Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nasihat Memilih Pasangan Hidup

Nasihat Memilih Pasangan Hidup

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (singkawangstrike.blogspot.com)

dakwatuna.com – Bismillah…

Teringat dengan beberapa baris kata yang sering sekali terekam di dalam kepala,

“Tak perlu menuntut yang sempurna, dan mempersulit keadaan yang sebenarnya sederhana. Sebab padamu juga kelemahan itu selalu ada. Yang benar adalah sempurnakanlah niat awal kita, jika ia penuh berkah dan ridha dari-Nya, maka titik kemuliaan menjadi seorang manusia, Insya Allah akan dimudahkan oleh Allah untuk ada dalam diri kita”

Ada juga sebuah selentingan yang cukup “menggigit”,

“Semakin banyak kriteria, semakin banyak syarat, semakin banyak keinginan.. maka bersiap-siaplah kecewa. Apa penyebabnya ? karena bisa jadi yang diharapkan tak seindah realita, yang disyaratkan tak sempurna dalam lakunya. Maka berharap menemukan seseorang dalam kesempurnaan hanya membuat yang sederhana menjadi rumit dan tak mudah untuk dicerna”

Tentang penggalan kalimat kedua di atas. saya (lagi-lagi) teringat buku Serial Cinta-nya Anis Matta, di topik “Mengelola Ketidaksempurnaan”

“Apa lagi ketampanan yang tersisa di dunia ini ketika telah dibagi habis kepada Nabi Muhammad SAW, dan Yusuf AS. Dan kecantikan yang telah disempurnakan kepada Sarah istri Ibrahim AS dan Khadijah RA Istri Rasulullah. Hingga pesona kebajikan pun telah direnggut habis oleh Utsman bin Affan dan keluruhan budi telah dimiliki secara purna oleh Aisyah RA”

Lalu apa yang tersisa bagi kita manusia? Kita hanya terbagi sedikit (kalaupun ada) keshalihan-keshalihan para salafushalih yang telah hidup dalam cinta pada-Nya secara sempurna. Maka mengharap sebuah kesempurnaan pada seseorang, apalagi ukurannya adalah cantik, kaya, punya kedudukan, juga sangat shalih tanpa cela. Maka bersiap-siaplah kecewa serta bersiap-siaplah untuk terpasung dalam kerumitan. karena mencari satu dari sekian banyak pasangan jiwa dengan kriteria di atas, tak lebih hanya menyulitkan keadaan dan memperkecil kesempatan.

Tapi ini soal SELERA? Ini soal pasangan jiwa yang akan kita punya seumur hidup kita? Kalau kita tak CINTA, kita tak TERTARIK.. bisa kacau akhirnya?

Karena jawaban-jawaban inilah. Kita tengok saja hati-hati kita. Sebab jika NIAT Lillahi Ta’ala, maka kemuliaan pernikahan akan sangat jauh kedekatannya dengan nilai-nilai DUNIA. Ia hanya lekat dengan sebuah tujuan sederhana, “Menikah untuk membuatku lebih cinta pada-Nya, lebih tenteram beribadah kepada-Nya, menjaga kehormatan dan farj-ku dari kemaksiatan, dan menyempurnakan agamaku dan agamanya agar jauh lebih menghamba”. Jika ini terpasung kuat di dalam diri. Maka tambahan kriteria-kriteria lain yang lebih terkesan dunia, Insya Allah akan mulai mudah hilang dalam hitungan waktu yang berikutnya.

Sebagai kalimat penutup, saya ingin menuliskan barisan kalimat sederhana berikut :

“Ukurlah diri.. Berkacalah sedetail mungkin. Karena bisa saja CELA itu jauh lebih banyak dibanding kriteria yang telah diinginkan. Maka tanyalah pada hati yang jernih agar bisa memberi fatwa. Manakah patokan yang harus kau pakai. Jangan sampai hanya ukuran dunia yang menjadi tujuan kita”

Allahu’alam Bishawab

Taipei, 21 Juni 2011

Ditulis beberapa pekan menjelang pernikahan saya


Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (185 votes, average: 9,30 out of 10)
Loading...Loading...

