Home / Berita / Opini / Akhlak dan Ekonomi

Akhlak dan Ekonomi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.comDalam presentasinya, peneliti junior Bank Indonesia bapak Ali Sakti, M.Ec menjelaskan bahwa, akar dari semua masalah ekonomi kita adalah disebabkan oleh dua faktor besar yaitu kesalahan manusia dan kesalahan sistem. Kesalahan manusia disebabkan oleh kebobrokan akhlak (moral hazard) dimana norma-norma sosial yang terkandung di dalam agama tidak menjadi panduan dalam berperilaku. Contoh nya adalah pengguna NARKOBA di Indonesia diperkirakan mencapai 2-3 juta orang. Jika diasumsikan pengguna NARKOBA tersebut menghabiskan Rp 500 ribu setiap pekan, atau Rp 2 juta per bulan, maka volume transaksi NARKOBA bisa mencapai Rp 6 triliun perbulan. Dalam setahun bisa mencapai Rp 72 triliun. Angka tersebut sama dengan belanja Indonesia untuk menanggulangi krisis global. Hal yang serupa juga terjadi pada transaksi pelacuran. UNDP mengestimasikan tahun 2003 di Indonesia terdapat 190 ribu hingga 270 ribu pekerja seksual komersial yang tiada lain mereka adalah para pelacur dengan 7 hingga 10 juta pelanggan. Artinya setiap pelacur rata-rata melayani 37 pelanggan (rasio maksimum). Jika diasumsikan akhir tahun 2008 tumbuh 20% atau sekitar 324 ribu, dan jika rasio pelacur dan pelanggannya masih sama yaitu 1 banding 37, maka diperkirakan pelanggan pelacuran mencapai 12 juta pelanggan. Dan jika diasumsikan, setiap pelanggan mengeluarkan Rp 1 jt perbulan, maka transaksi pelacuran per tahun mencapai Rp 144 triliun.

Dari kedua hal di atas bisa kita perkirakan biaya untuk transaksi amoral di atas setara dengan 46 jembatan Suramadu dan 3,6 kali belanja Indonesia untuk orang miskin per tahun. Lalu bagaimana dengan judi atau korupsi? Oleh sebab itu pengentasan masalah ekonomi bangsa, harus melalui dua pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah perbaikan akhlak di seluruh lapisan masyarakat, dan pendekatan yang kedua adalah perbaikan sistem dengan sistem Islam.

Masalah Ekonomi Kontemporer

Lebih dari satu abad sistem ekonomi konvensional melayani kepentingan manusia dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan mereka. Kemajuan berupa kelengkapan infrastruktur, akses informasi canggih, serta teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan manusia, di klaim menjadi kesuksesan ekonomi kapitalis. Kepuasan individu menjadi pokok perhatian dalam kehidupan berekonomi. Akibatnya variabel-variabel keberhasilan dalam ekonomi hanya diukur pada keberhasilan materi saja. Tidak heran jika kemudian perilaku ekonomi dari individu-individunya juga sangat konsisten dengan paradigma kekuatan pasar (kapitalisme), kepuasan individual (individualisme), dan materialistik (materialisme).[1]

Namun pada prakteknya teori ekonomi kapitalis tidak sesuai antara tujuan dan kejadian nyata di lapangan. Kemakmuran yang diharapkan malah menciptakan jurang pemisah yang lebar antara pemilik modal (orang kaya) dengan orang miskin. Kekacauan ekonomi seringkali terjadi, kerakusan yang terjadi di antara sebagian individu masyarakat dan semangat kepedulian akan sesama, tergerus habis oleh hawa nafsu pribadi. Katanya peradaban manusia kini ada pada masa keemasannya, namun kenyataannya data-data sosial manusia semakin menunjukkan peradaban ini semakin tidak beradab. Lihat saja angka kemiskinan, kekurangan gizi , kelaparan, konflik sosial, kriminalitas, dan pengangguran yang semakin tinggi padahal barang-barang  mewah selalu habis di pasar, gedung-gedung mewah semakin menjamur dan menjulang tinggi, angka konsumsi semakin besar. Busung lapar yang terjadi bisa menjadi salah satu buktinya. Sebagaimana disitir Menkes Siti Fadilah Supari, ada sekitar 1,67 juta anak balita di Indonesia yang menderita gizi buruk.[2] Hal tersebut terjadi bukan karena kurangnya pangan di negeri ini tetapi karena permasalahan distribusi yang tidak merata. Itu semua dibuktikan pada saat yang sama banyak orang yang obesitas atau kelebihan kalori ditambah lagi dengan pola konsumeristik masyarakat yang walaupun harga barang melambung tinggi namun tidak mengurangi daya beli mereka. Berkenaan dengan teori distribusi, ekonomi kapitalis memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa melihat apakah itu semua terdistribusi secara merata atau tidak.. ternyata akar permasalahannya adalah moral atau keimanan pada tuhan. Kekacauan sosial sepatutnya dientaskan bukan diawali oleh subsidi-subsidi yang bersifat sementara. Namun harus dimulai dengan menyandarkan hakikat hidup dan kehidupan manusia, urgensi mengetahui kekuasaan dan kehendak Tuhan atas manusia.[3]

