Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Sudah Sejauh Mana

Sudah Sejauh Mana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wallpapermixs.blogspot.com)

dakwatuna.com Siapa yang dizhalimi namun mendoakan yang menzhalimi?

Siapa yang dicemooh, dihina dan diejek namun memberi makan yang mencemooh di sudut pasar?

Siapa yang diembargo kabilahnya tak boleh berinteraksi dengan komunitas luar namun tidak pernah secuil rasa pun terbesit untuk membalas dendam?

Siapa yang dikejar dan bersembunyi dalam gua lalu terusir namun ketika kembali(fathu makkah) malah melindungi orang-orang yang dulu mengejarnya hingga bersembunyi bersama wazirnya yang lemah lembut?

Siapa yang dikecam keras oleh sahabat dekatnya di perjanjian Hudaibiyah namun tak pernah tersulut api amarah walaupun ia jauh lebih mengetahui dampak perjanjian itu?

Siapa yang menerima saran sahabatnya untuk berkemah lebih dekat ke mata air, walaupun ia jauh lebih mulia di sisi Tuhannya namun tak otoriter dan menerima segala saran?

Pembaca yang baik sungguh kita telah pernah dikirimkan seorang tauladan yang tiada tandingan, ia adalah utusan yang memperbaiki umat yang ketika itu lalai dan menjadikan khamr menjadi sebuah status kemuliaan serta berhala sebagai koleksi di dalam Ka’bah.

Sudah sejauh mana kita mencintai Nabi kita, sudah sedalam apa kita mempelajari langkah demi langkahnya dalam dakwah?

Pembaca yang baik sudahkah kita merenung lebih dalam kenapa kaki bengkak tak menghentikan qiyamullailnya, sampai Aisyah RA perlu memastikan apa kiranya tujuan ia yang ma’shum berlama-lama qiyamullai padahal dosa sebelum dan sesudahnya telah diampuni?

Sejauh mana kita mengetahui langkah-langkah sabarnya ketika dikejar dan diusir oleh budak-budak di Thaif setelah amul huzni(tahun kesedihan) dan tiada lagi yang melindungi dakwah Islam di semenanjung Arab pasca wafatnya pamannya, Abu Thalib. Sudah sejauh mana kita ketahui tabahnya ia menerima cemoohan nenek tua di pinggir pasar, sembari menyuapinya hingga akhir hayat?

Pembaca yang dimuliakan ALLAH, sudahkah kita memahami jalan dan sejarah agama kita yang sudah disempurnakan dan akan terus dijaga sepanjang dunia ini masih ada?

Sudah sejauh mana kita paham bahwa sabarnya adalah di atas sabar kita, syukurnya di atas syukur kita, sakitnya di atas sakit kita serta tangisnya di atas tangis kita?

Mari membaca dan memahami jalan cinta Murabbi sepanjang masa, tokoh harakah sepanjang masa, uswah sepanjang masa, salam cinta dan shalawat semoga tercurah padanya, Rasul ALLAH Muhammad SAW.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers

Organization