20:03 - Senin, 20 Oktober 2014
Muhammad Hilmy Alfaruqi

Syair Kehidupan…

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Muhammad Hilmy Alfaruqi - 08/12/11 | 13:30 | 13 Muharram 1433 H

Ilustrasi (zafiruddin.blogspot.com)

dakwatuna.com – Aku masih saja sulit untuk memejamkan mata. Sudah pukul dua pagi kulihat jam di dinding kamarku. Sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Tentang kehidupan. Ya, kehidupan.

Kuperhatikan beberapa temanku dalam kesehariannya disibukkan dengan bermain PlayStation. Sebagian yang lain begitu bersemangatnya men-download film-film dan musik. Ada juga yang sangat gemar bermain game online, Facebook, dan lain-lain. Segelintir yang lain tidak pernah puas membicarakan mobil dan motor hasil modifikasi. Di samping itu, ada sedikit teman, terhitung dengan jari sebelah tangan, memiliki hobi membaca dan menulis. Ada juga yang sibuk di organisasi kampus ataupun dakwah. Sebagian yang lain juga ada yang sibuk dalam urusan-urusan agama.

Mereka semua itu teman-teman satu angkatanku di kampus. Semua punya kesibukan yang berbeda-beda selain kuliah.

Itulah yang aku pikirkan. Ya, hidup itu sebuah pilihan. Pilihan. Dalam setiap detik yang kita lalui merupakan sebuah pilihan. Setiap detik yang kita lewati akan memiliki akibat pada detik-detik selanjutnya. Yang masih menjadi tanda tanya bagiku, apa yang mendasari orang-orang itu menentukan pilihan hidupnya dalam setiap detik yang dilaluinya. Apa yang mendasari sebagian teman-temanku yang kerjanya hanya bermain-main? Apa pula yang mendorong sebagian temanku yang lain untuk sibuk di berbagai kegiatan organisasi kampus? Aku tidak ingin mencampuri, tapi aku rasa mereka pun memiliki alasan-alasan kuat dalam menentukan langkah apa yang harus di ambil dalam setiap detik hidup mereka.

Tapi aku masih tetap tidak dapat menutup rapat kedua kelopak mataku. Kedua mataku masih terbuka. Masih berpikir satu hal, tentang sebuah nasihat yang aku dengar dari ceramah Jum’at kemarin di masjid kampus. Tentang tujuan hidup. Di dalam ceramah itu disampaikan oleh Sang Khatib bahwa Allah menciptakan kita tidak lain hanya untuk beribadah. Hanya untuk ibadah. Titik. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pilihan kedua. Hanya satu. Ibadah. Ayat yang disampaikan oleh Sang Khatib, menurutku hampir semua orang Islam sudah mengetahuinya. Tapi apakah mereka benar-benar memahami maksud ayat tersebut?

“Banyak orang mengetahui persamaan Einstein bahwa E=mc2. Tapi apakah mereka paham esensi persamaan tersebut?”

“Kita tahu bahwa tujuan penciptaan kita adalah hanya untuk ibadah kepada Allah. Tapi apakah kita paham esensi frase ‘hanya untuk ibadah’?” lanjut Sang Khatib.

“Bahkan ketika kita shalat menghadap Allah pun, kita sering tidak sadar apa yang kita lakukan. Hanya sebuah rutinitas. Kita lupa apa tujuan kita dalam shalat.”

“Jika dalam shalat saja kita lupa apa tujuan kita, apalagi dalam kegiatan-kegiatan kehidupan kita yang lain?”

Selama ceramah itu, aku hanya bisa menangis. Malu. Mungkin apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh jamaah yang lain.

“Berapa kali kita shalat dalam sehari? Sudah berapa tahun kita shalat? Berapa kali kita benar-benar sungguh-sungguh dalam shalat kita?” Sambung Sang Khatib.

