Home / Berita / Opini / Sebuah Analisis Globalisasi: “(Re)interpretasi Gerakan Islam”

Sebuah Analisis Globalisasi: “(Re)interpretasi Gerakan Islam”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (demosainscreative.wordpress.com)

dakwatuna.com Dalam KBBI, globalisasi (arus global) diartikan proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Agaknya definisi ini masih terlalu umum dan memiliki berbagai definisi turunan,  yang bisa jadi salah satu dari definisi turunan tersebut terlampau jauh dari makna induknya. Sehingga diperlukan penelusuran lebih jauh tentang terminology globalisasi ini. Sampai saat ini, asal istilah globalisasi masih menjadi bahan perdebatan. Frank (1998) menyebutkan bahwa istilah globalisasi pertama kali muncul saat terjalinnya perdagangan antara Peradaban Lembah Indus (bagian barat daya India) dengan Sumer (bagian selatan Mesopotamia) 3000 tahun sebelum masehi[1].  Zaman keemasan Islam (750-1255 M) merupakan tahap awal yang juga penting dari globalisasi ini, karena memang pada masa rentang masa itu Islamlah yang memberikan kontribusi terbesar di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya bagi dunia. Di masa itu, Yahudi, pedagang Muslim dan para penjelajah membangun ekonomi yang berkelanjutan yang mengakibatkan terjadinya globalisasi di bidang hasil tanam, teknologi dan perdagangan[2].  Sedangkan Fredman (1999) mengartikulasikan globalisasi sebagai sebuah interelasi yang sedemikian eratnya antara negara, pasar dan teknologi. Kondisi ini memungkinkan baik perorangan, perusahaan, maupun negara untuk lebih mudah menjangkau ke seluruh penjuru dunia, lebih cepat, lebih dalam, lebih luas dan tentu saja lebih murah daripada sebelumnya. Dari sini kita bisa menyimak bahwa istilah Globalisasi muncul berawal dari dunia perdagangan, yang tidak jauh dari kata-kata komoditas dan pasar. Teknologi di sini hanyalah alat penyokong untuk kemudahan proses perdagangan tersebut.

Semakin ke sini, medan globalisasi semakin kental dengan arus pertukaran budaya dan berbagai ideologi yang ada di dunia. Berbagai gerakan baik itu gerakan politik hingga kepercayaan mulai memanfaatkan medan yang dimunculkan oleh orang-orang dagang ini sebagai media untuk menyebarluaskan doktrin-doktrin mereka. Seperti kita kenal ada gerakan-gerakan kepercayaan seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Budhisme,dll. Di gerakan ideologi seperti Marxsis, Masonry, Liberalis, Orientalis, dll dan juga gerakan politik seperti Westernisasi dan sebagainya.

Kita tahu, tahun 1924 M nahkoda kepemimpinan Islam di Turki Utsmani tumbang akibat tindakan makar oleh Mustafa Kamal At-Taturk. Tiada lagi kepemimpinan Islam terpusat, yang dikenal dengan istilah Khilafah Islamiyah. Tidak ada lagi satu kesatuan jamaah yang mengikat seluruh kaum muslimin di alam ini dengan satu kepemimpinan khilafah (Jamaatul Muslimin), yang ada sekarang hanyalah kelompok-kelompok kaum muslimin yang disebut dengan istilah Jamaatun minal Muslimin. Ada pun kelompok-kelompok tersebut seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Salafi, Jamaah Tabligh, dll yang bersifat trans nasional (lintas negara) dan kelompok-kelompok lokal yang kita kenal di Indonesia seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dsb.

Cita-cita luhur dari gerakan-gerakan Islam jelas sudah, yaitu menggapai kejayaan Islam kembali dalam naungan Khilafah Islamiyah. Khilafah Islamiyah bukanlah menjadi cita-cita dari salah satu gerakan Islam yang ada sekarang, tetapi ini adalah milik semua umat Islam. Akan tetapi memang untuk mencapai cita-cita tersebut terdapat perbedaan metode di setiap gerakan-gerakan yang ada, dan tak jarang karena perbedaan dalam hal metode ini mengakibatkan pelemahan yang satu dengan yang lainnya dan rawan menimbulkan perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Jika memang menyatukan umat Islam itu dirasa sulit, yang terpenting adalah menghimpun kekuatan di antara kaum muslim itu sendiri untuk satu tujuan yang luhur. Dengan prinsip open mind (berpikir terbuka), memberikan ruang-ruang toleransi bagi perbedaan yang bersifat ijtihadi dan berpegang teguh pada Al-Quran dan As-sunnah, maka optimisme akan kejayaan Islam itu semakin besar.

