatku adalah awal gerbang kompetisi. Menikmati masa SMP di SMP N. 4 Ternate, kemudian menamatkan SMA di SMA N. 1 Ternate, adalah bagian dari cerita hidup yang selalu dahsyat untuk di kenang. Menghabiskan masa remaja bersama berbagai aktivitas dan banyaknya karakter menumbuhkan semangat tersendiri buat saya untuk sekedar memahami lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Hingga ketika berumur 17 tahun, sebuah musibah kecil menimpa keluargaku, yang kemudian, akhirnya menyatukan kepingan-kepingan kerapuhan dalam diriku untuk mengajaknya bertahan, terus berirama dan beresonansi bersama nyanyian hidup yang mau tidak mau harus ku teruskan. Setidaknya, episode kecil itu membuatku lebih memahami siapa kekuatan Maha Dahsyat dibalik takdir yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa kecil ini juga mempererat tali cinta antara aku bersama bidadari-bidadari-ku dalam keluarga kami. Mungkin jarang terucap, namun kami punya cara untuk sekedar saling merasa tentang keadaan kami yang masih sama-sama belajar. Mereka, saudara-saudariku, adalah sosok pemberi sejuta inspirasi, juga sosok-sosok hangat yang selalu mengerti siapa aku dan bagaimana aku dengan segala keterbatasannya. Mereka pula yang akhirnya mampu menafsirkan, bagaimana seharusnya hidup itu bertransformasi, bagaimana seharusnya sebuah hubungan darah mampu terbangun dan menjadikan istana kehidupan kita berseinergi bersama keinginan alam yang matu tidak mau harus kita hadapi. Merekalah guruku.. Merekalah inspirasi yang takkan pernah kendur, dan takkan pernah habis dimakan zaman.

Dan akhirnya, 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menghabiskan hariku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pilihan menjadi seorang Insinyur adalah takdir yang harus kutulis dan kujalani. Hingga dalam perjalananku, aku menemukan mereka-mereka yang menggetarkan. Meski hanya lewat ucap, lewat laku, atau bahkan hanya dari buku-buku. 4 tahun bersama Yogyakarta, membuat karakterku tumbuh dengan segala warna yang ada padanya. Mengenal pribadi-pribadi Al-quran di kota ini telah menyihir segala pemahamanku tentang hidup dan orientasi dalam menjalaninya. Mungkin saya tidak merasa, namun sejatinya, pengaruh-pengaruh mereka telah membentuk karakter dan idealisme yang baru. Semuanya kudefenisikan sebagai proses perubahan. Hidup sangat dinamis, jika karaktermu tetap sama dalam bilangan tahun yang terus terlewati, maka ada yang salah dengan ke-dinamis-anmu. Maka dinamisasi jugalah yang membuat karakter siapapun ikut berubah. Satu hal penting yang tak boleh hilang. Proses transformasi ini harus senantiasa kembali kepada-Nya, berjalan dalam jalur-Nya, dan berkembang sesuai dengan titah-Nya.

2 September 2009. Kumulai menuliskan episode baru dalam hidupku. Sebuah transformasi hidup yang juga baru akan kujalani. Di negeri formosa, akan kulukis cerita, kucatatkan pelangi pada langit-langitnya hingga nanti semua kumpulan episode ini menjadi berharga dimata-Nya. Taiwan Technology atau National Taiwan University of Science and Technology adalah tempat dimana kutitahkan semua perjalanan ini. Membuat cerita baru di tempat yang baru tentu perlu adaptasi yang keras juga membutuhkan proses dan waktu yang memadai. Semoga cerita di formosa, menjadi kenangan indah, seperti kenangan masa kecilku, remajaku, hingga menjemput tranformasi hidup di bumi Yogyakarta.

2 Tahun, akan kujalani cerita bersama tumpukan paper, tugas kuliah, dan tentunya bermacam aktivitas yang akan menemaniku untuk membentuk karakter yang lebih utuh. Anggap saja ini adalah jalan-jalan. cerita jalan-jalan untuk merebut jalan panjang menuju syurga-Nya, jalan sederhana yang sengaja tergariskan oleh-Nya untuk menguji apakah sosok Ario akan terlindas oleh zaman atau akan kokoh bersama waktu. Semoga proses ini menumbuhkan siapapun yang melewatinya, menumbuhkan sakura hingga bersemi, mencairkan salju hingga datang panas, dan mengeringkan suhu yang sering membuatku menggigil ketika musim dingin tiba.

Alhamdulillah, sebelum menggenapi cita-cita untuk lulus master dari Taiwan Technology, aku meminang seorang gadis Trenggalek, Ratih Nur Esti Anggraini dengan mengcuapkan mitsaqan Ghaliza pada tanggal 2 Juli 2011. Dan 17 hari kemudian, Allah memberikan hadiah indah yang lain, di hadapan Prof. Yang CC (NTOU), Dr. Wang H. (China Consultant Inc.), Prof. Chun, Tao Chen (Taiwan Tech), dan Advisor saya, Prof. Chang Ta Peng, saya berhasil mempertahankan Thesis saya dan mendapatkan gelar M.Sc.(Eng) atau MSE.

Saat ini, saya bersama Istri sedang menikmati episode baru menjadi sepasang suami-istri yang semoga dapat saling mencintai karena Allah satu sama lain.

teruslah berjuang kawan, karena episode hidup selalu akan bertransformasi mengikuti usahamu.
  • Anca Cute95

    Subhanalllah

  • Sudarmoko

    subkhaanAllah…sayang beribu syang ketika orang sudah bagus imanya,,tapi ketahuitanya masih meragukan..belajarlah lebih dalam ilmu tauhid …wahai ihkwan ahwat… memang betul apa yang terurai dalam hal ini..tapi masih ada ketertipuan dalam diri ikhwan …berhati2lah…terkadang ini masih menjerumuskan ke neraka..nangudzubillahimindzaalik!!!

Lihat Juga

Ikhwah! Lihatlah Masa itu Telah Tiba