“Sekali lagi, saya mengingatkan diri saya pribadi dan juga jamaah sekalian, detik demi detik kehidupan kita hanya untuk Allah. Dalam tiap desah nafas yang terhembus, beribadah kepada-Nya, dalam tiap degup jantung yang tercurah, beribadah kepada-Nya. Di setiap epidermis yang terkulik, hanya untuk-Nya.” [1]

Pertama kali dalam hidupku menghadiri ceramah Jum’at yang membuat sebagian jamaah meneteskan air mata. Pun demikian dengan Sang Khatib. Khutbah pun ditutup dengan doa yang diiringi dengan air mata.

Aku teringat pesan Hadid, sahabatku, “Belajar itu ibadah, bekerja itu juga ibadah, makan dan tidur pun ibadah, makanya niatkan semuanya ibadah karena Allah. Misalnya mau belajar, niatkan dalam hati bahwa belajar itu untuk mendapatkan ridha Allah, jangan lupa Bismillah juga dalam setiap aktivitas kita …”

Jika semua yang kita lakukan dalam tujuan ibadah kepada Allah, aku jadi berpikir, ketika kita nonton film, mendengarkan musik, bermain PlayStation, game online, Facebook, dan lain-lainnya, apakah mungkin hal-hal tersebut dalam kerangka ibadah? Setidaknya kita lupa kepada Allah saat melakukan aktivitas tersebut. Pas lagi shalat aja lupa sama Allah, iya kan?

Dulu pernah suatu waktu Hadid mendapatiku bermain Winning Eleven di PlayStation. Tiba-tiba dia bilang, “Udah maennya, udah satu jam lebih lho… Sayang waktunya,” Hadid juga punya PlayStation di kamar kosnya. Tapi sepertinya jarang disentuh olehnya. “Bentar lagi bro, refreshing nih. Lagi BT gw…” jawabku.

“Inget, Bro, hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenteram… Orang-orang beriman itu banyak mengingat Allah… Jadi, orang-orang beriman itu hatinya senantiasa tenteram… Bener ga? Gitu kan logikanya?”

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar Ra’d : 28

“Iya Pak Ustadz. Bawel bener …” Sanggahku. Hadid pun tersenyum.

Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah,

Kita sudah tidak asing lagi dengan surat adz Dzariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Tapi dalam penyampaian ayat tersebut seringkali dilupakan oleh kita dua ayat setelahnya, yaitu ayat 57 dan 58. “Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak membutuhkan jin dan manusia, tetapi justru jin dan manusialah yang sangat membutuhkan Allah dalam segala keadaan.

Ibadah yang kita lakukan pun itu untuk kita sendiri. Untuk menyelamatkan diri kita dari adzab Allah. Untuk menggapai rahmat dan ridha Allah SWT.

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kebahagiaan dan Aku akan menutupi kafakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesengsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.” (HR Ahmad)

Ikhwan wa Akhwat fillah, semoga kita selalu istiqamah di jalan-Nya …

Tidak penting menjadi orang penting, tidak penting menjadi orang terhormat, yang penting adalah kita menjadi hamba Allah yang taat … [2]

Siapapun kita, manajerkah kita, pemilik perusahaankah kita, seorang gurukah kita, seorang pekerjakah kita, seorang pelajarkah kita, seorang ibu rumah tanggakah kita, presidenkah kita, dan sebagainya dan sebagainya, apapun jabatan dan kedudukan kita, kita adalah hamba Allah SWT… Jika kita seorang manajer, jadilah seorang manajer yang taat kepada Allah. Jika kita seorang wakil rakyat, jadilah wakil rakyat yang taat kepada Allah SWT…

Catatan kaki:

[1] Nasihat drg. Deasy Rosalina

[2] Dik Doank, Tabligh Akbar KMI Korea Selatan 2010

Redaktur: Hendra

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (19 orang menilai, rata-rata: 9,68 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
114 queries in 1,795 seconds.