Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Muhasabah Hatiku…

Muhasabah Hatiku…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Ikutilah orang-orang yang gembira, dan berlindunglah pada kesabaran niscaya akan bahagia. Yang menggelapkan hari-hari dihujat tanpa alasan yang jelas. KAU baik kepada kami meski tak pernah dibalas terima kasih dan KAU cegah kami dari dosa, tapi kami tak pernah merasa berdosa. Dalam pembuatannya, kebijaksanaan Allah adalah sebuah kemenangan dari keteguhan hati. Dari sempit ke luar dalam kelapangan dan dari kesedihan kearah kegembiraan.

Kesempurnaan kebahagiaan itu terdapat dalam tiga hal:

a. Kebersahajaan dalam amarah

b. Kebersahajaan dalam syahwat

c. Kebersahajaan dalam ilmu

“Setiap sesuatu itu dimudahkan berdasarkan (untuk apa) dia diciptakan” Dia tak lain hanyalah waktu yang singkat dan setelah itu usai, orang yang berjalan bersyukur atas perjalanannya.

Orang yang paling bahagia adalah orang yang mendambakan akhirat. Tidak pernah iri kepada orang lain karena karunia Allah atas mereka. Dia berpegang pada risalah yang berasal dari prinsip yang benar dan contoh-contoh mulia yang berasal dari nilai kebaikan yang lalu ditularkan kepada orang lain. “Kenalilah Allah pada saat engkau dalam kemudahan, niscaya Allah akan mengenalimu pada saat engkau dalam kesulitan” Allah menurunkan cobaan bukan untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh mana kesabaran kita. “Aku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagi nabiku”, sungguh sebuah ikrar yang sangat sederhana tetapi bermakna sangat luas. Ridha kepada Allah berarti ridha terhadap semua hukum-Nya, ridha terhadap qadha dan qadar-Nya baik yang jelek ataupun yang baik, yang pahit ataupun yang manis.

Subhanallah, saat saya menulis ini, saya merasakan bahwa saya hanya seseorang makhluk yang sangat tidak berarti apa-apa. Selama ini Saya sering mendengar kalimat tersebut, tetapi sepertinya belum pernah saya merasakan ketakutan sebesar ini. Takut apakah saya telah ridha terhadap Allah, sebagai muslim dalam kehidupan saya saat ini.

Astaghfirullah… terbayang begitu banyak tumpukan dosa yang telah saya buat, saya sering mengeluh dengan apa yang selama ini saya dapatkan, saya sering merasa kurang dan tidak memiliki apapun dibandingkan orang lain di sekitar saya. Kenapa saya belum bisa ridha dengan qadha dan qadar yang telah digariskan oleh-Nya. Saya merasa saya sangat jauh dari bersyukur dengan apa yang saya miliki. Kesehatan, keluarga, teman dan cinta Allah yang selama ini selalu saya lupakan. Saya terlalu mengharap cinta dari manusia yang ternyata hanya sia-sia, cinta yang semu karena cinta yang seharusnya saya cari adalah cinta dari Allah, Rabbku!!

Karena hanya kepada Allah lah saya berdoa, menggantungkan harapan dan meminta. Karena saya harus sadar sebagai manusia, saya memiliki keterbatasan terlalu naïf dalam menjalani kehidupan yang saya jalani. Saya jadi teringat dengan kehidupan Rasulullah yang begitu sederhana dan penuh penderitaan saat beliau kecil. Beliau seorang yatim piatu yang sangat miskin, tetapi beliau ridha. Beliau pernah hidup sangat fakir tetapi beliau begitu ikhlas terhadap semuanya, begitu ridha terhadap Rabb-Nya. Begitu ridha saat semua orang-orang yang dia cintai pergi meninggalkannya, begitu ridha saat begitu banyak orang yang membencinya dan ingin mencelakainya. Beliau begitu pasrah, begitu ikhlas menerima semua. Ya Rabb, alangkah malunya hambaMu ini yang sering merasa putus asa dalam menghadapi cobaanMu yang sungguh tak ada seujung jari pun dari cobaan yang diterima oleh Rasulullah.

Hari ini kembali saya merasa Allah begitu menyayangi saya, saya berada di sekeliling orang-orang yang mencintai dan sangat saya sayangi. Selama ini saya baru sadar bahwa Allah sering mengabulkan doa-doa saya tetapi terlalu sering saya melupakan dan tak menghiraukannya. Astaghfirullah…hanya Allah yang tahu apa yang ada dalam hati saya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (57 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Emi Indra Soemitro
Lahir di Trenggalek Jawa Timur tahun 1982 dan saat ini bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan swasta.
  • Imansafariku

    ku rela Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagi
    nabiku”, sungguh sebuah ikrar yang sangat sederhana tetapi bermakna
    sangat luas. Ridha kepada Allah berarti ridha terhadap semua hukum-Nya,
    ridha terhadap qadha dan qadar-Nya baik yang jelek ataupun yang baik,
    yang pahit ataupun yang manis.suka tulisan ini

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Hatiku Hanya Terpaut Untuk-Mu