18:51 - Jumat, 01 Agustus 2014

Pilar-Pilar Kebangkitan Umat

Rubrik: Opini | Kontributor: Devia Puspita Sari - 07/12/11 | 12:30 | 12 Muharram 1433 H

Ilustrasi (Republika Online)

dakwatuna.com - Suatu pilar kebangkitan terbesar sejarah manusia di muka bumi adalah dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah ini merupakan babak terakhir dalam serangkaian perjuangan panjang dakwah yang dipimpin oleh beberapa orang Rasul sebelum Muhammad SAW. Islam sesungguhnya sebuah proklamasi pembebasan manusia bagi seluruh manusia di penjuru bumi. Selama sejarah panjang Islam berada dalam kepemimpinan para pejuang Islam hingga pada kepemimpinan Turki Utsmani, Islam mengalami masa kejayaan dan kegemilangan dalam penyebarluasan dakwah. Seluruh sistem dunia mengikuti manhaj Islam dalam mekanisme kehidupan dunia.

Namun tidak perlu dinafikan bahwa eksistensi umat Islam telah bercerai berai sejak beberapa abad lalu. Sejak pemerintahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Sejak kepemimpinan kedigdayaan Barat menunjukkan kembali kekuatannya sebagai strategi pemanfaatan situasi Islam yang sedang turun. Dari sinilah awal perjuangan penuh umat Islam. Sejarah pun mengukir peran para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar Ikhlas kepadaNya, “Al-Ikhwanul Muslimin”. Dalam pergerakannya, secara tidak langsung membangkitkan kembali Islam untuk lebih melegenda di kehidupan. Peran mereka inilah sebagai pilar awal kebangkitan umat Islam setelah rampungnya pemerintahan Turki Utsmani.

Umat Islam adalah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap, tatanan, nilai-nilai dan pertimbangannya, terpancar dari manhaj Islam. Manhaj yang berideologi Islam. Suatu manhaj hakiki yang bersumber langsung dari Pencipta. Manhaj atas dasar Al-Quran dan Al-Hadits. Dan oleh sebab itulah, Umat Islam akan tetap mampu bertahan melawan musuh -musuhnya dalam menegakkan panji – panji Agama Allah SWT.

Buku yang berjudul Pilar – Pilar Kebangkitan Umat yang ditulis oleh Abdul Hamid al-Ghazali menekankan pada Al-Masyru’ al-Islami (proyek keislaman atau islamisasi), Al-Nahdlah al-Ummah (kebangkitan umat dari keterpurukan) dan Assasiyat (prinsip-prinsip dasar atas fondasi pemikiran, bukan pilar, secara harfiyah) atas perjuangan membangun kembali umat yang mungkin masih tertidur hingga kesadaran diri untuk segera bangkit menghadapi tantangan zaman pun masih relatif kecil.

Secara konsep dasar, kita temukan kaidah – kaidah dalam eksekusi pelaksanaan suatu gerakan. Gerakan yang memberikan pengaruh besar. Hingga gerakan tersebut melingkupi institusional negara. Suatu gerakan pada hakikatnya memiliki konsepsi, aturan main dan sistem, yang tentu saja semuanya berpatokan pada kaidah atau manhaj Islam. Konsep-konsep dasar yang dimaksud adalah mengenai Pembaharuan (ishlah), suatu perubahan menuju kemajuan secara komprehensif dan terintegral atas aspek kehidupan; Metodologi riset (manhaj qira’ah) yang meliputi konten analisis, hermeunetika (tafsir atas teks), semiotika (pemaknaan sesuai konteks zaman dan lokasi); Dakwah sebagai proyek kebangkitan, bukan merupakan pekerjaan individual yang berjangka pendek dan amatiran, namun dakwah adalah pekerjaan kolektif, suatu pekerjaan yang tersusun rapi atas perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi, berjangka panjang (dengan tujuan membangun suatu peradaban baru) dan dilakukan secara profesional oleh setiap kader pengemban dakwah dan rekonstruksi negara ideal (ishlah ad-daulah/al-hukumah), suatu pemikiran, perjuangan, kebijakan, dan dimensi peradaban.

