Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saatnya untuk Menikah

Saatnya untuk Menikah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com – Saatnya untuk menikah, kata-kata itulah yang kali ini terngiang-ngiang selalu di pikirannya, memenuhi relung hatinya, dan merasuki berbagai macam kegiatan yang ia lakukan.

Menikah, sebuah fitrah yang memang Allah ciptakan untuk menjadikan ketenangan bagi manusia. Ialah yang merupakan sebuah labuhan hati untuk jiwa-jiwa yang rindu akan kesucian cinta dan hakikinya hubungan manusia dengan Tuhannya. Menikah bukan hanya sekedar pemenuhan hawa nafsu atau keinginan untuk bersama antara dua insan saja, tapi lebih kepada sebuah jalan bagi para pembangun peradaban. Pernikahanlah yang menjadi sebuah titik tolak awal kebangkitan umat. Pernikahan yang baik dan suci serta pendidikan keluarga yang tarbawi-lah yang menjadi momentum yang akan membawa energi perubahan di masa mendatang.

Menikah bukanlah hal yang sederhana namun pula tak pantas untuk membuatnya menjadi kompleks yang akhirnya menghilangkan makna keindahannya. Menikah akan mempertemukan dua manusia yang memiliki karakteristik jiwa yang berbeda satu sama lainnya namun memiliki ketertarikan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata biasa, sekalipun oleh para pujangga. Ia seolah seperti sebuah energi yang tersimpan kuat di dalam dada setiap manusia, terkadang tenang, terkadang bergolak, dan akhirnya ingin bertemu pada muara yang sama.

Sebuah jiwa yang telah resah di hari-harinya seolah seluruh dunianya telah berubah karena ia seperti kehilangan separuh hatinya. Sebenarnya bukan kehilangan tepatnya, namun ia hanya belum menemukan. Puisi-puisi, syair-syair, bahkan nasihat dari para bijak bestari pun tak lagi memiliki arti bagi para jiwa yang sudah tak kuasa ‘tuk segera menggenapkan diri.

“Lalu, apa? Apa yang sebaiknya aku lakukan?”

Rasulullah saw pernah bersabda, “Tak ada yang bisa dilihat lebih indah dari orang-orang yang SALING MENCINTAI seperti halnya PERNIKAHAN” (HR. Al Hakim).

Cinta antara dua manusia, antara dua jiwa yang berbeda namun entah mengapa tiba-tiba mereka memiliki frekuensi yang sama, harus bermuara dalam pernikahan. Tidak bisa tidak, tak ada lagi tawaran lain selain pernikahan. Hubungan-hubungan palsu duniawi yang lemah tidak akan pernah mampu menggantikan ajeg dan kokohnya tali cinta dalam pernikahan.

Sekali lagi, mari ingatlah, pernikahan bukanlah hal yang mudah namun tidak pantas pula untuk mempersulitnya. Banyak yang ragu dan enggan untuk memulai. Bisa disebabkan karena kondisi keuangan, kondisi pribadi, hingga kondisi keluarga. Seorang pemuda yang telah jatuh hati pada wanita idamannya hanya akan memiliki dua pilihan, meminang wanita itu hingga akhirnya menikah, atau izinkan laki-laki shalih

lainnya untuk meminangnya. Dia tak bisa memberikan janji-janji pemenuh kebutaan syahwat yang pada akhirnya hanya akan menyakiti kedua belah pihak, entah akhirnya mereka benar-benar menikah atau tidak.

Setelah meminang, hanya akan keluar dua kalimat indah yang telah diajarkan oleh manusia paling mulia, Rasulullah saw. Katakan, “Alhamdulillah” jika engkau diterima, dan gelorakan, “Allahu Akbar” jika pinanganmu ditolaknya, sederhana. Sederhana pada pelaksanaannya namun hati, hati adalah rongga yang begitu dalam dan memiliki detak dan debar yang tidak sederhana. Maka di sinilah diuji keimanan manusia, apakah ia ridha dengan keputusan Tuhannya, Tuhan yang telah membuat ia dari saat sebelumnya ia bukan apa-apa, Tuhan yang telah memberikan nikmat yang sama sekali tidak mampu terhitung jumlahnya, dan tentu saja Tuhan yang telah menyematkan cinta yang begitu indah di dalam hatinya, atau ia merasa kecewa, tidak ikhlas, hingga akhirnya gerutu dan umpatan keluar dari lidah dan lisannya.

