Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ahmad Adaby Darban, Guru dan Teladanku Telah Berpulang

Ahmad Adaby Darban, Guru dan Teladanku Telah Berpulang

Ahmad Adaby Darban (alm) ketika berorasi dalam aksi jasmerah (Facebook)

dakwatuna.com – Sedih sekali saya mendengar wafatnya Pak Ahmad Adaby Darban. Beliau adalah salah seorang guru dan sekaligus teladan dalam konsistensi dan komitmen. Pak Adaby, begitu kami biasa memanggil beliau, adalah sosok intelektual yang ramah, rendah hati, dan sangat dekat dengan para mahasiswa dan masyarakat.

Saya mulai mengenal beliau sejak saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) UGM sekitar tahun 1986. Berbagai dialog tentang sejarah pergerakan Islam dan sejarah kemerdekaan Indonesia renyah beliau sampaikan. Beliau memang sejarawan, sehingga sangat menguasai detail sejarah Indonesia. “Sejak kecil saya senang sejarah”, kata beliau suatu ketika. Ayahnya, Mohammad Darban, ketua Muhammadiyah Yogyakarta, juga memberi saran, lebih baik dia belajar sejarah, ketimbang ilmu hukum, padahal dirinya sudah diterima kuliah di Fakultas Hukum waktu itu.

Concern dalam Usaha Pelurusan Sejarah

Sangat banyak data dan fakta sejarah yang membuat saya tercengang saat pertama kali bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Pak Adaby sangat serius berusaha meluruskan sejarah yang tampak bengkok oleh kepentingan politik Orde Lama maupun Orde Baru. Banyak cara pandang baru tentang sejarah yang menyebabkan saya semakin respek dengan sosok yang satu ini. Pandangan beliau bukan semata-mata dalam kacamata ilmuwan atau akademisi, namun beliau juga meletakkan diri dalam keberpihakan yang sangat jelas, namun tetap obyektif.

“Roll (film) sejarah berjalan. Penguasa selalu berusaha mengarahkan jalannya sejarah. Sejarah berputar, dan penguasa menentukan. Padahal tulisan sejarah ada yang tidak sejalan dengan penguasa tapi ketika publikasi, versi penguasa yang dominan. Dia bisa menentukan kapan hari jadi suatu kota atau peristiwa”, kata pak Adaby.

Perjuangan rakyat Indonesia, bagi beliau adalah perjuangan yang diinspirasi oleh para ulama, kemudian dilanjutkan dengan perjuangan rakyat. “Kalau Anda baca di Arsip Nasional maka laporan dari orang Belanda sendiri mengatakan, akibat perlawanan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Teuku Umar yang bersamaan itu, 8000 serdadu Belanda tewas dan kehilangan 20 juta gulden habis oleh gerakan yang dipimpin oleh ulama lewat satu komando”, kata Pak Adaby.

Belanda berpikir keras bagaimana meredam perlawanan ini. Lalu perang dialihkan menjadi perang budaya dan ideologi. Maka muncullah Politik Etis (balas budi), gerakan politik asosiasi, dan mendidik sebagian bangsa Indonesia agar bersikap seperti penjajah. Namun semuanya gagal, yang berhasil adalah program “deislamisasi”.

Program ini tampak berhasil pada beberapa bentuk berikut. Pertama memecah umat Islam menjadi dua; Islam Abangan dan Islam Putihan (dari bahasa arab: Mutian orang yang taat). Kedua, mendirikan sekolah sekuler untuk memisahkan anak-anak Islam dari agamanya. Ketiga, mengadu domba ulama dengan pemuka adat. Keempat, tidak memberikan kesempatan kepada gerakan politik yang berdasarkan Islam. Kelima mendirikan masjid-masjid jami hanya untuk tempat berdzikir, dan memberangkatkan haji gratis bagi ulama yang dekat dengan Belanda. Program ini adalah hasil pemikiran Snouck Hurgronje yang mengaku Muslim tapi lewat suratnya kepada Domine di Jerman ia mengatakan, ”Saya Islam hanya untuk kamuflase saja.”

Itulah di antara konsentrasi pak Adaby. Dia gelisah melihat realitas sejarah yang kabur dan bengkok. Ia sangat ingin meluruskan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, tentu saja bersama para sejarawan lainnya.

