Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Spirit Para Pahlawan

Spirit Para Pahlawan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.comTanpa terasa lebaran Idul Adha kembali menjelma di tengah-tengah kita. Ada rasa bahagia yang tak terkira, meskipun jauh dari keluarga. Yang penting masih bisa menikmati alunan takbir di negeri para anbiya. Allahu Akbar… Allahu Akbar… walillahilhamd.

Sobat muslim, setiap kali lebaran Idul Adha kita teringat kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Sebenarnya apa sih, yang membuat kisah itu diabadikan dalam al Qur’an dan menjadi momen bersejarah? Yup, kisah itu memberikan inspirasi buat kita untuk selalu ikhlas dalam berkorban. Mengorbankan apa saja demi meraih cinta dan ridha Illahi.

Kata anak muda sekarang cinta itu butuh yang namanya bukti, tul nggak? Maka untuk membuktikan cinta Nabi Ibrahim kepada Robb-nya, ia rela mengorbankan anak semata wayangnya. Anak yang selama ini ia cintai dan kasihi harus rela dikorbankan demi cinta Rabb-nya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Apapun yang kita cintai pasti akan berpisah. So, cintailah sesuatu itu sekedarnya saja, dan bencilah sekadarnya saja. Karena bisa saja apa yang kita cintai bisa berubah menjadi sesuatu yang kita benci dan sebaliknya.

Di sisi lain ada hal yang mesti kita contoh dari nabiyullah Ibrahim. Yaitu semangat kepahlawanannya dalam berdakwah di jalan Allah. Keberaniannya dalam menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya. Tak ada rasa gentar dalam menghadapi musuh-musuh Allah meskipun harus rela dibakar dalam unggukan api. Tapi dengan izin Allah api tersebut menjadi dingin.

Kemarin ketika saya berbuka puasa Arafah bareng teman-teman. Seorang ustadz mengatakan bahwa seorang pahlawan itu mempunyai empat unsur. Pertama: Kesabaran, setiap perjuangan pasti memerlukan kesabaran, tanpa kesabaran seorang pejuang akan cepat merasa futur dan bosan. Kedua: Keberanian, ini adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang pahlawan. Bukan pahlawan namanya jika pengecut. Ketiga: Tanggung jawab, ada aksi pasti ada reaksi dan seorang pahlawan harus siap menerima resiko seberat apapun. Keempat: Semangat berkorban, untuk mencapai suatu tujuan harus ada pengorbanan, mengorbankan waktu main untuk belajar, waktu chating untuk membaca buku.

Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah SWT.

Pahlawan juga bukan orang suci yang turun dari langit untuk menyelesaikan masalah secepat kilat dengan mukjizat kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang yang adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis, begitu kata Pak Anis Matta dalam bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia”.

Semoga saja kita bisa mengambil spirit kepahlawan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di hari nan penuh pengorbanan ini, mulai dari korban sapi, kambing atau ada juga yang katanya korban perasaan (hehehe). Mari kita bangkitkan semangat berkorban untuk menjadi pahlawan yang akan mengukir jejak-jejak di langit sejarah.

Finally… saya ingin menyampaikan perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna: “Aku mampu membayangkan al mujahid itu sebagai lelaki yang senantiasa membuat persiapan, menyediakan bekalan, berupaya menguasai pikiran yang memenuhi setiap sudut jiwa dan segenap jurusan hatinya. Dia senantiasa berfikir dan fokus terhadap persiapan yang terus menerus. Apabila diseru dia menyahut. Apabila dipanggil dia menjawab. Pulang dan perginya, perkataan dan bicaranya, kesungguhan dan gurauannya tidak melampui bidang yang disediakan untuknya, Dia tidak mengambil tugas selain daripada yang telah diletak atau dituntut ke atasnya. Dia berjihad di jalan Nya. Kamu bisa membaca pada garis wajahnya, melihat pada kilauan matanya, dan mendengar pada gerakan lidahnya segala yang bergelora dalam hatinya berupa hawa yang melekat, kesakitan yang terpendam, keazzaman yang benar, kesungguhan dan cita-cita yang tinggi.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Rintihan Pahlawanku