Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Antara yang Kekal dan Fana

Antara yang Kekal dan Fana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comDan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(Al An’aam: 32)

Ketika kita mencoba membuka mata untuk melihat lingkungan sekitar, maka alangkah sedihnya diri ini ketika melihat mereka yang berperilaku bersungguh-sungguh untuk mengejar dunia yang fana ini. Bayangkan, mereka melakukan suatu hal yang tidak ada artinya dengan bersungguh-sungguh. Lalu apakah mereka tidak tahu tentang hal yang abadi? Sesungguhnya mereka sudah diberi tahu tentang kehidupan abadi yang akan kita lalui atau yang pasti kita lalui setelah ini. Tempat kembali kita di sana tergantung kepada apa yang telah kita perbuat di dunia ini.

Lalu apakah ada orang yang mendapatkan sesuatu yang paling baik ketika mereka tidak bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya dan malah mengabaikannya? Pertanyaan ini bisa kita samakan dengan pertanyaan, adakah orang pintar yang mereka sendiri tidak ingin pintar dan malas untuk belajar? Atau adakah orang kaya yang mereka sendiri tidak ingin kaya dan malas untuk bekerja?

Selanjutnya ketika kita hidup di dunia yang fana ini, kita pasti ingin mendapatkan tempat yang terbaik, iya kan? Maka bagaimana dengan tempat abadi yang merupakan tempat terakhir kita? Di manakah tempat kita? Atau mau di manakah kita nantinya? Tempat terbaikkah (SURGA)? Atau seburuk-buruknya tempat (Neraka)?

Untuk mendapatkan tempat terbaik di dunia, maka diperlukan ilmu tentang hal duniawi yang mendukungnya, lalu bagaimana dengan untuk mendapatkan tempat yang terbaik di akhirat?

Semuanya dalam hidup ini adalah pilihan yang diberikan oleh Allah SWT, jadi baik-baiklah dalam memilih dan menentukan sesuatu, karena mungkin saja itu berefek pada akhir kita nantinya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memegang pundakku, lalu bersabda: Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati”. (Bukhari no. 6416)

Sekarang hirup udara di sekitar, apakah masih merasakan adanya udara yang masuk ke dalam tubuh? Ketika merasakannya, maka manfaatkanlah keadaan itu untuk menentukan di mana tempat terakhir kita nantinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Riyan Fajri adalah mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi Swasta di daerah Pancoran, Jakarta Selatan. Sekarang aktif berorganisasi di KAMMI dan saat ini mendapatkan amanah menjadi Ketua Umum KAMMI Madani Periode 2011 - 2012. Kritik dan saran buat penulis, bisa di kirim ke [email protected] atau FB : Riyan Fajri ([email protected])
  • Rama deye

    Amin…

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Hidup Hanya Sekali?