Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Aku Belum Mengetahui Arti “Diriku Seorang Hamba!”

Aku Belum Mengetahui Arti “Diriku Seorang Hamba!”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (anwardjaelani.com)

dakwatuna.com – Semua sepakat bahwa moral bangsa adalah modal pembangunan. Jika moral bangsa telah rusak, maka kehancuran di ambang pintu. Yang bermoral dari mereka adalah yang tidak melupakan nilai-nilai kehambaan yang senantiasa memberikan nuansa-nuansa kehidupan. Di dalam kehambaan tersimpan aset kehidupan yang luar biasa, yang jika diaplikasikan secara benar dan tepat, ia mampu dengan sendirinya mendobrak nilai-nilai negatif, seperti: kriminalitas, ketimpangan sosial dan dekadensi moral.

Kita semua hamba, tetapi boleh jadi ada di antara kita yang belum memahami makna kehambaan itu sendiri. Olehnya itu, mari bersama-sama menelaah fitrah ini sebagaimana berikut!

Kehambaan yang hidup kehambaan yang senantiasa mendorong manusia untuk beribadah dan ikhlas beramal. Yang punya kehambaan seperti ini adalah mereka yang meyakini bahwa diri mereka tidak tercipta kecuali untuk beribadah, mengulurkan tangan kepada mereka yang dililit masalah-masalah sosial, mengedepankan kepentingan umat dari kepentingan pribadi dan kelompok, dan mengetuk pintu-pintu kebaikan demi mewujudkan kesejahteraan lingkungan dan umat.

Syekh Ibn Asyûr berkata:

(إٍيَّاكَ نَعْبُدُ) menyimpulkan makna-makna agama dan syariat, dan (إِيَّاكَ نّسْتَعِيْنُ) menyimpulkan makna keikhlasan terhadap Allah dalam setiap pekerjaan. Ini telah ditegaskan sebelumnya oleh Syekh Izzuddin bin Abdi as-Salâm di salah satu karyanya (Hillu ar-Rumûz wa Mafâtîhul Kunûz), beliau berkata: “titian ke Allah SWT punya dua bentuk: amalan lahiriah (fisik) dan amalan batiniah (hati). Titian lahiriah itu adalah syariat dan batiniahnya adalah hakikat, dan yang dimaksud dengan syariat dan hakikat adalah menegakkan kehambaan dengan benar. Syariat dan Hakikat tersimpul dalam (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ). Olehnya itu (إٍيَّاكَ نَعْبُدُ) membiaskan syariat dan (إِيَّاكَ نّسْتَعِيْنُ) menyinarkan hakikat.””[[1]]

Kehambaan yang hidup kehambaan yang memahami bahwa setiap pekerjaan yang sedang ditekuni punya potensi ibadah. Akan tetapi, tidak semua ibadah itu menampakkan kehambaan. Di sana ada ibadah, meski hidup, tetapi pada hakikatnya ia mati tidak memberikan apa-apa kecuali kesengsaraan belaka, seperti: menyembah selain dari Allah, dan menyekutukan-Nya dengan sembahan lain.

Di lain sisi, ada amal yang cukup menggiurkan, tetapi pada hakikatnya ia mati tidak membuahkan hasil kecuali sementara waktu saja, kenikmatannya terbatas oleh waktu dan tempat, cepat pudar dan tidak dapat dipetik di akhirat, seperti: merampas hak orang lain dengan paksa, tipuan, mencuri, menyogok dan melakukan segala tindak kriminal.

Kehambaan seperti ini meski hidup, tapi tidak dapat memberi sinar. Meskipun dia memberikan sinar, tapi yang dipancarkan semu, seperti fatamorgana di siang hari.

Kehambaan yang hidup lestari kehambaan yang tidak membedakan satu bentuk amal baik dari yang lain, kehambaan yang senantiasa menganjurkan seseorang untuk beramal, meski amal itu sendiri kelihatan kecil. Olehnya itu, nilai amal tidak terlihat dari kecil dan besarnya, tetapi sejauh mana amal itu ditekuni dengan penuh dedikasi tinggi dan keikhlasan.

Seorang pedagang yang tidak jemu menekuni profesinya, mensyukuri setiap keuntungan meski kadang tidak memenuhi target pencapaian, dan mengumpulkan dengan penuh kesabaran laba penjualan dari hari ke hari, pedagang seperti ini telah menghidupkan beberapa nilai kehambaan dalam satu profesi. Tentunya, yang terlihat di sisi Allah dari bentuk-bentuk perdagangan adalah perdagangan semacam ini. Kiaskanlah kepada contoh ini cara membumikan nilai-nilai kehambaan di pelbagai profesi.

Imam al-Qusyairi berkata:

“Hakikat kehambaan adalah menegakkan cinta amal dan menjaga kelestariannya.”[[2]]

Kehambaan yang membumi kehambaan yang tahu batas. Hamba yang tahu batas kemampuannya tidak mengklaim hasil usaha bersama sebagai hasil usaha sendiri, tidak menunjukkan kepintaran di tengah orang-orang pintar, tidak mengelabui orang awam hanya karena mereka sederhana dan lugu, tidak menciptakan pencitraan diri di balik kebusukan moral dan jati diri. Agama itu punya batas, jangan pernah ditambah dan dikurangi!

