Home / Berita / Analisa / Kecemasan Israel di Balik Revolusi Arab

Kecemasan Israel di Balik Revolusi Arab

Ilustrasi (voiceseducation.org / hdn)

Oleh: Sholeh Nu’aimi
Kajian di lembaga riset Al-Zaytouna

dakwatuna.com Para pejabat Israel mencemaskan efek dari revolusi yang terjadi di negara-negara Arab. Mereka menilai revolusi yang tengah terjadi saat ini akan didominasi oleh gerakan Islam sekaligus akan melebarkan hegemoninya di tanah Arab. PM. Israel, Benjamin Netanyahu merupakan sosok yang sangat khawatir dengan hal ini, ia mengingatkan dunia akan kondisi serupa dengan membandingkannya dengan revolusi Iran. Menurutnya, revolusi yang terjadi dilakukan oleh kelompok pergerakan yang menentang rezim Syah yang berkuasa pada saat itu, dan berakhir dengan berdirinya negara Islam di Iran. Bukan hal yang mustahil menurut pemimpin penjajah ini, revolusi di Mesir akan menjadi tonggak bangkitnya gerakan Islam dan lahirnya “Mesir Baru” sebagai produk dari revolusi.

Netanyahu tak hanya mengingatkan akan bahayanya apabila gerakan Islam berkuasa, tapi ia juga mengkampanyekan akan terancamnya demokrasi dengan hadirnya pesaing baru melalui revolusi Arab. Ia bahkan menelurkan ide, agar dibentuk penggalangan dana internasional yang fungsinya mensupport gerakan anti Islam di negara-negara Arab. Netanyahu mengistilahkannya dengan Liberalisasi, dan sikap serupa sama seperti gerakan Marshall yang dilakukan oleh Amerika setelah meletus Perang Dunia II untuk mendukung Eropa Barat. Dalam hal ini Netanyahu telah mengirim Eran Lerman, asisten penasihat Keamanan Nasional Israel ke Amerika untuk menyampaikan idenya tersebut kepada para pemimpin Kongres Amerika.

Di tengah upayanya membuat citra buruk terhadap revolusi ‘Arab Spring’ dan mengadu domba dunia dengan isu ini, para elit Israel membenarkan analisa dari Netanyahu dengan mengambil contoh dari apa yang pernah dilalui Iran dan gerakan Hamas, dan mengingatkan dunia bahwa cukup keberhasilan keduanya sebagai pelajaran. Mereka kemudian membahasakan bahwa apa yang terjadi di Mesir saat ini bukanlah sebuah revolusi melainkan tak lebih dari sebuah kudeta. Karena menurut analisa mereka, peristiwa ini akan berujung dengan naiknya gerakan Al Ikhwan Al Muslimun sebagai penguasa di sana. Mesir kemudian akan mendirikan sebuah negara Islam representasi Sunni. Israel dalam hal ini mengkampanyekan bahwa perubahan di Mesir tidak mengarah kepada demokrasi dan kebebasan, tapi mengarah kepada yang sebaliknya.

Yossi Beilin, anggota Knesset Israel, telah memberi peringatan kepada dunia internasional agar tidak memberi kesempatan kepada kubu Islam untuk memimpin. Ia kemudian menyalahkan sikap presiden Amerika, Barack Obama yang membiarkan semua ini terjadi. Menurutnya Obama tak ubahnya Jemmy Charter, mantan presiden Amerika yang melakukan kesalahan fatal dengan bersikap cuek terhadap penggulingan Monarki di Iran. Yang ujungnya tidak hanya berakhir dengan tamatnya rezim kerajaan di Taheran namun juga perubahan frontal yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan baru Iran. Ia kemudian menyebut bahwa revolusi yang telah terjadi di Mesir berpotensi memutuskan hubungan negeri itu dengan negara sekuler dan Barat. Apa yang terjadi di Mesir menurutnya sama seperti yang terjadi di Iran, ada sutradara di balik layar yang memiliki target merunyamkan perdamaian dan rekonsiliasi dengan Israel.

Saat ini, Elyakin Hatsena, salah satu pemimpin pemukiman di Tepi Barat mengatakan bahwa dengan kesuksesan gerakan Islam dalam mencapai tampuk pemerintahan dengan jalur revolusi Arab, menyimpan artinya adanya dukungan mereka terhadap pemerintahan gerakan pejuang Hamas, yang pada waktu bersamaan turut menekan kekuatan Israel untuk melawan Hamas. Indikasi itu terlihat dengan adanya potensi yang dimiliki oleh Mesir dalam menopang Hamas dengan senjata dan serta memberikan perlindungan secara tidak langsung, dan ini semua dapat melemahkan kemampuan Israel dalam menghadapi kubu gerakan perlawanan di Palestina. Sekaligus tidak menafikan akan kemungkinan terjadinya gesekan -di saat pemerintah Mesir dipimpin oleh kubu Islamis- antara Mesir dengan Israel di perbatasan.

Adapun agenda mereka dalam mengkampanyekan ancaman dari revolusi Arab yang akan diambil alih oleh gerakan Islam, maka kita akan menemukan bahwa para pejabat di kalangan elit Israel juga mengkampanyekan akan ancaman gerakan Hamas di Jalur Gaza, mereka kerap menggelar kampanye untuk menjatuhkan gerakan yang bertentangan dengan kepentingan mereka. Terlebih dari itu Israel mencoba untuk menggeser keabsahan revolusi yang tengah berlangsung di ranah Arab dengan menuduh bahwa semua itu diboncengi oleh kepentingan gerakan Islam untuk mengambil alih kekuasaan. (msy/knrp)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Hanif

    Aneh, kalo ada sebuah negara ga demokratis disalahin, demokratis juga disalahin. Pelajarannya, demokrasi memang bukanlah masalah utama, melainkan aktor-aktornya.

  • wicak saben

    Ikhwanul Muslimin pasti membawa perubahan pada kebijakan Mesir terhadap Israel.

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General