Home / Berita / Opini / Memurnikan Kembali Identitas Negeri…

Memurnikan Kembali Identitas Negeri…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Kita Telah Dikuasai Mimpi
Untuk Menjadi Orang Lain
Kita Telah Menjadi asing
Di tanah Leluhur Sendiri
Orang-orang Desa Blingsatan, Mengejar Mimpi,
Dan Menghamba Ke Jakarta
Orang-orang Jakarta Blingsatan, Mengejar Mimpi
Dan Menghamba Ke Jepang, Eropa Atau Amerika

(WS Rendra, sajak Sebotol Bir)

Ilustrasi (politikana.com)

dakwatuna.comItulah kita kini. Disekap oleh berbagai mimpi dan nyaris kehilangan jati diri. Mungkin banyak yang telah pikun akan kekayaan negeri sendiri. Lupa dengan slogan Gemah Ripah Loh Jinawi. Atau syair yang menyebutkan batu dan kayu jadi tanaman. Sudah terlupakankah semua itu?

Sadarilah, identitas negeri ini mulai lapuk akibat erosi budaya. Anak-anak tidak lagi bercita-cita menjadi dokter, polisi, atau tentara. Aset negeri itu kini telah terbius gemerlap dunia keartisan. Bukan hanya mereka yang metropolis. Wong ndeso pun ikutan bermesraan dengan mimpi-mimpi instan tersebut. Rupiah si Ibu dan tetesan keringat sang Ayah dikorbankan untuk menjerumuskan anaknya ke gelanggang sandiwara. Waktu-waktu senggang Mereka tidak lagi diisi bermain atau belajar. Semua itu telah tergantikan dengan bimbingan menyanyi, bermain musik, hingga latihan acting.

Sekolah sebagai kunci masa depan cemerlang, tergerus oleh kesibukan para pencari mimpi. Setiap jengkal waktunya dipenuhi casting iklan, film, ataupun sinetron. Dan ketika anaknya tampil di kaca bergambar yang disebut televisi. Dengan congkaknya sang pembimbing mimpi (Ayah dan Ibu) berkata, “Anakku telah menjadi artis”. Padahal, si bocah hanya menjadi figuran yang tampil selama tiga detik. Parahnya lagi, ia Cuma kebagian peran sebagai pengemis yang tengah mengais sampah. Jauh dari kehidupannya yang ber-sedan ria ke manapun. Aneh sekali….

Dunia entertain memang menjanjikan khayalan yang menggiurkan. Selain rupiah yang berlimpah, popularitas juga akan terenggut dengan mudah. Hebatnya, pola pikir generasi negeri ini telah mengarah ke sana. Angannya, prestise hanya dapat diraih dengan uang dan wajah jumawa yang kerap nongol di layar kaca. Sedangkan jabatan presiden, pilot, guru maupun pengusaha, dinilai tidak seksi lagi. Acong tidak lagi ingin menjadi polisi. Begitu juga Sitorus yang enggan berpakaian loreng. Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Inilah kisah nyata liberalisasi hidup. Seorang koruptor yang menyumbang masjid atau gereja jutaan rupiah, lebih dihargai. Sedangkan si Umar Bakri yang terus menggenjot sepeda bututnya untuk mencerdaskan anak-anak negeri ini. Tercaci dan tenggelam bersama kemelaratannya. Kejinya, si guru idealis itu kerap menjadi bahan para ibu menakuti anaknya yang tak mau makan.

Desa-desa negeri ini tak lagi ramai dengan depakan kaki permainan si Asep, Ucok dan Euis. Mereka kini tengah sabar bergantian masuk ke lorong selebritas yang mereka impikan dengan didampingi emaknya yang berkerudung satin pudar Walau harapan tersebut setipis ari, wajah sayu Mereka tetap berbinar. Khayalan Mereka berkata, “Sebentar lagi semua mimpiku akan tertunaikan. Aku akan menjadi artis terkenal”. Sedangkan cerita-cerita heroik guru yang menjadi pemulung atau polisi yang bersepeda ria mengatur lalu lintas, telah terhapus dari memorinya. Yang ada kini, hanya kalimat “Aku harus jadi artis, bukan yang lainnya. Hanya dengan itu, tumpukan materi dan kepopularitasan akan diraih,” Igau Mereka sambil terus maju setapak.

Mungkin inilah hasil modernisasi atau lebih tepatnya westernisasi. Karena kita semua sadar, kiblat penduduk Indonesia adalah Negara-negara yang berada di bagian barat. Bukan timur, utara ataupun selatan. Model Negara hingga gaya hidup, telah terkooptasi dengannya. Padahal negeri ini memiliki gaya hidup, budaya, dan tata pemerintahan sendiri. Sejak nenek moyang, keraton dan kesultanan telah hidup menjadi bagian inti nusantara. Pun begitu dengan budaya turun rembuk dan gotong royong yang telah menjadi gaya hidup. Bahkan sejak dulu, anak-anak sangat kreatif dalam mencipta mainan dari kayu, anai-anai ataupun bambu. Tapi kini, mungkin semua itu tinggal kenangan. Republik presidensial, demokrasi dan mainan produksi pabrik telah disepakati sebagai substitusinya.