Imam al-Qusyairi kembali berkata:

“Hakikat kehambaan dengan mengetahui batas dan tidak melampauinya, tidak menambah dan tidak pula menguranginya. Barang siapa yang tidak melampaui batas dalam menegakkan hukum-hukum Allah, maka dengan sendirinya Allah akan menepati janji-Nya terhadapnya.”[[3]]

Kehambaan yang menyinarkan makna-makna kemanusiaan adalah kehambaan yang tahu rendah diri, tidak sombong dan angkuh. Hamba-hamba semacam ini senantiasa tahu menempatkan diri, tidak malu berteman dan bersahabat dengan orang-orang fakir; jalan dan makan bersama dengan mereka. Pribadi seperti ini adalah pribadi yang tidak suka pujian dan sanjungan yang berlebihan, sosok yang cinta kesederhanaan dari kebersahajaan yang dibangun atas kecongkakan dan kesombongan.

Ini telah dicontohkan dalam sabda Rasul Saw berikut ini:

(آكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ، وأَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ).

“saya makan seperti hamba lain sedang makan, dan saya duduk seperti duduknya hamba lain.”[[4]]

Di hadits lain, Rasul Saw diberitakan makan berjamaah dengan Ahlu as-Suffah. [[5]]

Dari Abu Dzar RA:

(كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ، فَكُنَّا إِذَا أَمْسَيْنَا حَضَرْنَا بَابَ رَسُولِ اللهِ e فَيَأْمُرُ كُلَّ رَجُلٍ فَيَنْصَرِفُ بِرَجُلٍ، فَيَبْقَى مَنْ بَقِيَ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ عَشَرَة أَوْ أَكْثَرَ، أَوْ أَقَلَّ فّيُؤْتِىَ النَّبِيُّ e بِعَشَائِهِ فَنَتَعَشَّى مَعَهُ، فَإِذَا فَرَغْنَا قَالَ e: نَامُوْا فيِ الْمَسْجِدِ!)

“Saya termasuk Ahlu as-Suffah, kami di saat menjelang sore mendatangi Rasul Saw, beliau pun memerintahkan setiap orang dari sahabat mengajak satu orang dari kami ke rumahnya, dan jika yang tersisa dari kami sepuluh orang, lebih atau kurang, maka Rasul Saw pun datang membawa jamuan malamnya dan kami pun diajak makan bersama dengannya. Setelah kami makan malam beliau berkata: “tidurlah di masjid.””[[6]]

Jika Rasul Saw seperti ini, kenapa di sana masih ada saja yang merasa hina jika menginjakkan kaki di gubuk tua fakir-miskin, tersenyum sinis melirik para gelandangan di pinggir jalan, dan memandang hina para pengamen? Bukankah mereka saudara kita sendiri yang butuh uluran tangan kemanusiaan? Pudarnya nilai-nilai kehambaan dalam diri masyarakat sebab hilangnya kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama.

Kelompok seperti ini mendapatkan teguran keras dari ayat Al-Qur’an di bawah ini:

orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, padahal setiap dari mereka punya hak yang sama untuk (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. (QS. An-Nahl [16]: 71)

Kehambaan yang menyadari hakikat-hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan adalah kehambaan yang melihat setiap jenis makhluk punya hakikat yang sama, memberikan layanan jasa kepada mereka sama dengan apa yang mereka telah lakukan antar sesama mereka sendiri, seperti: tempat tinggal, minuman dan makanan. Hamba yang melihat dirinya tidak lain kecuali hanyalah salah satu makhluk dari pelbagai makhluk Allah akan memperlakukan mereka dengan penuh kemanusiaan, tidak membuat mereka langkah dengan segala bentuk penyiksaan.

Jika dari mereka ada yang bertanya: “kenapa saya wajib berlaku baik terhadap makhluk-makhluk itu? Bukankah mereka tercipta untuk dipergunakan manusia sesuai dengan keinginan mereka?”

Kepada Anda Al-Qur’an menjawab:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada satu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. (QS.al-Isra’ [17]: 44)

Hematnya, selagi hakikat penciptaan kita dengan mereka sama, tercipta untuk melantunkan pujian terhadap-Nya, maka sepatutnya kita memperlakukan mereka dengan wajar.