Pak Adaby mengaku, tidak mudah untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya sejarah. Bukan hanya masyarakat umumnya, bahkan juga di lingkungan Perguruan Tinggi. Masih banyak perguruan tinggi yang membuka suatu fakultas hanya berdasarkan tuntutan pasar. Karena pasar Ilmu Sejarah dinilai kecil, maka banyak yang masih enggan membukanya. Karena itu, ia meyakini usaha pelurusan sejarah perlu ditekuni dengan serius. “Masih sangat banyak data sejarah yang perlu dikaji, dan sekarang tersimpan di Arsip Nasional”, ujarnya.

Pak Adaby yang Saya Kenal

Saat masih kuliah di UGM, saya cukup sering berdialog dengan beliau, juga silaturahim ke rumah beliau. Apalagi saat itu saya sebagai aktivis di HMI Cabang Yogyakarta dan UKKI UGM Jama’ah Shalahuddin yang sering mengundang beliau untuk memberikan kuliah sejarah di berbagai forum.

Ada satu episode “perlawanan” beliau terhadap Orde Baru, dimana waktu itu pemerintah menyeragamkan segala sesuatu. Misalnya, untuk PNS harus mengenakan seragam Korpri, harus mengikuti Penataran P4, harus berafiliasi kepada Golkar, dan seterusnya. Beliau menolak penyeragaman seperti itu, walaupun dampaknya beliau mendapatkan banyak sorotan.

Tatkala saya mulai terlibat mengurus pendirian Partai Keadilan (PK) di DIY bersama pak Cholid Mahmud dan teman-teman lainnya tahun 1998, tokoh pertama yang saya datangi adalah pak Adaby Darban. Saya mewakili teman-teman tim pendiri PK DIY meminta kesediaan beliau untuk bergabung dengan PK. Kami janjian bertemu di ruang kerja beliau di Fakultas Sastra UGM.

“Selain mas Cahyadi dan mas Cholid, ada siapa lagi di PK ini ?” tanya beliau.

“Kalau di Pusat ada pak Hidayat Nurwahid”, jawab saya.

“Oke, saya bersedia”, jawab beliau tanpa banyak berpikir. Beliau menyatakan kesediaan menguatkan PK.

Luar biasa, akhirnya beliau ikut mendeklarasikan berdirinya Partai Keadilan DIY bersama sejumlah tokoh Yogyakarta lainnya. Beliau menjadi tokoh senior yang banyak kami minta pendapat dan arahan untuk membangun PK DIY. Beberapa kali beliau menjadi narasumber dalam kegiatan Training Orientasi Partai (TOP) yang dilaksanakan oleh PK DIY dalam rangka memberikan pendidikan politik kepada kader dan masyarakat luas.

Namun semenjak ada peraturan yang melarang PNS terlibat sebagai pengurus Parpol, pak Adaby pun melepaskan keterlibatannya dalam PK DIY dan kembali aktif di kampus UGM. Beliau harus bersikap netral, dan tidak berafiliasi dengan partai politik, sebagaimana tuntutan Undang-undang. Kendati beliau bukan lagi pengurus maupun anggota PK DIY, namun silaturahim kami selalu berjalan dan terjaga dengan baik. Beliau juga masih terbuka memberikan banyak masukan konstruktif untuk kebaikan PK yang akhirnya berubah menjadi PKS.

Di mata saya, beliau benar-benar teladan dalam konsistensi. Seorang tokoh yang konsisten dengan sikap yang diyakininya. Saya sangat mengagumi sisi ini, selain sisi kesederhanaan, keramahan, sifat sosial dan intelektualitasnya.

Selintas Kehidupan Beliau

Ahmad Adaby Darban lahir di Yogyakarta pada tanggal 25 Februari 1952, putera H.M. Darban AW dengan Hj.Sitti Aminah. Mengenyam kuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian melanjutkan S2 Jurusan Humaniora Fakultas Pasca sarjana UGM (lulus 1987).. Pada tahun 1990-1991 mengikuti Pra S3 di Monash University Australia.

Pada tahun 1982 diangkat sebagai Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Tahun 1985 mendapat penghargaan sebagai “Dosen Teladan” tingkat fakultas, dan pada tahun 1986 mendapat penghargaan sebagai “Dosen Teladan II” tingkat Universitas Gadjah Mada. Tahun 1992 –1996 mendapat amanah sebagai Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM.