Sistem ekonomi kapitalis jelas tidak bisa menjadi solusi, mekanisme pasar yang hanya dijadikan satu-satunya sistem dalam distribusi pada ekonomi kapitalis, telah memunculkan sekelompok orang kaya dan semakin membuka ruang kesenjangan yang teramat besar kepada orang fakir miskin.

Kemiskinan  yang terjadi juga dapat menimbulkan dampak-dampak sosial lainnya seperti kekurangan gizi (kesehatan), Kebodohan (pendidikan), ketidakberdayaan (sosial), kelangkaan akses (politik), ketertinggalan  (budaya).[4] Kelima hal tersebut dapat digambarkan dalam gambar siklus berikut ini:

Lingkaran Setan Keterbelakangan

Solusi Masalah Sosial dan Ekonomi

Kehidupan sosial dengan segala pernak pernik permasalahannya tidak dapat dipecahkan kecuali dengan dana, misalnya masalah kefakiran, hanya dapat diselesaikan dengan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Masalah ilmu, banyak orang yang tidak bisa sekolah atau melanjutkan studi karena tidak mempunyai dana yang cukup. Masalah kelemahan, banyak orang yang mempunyai cacat fisik, atau kecelakaan yang tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian ada orang yang butuh dana untuk menikah, namun karena tidak punya biaya terpaksa telat menikah. Masalah tempat tinggal, banyak orang yang tidak mampu membeli rumah untuk tempat tinggal. Bahkan dakwah Islam pun tidak akan bisa menang di tengah arus hedonisme dan sekularisme saat ini,  jika tidak ditopang oleh dana yang besar. Berarti kecukupan dana memegang peranan yang sangat penting dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi bangsa ini.

Allah SWT telah mensyariatkan kepada kita beberapa sistem yang merupakan mekanisme distribusi, agar aliran dana bisa tersalurkan secara adil dan merata. Sistem-sistemnya adalah sebagai berikut:

  1. Sistem Zakat
  2. Sistem sedekah
  3. Sistem wakaf
  4. Sistem nafkah
  5. Sistem seperlima dari harta rampasan perang
  6. Sistem harta terpendam
  7. Jaminan umum dari baitul mal bagi setiap orang dalam wilayah Islam.

Dengan keseluruhan mekanisme di atas maka Islam telah menyiapkan mekanisme yang menjamin kesejahteraan masyarakat lewat distribusi yang adil.

 


Catatan Kaki:

[1] Sakti, Ali, Analisis Teoris Ekonomi Islam: Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Kontemporer, (Jakarta: Pradigma & Aqsa Publishing,, 2007), h.Xii

[2] http://hizbut-tahrir.or.id/2007/07/02/metode-distribusi-kekayaan-menurut-islam/

[3] Sakti, Ali, Analisis Teoris Ekonomi Islam: Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Kontemporer, (Jakarta: Pradigma & Aqsa Publishing,, 2007), h.Xii

[4] Platform kebijakan pembangunan PK-Sejahtera

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lahir di Pontianak pada tahun 1987. Saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Telah menikah dan dikaruniai 1 orang anak. Bekerja sebagai Staf Divisi Kemahasiswaan STEI SEBI Depok.

 

Lihat Juga

Ilustrasi. (dainikpurbokone.net)

Ekonomi Islam Menjadi Tren Dunia