Suatu konsep dasar yang memiliki nilai yang besar, harusnya berstrategi (bermetodologi) yang baik dalam pelaksanaannya. Untuk itu harus ada referensi nyata bagaimana dakwah itu bermain sesuai hakikatnya. Imam Syahid Hasan Al-Banna telah merekonstruksi 4 analisis yang dapat dijadikan metodologi dalam memainkan peran dakwah, yang meliputi Analisis sejarah, Analisis realitas, Kaidah umum dan Prediksi masa depan. Metodologi atas Analisis Sejarah mencakup ruang lingkup Sejarah Islam (tujuh periode: deklarasi, daulah, dekadensi, pergulatan politik, pergulatan sosial, hegemoni Barat, kebangkitan), Sejarah manusia (Barat dan Timur), Sejarah gerakan pembaruan (Khulafa al-Rasyidah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Saudiyah, Revolusi Jerman). Sedangkan Metodologi atas Analisis Realitas mencakup ruang Keharusan analisis realitas (fiqhul waqi’), Analisis kualitatif (serangan asing, penyakit umat, agenda permasalahan), dan Analisis kuantitatif (data demografis, geografis, pendidikan, kesehatan, kriminalitas). Kemudian untuk Metodologi Kaidah Umum, Imam Hasan Al-Banna mengaitkannya dengan Fikrah dasar, Kekuatan motivasi, Perubahan diri, Titik awal pergerakan, Keberhasilan pemikiran, Penyiapan kader, Tuntutan kebangkitan mendasar, Standar aktivitas dakwah, Pergulatan manusia, Prediksi dan peluang, Pergiliran peradaban, dan Tujuh pilar kebangkitan. Lalu, untuk metodologi Prediksi Masa Depan, ia mencakup Perspektif sosial (kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, mimpi hari ini adalah kenyataan masa depan), Perspektif sejarah (kebangkitan setelah masa kemunduran), Perspektif logika (jalan panjang menuju kebangkitan, menunaikan kewajiban untuk mendapat pahala akhirat dan manfaat duniawi), dan Perspektif agama (janji kemenangan dari Allah).

Yang menarik dari metodologi Kaidah Umum adalah mengenai Fikrah Dasar dan Kekuatan Motivasi. Imam Hasan Al-Banna pernah berkata: “Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya bahwa ketika Allah SWT menurunkan Al-Quran, menyuruh hamba-hambaNya mengikuti Muhammad SAW dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya ia telah meletakkan dalam agama ini seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia”. Perkataan ini dapat menjadi fikrah dasar mengapa kita harus tetap mengambil peran dalam menciptakan pilar – pilar kebangkitan. Yang kedua terkait dengan kekuatan motivasi. Dalam hal ini Imam Syahid Hasan Al-Banna juga mengatakan. “Kebanyakan manusia melihat gerakan dakwah dari segi lahiriah dan bentuk formalnya saja. Mereka tidak melihat motivasi dasar dan inspirasi spiritual yang sebenarnya merupakan modal dasar bagi terciptanya tujuan dan teraihnya kemenangan. Ini adalah sebuah hakikat yang tidak bisa dibantah kecuali oleh mereka yang jauh dari studi dakwah sehingga tidak memahami rahasia-rahasianya. Sesungguhnya di balik fenomena-fenomena yang tampak pada setiap aktivitas dakwah, terdapat semangat yang menjadi motor penggerak serta kekuatan batin yang menggerakkan, mengontrol dan memberikan motivasi. Mustahil suatu umat dapat bangkit tanpa memiliki kesadaran yang hakiki dalam jiwa, ruh dan perasaan mereka. ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri’ (Ar- Ra’d:11).”

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hal terpenting dalam sebuah kerja dakwah yang harus pertama kali kita perhatikan dan kita jadikan sebagai pemacu pertumbuhan, keberadaan, dan penyebaran dakwah adalah kebangkitan spiritual ini. Karenanya, yang pertama kali kita inginkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Oleh karena itu, dalam membicarakan dakwah ini, kami lebih menekankan pada pemberian motivasi dan pembinaan jiwa daripada perhatian terhadap aspek-aspek operasional yang beragam.