Tahun 1998 –2002 mendapat amanah sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Sastra UGM. Pada tahun 2003 – 2007 diberi amanah kembali menjadi Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, dan mulai Februari 2008 dipilih sebagai Pejabat Antar Waktu (PAW) Ketua Jurusan Sejarah. Beliau juga menjadi Ketua Umum Majelis Pustaka Pimpinan Pusat Muhammadiyah ( 1995-2000).

Karya ilmiyah yang pernah ditulis dan diterbitkan menjadi buku antara lain, (1) Sejarah Lahirnya Pelajar Islam Indonesia (2) Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia (3) Snouck Hurgronje dan Islam di Indonesia (4) Peranserta Islam dalam Perjuangan di Indonesia (5) Historiografi; Sebuah Catatan Perkembangannya (6) Sejarah Kauman, Menguak Identitas Kanpung Muhammadiyah (7) Rifa’iyah; Gerakan Protes di Jawa Tengah 1850-1859, dan lain-lain.

Ahmad Adaby Darban menikah dengan Hj. Indah Khusniati, dikaruniai 5 anak, yaitu : Ika Fatikhah, Rafiqa Hajar, Ma’rifatul Mujahidah, Ahmad Makky Ar-Rozi, dan Syarifah Haniem. Keluarga beliau tinggal di Kauman GM I/355 Yogyakarta.

Selamat Jalan Pak Adaby

Kemarin, beliau terkena serangan jantung saat hendak berangkat salat Id yang hanya berjarak 150 meter dari rumah beliau. Semenjak mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu, beliau lebih banyak beraktivitas di atas kursi roda. Namun belakangan sudah mulai bisa berjalan sendiri dengan mengenakan bantuan tongkat.

Kendati sakit, beliau tetap rajin menghadiri kegiatan keislaman di Masjid Besar Kauman Yogyakarta, dimana beliau menjadi salah seorang takmir. Intelektualitas, pandangan yang jelas dan tajam, kesederhanaan, keramahan, ketegaran dalam sikap, adalah ciri yang melekat kepada beliau.

Pak Adaby dikenal sangat dekat dengan para mahasiswa. Berikut salah satu testimoni mahasiswa beliau:

“Masih teringat jelas, pernah aku disibukkan kegiatan menggalang sumbangan untuk menebus biaya perawatan seorang kawan yg anak petani tadah hujan dan kakaknya tukang becak. Mereka tak mampu menebus biaya pengobatan dan perawatan di RS Panti Rapih yg tembus ke angka 11 juta.

Saat kukonsultasikan kesulitanku padamu, engkau spontan mengeluarkan uang yang sungguh tak sedikit untuk membantu kawan yg sakit itu. Tiga juta rupiah.

Terlebih atas saranmu pula ektorat ikut turut serta membantu meringankan biaya pengobatan kawan tersebut.

Pak, aku saksikan bahwa engkau memang orang yang baik. Di mataku, kau kawan ngobrol yang hangat, tak jarang kau undang aku masuk ke ruanganmu sekadar membahas keseharian yang sepele. Padahal, sebagai ketua partai daerah tingkat I aku yakin kesibukanmu sangat padat. Tapi, kau jauh dari figur arogan, provokatif, manipulatif, ciri khas politikus.

Sebagai sejarawan UGM yang juga pembesar Muhammadiyyah, bagi mahasiswa yang pernah mengenal dirimu pasti akan berkata sama denganku, bahwa kau Guru dalam tutur, sikap, dan perilaku.

Tak segan kau makan satu meja dengan kami di kantin mahasiswa yang melegenda itu disertai canda tawa renyah tanpa sekat bahwa kau dosen kami dan kami adalah mahasiswamu”.

Selamat jalan pak Adaby. Tuhan yang akan merawatmu dengan sepenuh cinta dan kasih sayangNya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Cahyadi Takariawan
Senior Editor diPT Era Intermedia, Pembina diHarum Foundation, DirekturJogja family Center, Staf AhliLembaga Psikologi Terapan Cahaya Umat. AlumniFakultas FarmasiUniversitas Gadjah Mada (UGM).
  • Saya baru dua kali bertemu beliau, namun sangat menginspirasi..

Lihat Juga

Aksi 4 November Murni dari Masyarakat