Home / Dasar-Dasar Islam / Sirah Nabawiyah / Kekuatan di balik Kesederhanaan

Kekuatan di balik Kesederhanaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cahpct.wordpress.com)

dakwatuna.comPoin lain dari sepuluh hikmah kesederhanaan Mekkah adalah tidak ada pemerintahan terpusat, ini yang ketiga. Yang ada hanyalah sebuah majelis yang terdiri dari 10 dewan yang mewakili 10 suku Arab seperti demokrasi. Dan masih ada beberapa sistem sosial politik buatan mereka sendiri yang pada dasarnya mempunyai sisi kebaikan. Misalnya sistem Jiwâr, saat seseorang menjamin keselamatan yang lain. Sehingga jika yang terjamin itu diganggu maka ia akan menghadapinya. Rasulullah memanfaatkan sistem ini untuk kepentingan dakwah Islam, sehingga beliau mengambil Mut’im bin Adiy yang kafir untuk menjamin keselamatannya. Namun partisipasi Rasulullah ini bukan tanpa batas. Selama semua sistem buatan manusia itu tidak merangsek pagar halaman Islam, Rasulullah memanfaatkannya.

Keempat, orisinalitas bahasa Arab. Mengapa bahasa Arab yang dipilih Allah? padahal saat itu ia adalah bahasa yang paling sedikit digunakan dibanding bahasa-bahasa besar dunia, seperti latin, atau Persia, atau Cina, atau India. Karena Allah-lah yang Maha Tahu bahwa d sana ada landasan kokoh untuk menampung bangunan keilmuan masa depan, bahkan akan dipakai hingga hari kiamat dan di akhirat nanti.

Bahasa Arab mempunyai daya kalimat yang sangat tinggi, sehingga ia terungkap dalam beberapa kata namun berarti beberapa jilid buku. Ia memiliki probabilitas penggunaan kalimat sangat luas. Misal, ada 500 kata untuk menamai ‘singa’, 1000 kata untuk ‘pedang’, atau 4000 kata untuk ‘cerdas’. Dengan kekokohan bahasa ini, Qur’an menjelaskan seluruh persoalan hidup manusia dengan kosa kata yang tepat, sangat singkat, tapi akan pernah habis tinta samudera menulis makna-maknanya.

Dan penduduk Mekkah-lah pengguna terkuat bahasa Arab saat itu. Sehingga orang-orang kafir Quraisy sangat hati-hati untuk tidak mendengar Qur’an. Karena mereka faham mukjizatnya, mereka tidak akan mampu menahan hatinya agar tidak melayang saat mendengarnya. Karena bahasa Arab, mereka paham, bahkan mereka yakin bahwa Qur’an itu bukan karya manusia. Seribu penyair mereka pun tidak mampu menjawab tantangan Qur’an untuk membuat semisalnya.

Kelima, dakwah kepada yang terdekat. Persaudaraan Islam adalah persaudaraan keyakinan, bukan ras dan daerah. Penduduk bumi telah lupa bahwa hidup punya pencipta. Semuanya lupa dan melupakan, kecuali penduduk Mekkah. Mereka sadar itu, karena ”jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Niscaya mereka menjawab, Allah, jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan” [az-Zukhr: 87].

Jika aqidah itu terbagi menjadi tiga, yaitu yakin dengan pencipta [tauhid rububiyah], hanya menyembah pencipta yang satu [tauhid Uluhiyah] dan yakin dengan kesempurnaan sifat pencipta [tauhid asma wa shifat], maka masyarakat Mekkah masih mempunyai yang pertama. Itulah sebabnya mereka lebih diprioritaskan untuk didakwahi, karena hati mereka lebih mungkin menerima kebenaran Islam dibanding masyarakat ateis.

Yang menjadi masalah adalah pemahamannya. Saat mereka tidak beribadah kepada Allah, tapi kepada berhala, kepada materi, kepada dunia, sembari berkata, “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” [az-Zumar: 3].

Keenam hingga kesepuluh: adalah karakter bawaan mereka. Karakter paling dasar penduduk Mekkah adalah jujur, dermawan, pemberani, harga diri, dan sabar. Karakter-karakter itu adalah hasil didikan lingkungan dan tradisi mereka. Sehingga saat Abu Sufyan yang masih kafir ditanya Heraklius tentang pribadi Muhammad, harga dirinya melarangnya berbohong. Ia malah menjadi juru bicara penyampai risalah Islam, hingga ia berkata, “demi Allah, kalau saja aku berbohong, orang-orang tidak akan lagi menganggapku”.

Penduduk Mekkah tidak pernah menghitung untung rugi demi menjamu tamu, atau mendukung pemikiran yang mereka yakini dengan mengorbankan seluruh emas, rumah, bahkan recehan terkecil. Lelaki mereka tidak sudi mati di atas permadani, dan berbangga jika bersakit luka dalam perang. Bahkan hingga kematian menjemput, mereka tetap bersyair atas kebanggaan akan mati di sana. Mereka tidak menerima hidup dalam kehinaan. Jika harga diri salah seorang dari suku mereka terkoyak, puluhan tahun peperangan pun siap dikobarkan demi membelanya. Dan mereka adalah manusia-manusia yang paling tahan terhadap ujian hidup. Mereka sabar saat fakir, lapar, sakit dan penantian. Alam mereka menuntut mereka untuk tumbuh seperti itu. Walau terkadang karakter-karakter bawaan itu terjun ke jurang kehancuran. Saat dermawan menjadi boros, berani menjadi beringas dan ceroboh, harga diri menjadi sombong, dan sabar menjadi lamban.