Sungguh kawan, cinta dua insan tidaklah mampu disembunyikan. Layaknya Abdullah bin Abu Bakar dan istrinya Atikah. Kenikmatan dan indahnya cinta yang akhirnya mereka rasakan dalam pernikahan membuat Abdullah lalai akan mengingat Tuhannya, bahkan hingga syuruq pun belum terlihat batang hidungnya di antara para jamaah shalat subuh. Maka, Abu Bakar, ayahnya, meminta untuk menceraikan istrinya. Perasaan apa yang ada di hatinya? Wanita yang begitu ia cintai, yang akhirnya ia dapatkan dengan cara halal dan suci harus ia lepaskan begitu saja! Siapa?! Siapa?! Siapa yang tidak akan menangis begitu dalam ketika harus menerima kenyataan ini. Siapa yang tidak akan menggubah syair yang memilukan jika harus menghadapi ini? Tetapi, perintah orang tua-lah yang ia utamakan, karena ia tahu ridha Allah berada pada ridha orang tua dan murka Allah berada pada murka orang tua.

Hari-hari kedua insan itu hanya dilalui seolah dua orang pesakitan yang tidak lagi memiliki harapan hidup, karena sebagian jiwa mereka hilang dan tidak mampu tergantikan kecuali kembali digenapkan. Akhirnya, Allah mengizinkan untuk mereka berkumpul kembali dalam siraman ridha Illahi.

Kawan, pernikahan membutuhkan persiapan. Ada dua hal mendasar yang memiliki batas yang hampir-hampir saling bersinggungan satu dengan yang lainnya, yaitu antara menyegerakan dan tergesa-gesa. Rasulullah saw bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu ba`ah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farji…“(HR. Bukhari dan Muslim).

Apakah itu ba’ah wahai saudaraku? Ibnu Qayyim al-Jauziy berkata bahwa ba’ah adalah kemampuan biologis untuk berjima’. Namun, beberapa ulama ada yang menambahkan bahwa ba’ah adalah mahar (mas kawin), nafkah, juga penyediaan tempat tinggal. Kita tak mampu menutup mata dari berbagai kebutuhan yang harus terpenuhi ketika dua insan telah menyatu di dalam pernikahan.

Ada beberapa hal penting yang harus dipersiapkan menuju pernikahan. Sebuah bekal yang akan mempermudah dua insan untuk berjalan di jalur yang sama dalam pernikahan.

1. Persiapan ruhiyah

Saat pernikahan hanyalah memiliki satu niat, untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhannya, sehingga Allah akan berkenan untuk meridhainya. Niat paling murni dan penuh keikhlasan dari seorang hamba. Dengan niat yang lurus ini seseorang akan yakin dan percaya bahwa Allah hanya akan memberikan yang terbaik untuknya, yang terbaik, yang terbaik, sekali lagi, yang terbaik. Tidak ada pilihan lainnya. Tentu saja hal ini tidak akan datang begitu saja, melainkan melalui proses perbaikan diri, perbaikan kualitas ibadah, dan pemurnian hati.

2. Persiapan ilmu

Saat dua paradigma berpikir disatukan, maka ia akan menemui benturan dan adu argumen antara keduanya. Persiapan ilmu dibutuhkan untuk mempersiapkan dan menyelaraskan perbedaan pandangan yang akan ditemukan ketika dua insan telah berada pada bahtera yang sama. Tanpa persiapan ilmu yang cukup, yang ada hanya pertengkaran dan tidak adanya pengertian antara yang satu dengan yang lainnya.

3. Persiapan fisik

Adalah cinta membutuhkan energi untuk hidup dan tetap menyala, maka seperti itulah yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Adalah bodoh ketika seorang suami hanya memberikan cinta tanpa menafkahi istri dan anak-anaknya. Cinta bukanlah khayalan dan fatamorgana, namun cinta adalah kenyataan yang dihadapi di depan mata. Fisik keduanya harus kuat, baik untuk membangun cinta juga untuk membangun keluarga. Hingga akhirnya cinta akan tetap hidup dalam bahtera keduanya.

