Home / Berita / Perjalanan / Pameran Peradaban Islam di Los Angeles

Pameran Peradaban Islam di Los Angeles

Pintu masuk gedung pameran (Aidil Heryana)

dakwatuna.comJika berbicara mengenai dunia Muslim, media sering kali berfokus pada kebijakan luar negeri, terorisme dan perbedaan antara dunia Muslim dan Barat. Tapi, dalam buku 1001 Inventions: Muslim Heritage in Our World, profesor University of Manchester, Salim Al-Hassani, menghadirkan potret baru mengenai Muslim dengan menyoroti kemajuan seni dan sains mereka. Artinya bahwa dunia Islam telah memberikan sumbangsih besar terhadap teknologi yang dikembangkan dunia barat. Pesan itu hendak disampaikan dalam pameran ‘1001 Inventions: Discover the Muslim Heritage in Our Worlddi California Science Center, Los Angeles.

Diane Perlov, Wakil Presiden California Science Center, mengatakan dunia barat begitu mengabaikan sumbangsih ilmuwan Muslim terhadap ilmu pengetahuan dunia. Sebabnya, melalui pemeran ini, pihaknya ingin mengkomunikasikan akar multikultural limu pengetahuan. “Pameran ini berupaya menunjukan adanya penemuan ilmiah bangsa di luar Eropa dan Amerika,” kata Diane Perlov.

Pameran tersebut sekaligus meruntuhkan stereotipe bahwa Muslim identik dengan kekerasan. Dengan memaparkan kepada pengunjung tentang kekayaan warisan budaya Muslim, pameran ini berupaya menghilangkan pandangan negatif yang terbentuk dalam Orientalisme, yakni perspektif Barat tentang Timur yang kerap dikritik lantaran merepresentasikan secara keliru budaya Timur sebagai budaya yang kurang inovatif dan secara umum berseberangan dengan budaya Barat. Pandangan ini telah tersebar selama berabad-abad di Barat. Capaian-capaian ilmiah dari masa keemasan Islam pun mengejutkan semua pengunjung, terlepas dari apa agama mereka. Bagi banyak Muslim Amerika pun, pameran ini adalah kali pertama mereka belajar mengenai penemuan-penemuan itu, karena masa keemasan Islam adalah periode sejarah yang tidak diajarkan di kebanyakan sekolah di Barat.

Meskipun era yang ditampilkan dalam pameran tersebut dipandang sebagai zaman keemasan Islam, era yang sama merupakan zaman kegelapan Eropa. Perbedaan ini disinggung dalam film pendek 1001 Inventions and The Library of Secrets (1001 Penemuan dan Perpustakaan Rahasia) yang ditayangkan pada awal pameran. Film ini dibintangi oleh aktor pemenang Academy Award, Ben Kingsley, yang memerankan ilmuwan Turki abad ke-12, Al-Jazari. Film tersebut bercerita seputar remaja abad ke-21 yang dipandu oleh Al-Jazari dalam sebuah petualangan untuk menemui para ilmuwan dan insinyur pada zaman keemasan Islam. Film ini memenangi penghargaan Film Pendidikan Terbaik di Festival Film Cannes 2010.

Begitu pengunjung menyusuri ruang pameran yang dihiasi warna ungu dan emas, mereka akan diarahkan menuju ekshibisi utama, yakni sebuah replika jam tenaga air setinggi 20 kaki—atau sekitar 6 meter—yang diciptakan oleh Al-Jazari. Di seberang jam ini ada sebuah model mesin terbang yang didesain oleh ilmuwan abad ke-9, Abbas ibn Firnas, yang dianggap sebagian orang sebagai ilmuwan pertama yang melakukan upaya ilmiah untuk menerbangkan manusia. Peragaan populer lainnya adalah sebuah lukisan kapal Zheng He (Cheng Ho), laksamana Muslim dari China abad ke-15, yang memiliki kapal dengan perkiraan besar seluas lapangan sepak bola.

Pameran tersebut juga menonjolkan para ilmuwan dan penemu non-Muslim, seperti Maimonides – tabib Yahudi abad ke-12 dari Kordoba, Spanyol – yang bekerjasama dengan para filsuf Muslim. Kehadirannya dalam pameran ini menandakan keberhasilan kemitraan lintas budaya yang dijalin para ilmuwan, yang menyumbangkan berbagai penemuan ilmiah terbesar dalam sejarah.

Sejarah kemitraan ini juga mencerminkan fakta bahwa para penemu dari masa keemasan Islam memang mengembangkan capaian pengetahuan dari para pendahulu mereka di zaman kejayaan Romawi dan Yunani, dan karya para ilmuwan Muslim pun nantinya dikembangkan oleh para penemu Eropa di zaman Renaissance.

Kesalingterkaitan ini memperlihatkan kekayaan warisan capaian pengetahuan yang sama-sama diupayakan manusia.

Pameran yang disponsori oleh Jameel Foundation — organisasi akademik nirlaba– itu dengan tema “1001 Inventions: Discover the Muslim Heritage in Our World”. Dalam pameran ini, pengunjung yang datang tidak dikenai biaya dan bisa menyaksikan berbagai hasil temuan dan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam mulai dari abad ke-7.

Pameran pertama telah usai diselenggarakan dengan memecahkan rekor di Musium Sains London dengan 400.000 pengunjung pada bulan Juni 2010 dan pameran kedua di Ikon & Sejarah Sultan Ahmed Square di Istanbul dengan 390.000 pengunjung. Pameran ini juga telah terselenggara di New York Hall of Science dan berakhir April 2011. Dan pameran yang penulis hadiri sekarang tengah berlangsung di California Science Center, Los Angeles, sebelum nantinya pindah ke National Geographic Museum, Washington DC pada 2012.

Dengan ini, para pengunjung pameran dapat menyadari bahwa berbagai perbedaan antara Timur dan Barat saat ini dapat kita kesampingkan, karena sejarah menunjukkan bahwa penemuan-penemuan ilmiah terbesar yang masih digunakan sekarang sebetulnya adalah hasil dari kerjasama para ilmuwan dari seluruh dunia. (ah)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Aidil Heryana, S.Sosi
"Aidil" adalah panggilan kesehariannya. Lahir di Jakarta pada tahun 1964 dan sekarang telah dikaruniai Allah 4 orang anak. Manajer SDM di Ummigroup Media ini adalah lulusan dari SMA Negeri 8 Jakarta, LIPIA (I'dadul Lughoh Masa'iyah), dan Institut Agama Islam Al-Aqidah. Pernah aktif di Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 8 Jakarta, dan di Bi'tsatud Du'at PKPU. Saat ini mengemban amanah sebagai Pembina Yayasan Sahabat Insani. Moto hidupnya adalah "Hidup Mulia atau Mati Mulia".

Lihat Juga

Menteri agama Turki menerima perwakilan muslim Rohingya. (Islammemo.cc)

Menag Turki: Dunia Islam Bertanggungjawab atas Tragedi Muslim Rohingya