Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Makan Malam Di Pinggir Istana

Makan Malam Di Pinggir Istana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Tidak seperti biasanya, usai shalat sunah ba’diyah Isya pak Komar langsung pulang. Tawaran merokok dari bapak-bapak jamaah lainnya yang sedang duduk santai di teras mushalla ditolaknya secara halus. Pak Komar terburu-buru pulang karena malam itu dia mendapatkan undangan istimewa. Sebuah undangan makan malam yang jarang sekali dialamatkan kepadanya.

Pemberi undangan makan malam istimewa itu adalah seorang perempuan cantik yang dikenalnya enam belas tahun silam. Perempuan yang dulu banyak digandrungi teman-teman sekolahnya. Perempuan berwajah teduh dan berhati lembut yang sepuluh tahun silam mengucapkan ikrar setia untuk mendampingi hidupnya dalam suka maupun duka. Perempuan penyabar yang membuat hidupnya tenteram, damai dan bahagia bersama seorang putri jelita mereka. Perempuan itu adalah istrinya, ibu dari Aisyah, putri tunggal mereka.

Dan undangan yang dimaksudkan sebenarnya adalah sebuah pesan dari sang istri untuk segera pulang selesai shalat Isya di mushalla. Malam itu mereka akan ‘makan malam’ bersama. Mengapa bagi pak Komar ini terasa menjadi istimewa? Salah satunya adalah karena menu yang disiapkan sang istri lain dari biasanya.

Jika sehari-harinya mereka hanya makan dengan sayur bayam, sambal terasi dan kalau sedang ada rezeki ditambah tahu atau tempe goreng, maka malam itu sang istri membuat masakan layaknya menu restoran. Semangkuk gulai kambing, sepiring rendang dan belasan tusuk sate kambing setengah matang mengelilingi sebakul nasi yang masih mengepulkan asap. Sebuah hidangan yang biasanya hanya mampu mereka bayangkan, tak pernah dapat mereka rasakan.

Lalu, dari mana mereka mendapatkan semua makanan lezat itu? Apakah mereka kini sedang bermimpi? Tidak!. Bahkan bau sangit dari asap kompor minyak masih menempel di baju yang bu Komar pakai. Harumnya bawang goreng, irisan bawang merah, potongan tomat dan jeruk nipis yang dicampur dengan kecap begitu nyata, memancing air liur Aisyah yang mulai tak sabar menunggu kepulangan sang bapak dari mushalla.

Sementara itu, meski sejak Ashar bu Komar harus repot menyiapkan semua masakan itu sendiri, meski jari tangannya luka terkena tusukan sate, meski ada dua jari kakinya yang melepuh akibat menginjak bara, meski pakaiannya menjadi bau karena asap dapurnya, namun senyum terus mengembang di wajah kalemnya. Hatinya tiada henti bertasbih dan bertahmid, memuji kebesaran dan kemurahan Allah atas segala karunia yang diterimanya hari itu.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Idul Adha kali ini keluarga bu Komar mendapatkan jatah daging qurban yang lumayan banyak. Satu bungkus daging kambing diterimanya dari panitia qurban di mushalla. Satu bungkus daging sapi mereka terima dari seorang dermawan yang tinggal di perumahan mewah tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan dua bungkus daging kambing dibawa pak Komar dari rumah salah satu warga yang meminta bantuannya untuk mengerjakan pemotongan qurban siang tadi.

Dari daging-daging qurban itulah kemudian bu Komar memasaknya menjadi menu yang menggugah selera. Untuk Aisyah, bu Komar membuat gulai kambing kesukaannya. Sudah sebulan terakhir dia kerap merengek minta makan dengan gulai kambing, hal yang sangat sulit mereka penuhi. Dan untuk suami tercinta, bu Komar sengaja membuatkan sate kambing setengah matang, sesuai pesanannya siang tadi sepulang dari membantu warga memotong hewan qurban. Sementara atas saran dan resep dari salah satu tetangganya, daging sapi dibuatnya menjadi rendang. Bu Komar sangat yakin kalau suami dan putrinya akan makan dengan lahapnya malam itu. Untuk itu ia sengaja memasak nasi lebih banyak dari biasanya.

