Perjalanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (johnlund.com)

dakwatuna.com – Sabtu Ahad kemarin saya berkesempatan untuk pulang ke kampung halaman di Magelang. Perjalanan dari Tangerang ke Magelang saya tempuh dengan menggunakan kereta api. Seperti kebiasaan, kereta api yang saya naiki selalu penuh setiap Jumat malam. Banyak orang yang pulang ke rumah atau kampung halamannya setiap akhir pekan.

Saking penuhnya, tidak semua orang mendapatkan tiket duduk. Banyak orang yang mendapatkan tiket berdiri, tiket tanpa nomor tempat duduk. Walhasil sepanjang perjalanan mereka harus duduk di lantai gerbong, beralaskan kertas koran. Ataupun dengan merebahkan diri di lantai, dengan resiko akan dilangkahi oleh penumpang lain atau pedagang asongan yang berlalu lalang.

Namun hal itu bukanlah suatu alasan yang menghalangi niatan mereka untuk pulang ke rumah. Perjalanan dalam kondisi yang tidak mengenakkan, yang harus ditempuh dalam 10-12 jam, cukup sebanding dengan kesempatan untuk pulang. Kesempatan untuk sampai di rumah, kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai. Semua ketidaknyamanan selama perjalanan itu akan terbayar lunas saat mereka bertemu dengan orang yang mereka cintai. Tujuan akhirlah yang membuat mereka bertahan dalam perjalanan yang penuh dengan rintangan.

Bila untuk perjalanan di dunia, kita sanggup untuk bertahan.
Bagaimanakah dengan perjalanan kehidupan itu sendiri?
Bukanlah hidup kita ini adalah sebuah perjalanan?
Perjalanan untuk pulang ke rumah kita yang abadi, pulang ke kampung akhirat.

Seharusnya kita menyadari, bahwa kehidupan di dunia hanyalah sebuah perjalanan. Kehidupan di dunia bukanlah tujuan akhir kita, kehidupan setelah kehidupan di dunialah tujuan yang ingin kita capai.

Apabila kita menyadarinya, maka semua kesulitan yang kita hadapi dalam “perjalanan” ini bukanlah sebuah penghambat. Sesusah apapun “perjalanan” ini, kita akan bertahan. Tidak ada cukup alasan yang dapat membuat kita untuk berhenti dalam “perjalanan” ini.

Karena kita tahu, “perjalanan” ini hanya sebentar. Karena kita tahu di sana sudah menanti tujuan kita yang sebenarnya, tujuan akhir kita, kampung akhirat. Tempat yang abadi, tempat kita berkumpul dengan yang kita cintai. Semoga.

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir” (HR Bukhari).

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Grafis LGBT adalah penyakit. (facebook)

Jalan Baru Ghazwul Fikri