4. Mengenal calon pasangan

Kenali ia dengan bertanya kepada keluarga atau orang yang shalih dan dapat dipercaya. Berjalan dengan mata tertutup adalah kebodohan yang nyata yang akan membawa mudharat baginya. Maka, lihat dan kenalilah calon pasanganmu dan berdoalah agar Allah memberikan yang terbaik untukmu. Satu hal yang perlu diingat kawan! Mengenal pasangan bukanlah dengan engkau berjalan berdua dengannya memadu cinta kasih yang sama sekali Allah haramkan hubungannya. Sama sekali tidak! Dengan itu kau hanya belajar menjadi kekasih yang baik, bukan istri/suami yang baik. Percayalah, pernikahan tak sama dengan hubungan semu yang sedang kau jalin bersamanya. Saat kau menikah tetap akan ada hal-hal baru yang sama sekali tidak kau ketahui dan itu jauh berbeda. Jika hasilnya sama, mengapa memilih jalan yang penuh duri dan sama sekali tidak mengandung ridha-Nya?

5. Lurusnya niat

Meskipun telah disinggung pada poin pertama, namun lurusnya niat bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Ia harus terhindar dari riya’ dan sum’ah, dari dengki dan iri, dan dari berbagai sifat yang merusak hati serta merusak hubungan dengan Tuhannya. Karena segala sesuatu berawal dan berakhir dari niatnya.

Cinta bukanlah satu hal pasif yang tidak membutuhkan energi dan pengorbanan untuk meraihnya namun ia adalah energi yang membutuhkan kerja keras dan berbagai pengorbanan, membutuhkan keikhlasan dan jernihnya hati, dan membutuhkan penyerahan diri pada pemilik cinta yang hakiki.

Biarlah cintamu tumbuh berkembang, akarnya menghujam bumi, daunnya berdesir mengikuti alunan angin, dan buahnya manis, serta bunganya indah merona, karena kau serahkan segalanya kepada Allah, Tuhan yang menciptakan cinta itu sendiri.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (133 votes, average: 9,41 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.
  • dia….ikhwah kita juga

    saya menemukan kasus:

    Berbeda dengan Abdullah bin Abu Bakar dia lalai meningat Allah karena teralu cinta pada istrinya. Tapi dalam kasus ini sebaliknya. dia tidak mencintai istrinya. di menikahi istrinya karean agamanya bukan karena kecantikan atapun harta. kehidupan yang dia lalaui hannya sebatas dia merasa dia punya istri.tidak lebih dari itu. 
    Aneh nya semakin lama pernikahnnya semakin lalai dia dalam meningat Allah.ibadahnya udah ngak karuan. padahal dia teramsuk orang taat beribadah. dan bahkan dia seorang aktifis dakwah. lalainya dalam mengngat Allah bukan karena cintanya ke pada istrinya. tapi entah lah entah apa penyebab membuat dia seperti itu.

    Mohon pencerahannya dari semua.

  • dia….ikhwah kita juga

    jalankan konsultasi keluarga nya ya admin?

  • NDY

    kalau semuanya sudah siap, namun jodohnya belum ketemu juga…bagaimana cara menemukan jodoh…kenapa selalu artiket persiapan2 tapi jarang ada artiket atau wadah islamiyah yang membantu dalam rangka pencarian jodoh ???

  • dia….ikhwah kita juga

    bebrapa hari yangg lalu ana menjadi pembawa acara daurah pra nikah. acara itu di peruntukan bagi yang belum menikah. (ikhwan dan akhwat). 

    Yang hadir peserta 52 orang, tapi anehnya semunya akhwat.
    pas registrasi. ana ada melihat peserta dari ikhwan 2 orang. trus ana tanya :”kok ndak masuk?” mereka jawab:” Kami cuma berdua. malu lah kami klo ikut”.disaat iceberaking ada yel-yel “Siap Menikah” para peserta menjawab ” Yes, Kami Siap Menikah, Menjalankan Sunnah Rasullah” (yang notabene menjawab semuanya akhawat peserta di ruangan itu).kesimpulannya adalah: 
    ada 52 orang akhawat siap untuk dinikahi.dan cuma 2 orang ikhwan dan itu pun ragu2 untuk menikah (kalau dikaitkan dengan yel-yel).Perbandingan yang luar biasa.Soo……….

    • sofan

      Hanya menerka, sepertinya 2 ikhwan tersebut salah terima informasi.

      Seharusnya hadir dalam acara serupa tapi di tempat lain.