Tentu saja dakwah menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat serta tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan-perasaan yang memiliki ghirah serta selalu menggelora dan ruh-ruh yang bersemangat, elegan, selalu optimis serta merindukan nilai-nilai luhur, tujuan -tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk menggapainya. Umat Islam harus menentukan tujuan-tujuan dan nilai-nilai luhur tersebut, mengendalikan perasaan dan emosi, serta memfokuskan perhatian pada hal-hal tersebut hingga ia menjadi sebuah keyakinan mantap, yang tidak tercampuri oleh keraguan sedikit pun. Tanpa pembatasan, pengendalian, dan pemfokusan tersebut, sebuah kesadaran dan kebangkitan hanya akan menjadi seperti lilin kecil di tengah gulita sahara, nyalanya sangat redup dan panasnya tidak terasa.

Sejalan dengan keberadaan dakwah yang komprehensif, maka manhaj dakwah pun harus menegara. Sistemnya pun harus mampu merekonstruksi Negara yang merupakan suatu proyek kebangkitan umat. Ada 5 peran dakwah dalam merekonstruksi aksi institusional, yang meliputi pemikiran, perjuangan, program, kebijakan, dan dimensi peradaban. Rekonstruksi Negara terhadap Pemikiran meliputi titik tolak (integralitas Islam, negara cermin ideologi, hak umat, perjuangan konstitusional dan pemerintahan bagi dari rukun sistem Islam) dan konsep (arabisme, patriotisme, nasionalisme dan internasionalisme). Sedangkan rekonstruksi terhadap peran Perjuangan mencakup target politik (pembebasan negeri, persatuan negeri, Islam/Kawasan), strategi (informasi, dialog elite, komite UU, rekomendasi pemerintah, pernyataan politik, legislatif/kepartaian, tuntutan politik, dan aliansi politik), tahapan (takrif, takwin, tanfidz), dan sikap (pemerintahan, UU, Hukum, kepartaian, minoritas, perempuan, demokrasi, persatuan, HAM). Selanjutnya, rekonstruksi yang ketiga fokus pada Pemrograman Pilar Dakwah, yakni pemrograman atas reformasi sosial, reformasi ekonomi, dan reformasi politik. Dan mengenai rekonstruksi negara atas Kebijakan terkait pada kebijakan dalam dan luar negeri. Maka, rekonstruksi negara yang terakhir adalah mengenai Dimensi Peradaban yang meliputi konsep peradaban (syahadah dan hadlarah), eksistensi umat (syarat kebangkitan, konsep khilafah, tata dunia baru) dan kepemimpinan dunia (realisasi, benturan peradaban).

Suatu pilar kebangkitan membutuhkan suatu magnet yang dapat menimbulkan aksi tarik-menarik bagi aktornya. Aksi tarik menarik ini menunjukkan ketepatan medan magnet dengan kapasitas pemainnya. Untuk mencapai kebangkitan dan kejayaan umat, kita harus memiliki medan tempat untuk berjuang, tempat perlindungan, dan tempat pentarbiyahan. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan kita untuk mengelola sumber alam secara benar dan baik dan berlandaskan kepada kemaslahatan. Maka, Selamat datang Pilar Kebangkitan Umat!

Tentang Devia Puspita Sari

Student of Universitas Bakrie, Accounting Study Program. Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Basmala Universitas Bakrie. Member of Muamalah Community. Seorang hamba yang tidak… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Annas Wibowo

    Datangnya pertolongan Allah itu disyaratkan adanya pertolongan kita kepada agama-Nya. Bahkan sangat penting para aktivis yang ikhlas itu mengerahkan segala kesungguhan dan daya-upayanya, bahkan untuk melipatgandakan upayanya. Hal itu dibarengi dengan kesanggupan menanggung kesulitan, apapun bentuknya. Mereka harus menghiasi diri dengan kesabaran dan keteguhan dalam kebenaran. Mereka harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw. hingga tercapai yang mereka inginkan.

  • Deviakammi

    Iya akhi, antum benar.
    Selayaknya aktifis (yang meneruskan perjuangan ini) harus berpegang teguh dengan mabda’ (ideologi) Islam dan pada metode Rasul Saw..
    :)

Iklan negatif? Laporkan!
123 queries in 2,599 seconds.