Berkaca dari sejarah awal Globalisasi hingga sekarang, maka setidaknya penulis mengungkapkan ada tiga role (peran) yang memberikan dampak dominan terhadap perubahan yang bersifat mendunia. Pertama adalah pencetus istilah globalisasi itu sendiri, yaitu orang-orang dagang. Substansi orang-orang dagang yang dimaksudkan adalah mereka yang dapat menghasilkan kekayaan yang bersifat materi. Mengapa ? Alasan pertama yaitu secara naluriah setiap warga dunia mencari  dan menginginkan kekayaan material. Alasan selanjutnya ialah dengan sumber daya materi yang besar maka perubahan itu akan lebih mudah untuk diwujudkan, meski materi bukanlah segala-galanya dari faktor perubahan tersebut. Kedua, adalah peran ideolog (jika dalam Islam yakni Ulama). Karena ideologi merupakan prinsip dasar yang berkaitan dengan cara berpikir manusia, maka setiap tindak perbuatan akan mengacu pada ideologi yang dianut. Ia adalah tolak dasar pemikiran, yang bisa mewarnai setiap perubahan yang diusung, termasuk besar kecilnya perubahan tersebut. Para Ideolog akan terus menyebarkan ideologi-ideologinya karena mereka beranggapan bahwa dengan ideologi yang mereka usung, maka kebaikan itu akan tercapai. Apalagi ideologi yang bersifat kepercayaan, masing-masing kepercayaan meyakini dan mengakui bahwa ini adalah perintah suci Tuhan (menurut kepercayaan masing-masing) yang harus disebarkan demi kebaikan seluruh umat manusia. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa dalam sejarah dunia ada para penjelajah dunia di zaman imperialisme, yang kita kenal dengan istilah Gospel. Dan peran ketiga adalah Penguasa. Jelas sudah, penguasa adalah pemegang kebijakan di konteks ruang dan waktu ia berada. Jadi peran penguasa akan dominan terhadap perubahan yang terjadi, meskipun tidak menutup kemungkinan adanya tidak makar dari bawah, atau yang sering dikenal dengan people power.

Ketiga peran di atas mesti di asah dalam kubu Islam untuk memberikan perubahan mendunia dengan harapan bisa meraih kejayaan kembali. Yaitu pertama dengan mengasah semangat jiwa berdagang di kalangan umat Islam, yang dalam arti luasnya bisa berarti jiwa-jiwa entrepreneurship. Hal ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan sebagian besar dari Sahabat Beliau yang berprofesi sebagai saudagar yang sukses dan kaya. Dengan demikian umat akan bangkit dengan sumber daya yang kuat dan perlahan lepas dari ketergantungan lapangan pekerjaan yang tersedia termasuk kepada pemerintah, seperti contoh masih banyaknya kaum muslim yang bercita-cita mutlak ingin menjadi PNS, selain itu tidak mau.

Selanjutnya adalah memperkuat peran Ulama dalam kebijakan-kebijakan publik, mencari pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang terjadi dan tentunya pembentukan moral umat. Karena ulama adalah pewaris Nabi, yang mampu memahami firman-firman Allah dan mengkontekskannya dari teks-teks untuk ranah kontemporer. Jadi sangat disayangkan jika perubahan yang diusung kurang pas ataupun kurang barakah karena bingung dan tak mampu dalam mengkontekskan firman Tuhan dengan zamannya. Kemudian Islam juga mesti memberikan perhatian lebih terhadap pemegang kekuasaan. Kekuasaan memang bukanlah segala-galanya, ia hanyalah sebuah wasilah (kendaraan) untuk perubahan yang diridhai Allah SWT. Jangan sampai kekuasaan jatuh kepada pihak-pihak yang secara terang-terangan memusuhi Islam. Di samping itu semua, perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyokong efektivitas dan efisiensi dari ketiga peran tadi, sehingga ini pun juga sangat diperlukan.

Terakhir adalah, di manakah posisi kita sekarang dan di manakah nantinya kita akan turut berpartisipasi ? Mari sama-sama kita renungkan dengan akal dan naluri yang sehat dan mencoba untuk memahami esensi untuk apa semuanya ini kita lakukan, yang tak lain adalah untuk menggapai ridha Illahi, sehingga ketika di lapangan nanti setiap tindak dan perbuatan akan kita kembalikan pada esensi tersebut. Wallahu a’lamu bishowab.


Catatan Kaki:

[1] Andre Gunder Frank, “Reorient: Global economy in the Asian age” U.C. Berkeley Press, 1998.

[2] John M. Hobson (2004), The Eastern Origins of Western Civilisation, p. 29-30, Cambridge University Press

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ardian Umam adalah seorang Mahasiswa Teknik Elektro UGM 2009. Dia lahir di Klaten, 14 Juli 1991. Saat ini dia aktif sebagai Tim Redaksi Media Center Jamaah Shalahuddin Lembaga Dakwah Kampus UGM. Dia adalah salah satu penerima beasiswa dan pembinaan PPSDMS Nurul Fikri Angkatan 5 Regional Yogyakarta dan juga beasiswa Tanoto Foundation 2010.

Lihat Juga

Ilustrasi. (collegeaffairs.in)

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini

Organization