Begitulah, malam itu pak Komar dan keluarganya merayakan pesta kecilnya. Rumah kontrakannya yang sempit seolah menjelma menjadi sebuah tenda di taman istana yang indah. Piring dan cangkir plastik yang tak sama ukuran dan bentuknya terlihat seperti kristal-kristal yang berkilauan. Ini bukan mimpi, bukan pula sebuah ilusi. Tapi sebuah kebahagiaan yang kini sedang mengembang di relung hati pak Komar dan keluarganya. Sebuah kebahagiaan yang diliputi rasa syukur yang sebenarnya. Sebuah mimpi yang menjadi nyata, berkat uluran tangan-tangan dermawan di hari raya qurban.

***

Cerita di atas, boleh jadi tak pernah Anda dapati di kehidupan Anda. Apalagi nama tokohnya memanglah bukan nama sebenarnya. Anda bukanlah pak Komar, begitu juga saudara dan tetangga Anda. Kalaupun ada yang bernama Komar, tapi kisah hidupnya tak seperti yang dialami pak Komar dalam kisah ini. Meski begitu, sangat mungkin jika di sekitar kita, bahkan tak jauh dari tempat tinggal kita, ada banyak keluarga miskin yang memiliki nasib serupa.

Bukan dongeng jika di sekitar kita ada keluarga yang merasakan lezatnya daging hanya saat hari raya qurban, itupun kalau keluarga mereka tercatat oleh panitia qurban setempat. Sebab kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak keluarga-keluarga kecil dan miskin yang luput dari pembagian daging qurban. Bukan karena tidak adanya hartawan yang berqurban, tetapi karena mereka tak terpantau oleh panitia qurban. Kerap kali terjadi, justru keluarga yang sudah mampu, yang menganggap daging sebagai menu biasa yang tak menggugah selera malah mendapat bagian.

Dan di hari raya qurban kali ini, juga tahun-tahun selanjutnya mari kita pastikan bahwa tidak ada tetangga, keluarga miskin di sekitar kita yang tidak bisa merasakan lezatnya daging. Kita mungkin belum bisa berqurban tahun ini, tapi paling tidak kita bisa mengingatkan kepada panitia qurban di lingkungan kita jika mendapati warga yang selama ini belum terjangkau pembagian daging qurban. Kita bisa mengusulkan kepada panitia, keluarga mana yang seharusnya lebih didahulukan. Atau kita juga bisa berbagi dengan daging kurban yang dihantarkan ke rumah kita. Bukankah terkadang kita justru mendapatkan jatah berlipat, baik itu dari saudara, dari panitia qurban di RT kita, juga dari perusahaan tempat kita bekerja. Alangkah indahnya jika kita memberikan sebagian untuk mereka yang tidak mendapatkan daging kurban. Atau kalaupun mereka sudah mendapatkan, kemungkinan jumlahnya masih kurang untuk seluruh anggota keluarganya.

Tegakah kita menyimpan daging dalam kulkas hingga berhari-hari lamanya, sementara masih ada anak-anak tetangga yang berebut daging untuk makan. Tertelankah oleh kita aneka macam olahan daging di atas meja, sementara ada tangisan anak-anak tetangga yang memaksa orang tuanya untuk makan berlauk daging seperti teman-temannya. Sampai hatikah kita melihat seorang ibu yang harus kembali makan hanya berlauk sambal, asalkan anak-anaknya bisa makan dengan daging semua. Ini tidak berlebihan, ini benar-benar ada dan terjadi di sekeliling kita, tinggal kita peka melihatnya atau masih tega berpura-pura tak melihatnya. Tidak inginkah kita memberi kesempatan kepada mereka-mereka yang selama ini selalu dan terlalu akrab dengan kekurangan dan kemiskinan, untuk merasakan lezatnya sajian makan malam di istana, meskipun hanya di pinggirannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Gambar model

Bisakah Rumah Mungil Saya Diubah Jadi Rumah Seperti Istana?