  • alim_wiltom

    saatnya menjemput jodoh.. ^^

  • Fahrifaqihku

    Saya hendak “menggugat” ikhwan2 di sekitar saya. Mereka (ikhwan2 kelas tinggi) itu..ternyata pada akhirnya ujung2nya menikah dengan “wanita” biasa (maaf, bingung mencari kata pengganti) yang yang tidak ngaji, jilbab ga lebar, bahasa ekstrimnya belum terbina. Apapu alasannya, nampaknya agama bukan lagi menjadi kriteria utama sekarang…
    Kenapa mereka tidak mencari akhwat2 super keren yang Insya Allah “jaminan mutu”…
    Kenapa?
    hiks, kasihan mbak-mbak-ku….
    Jodoh memang misteri sang Pencipta..

    • Temanmu

      jangan kamu terperangkap pada persangkaan yang kamu tidak ketahui kebenarannya, telitilah, sesungguhnya pemahaman dan niat yang terkontaminasi dapat membawa pada keadaan taqlid buta.

    • Ukon

      Apapun yang terjadi.. sudah suratan.. mungkin dengan itu para ikhwan lebih harus bekerja keras untuk membangun keluarga dari biasa menjadi luar biasa.. dan menyemai benih yang indah pada waktunya.

    • sance_cemut

      tidak boleh berprasangka buruk begitu apalagi sampai menggugat hak orang untuk memilih,,,, diambil positifnya saja,,, dengan ia menikahi wanita biasa mungkin akan banyak manusia yg diselamatkan dari api neraka,,, yaitu dengan membukakan pintu taubat bagi jodohnya,,, walopun butuh waktu,,,, saya jg sebagai wanita maunya dapat jodoh yg bisa membawa dan menuntun saya ke surga Alloh,,, amin ya robbal alamin,,,,,

    • hahh? itukan dikacamata Anda, ia mereka mungkin wanita biasa. tapi siapa yang tau kedudukan mereka dihadapan Allah. bisa saja, ada ibadah-ibadah yang tidak tampak di mata manusia. kenapa tidak berbaik sangka..! jodoh itu rahasia Allah..

  • Moch_arif18

    Orang Baik pasti akan mendapatkan pendamping yang Baik pula,

  • Emka Edisi Anyar

    heu’euh tah.. kararawin uy.. heuheu..

  • yulfina

    bukannya takut atau tidak mau..,tapi belum ada yg dipertemukan ALLAH denganku……….

  • yulfina

    bukannya takut atau tidak mau..,tapi belum ada yg dipertemukan ALLAH denganku……….

  • andik

    “Seorang pemuda yang telah jatuh hati pada wanita idamannya hanya akan
    memiliki dua pilihan, meminang wanita itu hingga akhirnya menikah, atau
    izinkan laki-laki shalih lainnya untuk meminangnya. Dia tak bisa
    memberikan janji-janji pemenuh kebutaan syahwat yang pada akhirnya hanya
    akan menyakiti kedua belah pihak, entah akhirnya mereka benar-benar
    menikah atau tidak.”

    dan utk hal ini dia memilih mengizinkan laki2 sholih lainnya utk meminang, meskipun pada akhirnya si ikhwan yg terakhir tak berhasil membawa kami ke dalam proses menuju yg samara itu. Namun yang ku bangga darinya adalah saat dia memutuskan untuk mundur dr proses yang telah dia mulai sendiri, dengan tidak memberikan janji apapun, meskipun aku tahu dia juga sakit saat mengambil langkah ini.
    apakah yg seperti ini masih bisa diperbaiki?
    mengingat semua yg terjadi telah pernah menjadi torehan luka lama yang pernah ada?
    wallaahu a’lam..

    “Bila memang berjodoh pasti akan menemukan jalannya sendiri, apa dan bagaimanapun caranya..”

  • Tiara Anggraini Supriyatman

    yang sulit adalah memantapkan dan meyakini diri bahwa dia memang yg terbaik. apakah benar??

Lihat Juga

Seminar sehari tentang Persiapan Pranikah di Dewan kuliah FOM Multimedia University Cyberjaya Malaysia, hari Ahad (27/3/2016), yang diselenggarakan oleh FOKMA Daerah Selangor Malaysia. (Wahyuni Suryaningrum)

(Foto) Seminar Pra Nikah FOKMA Selangor, Malaysia