Ini hanya sebuah refleksi kondisi negeri. Percayalah bahwa kini kita mulai kehilangan arah dan melupakan sejarah. Ketika Sumanto lebih dikenang daripada Jenderal Revolusi Soedirman. Atau tokoh kebangkitan nasional seperti Boedi Oetomo yang terlibas populer dengan Tora Sudiro. Juga Gagak Rimang yang legendaris kalah laris dengan David Beckham. Yakinlah, negeri ini mulai kehilangan budayanya. Saat pemuda lebih memilih bermain musik underground dan dangdut dibandingkan karawitan, keroncongan atau campursari. Sama seperti gasing, patok lele dan gobak sodor yang kalah saing dengan game virtual seperti play station, Sega, ataupun Nintendo. Termasuk pula sarana uji intelektualitas semacam Lomba Cerdas Cermat (LCT) yang ditinggalkan pelajar karena Mereka lebih memilih berebut jadi peserta modelling dan festival band. Fakta ini oleh Rendra disebut terhanyut dalam budaya yang tak dikuasai. Hanya mampu berak dan makan, tanpa ada daya menciptakan.

Sejarah mungkin benar-benar tinggal sejarah. Awak negeri ini tidak lagi bangga dengan budayanya sendiri. Anggapannya, segala sesuatu yang bukan dari barat adalah kuno, primitif dan memalukan. Mungkin ada yang menyela pernyataan ini dengan berucap, “Saya tetap mencintai budaya leluhur. Begitu juga teman-teman lainnya”. Tapi peradaban baru ini tetap berlari dan membuktikan eksistensinya. Sedangkan sang penyangkal hanya mengimbanginya dengan merangkak sambil terseok-seok.

Identitas negeri ini telah tergadai nyaris tak tertebus. Seandainya penyadaran massal menemui jalan buntu. Dapat dipastikan Indonesia akan menjadi bangsa amnestik. Budaya dan sejarah hanya menjadi hiasan dan pajangan museum-museum butut yang lama tak terjamah. Ya…, negeri ini akan terserang wabah amnesia retrograd. Melupakan fakta-fakta sejarah orisinil negeri ini. Hanya mengingat budaya dan tren yang modern, lebih publistik dan dianggap mendunia. Kelak, tak ada lagi pemuda yang bangga memakai pakaian daerah. Kebanggaannya ada pada gaya funker, tato warna-warni dan anting-anting bergelayutan. Sambil jalan, berdendang dan berteriak sesukanya di tengah langit sunyi termakan gulita.

Harus ada pelurusan pola pikir. Generasi muda tidak boleh membenci perkembangan dunia. Tapi juga, haram hukumnya meninggalkan peradaban asli Indonesia. Tidak salah ketika ada pemudi yang menyanyi lagu Backstreet Boys dengan pakai kemben bersanggul. Atau bergaya Elvis Presley tapi mendendangkan syair Bengawan Solo. Toh semua itu bagian dari sejarah Indonesia. Yang pantas dibanggakan dan patut disyiarkan ke seluruh dunia. Karena budaya Indonesia adalah sebuah kebanggaan, bukan kehinaan. Dan seluruh generasi harus menyadarinya dan bila perlu dipaksa untuk sadar.

Kita harus menata ulang keramahan yang menjadi ciri khas negeri ini. Sikap individualis bukan warisan leluhur kita. Pun begitu dengan kata-kata culas yang makin nyentrik seperti Elo, Gue, End…. Atau lelucon-lelucon narsis dan berbau penistaan yang makin digemari. Kita adalah penduduk bermartabat dan menjunjung tinggi moral. Siap menjadi pendengar bagi Mereka yang ingin mengeluh. Cepat berbuat kepada insan yang memohon bantuan. Serta bersikap ramah dan menghargai siapapun.

Selayaknya disadari bersama bahwa Indonesia berdiri dengan mahkotanya sendiri. Tidak ada Indonesia yang keamerikaan, keinggrisan atau keprancisan dan begitu sebaliknya. Indonesia tetap berwarna merah putih. Seluruh generasi ini harus mulai menyadarinya dan mulai membangun dengan ilmu dan kerja keras. Tidak melulu lewat even-even sesaat yang kadang sesat. Kegemilangan prestasi pasti dapat diraih dengan kerja otak dan tetesan peluh. Ikutilah perkembangan zaman tanpa harus terlibas olehnya. Jangan sampai negeri ini kehilangan identitasnya. Karena Kita Semua Cinta Indonesia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fajar Sidik, SH
Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP Universitas Airlangga Prodi Media dan Komunikasi.

Lihat Juga

Dari Masjid untuk Negeri Tercinta