Ini telah dicontohkan oleh Abdul Muttalib, kakek Nabi Muhammad Saw. Beliau masyhur di kalangan bangsa Arab dengan sebutan al-Fayyâdh (sangat pemurah) dan Mut’im Taer as-Samâ’ (penyuguh makanan terhadap burung-burung lepas yang beterbangan di angkasa). Beliau dikenal dengan gelar-gelar itu karena murah hati dan senantiasa menyuguhkan makanan kepada burung dan binatang buas di puncak gunung. [[7]]

Bukan hanya itu, hamba yang bijak hamba yang dituntun mengungkap makna-makna kehidupan yang dicontohkan oleh setiap jenis makhluk. Olehnya itu, tidak berlebihan jika Ustadz Said Nursi menyatakan bahwa beliau telah berguru dari ratusan guru (maksudnya ia telah memetik makna-makna kehidupan dan ketuhanan dari hewan, tumbuhan dan entitas kehidupan lain di muka bumi ini. Beliau mencontohkannya dengan kehidupan lalat yang menjadi cleaning service gratis untuk manusia dengan memakan kuman-kuman penyakit yang terdapat di tong-tong sampah pada musim panas. Tentunya, itu melukiskan kesempurnaan penciptaan Allah SWT). [[8]]

Kehambaan yang memberi terang kehambaan yang senantiasa membisikkan kelemahan dan kefakiran di hadapan Allah SWT. Hamba yang senantiasa berdoa meminta taufiq-Nya dalam meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan ketaatan.

Syekh Ibn al-Atsîr berkata:

“Hakikat kehambaan adalah menampakkan kelemahan dan kefakiran di hadapan Allah SWT dengan meminta pertolongan dari-Nya atas segala usaha yang telah dan sedang dilakukan.”[[9]]

Pendek kata, kehambaan yang mengisi rongga-rongga kehidupan dengan lantunan-lantunan ilmu-ilmu ilahi adalah kehambaan yang mendorong seseorang untuk taat beribadah, bersyukur dan memuji kebesaran-Nya, mengetahui batas-batas hukum, menegakkan cinta amal, menghargai sesama, rendah diri yang jauh dari kesombongan, merasa lemah dan butuh perlindungan dan tuntunan-Nya, serta memahami hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan dan memperlakukan mereka dengan wajar.

Di sana masih banyak sentuhan-sentuhan makna yang terselubung di balik kehambaan. Kepada pemerhati tema-tema keislaman tulisan ini mengajak Anda untuk menyuarakan sepatah kata berikut ini:

“bangun moral bangsa dengan membentuk kepribadian, perbaiki jati diri dengan menghidupkan nilai-nilai kehambaan! Bangsa kita tidak terpuruk, dunia Islam tidak bersatu dan tidak mampu menyaingi kemajuan yang telah dicapai dunia Barat, kecuali nilai-nilai kehambaan umat telah redup di hati generasi muda Islam. Hidupkan dan kobarkan kembali! Tidak ada yang dapat membumikannya kecuali Anda sendiri. Olehnya itu, sebelum Anda melakukan sesuatu, tanyalah diri Anda dengan pertanyaan ini: “apakah pekerjaan ini sesuai dengan nilai-nilai kehambaanku?”

Dalam diri Rasul Saw terdapat keteladanan bagi mereka yang ingin tahu sejauh mana beliau memaknai setiap detik dari kehidupan ini dengan makna-makna kehambaan. Dia adalah hamba sempurna yang mengumpulkan semua sifat-sifat baik yang ada dalam diri setiap hamba. Mari bersama-sama meneladani kehambaan beliau!”

 


Catatan Kaki:

[1] at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol, 1, hlm. 134

[2] Tafsir Imam al-Qusyairi, vol. 14, hlm. 16

[3] Ibid, vol. 7, hlm. 436

[4] Hadits ini diriwayatkan Ibn Saad dengan sanad yang baik, dan diriwayatkan juga Abu Ya’lâ dari Ãisyah. Di periwayatan Mursal al-Baihaqî dari Yahya bin Abi Katsîr hadits ini datang dengan tambahan lafadz (sesungguhnya saya hanyalah hamba: (فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ. [lihat: Imam az-Zaelaiy, Kasyful Khafâ, hadits, no: 15, hlm. 18].

[5] mereka adalah sahabat-sahabat nabi dari kaum Muhajirin yang terlambat hijrah ke Madinah. Karena mereka tidak datang ke Madinah saat Rasul Saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, maka mereka pun tidak mempunyai tempat tinggal dan harta. Olehnya itu, Rasul Saw membangun tempat khusus untuk mereka di belakang mesjidnya (masjid Madinah sekarang) yang dikenal dengan Suffah. [lihat: tim penyusun dari guru-guru besar Jurusan Dakwah, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Wasâil Tablîgh ad-Da’wah al-Islâmiyah wa Asâlîbiha, hlm. 29].

[6] Lihat: Syekh Abu Naîm Ahmad bin Abdillah, Hilyah al-Auliyâ’ wa Tabaqât al-Ashfiyaâ’, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. 1, 1409 H/1988 M, vol. 1, hlm. 352

[7] Lihat: Istîtah Abdul Hamîd Abdul Hamîd, Dirâsât fi as-Sîrah an-Nabawiyyah, vol. 1, hlm. 58

[8] Lihat: Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fil Ushûl wal Aqîdah, hlm. 5

[9] Imam Ibn al-Atsîr al-Mubarâk bin Muhammad al-Jazari, an-Nihâyah fi Gharîb al-Hadîts wal Atsar, ditahkik oleh Thâhir Ahmad az-Zâwi dan Mahmûd Muhammad at-Thanâhi, Dar Ihya’ at-Turâts al-Arabi, vol. 1, hlm. 465

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,58 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Berdiri Bersamamu