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai salah satu lokasi awal terjadinya kerusahan SARA diawal tahun 2000-an. Malifut, sebuah kecamatan kecil di Halmahera Utara. Sudah hampir 2 tahun saya belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran. Ingin sejenak mengenang sungai kecil tempat men...ceburkan diri dan belajar berenang ketika masih berseragam merah putih. Ingin sejenak bercerita pada sungai-sungai jernih yang sering menemani soreku bersama para sahabat untuk menangkap udang, ikan atau sejenisnya, kemudian diperlihara secara sederhana dirumah. Meski akhirnya, selang beberapa hari, peliharaan-peliharaan itu harus mati karena tak cukup oksigen. Buatku, masa kecil hingga remaja akan sangat mempengaruhi pola hidupmu dalam tahun-tahun mendatang. Kenangan hidup didaerah pelosok adalah wangi harum bumi yang merasuk erat di dalam tubuhku. Menghabiskan hari dengan memancing ikan, meski dengan itu harus sedikit nakal karena tak menuruti perintah ayah-ibu untuk tidur, adalah kenangan-kenangan hidup yang terlalu sulit untuk sekedar kulupakan. Juga menghabiskan malam di surau kecil dengan terang lampu yang tidak sebercahaya di kota, membuatku duduk menyepi sambil menghafal ayat demi ayat di Juz Amma, kemudian melaporkan kepada Ustad-ku yang sudah siap dengan rotan bambu-nya yang cukup membuat betis pedia jika salah dalam berbuat. Sungai, bukit, hutan, mengaji, bermain sepuasnya, adalah hari-hari yang mengagumkan dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Sayangnya, alam tak mau menempatkanku berlama-lama dengannya. Tahun 1999, di akhir tahun seingatku. Semua penghuni rumah dibangunkan karena kerusuhan SARA baru saja bergolak. Memasuki fase baru dalam hidup yang jauh berbeda dengan sebelumnya, tentu membuatmu tegang. Dulu, yang biasanya kuhabiskan sore dengan memanen sayur atau tanaman di kebun luas milik kakakku, kini harus berganti dengan deruan pukulan tiang listrik, membuat bom, hingga berita-berita tentang kematian demi kematian. 2 tahun masa itu kulewati hingga rasanya sangat kebal ketika menyaksikan perang, melihat mayat, hingga termenung memandang puing-puing rumah yang terbakar.

Memasuki awal 2000, akirnya semua harta keluarga ludes, terbakar, dan hanya meninggalkan puing sejarah yang terlalu kelam untuk sekedar di kenang.

Kujejakkan kakiku di Ibu kota Provinsi Maluku Utara kala itu. Ternate namanya… Cukup prestisius dimataku. Karena setidaknya, aku bisa menyaksikan mobil yang banyak lalu lalang, menyaksikan teriakan orang-orang di pasar-pasar yang cukup ramai. Semuanya mengingatkanku dengan kebiasaan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depan warung kecil keluargaku. Sering sekali kuhitung berapa jumlah motor yang lalu lalang dalam 3 atau 4 jam, kemudian membayangkan, kapan kira-kira tempat kelahiranku ini menjadi ramai seperti kota-kota yang ada di tayangan televisi yang kusaksikan. Mungkin semegah Surabaya, ketika kukunjungi dalam usiaku yang ke 11. Atau seluas Bau-bau yang kecil namun berkesan bersama penjual madu yang melimpah. Itu impian sederhana dari seorang Ario kecil. Terlihat aneh jika kuingat-ingat sekarang :)

Ternate, buatku adalah awal gerbang kompetisi. Menikmati masa SMP di SMP N. 4 Ternate, kemudian menamatkan SMA di SMA N. 1 Ternate, adalah bagian dari cerita hidup yang selalu dahsyat untuk di kenang. Menghabiskan masa remaja bersama berbagai aktivitas dan banyaknya karakter menumbuhkan semangat tersendiri buat saya untuk sekedar memahami lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Hingga ketika berumur 17 tahun, sebuah musibah kecil menimpa keluargaku, yang kemudian, akhirnya menyatukan kepingan-kepingan kerapuhan dalam diriku untuk mengajaknya bertahan, terus berirama dan beresonansi bersama nyanyian hidup yang mau tidak mau harus ku teruskan. Setidaknya, episode kecil itu membuatku lebih memahami siapa kekuatan Maha Dahsyat dibalik takdir yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa kecil ini juga mempererat tali cinta antara aku bersama bidadari-bidadari-ku dalam keluarga kami. Mungkin jarang terucap, namun kami punya cara untuk sekedar saling merasa tentang keadaan kami yang masih sama-sama belajar. Mereka, saudara-saudariku, adalah sosok pemberi sejuta inspirasi, juga sosok-sosok hangat yang selalu mengerti siapa aku dan bagaimana aku dengan segala keterbatasannya. Mereka pula yang akhirnya mampu menafsirkan, bagaimana seharusnya hidup itu bertransformasi, bagaimana seharusnya sebuah hubungan darah mampu terbangun dan menjadikan istana kehidupan kita berseinergi bersama keinginan alam yang matu tidak mau harus kita hadapi. Merekalah guruku.. Merekalah inspirasi yang takkan pernah kendur, dan takkan pernah habis dimakan zaman.