Tapi saat Islam mewarnai jiwa mereka, terciptalah kesempurnaan antara ambivalensi sifat itu dengan arahan-arahan yang moderat. Sehingga muncullah pahlawan-pahlawan seperti dalam mitos. Abu Bakar dan Utsman yang berkali-kali kaya dari bisnisnya lalu berkali-kali memulai lagi dari nol setelah mereka berinfak. Atau Khalid yang lantang menantang Kisra Persia, “anda sedang menghadapi pasukan yang sangat mencintai kematian seperti anda mencintai hidup”, tapi ia tetap rasional dalam berstrategi seperti dalam perang Mu’tah. Atau seperti harga diri Rasul dan sahabat di Madinah yang menggelar Fathu Makkah, karena kafir Quraisy menodai perjanjian Hudaibiyah. Dan kesabaran mereka teruji sejak masa penindasan pembesar Quraisy hingga perang Ahzab.

Semua karakter alami Mekkah ini mengajarkan kaidah-kaidah membangun umat Islam saat ini dan masa depan. Bahwa umat harus menjaga orisinalitas sumber agamanya [Qur’an dan Sunnah] dari tuduhan dan penodaan; bahwa Allah-lah yang mutlak memberikan kemenangan-kemenangan gemilang Islam walau umat dalam jumlah yang sedikit; bahwa umat Islam boleh memanfaatkan sistem-sistem sosial-politik buatan manusia yang ada selama tidak menyentuh batas aqidah dan syariah; bahwa generasi pemegang kendali kepemimpinan masa depan adalah generasi yang menguasai bahasa Arab sehingga mereka memahami inti Islam dan menancapkan pemahaman itu hingga ke setiap pori-pori jasadnya untuk bergerak; bahwa dakwah dimulai dari yang terdekat dengan fikrah Islam; bahwa generasi baru Islam tidak akan bangkit kecuali kejujuran, keberanian, pengorbanan, harga diri, dan kesabaran tertancap kuat dan menjadi karakter dasar hidup mereka. Inilah sepuluh hikmah kesederhanaan Mekkah yang menjadi kekuatan Islam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,15 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Elvandi, Lc
Muhammad Elvandi lahir di Bandung hari Sabtu tanggal 15 November 1986.Ia memulai pendidikannya di SDN Cibuntu 5 Bandung, selesai tahun 1998, SLTPN 25 Bandung selesai tahun 2001, hingga menuntaskan pendidikan dasarnya di SMUN 9 Bandung tahun 2004.Bahasa Arab mulai dikenalnya dari dasar selama dua setengah tahun di institut Bahasa Arab dan Studi Islam, Mahad Al Imarat Bandung dari tahun 2005-2007. Juga bahasa Inggris di LBPP-LIA selama sembilan bulan.Pengalaman menulis pertamanya adalah sebuah novel epic timur tengah zaman perang salib yang diselesaikan tahun 2006, Syair Cinta Pejuang Damaskus, diterbitkan pertama kali oleh As-Syamil kemudian oleh penerbit Pro-U.Pengalaman mengajar ia dapatkan ketika menjadi guru bahasa Inggris di SMU 11 Maret Bandung tahun 2006-2007 dan pelatih English Conversation untuk guru-guru SDIT Fitrah Insani Bandung Barat.Pertengahan tahun 2007 mendapatkan beasiswa kuliah S-1 di Universitas al-Azhar Mesir, dan mulai belajar di Cairo bulan November 2007, di fakultas Ushuluddn, jurusan Dawah wa Tsaqfah al-Islmiyyah.Selama menjadi mahasiswa di Mesir kembali menekuni aktivitas kepenulisan di beberapa buletin dan majalah mahasiswa. Juga terjun dalam aktivitas organisasi. Dan aktif juga menjadi pembicara materi keislaman dan trainer Leadership, Public Speaking dan kepenulisan di berbagai komunitas dan organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir.Buku keduanya terbit tahun 2010 berjudul Inilah Politikku oleh penerbit Era Intermedia.Bulan Oktober 2010, Elvandi menikahi seorang muslimah Prancis keturunan Turki, Neslihan Keles. Dikaruniai seorang putra bernama Alperenhan Fatih Cakrawala.Sekarang sedang melanjutkan pendidikan master di Institut Europen des Sciences Humaines (I.E.S.H.) de Paris Perancis, juga mengembangkan situs kajiannya
  • Annas Wibowo

    Kita menghendaki kebangkitan yang benar dan berdiri di atas pencampakan semua akidah, pemikiran atau sistem yang tidak terpancar dari Islam. Kita pun menghendaki kebangkitan yang tegak di atas pelepasan segala hal yang menyalahi Islam sejak dari akarnya. Semua itu tidak akan pernah tercapai, kecuali dengan melanjutkan kehidupan Islam dan mengubah negeri dari dar al-kufr menjadi Dar al-Islam.

  • M Shohibur Ridak

    semoga merekalah yang memimpin dunia!

    (i love islam)

Lihat Juga

Ilustrasi. (playbuzz.com)

Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak di Era Digital