Home / Berita / Opini / Televisi Imamku?

Televisi Imamku?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comDunia teknologi berkembang semakin pesat. Dahulu televisi (TV) dianggap barang langka. Pemiliknya dianggap kalangan berkelas dan keluarga kaya.  Tidak heran, TV dianggap lambang prestise dalam kelompok masyarakat.

Tapi waktu terus berjalan. Adanya program listrik masuk desa mengubah segalanya. Kita dapat melihat bagaimana setiap rumah berhasil dimasuki TV. Kotak ajaib ini menyihir penduduk Nusantara. Mereka berlomba memiliki demi kepuasan informasi.

Sekitar tahun 1990-an, perkembangan media elektronik semakin deras. Saluran TV swasta bermunculan bagai jamur di musim hujan. Mereka menawarkan berbagai pendekatan dan gaya hidup baru bagi masyarakat.

Pergeseran budaya masyarakat akibat pengaruh TV mulai dirasakan mengalami perubahan dahsyat sejak tahun 1998. Kejatuhan Soeharto membuka peluang kebebasan berekspresi ditandai kemunculan banyak media baru yang menghegemoni pemikiran masyarakat. Di balik UU kebebasan pers, televisi mewarnai pola pikir masyarakat dalam memandang sesuatu persoalan. Akhirnya jadilah masyarakat konsumen empuk berbagai agenda setting pemilik dan penguasa media TV.

Pengaruh ini diakui banyak menghasilkan dampak positif. Banyak informasi disajikan cepat dan menghapus batas wilayah. Misalnya, Kejadian banjir suatu negara dapat diterima informasinya oleh penduduk negara lain. Berbagai variasi seperti iklan, sinetron dan film dapat tumbuh subur ditunjang kepentingan industri media audio visual ini.

Tapi, kemajuan televisi tidak hanya membawa dampak positif. Banyak pula dampak negatif yang merambah hingga ke berbagai lini kehidupan.

Pertama, budaya membaca yang kini mulai terkikis dan nyaris hilang. Hasil studi Pisa tahun 2009 menyebutkan skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia adalah 402, di bawah skor rata-rata negara Organization for Economic Cooperation and Development (493). Indonesia menempati peringkat ke-58 dari 65 negara peserta studi PISA 2009. Posisi Indonesia berada kalah dari Montenegro (408), Yordania (405), dan Tunisia (404).

Masih berdasarkan studi PISA dari enam tingkatan (level) kemampuan membaca, dan menghubungkan satu atau banyak informasi, baik yang bertalian maupun bertentangan, lebih dari 50 persen siswa Indonesia berada pada level ke-2. Adapun kemampuan menafsirkan dan memadukan informasi skornya hanya 399 atau peringkat ke-56 dari 65 negara. Bagaimana dengan tingkat kemampuan memadukan atau menginterpretasikan informasi? Lebih parah lagi. Lebih dari 50 persen siswa Indonesia menempati peringkat di bawah level ke-2.

Nilai budaya yang dipertontonkan TV mengajak anak malas membaca. Mereka lebih banyak asyik duduk depan TV menikmati sajian TV. Repotnya, banyak tayangan TV tidak bersifat edukatif dan hanya memuaskan keinginan syahwat kepentingan kapitalis media. Akibatnya, selain anak malas membaca mereka juga cenderung mempraktekkan adegan buruk yang ditampilkan televisi.

Kedua, mengajak masyarakat hidup konsumtif. Dalam kehidupan sekarang, TV sudah mengalami pergeseran tren. Jika dulu media TV berkembang sebagai pusat hiburan, pendidikan dan informasi. Tuntutan zaman menghendaki berbeda, TV berkembang semakin memikirkan kepentingan pemilik modal dan mengabaikan kebutuhan konsumen akan tayangan berkualitas.

Lihat saja, berapa banyak acara TV mengajak masyarakat menjadi berpola hidup boros. Mereka disuguhi tampilan acara kuliner, properti dan keindahan serta kemudahan berbelanja di departemen store. Gaya hidup mewah ditampilkan melalui tayangan pameran baju modis yang kadang berbenturan dengan budaya ketimuran.

Merespon dampak negatif itu, sudah waktunya kita tersadarkan. Gerakan Ayo Sehatkan TV perlu dimunculkan. Masyarakat tidak boleh hanya duduk diam berpangku tangan. Ketika ada sajian TV tidak mendidik, mengajarkan kekerasan dan melanggar kesantunan. Mulailah memprotesnya melalui surat, telepon langsung ke redaksi atau melaporkan ke pihak berwenang.

Jangan sampai TV merusak masa depan anak Indonesia. Sebab semakin dekat anak depan TV tanpa selektif memilih tayangan. Kita semakin menghadapi ketakutan besar TV menjadi orang tua dan imam bagi karakter buruk pendidikan anak.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan peneliti Insure. Tinggal di Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Ahlu Sunnah Menyoal Konsep Imam Ma’shum Syiah