Dan akhirnya, 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menghabiskan hariku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pilihan menjadi seorang Insinyur adalah takdir yang harus kutulis dan kujalani. Hingga dalam perjalananku, aku menemukan mereka-mereka yang menggetarkan. Meski hanya lewat ucap, lewat laku, atau bahkan hanya dari buku-buku. 4 tahun bersama Yogyakarta, membuat karakterku tumbuh dengan segala “warna” yang ada padanya. Mengenal pribadi-pribadi Al-qur’an di kota ini telah menyihir segala pemahamanku tentang hidup dan orientasi dalam menjalaninya. Mungkin saya tidak merasa, namun sejatinya, pengaruh-pengaruh mereka telah membentuk karakter dan idealisme yang baru. Semuanya kudefenisikan sebagai proses perubahan. Hidup sangat dinamis, jika karaktermu tetap sama dalam bilangan tahun yang terus terlewati, maka ada yang salah dengan ke-dinamis-anmu. Maka dinamisasi jugalah yang membuat karakter siapapun ikut berubah. Satu hal penting yang tak boleh hilang. Proses transformasi ini harus senantiasa kembali kepada-Nya, berjalan dalam jalur-Nya, dan berkembang sesuai dengan titah-Nya.

2 September 2009. Kumulai menuliskan episode baru dalam hidupku. Sebuah transformasi hidup yang juga baru akan kujalani. Di negeri formosa, akan kulukis cerita, kucatatkan pelangi pada langit-langitnya hingga nanti semua kumpulan episode ini menjadi berharga dimata-Nya. Taiwan Technology atau National Taiwan University of Science and Technology adalah tempat dimana kutitahkan semua perjalanan ini. Membuat cerita baru di tempat yang baru tentu perlu adaptasi yang keras juga membutuhkan proses dan waktu yang memadai. Semoga cerita di formosa, menjadi kenangan indah, seperti kenangan masa kecilku, remajaku, hingga menjemput tranformasi hidup di bumi Yogyakarta.

2 Tahun, akan kujalani cerita bersama tumpukan paper, tugas kuliah, dan tentunya bermacam aktivitas yang akan menemaniku untuk membentuk karakter yang lebih utuh. Anggap saja ini adalah “jalan-jalan”. cerita “jalan-jalan” untuk merebut “jalan” panjang menuju syurga-Nya, jalan sederhana yang sengaja tergariskan oleh-Nya untuk menguji apakah sosok Ario akan terlindas oleh zaman atau akan kokoh bersama waktu. Semoga proses ini menumbuhkan siapapun yang melewatinya, menumbuhkan sakura hingga bersemi, mencairkan salju hingga datang panas, dan mengeringkan suhu yang sering membuatku menggigil ketika musim dingin tiba.

Alhamdulillah, sebelum menggenapi cita-cita untuk lulus master dari Taiwan Technology, aku meminang seorang gadis Trenggalek, Ratih Nur Esti Anggraini dengan mengcuapkan mitsaqan Ghaliza pada tanggal 2 Juli 2011. Dan 17 hari kemudian, Allah memberikan hadiah indah yang lain, di hadapan Prof. Yang CC (NTOU), Dr. Wang H. (China Consultant Inc.), Prof. Chun, Tao Chen (Taiwan Tech), dan Advisor saya, Prof. Chang Ta Peng, saya berhasil mempertahankan Thesis saya dan mendapatkan gelar M.Sc.(Eng) atau MSE.

Saat ini, saya bersama Istri sedang menikmati episode baru menjadi sepasang suami-istri yang semoga dapat saling mencintai karena Allah satu sama lain.

teruslah berjuang kawan, karena episode hidup selalu akan bertransformasi mengikuti usahamu.

Lihat Juga

Ilustrasi. (compasplus.nl)

Life Success Triangle

  • Isliah Azzahra

    SubhanaALLAH…..dekatkanlah aku dengan jodohku ya RABB…pertemukanlah aku dengannya dalam Ridha-Mu agar keberkahan selalu dalam genggamanku, tidak dia yang sempurna tapi aku akan menjadikannya sempurna di mataMu, ya ALLAH merajut pernikahan dengan seorang ikhwan yang bisa menjadi imam bagi keluargaku kelak,,Amin

    • mas iful

      SubhanaALLAH…..dekatkanlah aku dengan jodohku ya RABB…pertemukanlah
      aku dengannya dalam Ridha-Mu agar keberkahan selalu dalam genggamanku,
      tidak dia yang sempurna tapi aku akan menjadikannya sempurna di mataMu,
      ya ALLAH merajut pernikahan dengan seorang Akhwat yang bisa menjadi pendampingku dan
      bagi keluargaku kelak,,Amin Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16075/nasihat-memilih-pasangan-hidup/#ixzz1fdwjg8Gk

    • Sri Fatimah

      Aamiin .

  • Anonymous

    Terkadang
    dengan seringnya bercermin maka akan sering merasa diri ini tak ada apa2nya
    bila dibandingkan dengan orang lain. Jadi malah kurang bersyukur yang akhirnya
    timbullah rasa kurang PD (Percaya Diri)

  • Anonymous

    Terkadang
    dengan seringnya bercermin maka akan sering merasa diri ini tak ada apa2nya
    bila dibandingkan dengan orang lain. Jadi malah kurang bersyukur yang akhirnya
    timbullah rasa kurang PD (Percaya Diri)

  • Ri-fresh

    Ya Allah, cintakanlah kami kepada yg mencintai-Mu. aamiin….

  • Ri-fresh

    Ya Allah, cintakanlah kami kepada yg mencintai-Mu. aamiin….

  • http://twitter.com/AndraMaho andra kampret

    xixixxixxi jadi pengen c4 ni :)

  • delima seroja

    Ya Allah tetapkanlah hati hamba tuk berada dalam ketentuanMUMU agar IKHLAS dan TAWAKAL menerima segala KetetapanMU. AMin

  • Tumangkanaya

    Assalamualaikum..ijin copas mbak..:))

  • Tumangkanaya

    Ijin copas..terima kasih :)

  • Shandireiza

    Ya Allah…karuniakanlah kami jodoh/pasangan yg terbaik dr sisiMu yg dpt menjadi sahabat dlm urusan Agama,dunia serta Akherat

  • telaga biru

    nggak usah memilih itu kalu kita sudah mendaptkan pasangan hidup, kalau kita belum punya wajar untuk memilih agar jangan menyesal d kemudian hari

  • Rangga_67

    bagaimana jika kita ingin menikah dihalagi oleh jujuran di indonesia…..

  • Erni Vebriyantie

    Semua inginkan yg sempurna, Pada akhirnya hanya Allah yang tahu yang terbaik utk smuanya….

  • Alif kecil

    usaha di iringi doa n berserah pada Nya, insya Alloh,.. ^_^

  • Tiharuli

    “Ukurlah diri kita”  ini yang gampang diucap , sulit dilaksanakan
    Kita lebih sigap menilai orang lain daripada diri sendiri lebih mudah komentari penglihatan kita dari pada ulah kita, istiqomahlah

  • mas iful

    SubhanaALLAH…..dekatkanlah aku dengan jodohku ya RABB…pertemukanlah
    aku dengannya dalam Ridha-Mu agar keberkahan selalu dalam genggamanku,
    tidak dia yang sempurna tapi aku akan menjadikannya sempurna di mataMu,
    ya ALLAH merajut pernikahan dengan seorang Akhwat yang bisa menjadi pendampingku dan
    bagi keluargaku kelak,,Amin Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16075/nasihat-memilih-pasangan-hidup/#ixzz1fdvxdmgU

    • Ayumie_ritzukha

      Amin

  • Yuli_ngilyati

    semua slalu berawal dari niat…hanya mengharapkan ridho dari ALLOH SWT… Bismillah…. (ijin share ya..)

  • Lestary_rena

    Subhanalloh artikel yg bgus 

  • mamed photoworks

    thanks untuk artikel ini

  • http://www.facebook.com/people/Rudy-Gondrong/1456233249 Rudy Gondrong

    matur suwun, artikelnya sangat memberi masukan..

  • http://www.facebook.com/RiriEzIshaQ Riezq Maula

    سُبْحَانَ اللّهُ ….

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100000618195297 Tria Warman

    :)

  • shandy

    bagaimana kalau mencari dengan mengukur dari tingkat keshalehah / tingkat keimanan juga tingkah laku?, hal ini semata-mata hanya pada nantinya sang calon bisa menjaga kehormatan keluarga yg tidak lain tujuan hanya kepada Allah SWT :) ? bisa kasih masukan ?

  • usama hanif

    Alhamdulillah ….

  • Sri Fatimah

    mudahkan kami ya Alloh dlm menjalankan ibadah hanya karenaMU. :)